
Reyna dengan cekatan melakukan semua pekerjaannya dengan baik, termasuk menghubungi Aldy untuk mengkonfirmasi kehadirannya pada rapat sebentar.
[Selamat pagi pak Aldy] Reyna menghubungi Aldy lewat telepon.
[Pagi juga Reyna, ada apa?] Balas Aldy dengan suara berwibawa, ia adalah adalah salah satu petinggi perusahaan jadi ia juga harus menjaga sikap terhadap bawahannya.
[Saya hanya ingin mengkonfirmasi kehadiran Bapak untuk rapat sebentar.] Ucap Reyna dengan sopan.
[Iya tentu saja saya akan hadir. Hmm.. Atau, kamu mau menggantikan saya presentasi dalam rapat sebentar?] Aldy tersenyum, di akhir kalimat Aldy mulai bersikap santai kepada Reyna dengan sedikit melemparkan candaan.
[Maaf ya aku pernah merepotkanmu, sehingga kamu menggantikan tugasku bulan lalu.] Sambung Aldy.
[Tidak apa-apa pak. Itu sudah tugasku.] Jawab Reyna sekedarnya.
[Tapi kamu hebat loh bisa melakukannya. Tugas itu bukan tugas yang mudah. Kamu berbicara di hadapan para direktur dan pemegang saham saja sudah hebat, apalagi mempresentasikan program baru perusahaan kita dan itu kamu lakukan di hari pertama kamu kerja, menurutku itu sangat luar biasa.] puji Aldy. Selain wawancara kerja, selama Reyna bekerja ia belum pernah berbicara sepanjang dan se santai ini dengan Reyna. Reyna selalu saja terlihat sibuk dan Aldy tidak ingin mengganggunya hanya untuk berbasa-basi.
[Terima kasih atas pujiannya pak, kalau begitu saya mau melanjutkan pekerjaan mengkopi materi rapat sebentar.] Jawab Reyna dengan sopan.
__ADS_1
[Ehh, hhmm.. Ok ok, silahkan lanjutkan pekerjaanmu.] Ada rasa kecewa saat Aldy harus memutuskan pembicaraannya dengan Reyna. Sejak awal bertemu dan berbicara dengan Reyna saat wawancara kerja, ada sedikit rasa kagum di hati bujang tua itu untuk Reyna apalagi sekarang Reyna semakin cantik dan bercahaya karena kehilangan beberapa kilogram lemak di tubuhnya, ditambah dengan perawatan produk kecantikan dari Gina adiknya dan sedikit aplikasi make up tipis yang flawles membuat Reyna semakin terlihat cantik.
Aldy pergi ke ruangan Dava untuk mendiskusikan hubungan kerjasama antara perusahaan mereka dengan PT. Halilintar, diskusi ini tidak dapat dibicarakan hanya melalui telepon jadi Aldy pergi ke ruang Dava untuk membicarakannya secara langsung. Kesempatan ini juga bisa menjadi modus Aldy untuk berbicara dengan Reyna.
Aldy berjalan menuju ke arah meja Reyna yang berada tepat di ruangan Dava. Reyna sedang sibuk mengetik, tidak melihat ke arah Dava yang masih berjarak tujuh meter darinya.
"Haiii. Bos di dalam?" Tanya Aldy basa basi menyapa Reyna, padahal ia sudah tahu kalau Dava ada di ruangannya. Ia tersenyum dengan sangat manis menebarkan pesona pria tampan yang mapan namun masih lajang.
"Iya pak. Silahkan, Pak Dava ada di dalam." Jawab Reyna dengan tersenyum. Lalu kembali dengan aktivitasnya di hadapan komputer.
Awalnya Aldy merasa Reyna merasa biasa saja, hanya sebatas kagum seorang pimpinan terhadap bawahan. Namun lama kelamaan Rasa kagum itu mulai berubah menjadi rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
'Tapi kenapa begitu sulit mendekati Reyna, walau hanya sekedar bercanda. Dia mampu menolak dengan halus, tanpa harus mengungkapkannya secara langsung. Apa karena ia seorang janda?' Aldy hanya bisa berbicara dalam hati, sambil membuka pintu ruangan Dava.
"Hei, ada apa dengan wajahmu?!" Tanya Dava melihat wajah sahabatnya yang murung. Ia takut jangan-jangan penyebab wajah murung Aldy ada hubungannya dengan urusan pekerjaan. Namun Aldy hanya membalas ucapan sahabatnya dengan tatapan malas.
"Woi... kamu kenapa sih? Ada apa dengan wajahmu? Seperti baju kusut begitu. Trus kenapa juga kamu masuk tiba-tiba seperti tadi?! Kamu sudah lupa cara ketuk pintu?! Untung saja aku tidak punya riwayat penyakit jantung! Atau bagaimana jika aku sedang bermesraan dengan seorang wanita!" Dava mengomeli sahabatnya yang masuk ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun lagi-lagi bukan jawaban yang Aldy berikan, tapi ia hanya menarik nafas dengan kasar.
__ADS_1
"Astaga... dikira aku ini radio apa?! Atau jangan-jangan ia kesambet setan lagi!" Dava berbicara sendiri, karena perkataannya sejak tadi tidak di hiraukan Aldy.
"Bos..." Ucap Aldy akhirnya.
"Nah, Loh... Kenapa? Sudah sadar sekarang?" Tanya Dava sedikit kesal.
"Hmm... memangnya pesona ku sudah hilang ya?! Yah memang sih aku sudah tidak muda lagi, tapi kayaknya aku masih ganteng deh!" Ucap Aldy sambil mengelus dagunya di depan kaca yang ada di ruangan Dava. Lebih tepatnya Aldy berbicara pada dirinya sendiri.
"Ya Tuhan! Benar-benar nih orang! Kesambet setan narsis kali ya?! Ckckck... makanya bro, cepetan kawin sana! Jangan cuma terus-terusan mainin hati anak orang!" Dava menasihati sahabatnya yang sampai sekarang belum juga melepas masa lajangnya. Namun di dalam hati sebenarnya ia juga prihatin terhadap Aldy.
Sepuluh tahun yang lalu Aldy sebenarnya akan menikah dengan pujaan hatinya, tapi takdir berkata lain. Seminggu sebelum pernikahan, Aldy memergoki calon isterinya sedang memadu kasih di atas ranjang dengan Bos dari calon isterinya. Mereka bahkan melakukan perbuatan bejat itu di rumah yang dibeli Aldy untuk mereka tempati setelah menikah. Alhasil pernikahan pun dibatalkan walaupun persiapan sudah 90% dan tinggal menunggu hari H. Undangan bahkan sudah di sebarkan sebagian. Calon isteri Aldy membujuk Aldy dan mengatakan kalau ia khilaf karena di bawah pengaruh alkohol, ia juga berjusujud dan memohon maaf pada Aldy agar menerimanya kembali. Namun tentu saja Aldy tidak bisa menerima lagi wanita yang bersetub*h dengan laki-laki lain di depan matanya sendiri, walaupun ia sangat mencintai calon isterinya dan sudah mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk persiapan pernikahannya.
Kejadian itu sangat mengguncang Aldy. Aldy lelaki tampan dan setia kini tidak lagi percaya akan namanya perempuan dan pernikahan. Rumah impian yang ia beli untuk ditempati bersama keluarga kecilnya di masa depan langsung ia jual, karena menyimpan luka dan kenangan yang sangat menyakitkan baginya. Ia bahkan menjadi buaya yang suka mempermainkan perasaan wanita dan semenjak itu ia juga tidak pernah serius dalam berpacaran. Siapa saja perempuan yang ia suka, pasti jatuh dalam pelukannya karena ketampanan dan kemapanannya. Dava sebagai Bos sekaligus sahabatnya sebenarnya tidak suka dengan sifat Aldy sekarang, namun ia juga bersimpati karena mengetahui alasan mengapa Aldy menjadi seperti seperti itu. Ia hanya bisa menasihati Aldy dan berharap Aldy menemukan pasangan yang tepat.
"Cari wanita baik, dan cepatlah menikah! Jangan sampai kamu kerasukan hantu setan perawan yang menuntut pembalasan dendam terhadap wanita-wanita yang kau t*duri tapi tidak kau nikahi! Bisa hancur nanti semua pekerjaan yang kamu lakukan karena kerasukan!"
"Hahaha... Ada-ada saja kamu ini! Nah, itulah bro! Aku tuh mencari wanita baik yang pantas menjadi isteriku nanti. Wanita yang cantik, pintar, baik hati, dan pastinya setia bro. Kayaknya sekretaris kamu cocok deh dengan semua kriteriaku. Tapi kenapa ya susah sekali mendekatinya?!" Aldy berbicara santai dengan Dava.
__ADS_1