Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Meeting


__ADS_3

Aldi tersenyum, jempol tangannya mengelap ujung bibir mungil gadis itu, yang kini terlihat belepotan karena ulahnya.


"Itu hukuman, buat calon istri yang berani ngerjain calon suaminya," ujar Aldi yang langsung menjalankan mobilnya.


Nakisya memalingkan wajahnya kearah kaca pintu, namun perlahan senyumnya terbit saat mendengar kata calon istri dan calon suami, masih terdengar geli, namun tidak bisa di pungkiri, hati gadis itu menyukainya.


"Nanti aku ngambil fakultas apa ya, Bang?" tanya gadis itu dengan wajah yang terlihat bingung.


Aldi melirik sekilas. "Loh, aku kira kamu sudah punya pilihan," jawab lelaki itu dengan cepat.


Nakisya mendengus, "aku masih bingung, makanya aku nanya sama Abang, ada saran gak?" tanya gadis itu dengan wajah memelas.


Aldi sejenak berpikir, "ambil fakultas hukum aja."


Nakisya mengerutkan keningnya. "Kok hukum?" tanya gadis itu dengan posisi tubuh yang menghadap ke arah kekasihnya.


"Biar kamu bisa menghukum aku seumur hidup."


Nakisya sudah mengerti dengan sifat Aldi yang selalu menggombal, kini dirinya dapat menebak arah pembicaraan kekasihnya itu. "Menghukum karena mencintai aku ya?" tanya gadis itu dengan percaya diri.


Aldi terkekeh, namun kepalanya menggeleng pertanda kalau tebakan Nakisya salah, membuat gadis itu memberengut. "Terus?" tanyanya masih penasaran.


"Menghukum aku untuk bisa seumur hidup dengan kamu."


Nakisya menekuk bibirnya kebawah. "Apasih, gak nyambung!" ujar gadis itu dengan malas.


"Aku serius tau, jangan becanda mulu," imbuh gadis itu kemudian.


Aldi tersenyum, lengannya langsung menepuk pelan puncak kepala gadis itu. "Kalau soal jurusan, itu semua terserah kamu yang mau jalaninnya. Dan itu harus benar-benar yang kamu mau, biar gak mogok pas di tengah jalan," ujar Aldi dengan wajah serius.


"Kalau teman-teman kamu, pada ngambil jurusan apa emang?" tanyanya kemudian.


Nakisya mengingat satu persatu sahabatnya. "Beda-beda, Rani ngambil kedokteran, Vani sama Weni komputer, kalau Angga teknik."


Nakisya tersenyum, kemudian melanjutkan kembali ucapannya, "apa aku ngambil fakultas teknik juga ya? Dulu kan Bang Al juga lulusan Teknik, ya?"


Nakisya bermaksud mengambil fakultas itu, supaya nanti kalau ada hal yang tidak ia mengerti akan bertanya pada suaminya.

__ADS_1


Namun ternyata lain dengan pemikiran Aldi, dengan cepat lelaki itu menggeleng, dirinya langsung membayangkan kalau kekasihnya itu akan sering berduaan dengan Angga, lelaki yang terlihat menyukai Nakisya. "Perempuan gak cocok ngambil teknik!" tegasnya yang secara tidak langsung tidak menyetujui keinginan Nakisya.


Nakisya hendak mengajukan protesnya, namun ternyata mobil yang di tumpanginya sudah sampai di tempat tujuan.


Aldi menepikan mobilnya di depan gerbang Universitas yang akan menjadi tempat kuliah kekasihnya. Nakisya yang sudah melihat ketiga sahabatnya yang sedang menunggunya, gadis itu langsung membuka pintu.


"Tunggu dulu," ucap Aldi yang langsung membuat Nakisya menghentikan gerakannya. Lengan Aldi menarik ikatan rambut Nakisya. "Lebih baik rambutnya di gerai saja, Aku gak mau cowok lain liatin leher putih kamu."


Sebenarnya Nakisya ingin mengambil kembali ikat rambutnya, namun melihat tatapan kekasihnya yang seperti tidak dapat di bantah, membuat gadis itu hanya menurut saja. Lagian semua sahabatnya sudah lama menunggu. Dengan kesal, Nakisya langsung turun dari mobil Aldi.


"Nanti gak usah jemput, aku pulang sama Rani. Iya kan, Ran?" tanya gadis itu kepada sahabatnya, yang langsung mendapat anggukan darinya.


Aldi mengangguk, kemudian ekor matanya melirik sekilas ke arah Angga yang ternyata juga ada di situ. "Oke, hati-hati tapi ya. Apalagi dari cowok yang diam-diam mengharapkan kamu," sindir Aldi yang langsung menjalankan mobilnya setelah sempat pamit pada Nakisya dan ketiga sahabatnya.


"Sya, lo pakai lipcream kok belepotan gitu, buru-buru ya?" bisik Rani tepat di samping telinga Nakisya


Nakisya yang panik, langsung mengambil ponselnya, melihat apa yang di katakan sahabatnya itu lewat kamera depan, dan ternyata benar saja. Nakisya langsung menggeram, "ini gara-gara Bang Al," gumamnya dalam hati, yang langsung mengelap bibirnya dengan tisu.


****


"Serius Lo mau masuk fakultas itu?" tanya Rani menatap ke arah Nakisya.


Nakisya mengangguk, "masa gue main-main, serius dong," jawabnya tanpa ada keraguan.


"Sebelumnya Lo bilang mau ngambil teknik fisika, biar nyambung sama jurusan Lo waktu SMA," tanya gadis itu mengingatkan.


Nakisya menatap lurus kedepan, "kayaknya Gue tertarik mencoba hal yang baru."


"Kita nongki-nongki dulu yu."


Nakisya dan Rani menoleh ke arah sumber suara, ternyata Rizky dan yang lainnya sedang melangkah kearahnya. "Kemana?" tanya mereka nyaris barengan


****


Di tempat lain Aldi terlihat serius dengan dokumen di atas meja kerjanya. "Meskipun cuma tinggal tandatangan, kalau berkas nya sebanyak ini, gumoh gue," gerutunya sambil terus menggoreskan tinta di atas namanya yang tertera di setiap lembaran kertas.


Tanpa mendongak, Aldi mengeluarkan suaranya, "masuk!" perintah Aldi saat pintu ruangannya ada yang mengetuk.

__ADS_1


Wina masuk dengan senyuman yang tak pernah pudar saat berhadapan dengan Aldi. "Pak Aldi, tadi sekertaris Pak Vino kembali meminta jadwal, untuk melanjutkan meeting yang kemarin," ujar perempuan yang kini duduk di depan meja Aldi.


Aldi menyimpan map yang telah selesai ia tandatangani, seolah tidak perduli dengan sekertarianya itu, Aldi malah mengecek ponselnya. "Kenapa Kisya masih belum ngasih kabar, gak mungkin kalau dia masih di kampus," gumamnya dalam hati.


Buku jarinya langsung bergerak lincah di atas benda pipih itu. Aldi menanyakan sedang apa dan dimana pada kekasihnya. Pesan sudah terkirim, terlihat dua centang warna abu.


"Jadi gimana, Pak?" tanya Wina yang sudah merasa kesal karena di abaikan oleh bosnya.


Aldi kembali mengecek ponselnya, namun belum juga ada balasan dari kekasihnya itu. Kemudian ia langsung membuka sebuah aplikasi, yang membuat keningnya mengerut.


"Oke, katakan sama sekertaris Vino, kita adakan meeting sekarang, di restoran Shiguru."


Beruntung gelang yang diberikan kepada Nakisya masih di pakai oleh gadis itu, jadi dengan mudah Aldi dapat mengetahui keberadaan kekasihnya, tanpa harus menunggu jawaban dari kekasihnya itu.


****


Nakisya dan yang lainnya sudah sampai di salah satu restoran jepang yang berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.


"Ga, katanya Lo mau ngambil teknik, kok jadi ekonomi?" tanya Rizky pada angga.


Mendengar itu, Nakisya menoleh karena fakultas yang di pilih Angga sama dengan yang Nakisya ambil. Namun gadis itu lebih memilih diam, dia tidak perduli sama sekali. Nakisya yang mengambil jurusan Akuntansi, gadis itu berfikir mungkin jurusannya dengan Angga beda.


"Iya, gue ambil Akuntansi, disuruh bokap soalnya," jawab Angga datar.


Rani yang sedang memilih menu, gadis itu langsung berseru, "sama dong kaya Kisya, dia juga ngambil akuntansi. Iya kan Sya?" tanya Rani sambil menyenggol lengan Nakisya yang juga sedang memilih menu.


"Eh iya," jawab Nakisya sambil tersenyum.


Angga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "kok bisa kebetulan ya," ucapnya sambil membalas senyuman ke arah Nakisya.


"Iya, kebetulan yang di sengaja," celetuk Rizky yang langsung mendapat sorot mata tajam dari Angga.


Nakisya menoleh ke arah Rizky, hendak melontarkan kalimatnya, namun matanya tidak sengaja melihat ke arah lelaki yang dia kenal, sedang memegangi lengan seorang perempuan, yang berpakaian seksi.


Bersambung dulu...


NB : Yang bingung soal gelang apa, bisa di baca kembali di Tiba-tiba Hamil, Bab 74🤗

__ADS_1


__ADS_2