
Ibu tiba-tiba datang dan memelukku dari samping. Aku sangat terkejut, tak tahu harus berkata apa. Untunglah Ziva sudah pergi berjalan menuju ayah ke warung di depan rumah.
Ayah sedang melayani seorang kanvaser barang yang sedang mengunjungi warung untuk mengecek beberapa barang mereka yang akan ditambah stoknya karena habis terjual.
Kebetulan Gina tidak dirumah karena hari ini dia pergi ke kampus. Tidak ada orang yang membantu ayah di warung. Jadi hanya ayah sendiri yang melayani pembeli sekaligus menyelesaikan urusan dengan kanvaser, karena harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang penjualan dan stok barang.
Untunglah ayah tidak bersama kami saat mas Angga dan Ibu nya datang tadi. Hanya dengan keberadaan ibu saja, sudah bisa membuat kami menang telak melawan kata-kata ibu mertua yang tajam. Apalagi kalau ditambah dengan kehadiran ayah. Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Mungkin mereka akan pulang bukan hanya dengan wajah pucat seperti tadi, tapi dengan banjir air mata. Ya, ayah jarang berbicara, tapi sekali Beliau bicara kata-katanya langsung menusuk bagai pisau yang menancap langsung di jantung.
Aku sangat terkejut dengan apa yang ibu lakukan saat ini. Lama kami terdiam. Kami lalu mengurai pelukan. Aku melihat mata ibu yang mulai berkaca-kaca, mata yang memancarkan kasih sayang yang tulus untuk anaknya.
Ah, ibu aku pasti telah menyakiti hatinya. Harusnya diumurku sekarang, aku sudah bisa memberikan orang tuaku kenyamanan dan membanggakan keluarga. Tapi saat ini aku malah mempermalukan mereka dengan masalah rumah tanggaku, bahkan menjadi beban bagi mereka di hari tua.
"Maafkan aku bu." Air mataku tak bisa lagi kubendung.
"Kenapa minta maaf Nak. Kamu tidak bersalah."
Ibu menghapus air mata ku sambil memegang tangan dan menepuk punggung tanganku pelan, mencoba menenangkanku.
"Dalam hidup, kita tidak bisa memilih tentang masalah apa yang akan menimpa kita. Masing-masing kita, diuji dengan ujian yang berbeda-beda. Tidak apa-apa saat ini kamu jatuh, asalkan jangan jatuh lagi di lubang yang sama, dan jangan sampai kamu kehilangan pengharapan. Ibu lihat sekarang kamu lebih kuat dibandingkan saat pertama kali kamu pulang ke rumah, nak."
"Jadilah wanita yang kuat untuk Ziva juga untuk dirimu sendiri. Mintalah petunjuk yang Maha Kuasa, agar kamu diberikan hikmat untuk menyikapi segala sesuatu dengan bijaksana. Tuhan pasti menolong hambanya yang selalu berseru dan berharap pada Nya!"
"Menjadi orang baik itu penting, tetapi lebih baik menjadi orang benar! Kamu sering dengar ungkapan itu kan?! Benar dalam berpikir dan benar dalam bertindak. Karena dalam kebenaran kamu akan menemukan kebaikan bagi orang lain dan bagi dirimu sendiri."
__ADS_1
"Ibu memang selalu mengajarkan anak anak ibu menjadi orang yang baik, tapi jangan biarkan kebaikan itu membuat kamu menjadi bodoh dan menyedihkan. Bersikaplah bijak menyikapi segala hal dengan benar. Ibu tidak ingin lagi mendengar kamu dihina Nak. Jadilah kuat!"
Aku seperti anak sekolah yang hanya diam mendengarkan arahan dari guru BP,tanpa suara atau sanggahan. Aku hanya tersenyum pada ibuku, berusaha untuk kuat. Aku mengangguk dengan antusias, mencoba tegar dan tak ingin mengeluarkan air mata lagi.
"Iya, bu. Doakan Reyna ya."
"Tentu saja, Nak. Nama mu selalu ibu sebut dalam setiap doa Ibu."
"Terima kasih bu."
"Jalan masih panjang, selama Tuhan berkenan kita ada di dunia ini, jangan kehilangan pengharapan."
*****
Sudah beberapa hari berlalu sejak kedatangan mas Angga dan Ibu mertua.
Suatu hari ketika Ziva membahas soal mas Angga aku termenung dengan wajah sedih. Ziva memelukku dan mengatakan 'mama jangan sedih'. Anak yang belum genap berusia 3 tahun sudah mengerti keadaan ibunya. Ah anakku, Aku kasihan pada Ziva.
Untunglah saat ini, aku sudah mulai belajar mengikhlaskan Mas Angga. Aku tak ingin berlarut larut terpuruk dengan perasaanku. Kalau ditanya apakah hati ini masih sakit mengingat pengkhianatannnya, jawabannya tentu saja masih sakit. Tapi tidak se sakit sebelumnya. Aku mulai berdamai dengan diriku sendiri. Ikhlas dan menerima diriku dan keadaanku. Luka yang dia torehkan, entah akan hilang atau hanya akan memudar. Entahlah, biar waktu yang menjawabnya.
Selama ini aku tak pernah menghadiri sidang perceraian serta mediasi. Ku rasa dengan ketidakhadiranku akan mempercepat proses perceraian kami.
Dan sekarang saat putusan cerai sudah keluar, kami sudah sah bukan suami isteri lagi. Aku tak ingin menangisinya lagi. Aku akan berusaha optimis demi masa depanku dan anakku.
__ADS_1
Siang ini saat aku ingin keluar kamar selesai melipat baju bajuku dan Ziva, aku terkejut mendengar pembicaraan ayah dan ibu di ruang tamu. Aku diam mematung saat mendengar namaku disebut.
"Ssstt, jangan keras-keras bu nanti kedengaran Reyna." Kudengar ayahku berusaha mengecilkan suara ibu.
"Tapi bagaimana lagi Yah. Kita tidak mungkin membiarkan kakakmu yang sakit tanpa ada penanganan sama sekali."
"Tapi dia juga punya anak anak kan Bu, salah mereka tidak membayar iuran bpjs Mas Roby selama setahun. Sekarang setelah ayah mereka sakit, mereka harus segera melunasinya agar bpjs ayah mereka bisa aktif lagi dan bisa digunakan."
Paman Roby adalah kakak ayahku. Kemarin kami mendapat telepon dari keluarga ayah kalau paman Roby kena serangan jantung. Ada penyempitan pembuluh darah di jantungnya dan harus segera dilakukan operasi pemasangan ring.
Yang aku tahu saat ini semua biaya rumah sakit sampai operasi dan obat obatan gratis, di tanggung oleh BPJS. Tapi dari pembicaraan ayah dan ibu, sepertinya iuran Bpjs mandiri paman dan bibi telah menunggak selama setahun. Memang harus dilunasi dahulu agar bisa aktif dan digunakan kembali.
Lalu apa hubungannya denganku. Kenapa ayah berusaha mengecilkan suara ibu agar aku tidak mendengar?
"Tidak mungkin kita memberikan pinjaman sebesar itu pada mereka bu! Untung warung tidak seberapa, hanya cukup untuk biaya kuliah Regina dan makan kita sehari hari. Ayah tak ingin mengambil uang tabunganmu yang Ibu simpan dengan susah payah. Lagian Reyna lebih membutuhkan bantuan kita Bu, Susu formula Ziva tidaklah murah. Mereka lebih membutuhkan kita daripada Mas Roby. Biarlah anak anaknya yang mengusahakannya."
"Tidak apa-apa Ayah. Ibu hanya akan memberikan 2 juta dari tabungan Ibu untuk dipinjamkan pada mereka. Sisanya mereka bisa mengusahakannya sendiri. Kalaupun uang itu nantinya tidak diganti, tidak apa-apa. Anggap saja kita bersedekah, walaupun keadaan kita juga pas-pasan. Setidaknya kita punya kontribusi untuk kesembuhan kakakmu."
"Tapi untuk Reyna... bagaimana dengan susu Ziva? Bagaimana jika untung warung tidak cukup untuk membiayai kebutuhan kita sehari hari, Bu?!"
Ya Tuhan, hatiku sakit saat mendengar pembicaraan mereka. Aku benar-benar menjadi beban bagi orang tuaku! Apa yang harus aku lakukan Tuhan?
__ADS_1
"Ibu akan mencoba membuat makanan ringan dari hasil kebun, dan menjualnya untuk menambah pendapatan kita. Lagian ibu masih punya sedikit tabungan untuk jaga jaga. Tidak habis semuanya."
"Yah sudah kalau begitu bu, Ayah akan menghubungi anak anak Mas Roby untuk memberikan uang itu. Semoga mereka bisa mengusahakan sisanya agar Mas Roby bisa cepat di operasi."