
Pov Angga
Ada apa dengan hatiku, kenapa hari ini aku banyak memikirkan Reyna? Entah perasaan apa yang aku rasakan saat ini, tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Ada perasaan sedih, kasihan dan terharu kala mengingat kenangan bersama Reyna. Entahlah, yang jelas aku tahu ini bukan perasaan cinta.
Tentu saja tiga tahun kehidupan berumah tangga bersama Reyna, tidaklah mudah untuk dilupakan. Aku bukannya tidak tahu bahwa selama kami menikah, Reyna adalah isteri yang baik bahkan menantu yang baik bagi keluargaku. Tapi apalah daya, aku tak bisa membohongi perasaanku terhadap Reyna. Aku sudah tidak mencintainya lagi.
Salahku sebagai laki-laki yang tidak bisa menjaga hatiku, hingga bisa jatuh cinta pada seorang gadis muda seperti Raya.
Sebenarnya jika seandainya Raya tidak hamil, aku pun tidak punya pikiran untuk menikahinya. Entahlah sebagai lelaki dewasa, aku tahu Raya bukan calon isteri dan ibu yang bisa diandalkan. Banyak hal yang harus aku ajarkan, bahkan ada hal-hal tertentu yang harus aku eja satu per satu agar bisa dimengerti oleh Raya.
Ah inilah risiko bersama dengan gadis belia yang masih labil, bisa dibayangkan nanti aku akan menjadi suami sekaligus ayah untuknya.
*****
Hari ini aku berencana untuk menemui Reyna. Ibu bersedia untuk menemaniku pergi ke rumah Reyna. Aku sangat bahagia memiliki ibu yang selalu ada di pihakku. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Walaupun aku tahu perbuatanku memang bukanlah hal yang benar, namun ibu selalu ada disisiku untuk membelaku. Aku akan menjemputnya Jam 12 siang ini, saat jam istirahat makan siang.
*****
Aku menjemput ibu di rumah dan pergi bersama ke rumah Reyna.
Sesampainya di rumah Reyna, seperti biasa sebagai manusia yang beradab kami datang dengan baik baik sambil mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumssalam" jawab seseorang dari dalam rumah, kebetulan pintu rumah tidak ditutup.
"Oh nak Angga, ibu Nia. Mari masuk!" jawab ibu Nabila, mertuaku dengan ramah. Kulihat anakku Ziva dalam gendongannya.
__ADS_1
Ziva langsung turun dan berlari ke arahku. 'Ah anakku sayang, dua bulan tidak bertemu Ziva semakin menggemaskan.'
Aku begitu menyayangi anakku. Tapi aku sadar, aku tak mampu mengurusnya seorang diri. Akan lebih baik seorang anak jika bersama ibu kandungnya.
Setelah ibu dan aku duduk di ruang tamu, Reyna datang dari arah dapur. Sepertinya badannya sedikit kurus, tidak segemuk beberapa bulan lalu. Tapi masih terlihat lemak dibeberapa bagian tubuhnya. Reyna hanya menatapku dengan tatapan bingung. Matanya masih sama seperti dulu, mata yang masih terlihat indah dari semua hal tentang dirinya saat ini. Terlihat bahwa Reyna masih menyimpan rasa padaku, entah itu rasa cinta atau rasa kecewa, masih terlihat jelas dari sorot matanya. Ah, tapi rasaku sungguh sudah hilang padanya. 'Maafkan aku Reyna.' Batinku. Kami hanya saling menatap tanpa saling menyapa.
Saat semua sudah duduk, sejenak kami hanya terdiam. Aku bahkan bingung memulai pembicaraan dari mana. Untunglah aku membawa ibu, dia berinisiatif untuk berbicara lebih dulu.
"Jadi begini bu, maksud kedatangan saya dan Angga saat ini untuk membicarakan tentang hubungan pernikahan mereka yang sebentar lagi resmi bercerai."
Aku melihat ibu mertuaku hanya menyimak tanpa menjawab.
" Saya berharap Reyna sebagai seorang wanita yang berpendidikan bisa bersikap bijaksana!"
"Maksudnya apa ya bu Nia? Coba bicara yang jelas saya tidak mengerti!" Sepertinya ibu mertua mulai tidak suka dengan apa yang ibuku katakan.
"Begini Bu, beberapa hari yang lalu calon isteri Angga mendapat kejadian yang buruk disekolahnya. Dia sampai trauma dan tidak mau ke sekolah lagi. Padahal sebentar lagi dia akan lulus sekolah."
"Raya mendapat perlakuan buruk oleh teman-teman disekolahnya karena tersebar video Reyna dan Ziva yang bertemu dengan Angga dan Raya di mall. Raya bahkan dibuly dan dihina oleh teman-temannya sebagai pelakor, dan itu membuat Raya sangat terguncang, padahal dia sedang hamil. Kami tidak tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali apalagi sampai menimpa Angga ditempat kerjanya, dan mempermalukan Angga. Anakku yang berharga, aku tidak ingin Reyna sengaja merusak hidupnya karena sakit hati diceraikan!"
"Apa hubungannya denganku bu? Aku hanya mengajak Ziva jalan-jalan. Aku tidak mengusik Mas Angga dan selingkuhannya saat bertemu dengan mereka! Aku bahkan tidak mengucapkan satu katapun saat melihat mereka bermesraan dan melewatiku bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal!"
Kulihat Reyna mulai berdiri, dia sepertinya mulai mengerti tentang arah pembicaraan ibu. Kalau biasanya dia akan diam saat ibuku menghina dan memarahinya, tapi kali ini Reyna sudah bisa menjawab perkataan ibuku. Aku hanya diam, sambil menggendong Ziva dalam pangkuanku. Aku takut salah berucap.
"Iya, kamu memang tidak melakukan apa-apa, tapi kamu menyuruh orang kan untuk merekam kejadian saat Ziva berlari dan memeluk Angga yang ada disamping Raya, lalu orang itu menyebarkannya di sekolah Raya?!"
"Astaghfirullah hal'adzim... Apa maksud ibu? Demi Tuhan, Aku tak pernah melakukannya! Bahkan untuk memikirkannya saja aku tak pernah!"
__ADS_1
"Halah sudahlah jangan munafik! Aku sudah dengar dari Raya, kemarin saja kamu menampar dan memakinya kan saat datang ke rumah kami! Ngga usah sok alim kamu dihadapan kami!"
"Cukup Ibu Nia! Saya tidak terima jika anak saya disudutkan di depan mata saya! Jika Raya mendapat perlakuan buruk di sekolahnya! Itu adalah balasan dari perlakuan buruknya yang merusak pernikahan Reyna dan Angga! Dan itu tidak ada hubungannya dengan anakku! Aku tidak pernah mengajarkan Reyna untuk membenci atau menyakiti orang lain! Kejadian yang terjadi pada calon menantu anda adalah buah yang dia tanam sendiri. Reyna tidak perlu mengotori tangannya untuk membalas kalian. Saya yakin, Tuhan tidak tidur! Dia melihat dan akan membalas semua kejahatan yang kalian lakukan pada anakku! Jika anakmu Angga begitu berharga bagi anda, begitu juga dengan Reyna dia sangat berharga bagi kami ibu dan ayahnya!"
"Saya sudah tahu, apa yang dialami Reyna selama tinggal bersama kalian! Padahal sebagai ibu, saya selalu mengajarkannya agar menjadi isteri dan menantu yang baik. Tapi apa yang Reyna terima, hanya hinaan dan pengkhianatan!
Saya tidak mengajarkannya untuk membalas dendam, karena pembalasan adalah hak Tuhan. Saya hanya sangat yakin Tuhan itu adil! Saya percaya putri saya tidak perlu melakukan hal kotor untuk membalas kalian!"
Baru kali ini aku melihat ibu mertua semengerikan ini. Biasanya beliau adalah orang yang lemah lembut dan penuh kasih sayang! Aku tak menyangka beliau akan seperti induk singa yang menakutkan!
"Apa kamu bilang?! Kamu menyumpahi kami hah?!" Ibu juga tak mau kalah.
"Saya tak perlu menyumpahi anda bu Nia. Di lubuk hati anda yang paling dalam saya tahu anda pasti mengetahui apa yang saya katakan ini benar! Saya tak perlu mengotori hati dan tangan saya untuk membalas kalian!"
"Hah sudah, sudah. Tidak usah menceramahi saya! Seharusnya kita tidak datang kemari Angga!"
Ibu mengambil tas yang ada disampingnya dan melihatku!
"Maaf saya juga tidak mengundang dan mengharapkan kedatangan kalian!"
Jawab ibu mertua tak kalah sengitnya.
Memang orang kalau jarang terlihat marah, sekalinya marah lebih menakutkan dari setan.
"Maafkan kami ibu, Reyna." Aku beranikan diri untuk berbicara sebaik dan selembut mungkin, aku sangat ingin keluar dari keadaan ini. Ingin rasanya menghilang dari tempat ini. Aku tak tahu harus melakukan apa!
Aku sangat senang, setidaknya kata kataku barusan bisa sedikit menenangkan situasi. Tapi...
__ADS_1
"Kenapa kamu yang minta maaf, kamu tidak salah Angga! Perempuan ini yang harusnya minta maaf pada kita!"
Haduh, Ibu kenapa lagi sih! Padahal situasi sudah mulai tenang! Kenapa ibu membuat keadaan kembali tegang?! Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan!