AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Bertemu dengan Raya


__ADS_3

Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Raya baru saja turun dari lantai dua.


Darimana anak ini turun? Ah, mungkin dari kamar Fani karena kamar Fani berada di lantai dua, sama denganku. Sejak dulu Raya sudah sering keluar masuk kamar Fani. Tentunya kalau pemilik kamar berada di rumah.


Tapi saat ini rumah terlihat sepi, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 13.10 berarti Fani masih belum pulang sekolah jam begini dan ibu juga mungkin tidak ada di rumah. Nenek Mina jam segini pasti sedang tidur siang.


"Kenapa dia ada disini mas?" Tanyaku dengan heran melihat Raya.


"Mas. aku mau kamar yang tadi kita tempati, kamarnya lebih besar dari kamar Fani." Ucap Raya dengan manja sambil menuruni tangga, tanpa menghiraukanku.


Apa?! Jadi maksudnya Raya dari kamarku? Tadi dia juga bersama Mas Angga? Mereka berduaan di kamarku?! Ya Tuhan, tega sekali Mas Angga padaku. Aku masih isterinya yang sah! Apakah aku tidak ada harganya sama sekali diahadapan mas Angga? Apakah dia tidak menghargai pernikahan kami?!


"Mas, kamu tadi bersama dengan Raya di kamar kita?" Tanyaku pada mas Angga penuh selidik.


Mas Angga hanya diam, tidak menjawab.


"Jawab mas!" Aku semakin meninggikan suara karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaanku.


"Aku masih isterimu, mas! Kamu melakukannya di kamar kita?!" Tak tahan lagi aku berkata sambil berteriak.


"Tega sekali kamu, Mas!"


Plak!!


Kali ini aku yang menampar Mas Angga. Hilang sudah rasa hormatku padanya. Sebagai seorang suami Mas Angga benar benar sudah melakukan hal yang keterlaluan.

__ADS_1


"Hey, apa yang kamu lakukan? Kamu ngga apa-apa kan sayang?" Raya langsung mengusap pipi kiri mas Angga yang kutampar.


Aku semakin garang, emosiku semakin tinggi mendengar Raya memanggil Mas Angga dengan sebutan sayang, dan sikap Raya terhadap Mas Angga.


Aku menarik rambut Raya dan menamparnya sebanyak dua kali. Tentu saja Raya langsung memegang pipi kiri dan kanan nya yang sudah memerah dan sakit karena tamparanku. Hilang sudah predikat wanita lemah lembut yang telah melekat padaku. Aku tak tahan lagi melihat mereka berdua dengan mata kepalaku sendiri.


"Aku yang harus bertanya padamu? Apa yang kamu lakukan disini, hah!? Anak sekolah harusnya di sekolah belajar! Bukan melacur di rumah suami orang! Apakah orang tuamu tidak mengajarkanmu dengan baik?" Tak ada lagi kata lemah lembut yang keluar dari mulutku.


"Apa katamu? Jangan bawa bawa orang tuaku ya! Mas, lihat dia sudah menamparku. Sakiit."


Ckckk anak ini, kecil kecil tak kenal takut. Sudah jelas jelas bersalah, tapi masih berani membalas perkataanku.


"Dasar pelacur!" Kataku.


"Sudah cukup Reyna. Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu seperti ini?" Mas Angga marahiku lalu berusaha untuk menenangkan Raya.


"Aku tak menyangka, ternyata seperti ini sifat aslimu Reyna!" Ucap mas Angga keheranan melihat sikapku.


"Terserah kamu mas! Lagian apapun yang aku lakukan, kamu pasti akan tetap membela pelacur cilikmu itu!" Aku sudah tidak peduli lagi. Persetan dengan cintaku, rumah tanggaku sudah hancur saat Mas Angga berselingkuh dan bahkan sekarang dia sudah berani membawa selingkuhannya ke kamar kami.. Aku bergegas pergi. Keluar dari rumah terkutuk ini.


"Reyna, tunggu! Kamu akan menyesal jika pergi sekarang!" Teriak mas Angga.


"Menyesal? Maksud kamu, kamu akan menceraikan aku Mas? Silahkan ceraikan aku! Aku tidak takut." Ya, untuk apa mempertahankan rumah tangga dengan laki laki yang bahkan sudah tidak lagi mencintaiku. Sudah cukup kebodohanku selama ini! Entah apa yang aku harapkan saat ikut bersamanya tadi kesini! Aku tidak mau lagi menjadi wanita lemah dan bodoh demi laki laki brengsek seperti mas Angga!


"Aku sudah coba mengingatkanmu! Aku hanya ingin melakukan yang terbaik demi Ziva anak kita! Tapi jika kamu sudah memutuskan, aku tak kan menahanmu lagi! Aku hanya tak ingin kamu menyesal!"

__ADS_1


"Yaa. Terima kasih sudah mengingatkanku. Dan semoga pelacur cilikmu bisa mengurusmu dan keluargamu dengan baik!"


Aku berbalik dan melihat Raya.


"Dan kamu, aku hanya mengingatkan. Barang jarahan tidak akan pernah bertahan lama!"


"Apa maksudnya mas?" Tanya Raya bingung, tidak mengerti. Raya tidak mengerti, ya kudengar Fani seringkali memanggilnya tulalit.


Aku langsung balik kanan keluar dari rumah mas Angga, berjalan tanpa melihat ke belakang. Seperti hatiku, aku sudah bertekat akan mencoba untuk maju berjalan kedepan tanpa melihat ke belakang lagi. 'Tuhan maafkan aku, aku tahu Engkau membenci perceraian. Tapi aku tak mungkin bertahan di rumah itu, menjadi wanita bodoh dan tersiksa setiap hari bukan hanya karena hinaan dari ibu mertua dan adik ipar tapi juga dari sikap dan perbuatan mas Angga padaku yang begitu menyakitkan.'


***


Aku sudah berjalan sekitar 100 meter dari rumah mas Angga. Saat ingin menyetop angkot, aku baru sadar ternyata aku tidak membawa dompet. Aku langsung mengurungkan niatku naik angkot. Untunglah aku masih membawa ponsel di kantong celanaku, dan ada kuota internet untuk memesan ojek online. Kalau naik ojek aku bisa membayarnya di rumah.


Setelah menunggu beberapa saat, driver ojol pesananku akhirnya datang. Aku terkejut ternyata drivernya seorang ibu-ibu. Aku tak memperhatikan aplikasi saat memesannya tadi. Ada sedikit kekaguman ketika aku melihat wanita tangguh yang melakukan pekerjaan ini. Ya, pekerjaan ini bukan pekerjaan yang mudah. Harus bekerja di bawah terik sinar matahari demi mengumpulkan beberapa ribu rupiah. Belum lagi kalau kena macet, halangan di jalan atau bertemu dengan penumpang yang aneh-aneh.


Saat dalam perjalanan kami tak sengaja mengobrol, ya maklum jiwa emak emak.


"Sudah lama mbak kerja sebagai driver ojol?" Tanyaku dengan sopan memulai pembicaraan.


"Sekitar 2 tahunan mbak. Setelah suami saya meninggal, saya bekerja mendaftar jadi driver ojek online. Anak-anakku masih sekolah, yang satu kelas 1 SMP dan yang satu lagi kelas 3 SMP. Cari kerja sekarang susah, mbak. Apalagi aku hanya tamatan SMA. Tidak ada yang mau menerima karyawan ibu ibu, walau hanya bekerja di toko toko kecil pasti mereka mencari yang cantik cantik dan masih muda." Ibu driver ojol berbicara panjang lebar.


"Iya ya bu. Jaman sekarang cari kerja susah. Jangankan tamatan SMA, yang sarjana pun susah cari kerja apalagi kalau sudah umur kayak kita ini." Kami kompak tertawa bersama.


"Kerja yang penting halal bu, tidak menipu atau merugikan orang lain. Pasti anak anak ibu bangga punya ibu yang tangguh." Sambungku

__ADS_1


"Iya mbak, terima kasih ya. Yang penting anak anak saya bisa makan. Saya tidak peduli pekerjaan apapun yang penting halal."


Ah, aku sangat termotivasi dengan ibu ini. Walaupun sudah menjanda, beliau punya semangat yang tinggi demi kelangsungan hidupnya dan kedua anaknya.


__ADS_2