AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Tambal ban


__ADS_3

"Ayah...Assalamualaikum!"


Terlihat seorang anak laki-laki berseragam putih biru turun dari angkot, dan menyalami Bapak ini. Anak ini tidak malu mencium tangan ayahnya, walaupun di dalam angkot terlihat ada beberapa temannya yang berseragam sama.


Bapak tersebut kemudian mengelus kepala si anak dan memberikannya payung. Sebuah pemandangan yang hangat di tengah cuaca yang dingin. Anak itu kemudian mendorong kursi roda ayahnya, hendak pulang. Bapak itu kemudian pamit padaku.


"Duluan ya mbak."


Aku lalu tersenyum pada mereka....sembari menganggukkan kepalaku.


"Tu-tunggu Pak, Bapak punya bengkel? Rumah Bapak dimana?" Aku menahan kepergian mereka. Untunglah otakku cepat berpikir. Kalau tidak salah, tadi Bapak ini mengatakan beliau punya bengkel di rumah.


"Iya mbak, saya punya bengkel kecil di rumah. Kenapa ya?"


"Ini pak, motor saya ban nya kempes. Saya sudah berjalan sambil mendorong motor saya mencari bengkel, tapi tidak dapat."


"Oh ya, kebetulan rumah saya hanya di belakang ruko ini. Lima puluh meter dari sini ada gang, nanti masuk sedikit kedalam ada rumah dengan cat hijau. Itu, disana juga ada tulisan 'Bengkel masuk 50m'."


"Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?" Aku melihat arah yang ditunjuk Bapak ini.


"Terkadang kita tidak bisa melihat jalan di depan yang terbuka, kalau kita hanya terfokus pada jalan yang kita lihat saja."


Jawaban Bapak benar-benar menamparku. Bagaimana tidak, aku terlalu meratapi keadaanku sampai tidak bisa melihat kalau disana ada penunjuk arah ke Bengkel.


"Raka, tolong kamu dorong motor ibu ini ke bengkel ya."


"Tidak usah pak. Saya saja yang mendorong motor saya." Jawabku sambil tersenyum, tidak enak merepotkan ayah dan anak ini.


"Tidak apa-apa mbak. Nanti anak saya saja yang dorong motor mbak. Saya jalan sendiri saja pakai kursi roda, bisa kok." Bapak bersihkukuh untuk membantu mendorong motor saya, melalui anaknya.

__ADS_1


"Yah, sudah pak. Kalau bapak bersikeras begitu, saya dorong kursi roda Bapak saja ya, biar cepat kita sampainya." Aku lalu mengambil paper bag berisi uang yang akan kuantar, karena ini barang berharga milik oran lain jadi aku harus menjaganya dengan baik. Aku lalu memegang pegangan yang ada di kursi roda.


"Ah tidak usah, nanti merepotkan! Saya bisa kok sendiri." Si Bapak dengan sopan berusaha menjauhkam tangan ku yang sudah menempel di pegangan kursi roda.


"Tidak apa-apa pak."


"Ya sudah, kalau mbak bersikeras."


Jawab Bapak mengulang jawabanku tadi.


Kami bertiga tertawa bersama, lalu berjalan menuju bengkel. Untunglah cuaca sudah tidak lagi hujan. Jadi kami bertiga berjalan tanpa harus takut basah dengan air hujan.


Sampai di rumah Bapak ini, ternyata selain membuka bengkel beliau juga membuka usaha ikan hias. Ada berbagai macam ikan hias dengan berbagai ukuran.


Sembil memperbaiki ban motorku yang kempis kami berbincang-bincang panjang lebar, mulai dari usaha kecil bapak sampai dengan cerita tentang perjuangan hidupnya.


Menurut Bapak, yang baru aku ketahui bernama Pak Ridwan. Usahanya dibantu oleh anak-anaknya. Anak pertamanya bernama Radit sudah lulus SMA ,dan baru saja diterima di POLRI. Saat ini sedang mengikuti pendidikan di SPN. Anak keduanya yang tadi Raka masih duduk di bangku SMP.


Ikan hias di pasarkan melalui facebook dan instagram. Ternyata usaha ikan hias ini sangat menjanjikan. Untuk Bengkel Pak Ridwan mempekerjakan 1 orang karyawan, usaha ini juga lancar.


Aku juga menceritakan kalau saat ini aku bekerja menjadi ojek online dan ini hari pertamaku bekerja.


Ah, Aku hampir saja melupakan Bapak yang akan ku antarkan barang. Aku lalu mengambil ponselku di dalam jaket. Kulihat tidak ada panggilan atau pesan dari Bapak tadi. Pesanku yang terakhir saja hanya di baca tanpa dibalas. Aku lalu mengambil gambar motorku yang sedang diperbaiki ke nomor Bapak yang akan kuantarkan barang, tapi lagi-lagi pesanku hanya dibaca tanpa dibalas.


"Kayaknya tadi mbak bawa muatan banyak ya?"


Tanya Pak Ridwan sambil memperbaiki ban motorku.


"Oh iya benar pak." Aku baru ingat tadi aku mengantarkan seorang ibu yang bobotnya lebih besar dariku bersama 2 anaknya.

__ADS_1


"Kayaknya paku ini sudah lama, tapi karena menggunakan ban tubeless jadi tidak langsung kempis karena ban tidak langsung kehilangan angin, berbeda dengan ban biasa. Tapi karena mungkin tadi muatan mbak banyak, jadi bannya langsung kempis."


"Jadi saya harus bagaimana ya pak?"


"Sebenarnya ada cara yang sederhana hanya dengan mengisi ban yang bocor dengan cairan anti bocor ke bagian yang bocor. Hanya menunggu beberapa saat, cairan akan menutup lubang yang ada. Namun ini bukan cara yang tepat dan hanya memberikan efek yang sementara. Bahkan cairan anti bocor bisa merusak permukaan velg bagian dalam karena kandungan pH-nya terhitung berbahaya, dan bisa membuat velg berkarat juga."


"Jadi sebaiknya bagaimana Pak?"


"Ya di tambal saja mbak. Saya akan membukanya dari velg, setelah dipisahkan dari velg lubang yang nampak bisa ditambal dari dalam. Tapi memakan waktu yang lumayan sih mbak. Hanya saja itu lebih baik demi menghindari kerusakan yang lebih parah. Bagaimana mbak?


Aku benar-benar bingung. Disatu sisi aku perlu secepatnya mengantarkan pesanan ini. Tapi di lain sisi, aku harus memperbaiki motor milik ayah ini dengan baik. Ini juga satu-satunya alat untuk ku mencari nafkah.


"Hmm... Ditambal saja pak."


"Oke. Mbak."


Si Bapak kemudian membuka velg ban motor ku, dan mulai memperbaikinya.


"Pak... Bagaimana cara bapak mengatasi keterpurukkan yang bapak alami?" Entah kenapa tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulutku saat sedang duduk menunggu motorku yang sedang diperbaiki.


"Mbak percaya Mujizat? Mujizat bukan hanya saat Tuhan menyembuhkan sakit penyakit yang kita alami atau ketika kita mendapat apa yang telah kita pinta dan doakan kepada Tuhan."


Aku tak menjawabnya, hanya terus melihat dan mendengarkan ucapannya.


"Saya merasakan mujizat, ketika Tuhan memulihkan hati saya... Kasih Tuhan sanggup memulihkan hati kita yang hancur! Mengubah segala kepahitan dan kesakitan menjadi harapan dan kekuatan! Tuhan selalu ada dan beserta kita, bahkan disaat orang terdekat yang kita harapkan ada bersama dengan kita pergi meninggalkan kita, tapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita!"


"Ada saat dalam hidup, ketika kita menemukan diri kita berada dalam situasi yg tidak kita inginkan. Terkadang seperti orang yang tersesat, kita tidak mampu melihat jalan yang berada di depan."


"Saat dunia melemahkanmu dengan kenyataan buruk, perlakuan buruk, memori buruk, kabar buruk, prediksi masa depan buruk, pikiran dan perasaan yang buruk. Ingatlah bahwa Tuhan sanggup memulihkan hidup kita!"

__ADS_1


"Tapi pak, bagaimana jika saya sudah berusaha untuk berjuang dan bangkit dari keterpurukan, tetapi selalu ada-ada saja masalah yang membuat saya jatuh dan terpuruk lagi. Bahkan belum selesai masalah yang satu datang lagi masalah yang lain." Tanyaku.


__ADS_2