AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Berita Viral


__ADS_3

Hari sudah sore saat aku sampai di rumah, badanku terasa capek sekali, kepalaku sangat sakit. Entah karena banyak beban pikiran, atau karena pola makan yang tidak teratur.


Aku berencana untuk bergabung di grup loker di sosial media agar lebih mudah mencari lowongan pekerjaan.


Aku melihat anakku sedang menonton youtube dari ponsel, bersama Gina di ruang tamu. Baru saja aku mau mengucapkan salam. Tapi...


"Kak Reyna?


Gina seperti terkejut saat melihatku. Akupun terkejut karena mendengar suara cemprengnya yang mengagetkanku.


"Astagfirullah hal adzim, Gina... Kamu ngagetin kakak aja!"


"Kak Reyna, benar kemarin kakak ketemu sama Mas Angga dan selingkuhannya, eh isteri barunya?" Regina bangkit dari duduknya dan datang menghampiriku seperti orang yang tidak sabaran karena penasaran.


Aneh, dari mana Gina tahu kemarin aku bertemu dengan mereka? Dari mana juga Gina tahu kalau Mas Angga sekarang sudah menikah dengan Raya? Perasaan, aku belum sempat menceritakan kejadian kemarin kepada siapapun walaupun kepada ayah dan ibu.


"Kamu tahu darimana, kemarin kakak bertemu deng mas Angga dan Raya?"


"Wah kak, berita kakak lagi jadi trending topik sekarang. Videonya diunggah di berita Viral kota kita, bahkan sudah dibagikan lebih dari 1000 kali."


"Hah.. viral? Video yang mana Gin?" Aku masih bingung dengan apa yang adikku katakan.


"Sayang, tunggu sebentar ya tante Gina pinjam ponselnya sebentar." Gina berusaha membujuk Ziva untuk menyerahkan ponsel yang sedang Ziva gunakan menonton youtube. Ziva dengan patuh memberikan ponsel yang sedang dia pakai pada Gina.

__ADS_1


Aku masih bingung dengan maksud Gina. Mungkin juga karena pengaruh pusing, aku bahkan sudah lupa kemarin ada yang merekam kejadian saat aku sedang adu mulut bersama Raya di depan orang-orang di SPBU. Aku tiba-tiba tersadar, karena baru mengingatnya.


"Mana kakak lihat?" Aku sangat antusias menanyakan berita itu.


"Tunggu sebentar aku cari dulu. Hmm, ini kak."


Gina menyerahkan ponselnya kepadaku dan memperlihatkan berita yang sedang dia ceritakan.


"Astagfirullah hal adzim!" Aku menutup mulutku sangat terkejut dengan video yang kulihat. Benar saja, video ini sudah 1461 kali dibagikan dan di sukai 2787 orang. Video kemarin bahkan disandingkan dengan video di mall tempo hari yang membuat Raya malu di sekolahnya. Ada part satu dan part duanya. Di video kemarin, mereka merekam kejadian sejak pertama Raya berbicara padaku setelah dia turun dari mobil. Disitu terlihat Raya yang memprovokasiku lebih dulu dan aku masih diam. Namun di menit selanjutnya, merekam kejadian saat aku membalas semua ucapan Raya. Sampai tanggapan orang-orang yang membuat Raya dan Mas Angga malu.


Aku melihat ponselku yang bergetar, ada 30 panggilan masuk via WA dari mas Angga. Ternyata saat di perjalanan tadi mas Angga meneleponku berkali-kali, tapi tidak kuangkat karena sedang mengendarai motor. Tiba-tiba ponselku berdering lagi, kulihat itu dari nomor kontak mas Angga.


"Ya Halo." Jawabku dingin.


"Mas... Terserah ya kamu mau bilang apa. Aku rasa kamu yang paling tahu bahwa aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada orang lain! Kejadian tempo hari di mall, aku tidak tahu menahu. Kamu lihatkan waktu itu aku hanya diam dan tidak melakukan apapun saat melihat kamu dan Raya. Salahku karena tidak mencegah anakmu untuk mendekati kamu saat itu! Tapi asal kamu tahu, beberapa hari sebelum itu Ziva selalu menanyakan tentang kamu setiap hari. Dia begitu rindu bertemu papanya. Saat melihatmu bersama Raya sebenarnya aku akan menghindar. Tapi Ziva terlanjur berlari ke arahmu! Aku ingin menariknya, tapi aku kasihan padanya yang sangat merindukan papanya!"


"Hmm?" Mas Angga terdiam sejenak. "Benarkah?... Ehm, bagaimana kabar Ziva?" Sambung mas Angga.


Mas Angga mulai melunak saat aku mengungkit tentang Ziva. Aku bisa merasakan penyesalan dari caranya berbicara. Aku tahu sifat mas Angga, dia begitu mudah tersentuh. Sama sepertiku. Aku tidak menggubris pertanyaan mas Angga soal Ziva. Aku ingin menuntaskan masalah ini!


"Dan kejadian kemarin sudah kukatakan dengan jelas, bahwa aku sudah berusaha untuk diam dan menghindari isteri mudamu yang masih labil itu! Dia bahkan bertingkah seperti anak kecil. Ckck, Aku hanya membalas perkataannya, karena kalau aku terus diam sepertinya isterimu akan lebih menjadi! Kamu bisa melihatnya sendiri kan di video itu?!"


Kami lalu terdiam, aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan. Aku tidak ingin diam dan selalu saja disalahkan untuk sesuatu yang bukan kesalahanku.

__ADS_1


"Hhuuff... Raya masih sangat muda, dia belum bisa mengontrol perasaan dan perkataannya. Maafkan aku Reyna! Aku hanya sangat malu pada orang-orang karena kejadian ini!"


Sepertinya mas Angga menyadari kesalahannya. Dia pasti lebih paham tentang sifat dan karakter dari wanita yang pernah dia nikahi dan yang baru saja dia nikahi. Mas Angga masih cukup pintar untuk membedakan mana yang benar dan tidak.


"Hm... Reyna, apakah Ziva bisa bersamaku besok lusa? Aku sangat merindukannya! Ayah juga selalu menanyakan tentang Ziva. Aku hanya minta waktu 2 hari untuk bersama dengan anakku."


Sebenarnya sejak awal aku memang sudah memutuskan untuk tidak akan memisahkan hubungan antara mas Angga dan Ziva. Mau bagaimanapun Ziva pasti sangat menyayangi dan merindukan kasih sayang dari papanya, begitu juga sebaliknya.


Tapi saat ini aku ragu untuk mengizinkan Ziva bertemu dengannya. Apalagi menginap 2 hari bersama mas Angga dan Raya. Aku hanya tidak percaya pada isteri mudanya itu!


Aku bahkan menganggap Raya anak kecil, bagaimana mungkin anak kecil menjaga anak kecil.


"Hmm... Aku hanya tidak percaya pada Raya, mas! Kamu tahu sendirikan bagaimana sifat isteri muda mu itu! Aku takut terjadi apa-apa pada anakku!"


"Ziva itu anakku juga kan. Aku tidak mungkin membuat Ziva dalam bahaya. Tenanglah Reyna, di rumah itu bukan hanya ada aku dan Raya. Dirumah juga ada ayah, ibu, Fani, dan Bi Nur pembantu baru kami. Lagian besok lusa juga akhir pekan, jadi aku punya waktu untuk bersama dengan Ziva tanpa harus meninggalkannya sendiri bersama Raya."


"Hhmm..." Aku terdiam memikirkannya. "Baiklah mas."


"Oke. Aku akan menjemputnya besok lusa pagi."


"Iya Mas."


Dengan terpaksa aku mengizinkan Ziva untuk menginap bersama mas Angga selama 2 hari. Seumur-umur aku belum pernah berpisah dengan Ziva lebih dari 1 hari. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak boleh egois. Ziva juga pasti membutuhkan kasih sayang dari papanya. Dan sebenarnya sudah menjadi kesapakatan diantara kami, walaupun hak asuh Ziva jatuh padaku, karena menurut hukum anak yang berusia di bawah 12 tahun adalah hak ibunya dan di bawah pengasuhan ibunya, tapi kami sudah sepakat untuk tidak saling menghalangi jika Ziva ingin bertemu papanya begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2