AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
78


__ADS_3

Mereka bahkan melupakan tujuan mereka bertemu untuk mendiskusikan beberapa hal tentang penandatangan hubungan kerja sama dengan perusahaan lain sebentar.


'Sekretarisku? Maksud Aldy ia menyukai Reyna sekretarisku?! Akkhh... Tidak-tidak, ia tidak boleh mendekati Reyna! Kenapa sih ia harus menyukai Reyna juga. Apa tidak ada wanita lain di luar sana?!' Dava berbicara dalam hati, tidak menyangka kalau ia dan Aldy harus menyukai wanita yang sama. Tapi Dava punya ide untuk mengurungkan niat sahabatnya itu.


Dava tidak rela wanita incarannya juga diincar laki-laki lain yang juga sahabatnya sendiri, yang notabene ketampanan mereka sama dan diatas rata-rata.


"Sekretarisku? Reyna maksudnya?! Mmmm, Kayaknya jangan deh. Yang aku dengar sih, dia tuh sudah punya calon suami dan sebentar lagi menikah. Kamu tidak mau kan di cap pebinor karena merebut calon isteri orang?!" Ucap Dava meyakinkan dustanya pada Aldy.


"Ah, yang bener bro! Kamu tahu dari mana kalo Reyna sebentar lagi akan menikah?! Terus bukannya perusahaan kita punya kontrak kerja tidak boleh menikah selama satu tahun pertama?!" Aldy begitu kecewa dengan ucapan Dava tentang Reyna.


"Yah... itu... aku pernah dengar pembicaraannya dengan karyawan lain." Ucap Dava sedikit gugup, meyakinkan dustanya pada Aldy.


"Dengar-dengar sih, mereka menikah nanti tahun depan agar tidak menyalahi aturan perusahaan. Lagian kalo ngga salah ya, Reyna tuh sudah pernah menikah dan punya seorang anak! Lebih baik kamu cari yang masih gadis saja!" Sambung Dava.


'Yang janda cocoknya sama duda!' Ucap Dava dalam hati. Tentu saja ia tidak rela wanita incarannya menjadi incaran pria lain. Ia harus segera mematahkan hati sahabatnya sejak dini, agar tidak menjadi penghalang baginya nanti.


"Aku sudah tahu kalau ia seorang janda, kan aku yang mewancarainya saat melamar kerja. Aku sih tidak masalah dengan status janda anak satu, asalkan ia sesuai dengan kriteria ku tadi."

__ADS_1


'Waduh... bahaya juga nih orang! Bahaya, bahaya!' Ucap Dava dalam hati.


"Tapi, aku juga ngga mau jadi pebinor karena mendekati wanita yang sebentar lagi menjadi isteri orang." Ia tidak mau melakukan itu, karena Aldy tahu betul bagaimana sakitnya dikhianati calon isteri. Aldy sangat murung dengan ucapannya. Itu berarti tidak ada kesempatan baginya untuk mendekati Reyna.


Tok tok tok...


Pintu tiba-tiba di ketuk dan terbuka dari luar, Reyna masuk ke dalam ruangan Dava dan sontak membuat Aldy dan Dava berteriak saking terkejut karena orang yang sedang mereka bicarakan berada di hadapan mereka.


"Wooooo!!" Aldy dan Dava serentak berteriak kaget melihat Reyna. Mereka seperti orang yang ketakutan karena melihat hantu dan sedang mencuri sesajian di kuburan.


"Permisi, maaf mengganggu Pak Dava Pak Aldy. Saya hanya mau mengingatkan Pak Dava kalau jam 11 ini ada janji bertemu dengan dokter Rendi, dan sekarang sudah jam 10.45 menit berarti tinggal 15 menit lagi. Apakah Bapak mau membatalkan janji bertemu dengan dokter Rendi, atau mau diundur jamnya?" Ucap Reyna.


"Oh, hmm. Kalau begitu saya permisi dulu Pak." Ucap Reyna meninggalkan dua pria yang sedang memendam rasa untuknya.


"Hhuufft...."


Aldy dan Dava bersamaan membuang nafas besar merasa lega dengan kepergian Reyna. Untunglah Reyna tidak mendengar ucapan mereka tentangnya, bisa jatuh harga diri mereka sebagai pria dan pimpinan jika ketahuan sedang membicarakan wanita incaran mereka itu. Mereka seperti ibu-ibu kompleks yang sedang bergosip ria sampai lupa waktu.

__ADS_1


Aldy berjalan keluar dari ruangan Dava tanpa menyapa Reyna karena kecewa dan merasa malu dengan perasaannya. Lebih baik ia menghindari Reyna agar tidak terlalu merasa sakit karena perasaannya yang tak kan bisa terbalas. Dava yang melihat sikap Aldy dari cctv yang ada di monitor komputernya hanya bisa tersenyum-senyum sendiri, karena ia sudah berhasil menggagalkan rencana Aldy untuk mendekati Reyna.


"Makanya jangan berani menyukai apa yang aku sukai! Untung saja ketahuan lebih awal, aku juga tidak mau bersaing dengan sahabat sendiri untuk seorang wanita! Kalau bukan kamu yang mengalah, terpaksa aku yang mengalah. Tapi untuk saat ini aku tidak mau mengalah padanya. Memangnya enak, ini namanya cinta layu sebelum berkembang! Hahaha." Dava berbicara sendiri di depan layar komputernya. Dan akhirnya mereka berdua melupakan maksud dari pertemuan mereka di ruangan itu yang adalah untuk mendiskusikan beberapa poin tambahan untuk penandatanganan kontrak kerja sama sebentar.


Dava pun keluar untuk janji temunya dengan dokter Rendi di rumah sakit A. Ia keluar mengendarai mobilnya sendiri, tanpa diantar supir. Supirnya yang lama sudah hampir 2 tahun ini berhenti dan minta pensiun karena masalah kesehatan dan umur yang sudah semakin tua. Sangat susah menemukan orang yang bisa Dava percaya dan cocok dengan karakter Dava, seperti Mang Udin supirnya dahulu. Biasanya jika Dava capek dan Aldy tidak sibuk maka sahabatnya itu yang akan menemani dan menyupirinya kemanapun Dava pergi. Tapi karena saat ini Aldy sedang sibuk mengurus persiapan untuk penandatanganan kontrak dengan PT. Halilintar sebentar, jadi Aldy tidak bisa mengantar dan menemaninya bertemu dokter Rendi.


"Ya Tuhan, bukannya tadi kami harus membicarakan persiapan untuk kerjasama dengan PT. Halilintar sebentar?!" Ucap Aldy sambil menepuk jidatnya.


Ia melupakan urusan bisnisnya dengan Aldy karena tadi mereka terlalu hot bergosip tentang Reyna. Mereka bahkan hanya membicarakan hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan mereka. Tapi Dava tidak mungkin kembali lagi ke kantor karena sekarang ia sudah tiba depan rumah sakit tempat dimana dokter Rendi praktek. Selain itu Dava sudah beberapa kali memabatalkan janji dan menunda kunjungannya untuk terapi pada dokter Rendi. Selain merasa tidak enak pada adik sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu, ia juga takut mendapat omelan dari ibunya terkasih karena ia selalu mangkir untuk terapi demi kesehatannya.


Dava pun terpaksa menghubungi Aldy melalui ponselnya untuk membicarakan tentang urusan pekerjaan mereka.


[Halo bro, kamu ini gimana sih. Mana poin yang mau kamu tambahkan untuk kontrak kerjasama perusahaan kita?" Ucap Dava tegas memarahi sahabat sekaligus bawahannya itu. Jika menyangkut pekerjaan Dava tidak segan-segan bersikap keras dan tegas. Sikap itulah yang bisa mengantarkan Dava sebagai pemimpin sekaligus pemilik perusahaan yang cukup besar seperti sekarang ini.


Aldy pun mengemukakan poin-poin yang akan di tambahkan dalam kontrak, kemudian mengirimkan soft coppy kontrak kerjasama yang sudah fix untuk penanda tanganan kerjasama sebentar untuk Dava periksa sebelum di print.


[Halo bos, sorry-sorry. Ini ada berkas penting yang harus kamu tanda tangani sekarang. Tapi gimana ya, aku sibuk banget buat persiapan sebentar.] Aldy kembali menelepon Dava.

__ADS_1


[Ck, kamu ini gimana sih?! Katanya tadi sudah fix semua. Kamu mau suruh aku yang balik ke kantor untuk menandatangani berkas itu?!] ucap Dava dengan amarah yang memuncak.


[Sorry bro, jangan marah-marah dong, nanti gantengnya berkurang. Berkasnya aku minta tolong Reyna yang antarkan ke kamu saja ya.]


__ADS_2