Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Makan siang


__ADS_3

Pagi hari, seperti biasa Aldi dan Nakisya sarapan bersama, dengan piring yang sama. Kali ini, Aldi tidak lagi dingin, ia kembali melakukan kebiasaannya, mengecup kening Nakisya, dan mencium beberapa bagian di wajah istrinya. "Nanti Abang pulangnya agak malam. Kamu gak usah nungguin."


Nakisya mengerucutkan bibirnya, meskipun suaminya sudah kembali romantis lagi, tapi ia tetap tidak mau kalau terlalu lama berjauhan dengan suaminya. "Nanti pulang dari kampus aku ke kantor. Boleh?" tanyanya dengan senyum manis yang terpancar dari bibirnya.


Aldi membalas senyuman Nakisya, sebelah tangannya mengusap gemas puncak kepala istrinya. "Takut suaminya mabuk-mabukan lagi, ya?"


Nakisya tertawa lebar, entah kenapa setelah kejadian kemarin, ia jadi menyesal, dan semakin merasa bersalah dengan apa yang sudah diperbuatnya.


"Gak usah, mendingan kamu langsung pulang aja istirahat. Abang gak akan macam-macam, gak akan cari anak dari wanita lain," ujarnya setengah meledek.


Nakisya menggelayut manja di tangan Aldi. "Tapi aku mau makan siang bareng." Nakisya mengedip-ngedipkan kelopak matanya.


Aldi semakin gemas dengan istrinya, setelah Nakisya benar-benar meminta maaf kepadanya, sekarang wanita itu jadi semakin manja, tapi Aldi sangat menyukainya. Namun sialnya dengan begitu belutnya jadi terbangun. "Abang berangkat dulu, ya." Aldi kembali mengecup kening Nakisya. Ia harus segera berangkat, karena akan sangat kacau kalau terlalu lama dengan istrinya yang semakin menggemaskan.


"Tapi nanti mau, ya?" teriak Nakisya saat mobil Aldi sudah melesat menuju jalanan.


Nakisya melebarkan senyumnya, sekarang ia akan menebus semua kesalahannya. Meskipun mulut Aldi mengatakan tidak ingin memiliki anak, tapi Nakisya tau kalau sebenarnya suaminya masih menginginkannya.


***


Sepulang dari kampus, Nakisya melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah disepakati dengan Aldi. Siang ini sesuai dengan permintaan Nakisya, keduanya akan makan siang. Berhubung restoran itu dekat dengan kampus Nakisya, sehingga hanya hitungan menit wanita itu sudah sampai. Namun ternyata suaminya belum berada disana, dan sialnya ternyata suaminya itu mengatakan sedang terjebak macet.


Setelah membaca pesan dari Aldi, Nakisya mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk yang paling pojok, supaya bisa romantis-romantisan dengan suaminya nanti.


Nakisya mengangkat sebelah tangannya, memanggil salah satu pelayan. Ia memutuskan untuk memesan menu dari sekarang, jadi nanti saat Aldi datang keduanya bisa langsung menyantap makanannya.


"Kisya?"


Nakisya mendongak, saat ada seseorang yang memanggil namanya. "Mama, disini juga?" tanyanya setelah mengetahui ternyata sang mama mertua yang memanggilnya. Nakisya berdiri, melangkah menuju Dina.

__ADS_1


Dina tersenyum, menyambut Nakisya yang hendak menyalimnya. Namun Dina malah menarik tangan Nakisya dan membawanya pada pelukan seorang mertua terhadap menantunya. "Mama habis arisan," jawabnya setelah pelukan keduanya terlepas.


Keduanya duduk di kursi yang tadi di duduki Nakisya. Saling berbincang entah membahas apa. Sampai seorang pelayan datang mengantarkan pesanan Nakisya.


Dina menatap Nakisya, "oh iya, kamu masih ingat gak, sama permintaan Mama dulu?"


Nakisya mengerjap, tentu saja dirinya masih mengingat. "I-iya Mam," jawabnya.


Tawaran itu masih berlaku. Gimana, sekarang kamu tertarik? Nanti kita bisa menikmati hasilnya berdua."


Nakisya tersentak, ternyata mertuanya itu benar-benar serius dengan permintaannya. "Ma- maaf Ma. Sepertinya Nakisya gak bisa melakukan itu."


Dina mengepalkan tangannya, selama ini ia sudah mencoba berbaik hati dengan menantunya. Dina menyesal karena sempat menduga kalau Nakisya seorang wanita yang lugu dan mudah diperalat. Namun ternyata dugaannya itu salah. "Apa susahnya sih! Kamu tinggal merayu suami kamu untuk meminta semua harta Arya. Lagian kamu bisa mendapat untung besar nanti. Dasar bodoh!"


Nakisya memejamkan matanya. Semua orang kini beralih menatap kearahnya. Air matanya tanpa sadar menetes. Seumur hidupnya baru kali ini ada orang yang menyentaknya dengan kata-kata kasar, dan yang membuatnya sakit hati, ia disentak karena tidak mau melakukan sesuatu yang menurutnya salah.


"Berhenti berkata seperti itu pada menantu saya!"


Arya mencengkram bahu Dina. "Ternyata dugaan saya selama ini benar. Kamu masih sama dengan Dina yang dulu. Wanita yang gila harta." Arya mendorong tubuh Dina, sampai wanita itu hampir terjungkal kebelakang, beruntung dengan cepat tangannya berpegangan pada meja yang ada di sampingnya.


"Kamu gak papa?" tanya Arya pada Nakisya yang masih menunduk dengan isakan pilu.


Arya kembali mengalihkan tatapannya pada Dina. "Kamu mungkin bisa membodohi Aldi dengan semua kepalsuanmu. Tapi tidak dengan saya."


Arya mengeluarkan selembar cek dan menuliskan sejumlah nominal. "Ambil itu, dan segera pergi jauh dari sini. Saya minta kamu jangan pernah menemui Aldi lagi," ujar Arya sambil melemparkan selembar cek itu tepat didepan wajahnya.


Dengan tidak tahu malunya, Dina mengambil cek itu. "Lihat saja kalian. Aku akan membuat Aldi menuruti semua permintaanku," ujarnya langsung memutar tubuhnya, hendak melangkah keluar.


"Sebaiknya Anda simpan baik-baik rencana itu." Aldi yang baru datang tentu tidak sepenuhnya mendengar percakapan mereka. Namun ia sudah dapat menebak, apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


Dina yang baru melangkahkan kakinya, seketika menjadi gemetar. Sekarang didepannya Aldi berdiri menatapnya dengan sorot mata tak terbaca.


"Al... Mama bisa menjelaskan semuanya."


Aldi tertawa samar. Ia begitu tidak menyangka dengan semua yang didengarnya tadi. Benar semua kecurigaan yang selalu di katakan Arya. "Arghhhht." Aldi mengacak rambutnya kasar. Entah kenapa Ia ditakdirkan lahir dari seorang wanita yang memiliki jiwa iblis seperti ibunya.


Ibu yang tidak pernah merawatnya, ibu yang selama ini dirindukannya, dan setelah Aldi bertemu dengannya, ternyata ibunya itu hanya berniat untuk memperalatnya. Aldi mengepalkan tangannya, ia sangat ingin melontarkan semua kalimat kotornya. Namun beruntung, ia masih sadar, walau bagaimanpun Dina adalah ibu kandungnya. Aldi memutar tubuhnya, berlalu dari tempat itu, mungkin emosinya akan kembali meluap jika ia terus berada ditempat itu.


Nakisya melirik Arya, Ia segera berlalu mengejar suaminya.


Aldi duduk di jok mobil, membanting pintu mobilnya dengan sangat keras, seolah melampiaskan semua amarahnya.


"Abang..." Nakisya yang baru duduk disamping suaminya, ia mengusap wajah Aldi yang sudah merah padam.


"Maaf..." lirihnya dengan sangat pelan.


Aldi menatap wajah Nakisya. Matanya sudah menggenang, menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut istrinya.


Nakisya sebenarnya merasa ragu, tapi ia tidak mau ada rahasia lagi yang disembunyikannya. "Sebenarnya dulu ma-," ucapannya terhenti saat Aldi lebih dulu memotong kalimatnya.


"Jangan bilang kalau kamu-,"


Nakisya memeluk tubuh Aldi. Tangisannya semakin pecah. "Maaf, tapi dulu aku mengira kalau mama kamu hanya mengetes aku. Aku tidak mengatakannya sama Abang karena aku belum tau kebenarannya. Aku hanya takut hubungan kalian jadi renggang," ujar Nakisya mengklatifikasi semuanya.


Aldi dapat mengerti dengan alasan istrinya. "Maaf... gara-gara mama aku, selama ini kamu jadi tertekan." Aldi mengusap punggung Nakisya.


"Aku memang terlahir dari rahim yang tidak mengharapkanku. Bahkan aku hanya mendapatkan kasih sayang palsu dari ibuku. Tapi aku berjanji, suatu saat nanti aku akan menyayangi anakku, melebihi rasa sayangku terhadap diriku sendiri, agar dia tidak mengalami apa yang aku alami sekarang," gumam Aldi dalam hati.


Like + Komentnya ditunggu...

__ADS_1


Hatur Nuhun 😍🤗🤗


__ADS_2