
Rani sedang menunggu Nakisya di depan kelas. "Gimana UAS lo, lancar?" tanyanya saat Nakisya keluar dari kelasnya.
"Lancar dong," jawabnya dengan percaya diri.
Rani berdecak, "percaya deh gue, elo kan emang pintar," ucapnya dengan datar.
"Eh, gimana sama malam pertama lo? Udah belum?" tanyanya kemudian yang berhasil membuat Nakisya melirik malas kearahnya.
"Tau ah, bosen gue tiap hari ditanyain itu mulu," jawabnya dengan ketus.
"Yaelah sensi amat lu. Amat aja gak pernah sensi," ucapnya tak kalah ketus.
Nakisya menghela napas. "Tamu gue baru pulang tadi, dan kayaknya-," ucapannya terhenti saat Rani lebih dulu terlihat heboh.
"Berarti sekarang hari ini terakhir lo jadi gadis, karena nanti lo bakalan..."
"Kalian lagi ngomongin apaan 'sih? Heboh banget," tanya Rizky yang tiba-tiba datang bersama Weni.
"Mau tau aja sih!" ketus Rani sambil menarik lengan Nakisya untuk pergi dari tempat semula. Meskipun Rani dan Rizky sodara sepupu, tapi keduanya akhir-akhir ini menjadi tidak akur, karena Rizky selalu saja gencar menjodohkannya dengan Reza.
Setelah keduanya sudah berada di parkiran, Rani kembali menatap Nakisya. "Pokoknya besok lo ceritain malam pertama lo yang tertunda itu sama gue."
***
Seperti yang dikatakan Nakisya, hari ini sepulangnya dari kampus Nakisya yang diantar Rani, wanita itu pergi kerumah orang tuanya. "Assalamualaikum, Bunda!" teriaknya yang tidak juga mendapat jawaban dari Widya.
Tanpa menunggu lama lagi, Nakisya langsung melangkahkan kakinya menuju dapur, setaunya bundanya itu selalu betah berada di ruangan itu. Dan benar saja, ternyata Widya memang ada disana.
"Wih, Bunda masak apa tuh? Kayaknya enak banget," Nakisya mengendus aroma dari masakannya.
"Wangi banget lagi, kebetulan Kisya lagi lapar, tadi gak sempat sarapan." imbuhnya kemudian yang langsung melangkah mendekat kearah Widya.
__ADS_1
Widya memukul pelan tangan Nakisya, yang hendak mencomot masakannya, "kebiasaan deh kamu, cuci tangan dulu sana!"
Nakisya berdecak, namun dirinya langsung menuruti perintah Widya. "Udah nih," ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya yang masih basah.
"Kemarin kamu bilang belum sempat sarapan, hari ini juga bilang seperti itu. Jangan bilang kamu masih bangun kesiangan?" Widya menatap wajah Nakisya. Bola matanya terlihat tajam menunggu jawaban dari putrinya.
Nakisya mulai mencicipi makanan itu. "Beuh... Enak banget Bunda," ucapnya yang langsung kembali menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
Widya mulai terlihat kesal saat pertanyaannya di abaikan oleh sang anak. Dirinya sudah dapat menebak kalau diam nya sang anak berarti membenarkan apa yang di tanyakannya. "Kisya, mungkin saat ini Aldi masih bisa menerima kebiasaan buruk kamu yang pemalas, tapi kamu harus mulai belajar buat merubah kebiasaan itu. Sekarang kamu itu statusnya sudah menjadi istri, bahkan mungkin sebentar lagi akan jadi seorang ibu. Kan kasian Aldi yang tiap hari kerja keras, tapi istrinya sekedar bangun pagi aja masih kesiangan."
Dengan panjang lebar, Widya terus menasihati sang anak. Sampai isi piring Nakisya benar-benar bersih tanpa sisa.
"Iya, Bunda. Kisya gak akan malas lagi, dan mulai besok Kisya akan berusaha supaya gak kesiangan lagi. Bunda doakan kisya ya," ucapnya yang langsung mencium pipi sang bunda, dan pergi dari tempat itu.
"Kisya gak akan malas lagi," ucap Widya menirukan gaya bicara sang anak. "Gak malas apaan! sekedar bekas makan aja kamu gak mau bersihin," cibirnya yang masih terdengar oleh Nakisya.
***
Hari ini Nakisya sudah selesai datang bulan, dan kemungkinan malam ini suaminya itu tidak akan membiarkannya lolos.
Sementara ditempat lain, setelah sambungan telfon keduanya selesai, lelaki itu segera membereskan semua berkas yang tinggal sedikit lagi untuk dia kerjakan. Namun rasa tak sabar pada diri lelaki itu membuatnya tidak perduli dan langsung berdiri dari kursi kerjanya. Namun tiba-tiba suara pintu yang diketuk membuat lelaki itu kembali duduk. "Masuk!" perintahnya.
Setelah mendapat perintah dari atasannya, Vita yang merupakan sekertaris pengganti Wina langsung masuk. "Pak, di luar ada dua orang yang ingin ketemu sama Bapak. Katanya sahabat lama Bapak," ucap wanita yang berpenampilan sederhana, yang jauh berbalik dengan Wina yang menor dan ganjen.
Aldi mengecek CCTV yang menampilkan bagian luar dari ryangannya. "Suruh mereka masuk."
"Wih pengantin baru," ucap salah satu dari kedua lelaki yang kini berada di dalam ruangan Aldi.
Dengan malas Aldi menyambut kedatangan keduanya, "kalian datang di waktu yang gak tepat," sinis Aldi sambil bergantian menerima high five dari kedua sahabat lamanya.
"Kita kesini cuma sebentar, cuma mau ngucapin selamat aja sama lo, dan sorry waktu itu kita gak hadir gara-gara keadaan di luar negri masih genting," ucap dua lelaki bule yang bernama Mike dan Willy.
__ADS_1
Mereka berdua adalah sahabat Aldi waktu Aldi menempuh study di luar negri.
"Oke gak masalah, padahal waktu itu gue nunggu kedatangan kalian. Oh iya, ini kan sudah malam, gimana kalau besok kita lanjut lagi ngobrolnya. Soalnya sekarang gue sudah ditungguin bini," ucap Aldi dengan hati-hati.
Willy tampak tidak suka dengan sifat Aldi yang menjadi bucin terhadap istrinya. "Ah gak asik lo sekarang, kita jauh-jauh datang kesini, tapi lo malah ngusir kita," ucapnya dengan wajah yang terlihat kesal.
Aldi yang melihat wajah kedua sahabat lamanya jadi merasa bersalah, " bukan gitu, tapi gue benar-benar sudah ditunggu," ucapnya kembali, berharap kedua sahabatnya itu bisa mengerti.
"Seenggaknya kita minum dulu kek, kebetulan gue sengaja bawain minuman kesukaan lo." Mike mengeluarkan dua botol minuman keras dari dalam ranselnya.
Aldi langsung mendorong botol itu. "Sekali lagi sorry, gue udah berhenti minum gituan."
Willy kembali mendorong botol itu, "seenggaknya lo hargain kita lah, yang udah jauh-jauh bawa ini khusus buat elo."
Aldi sudah tidak bisa menolak tawaran dari kedua sahabatnya. Dengan terpaksa dirinya langsung menerima botol itu, dan menenggak sedikit isinya.
"Udah yah," ucapnya.
"Sedikit lagi lah, gue susah dapet itu, kan lo tau sendiri stoknya terbatas," ujar Willy yang juga menenggak isi botolnya.
Aldi yang memang sudah lama tidak meminum alkohol, tanpa sadar dirinya merindukan minuman terlarang itu. Kepalanya yang sudah mulai pusing membuatnya tanpa sadar kembali menenggak minuman itu, sampai kesadarannya hilang, dan berakhir tubuhnya ambruk.
"Yah, payah banget dia, masa baru segitu langsung ambruk, biasanya dulu dia kuat sampai dua botol," ucap Willy yang mulai keleyengan.
Mike yang masih sedikit lebih sadar, pria itu memegang pundak Willy yang hendak terjatuh. "Udah yu kita pulang, biarin aja kita tinggalin dia, palingan juga dia bangunnya besok."
Aldi membuka matanya, lengannya langsung memegang bagian kepalanya yang terasa berat, "si4l4n mereka malah ninggalin gue," ucapnya sambil mencoba berdiri.
Pintu ruangannya yang terbuka membuatnya tersenyum saat melihat seseorang yang sedang dirindukannya. "Sayang, kamu kesini? Kamu pasti sudah gak sabar 'kan?"
Like + koment lagi ya, sblum close 😁🙏
__ADS_1