
'Ahh...Kenapa aku tidak kepikiran dari awal agar menghubungi kedua orang tuaku untuk menolongku keluar dari tempat terkutuk ini sih?! Aku terlalu kesal pada mas Angga dan keluarganya yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk ku, sampai aku tidak kepikiran untuk meminta bantuan keluarga ku. Orang tuaku menyayangiku dan pasti akan berusaha mengeluarkan aku dari tempat sialan ini!' Dasar Raya bodoh, sudah hampir sebulan di dalam penjara masa sih ngga bisa berpikir untuk menghubungi keluarganya (pov author).
'Hmm.. Aku sakit hati dengan mas Angga dan keluarganya. Mereka bahkan tidak pernah menunjukkan batang hidung mereka apalagi menjengukku disini, padahal mas Angga dan keluarganya tahu aku disini!' Kesal Raya dalam hati.
'Lihat saja nanti, aku akan membalas semua rasa sakitku ini padamu mas. Kamu sudah tidak berguna lagi untukku! Jika kondisimu masih seperti terakhir aku melihatmu, kamu pasti akan dikeluarkan dari tempatmu bekerja. Dan tidak ada gunanya bertahan dengan laki-laki yang tidak memiliki penghasilan seperti kamu! Aku akan meninggalkanmu dan mencari kebahagiaanku dengan laki-laki yang lebih kaya dan lebih tampan dari mu! Aku masih muda dan cantik, kamu kira aku ngga bakalan laku walaupun aku sudah punya anak nanti?!' Raya bermonolog sendiri dalam hati sambil tersenyum licik.
"Woii kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Sudah gila kamu?! Hahaha" Ucap Rini mengganggu lamunan Raya.
Bukannya menjawab, Raya malah kesal melihat Rini lalu menatapnya dengan tatapan sinis. Sepertinya waktu hampir sebulan Raya bersama mereka di dalam jeruji besi, tidak membuat Raya berubah dan belajar dari pengalaman.
Rini kemudian menarik rambut Raya ke belakang dan menamparnya empat kali sampai membuat pipi Raya merah dan bengkak karena tamparan Rini. Raya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas perbuatan Rini, kekuatannya kalah jauh dengan kekuatan wanita bertubuh besar itu, Raya hanya bisa mengerang menahan sakit.
Rini lalu memberikan kode kepada Lita untuk mengeluarkan binatang peliharaan mereka yang sengaja disimpan untuk menakut-nakuti Raya.
Lita mengikat tangan dan kaki Raya, lalu menyumpal mulut Raya dengan cel*n* d*l*m kotor miliknya yang sangat bau agar Raya tidak berteriak dan membuat keributan di dalam penjara. Raya hanya berteriak dengan suara yang tertahan karena mulutnya di sumpal dengan cel*n* d*l*m Lita. Raya hampir muntah dan pingsan karena bau nya yang spesial aduhai.
Tidak hanya sampai disitu, peliharaan lucu milik Rini dan Lita yang sudah mereka siapkan kalau Raya berulah, mereka taruh di depan wajah Raya untuk membuat Raya merontak ketakutan. Pertama mereka mengeluarkan tikus kecil dan memegang ekornya lalu menggerak-gerakkannya di depan wajah Raya, Raya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak suka dan ketakutan dengan perbuatan Rini dan Lita. Raya sangat geli dan jijik dengan binatang yang bernama tikus itu. Rini dan Lita kemudian melepaskan cicak yang lumayan besar dan bertotol-totol hitam ke wajah Raya sehingga cicak besar itu berjalan merayap menyusuri wajahnya yang putih dan mulus.
Raya sangat takut dengan makhluk yang bernama cicak. Jangankan untuk menyentuh, melihat cicak berjarak dua meter dengannya saja dia sudah ketakutan. Pernah di kelas saat belajar, Raya kejatuhan cicak di atas mejanya. Raya langsung melompat dan menjerit mengacaukan satu kelas karena ketakutan kejatuhan cicak di meja nya.
__ADS_1
Mata Raya melotot hampir keluar menyaksikan cicak besar sedang merayap di wajahnya. Air mata mengalir membasahi pipinya karena takut dan meras geli dengan pergerakan cicak di wajahnya. Bagi Raya ini bahkan lebih menyiksa daripada menahan api neraka yang panas.
Raya hanya bisa menangis dan meronta-ronta berusaha untuk menjatuhkan cicak dari wajahnya. Tapi apalah daya tangan dan kaki Raya di ikat, sedangkan kepala Raya ditahan oleh Rini dan Lita sehingga cicak yang ada di wajah Raya tidak berpindah tempat.
Tiba-tiba cicak di wajah Raya menjulurkan lidahnya yang cukup panjang di depan mata Raya. Rayapun langsung pingsan tak mampu lagi menahan siksaan itu.
Karena Raya sudah pingsan, Rini dan Lita melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Raya. Mereka memanggil petugas lalu petugas membawanya ke sebuah ruang kesehatan di tempat itu. Untunglah saat ini ada dokter jaga, dokter lalu memeriksa keadaan Raya dan kandungannya. Syukur keadaan Ibu dan bayi sehat, hanya Raya sedikit mengalami anemia karena kurang asupan zat besi dan kurang istirahat.
"Ah, aku ada dimana?" Ucap Raya saat dirinya membuka mata.
"Kamu tadi pingsan, dan dibawa ke ruangan ini." Jawab dokter perempuan yang masih muda itu.
Raya lalu meminjam ponsel milik dokter untuk memberitahukan kondisinya kepada keluarganya, karena keluarganya mungkin sampai saat ini tidak tahu kalau Raya sedang dj penjara. Dokter yang mendengar cerita Raya ikut prihatin apalagi saat ini Raya sedang mengandung. Tapi dokter kemudian meminta maaf karena tidak bisa memberikan apa yang Raya inginkan. Dokter hanya berjanji akan menyampaikan apa yang Raya butuhkan kepada petugas yang berkompeten untuk masalah itu.
Raya kemudian langsung menggerut dan dengan wajah miring mencibir dokter yang pura-pura baik tapi tidak bisa membantunya menghubungi keluarganya. Dokter yang melihat kelakuan Raya hanya membuang nafas panjang, melihat tindakan Raya yang egois dan masih kekanak-kanakan. Hilang sudah rasa iba kepada wanita muda yang hamil ini terganti dengan perasaan tidak respect.
***
Setelah Raya kembali ke sel tahanan, dokter yang tadi memeriksa Raya memberitahukan kepada petugas, perihal Raya yang ingin menghubungi keluarganya karena mungkin saja mereka tidak mengetahui keadaan Raya yang saat ini sedang di penjara. Raya kemudian di panggil oleh salah satu petugas, dan diberi kesempatan untuk menghubungi keluarganya.
__ADS_1
[Halo, pa. Ini Raya?]
[Raya? Kenapa kamu susah sekali di hubungi nak? Kamu sekarang lagi dimana, kenapa menghubungi papa dengan nomor telepon rumah?]
[Pa...hiks, hiks... Aku, aku sekarang lagi di penjara... Hiks, hiks] Raya memberitahukan kepada papanya dimana ia berada.
[Apa??? Penjara? Kenapa kamu sampai bisa berada di penjara Raya?]
[Sudah hampir satu bulan aku disini pa. Aku dituduh membunuh anak mas Angga. Hiks]
[Kamu membunuh anak Angga?]
[Tidak pa, aku tidak membunuh anaknya mas Angga! Anak nakal itu melompat sendiri dari jendela dan akhirnya meninggal dunia. Tapi mereka semua menyalahkan aku atas kematiannya!] Raya menelepon papa nya sambil diselingi tangisan yang menggetarkan hati.
[Sudah, sudah. Jangan menangis! Papa akan menghubungi teman papa, dia seorang pengacara hebat. Dia pasti bisa membebaskanmu dari penjara! Bersabarlah, besok pagi kami akan kesana!] Papa Raya menenangkan anaknya agar Raya bersabar sampai besok, karena saat ini sudah malam.
[Iya, pa. Aku akan bersabar sampai besok.]
Raya kemudian kembali kedalam selnya dengan wajah berbinar-binar karena keinginannya untuk keluar dari tempat ini akan segera terkabul.
__ADS_1