
Reyna pun mengarahkan pandangannya melihat Angga dan Raya yang berdiri, mereka tidak duduk bersama yang lain di ruang tunggu itu. Angga begitu kacau, terlihat jelas kalau Angga sangat takut dan khawatir dengan kondisi putri kesayangannya itu. Namun berbanding terbalik dengan isteri mudanya Raya yang berdiri di samping Angga, Raya terkesan cuek dan bahkan pada saat seperti ini dia hanya memainkan ponselnya sambil sesekali tersenyum atau cengengesan sendiri melihat beranda media sosial nya.
Sedikitpun tidak ada rasa empati atau khawatir akan kejadian yang menimpa anak tirinya itu. Padahal sebenarnya Raya lah yang harus disalahkan dan bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Ziva. Raya lalai menjaga Ziva, bahkan dia hanya membiarkan Ziva saat meminta bantuan Raya untuk mengambil balonnya yang terbang di dalam kamar, Raya sampai tega mencubit lengan Ziva dengan keras sampai membiru, sehingga mendorong Ziva untuk mengambil mainan balon gasnya sendiri. Dan akhirnya Ziva jatuh dari jendela kamar lantai dua.
'Ah, Mas... Apa sebanarnya yang kau lakukan sampai anak kita seperti ini?!' Batin Reyna bergejolak, dadanya sesak bukan karena rasa cintanya yang masih tersisa untuk mantan suaminya, tapi karena sangat mengkhawatirkan anaknya yang saat ini sedang bertarung nyawa di dalam ruang operasi.
Kenapa saat bersama dengan mantan suaminya anaknya mengalami musibah ini? Walaupun Reyna tahu mantan suaminya tidak mungkin menginginkan kecelakaan ini, tapi kenapa Angga begitu lalai menjaga anaknya sendiri, sampai Ziva bisa terjatuh dari jendela kamar lama Reyna yang dia tahu sangat tinggi.
"Mas sebenarnya apa yang terjadi pada Ziva? Kenapa Ziva kecelakaan seperti ini dan sampai harus di operasi?" Tanya Reyna yang masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Ziva.
Angga pun menceritakan pada Reyna kejadian mulai dari panggilan mendadak dari kantornya dan membuat Ziva harus dia tinggalkan bersama Raya dan Bi Nur sampai hanya tinggal Ziva dan Raya karena Bi Nur harus pulang mengantar cucunya yang sakit ke dokter, dan akhirnya Ziva jatuh dari jendela kamar mereka karena berniat mengambil balon gasnya yang terbang di dekat jendela.
"Apa Mas? Jadi maksud kamu, kamu meninggalkan anak kita sendirian bersama dengan perempuan ini?!" Reyna menunjuk Raya yang berdiri di samping Angga. Reyna kaget sampai matanya membulat ingin keluar karena terkejut dan menahan amarah yang membuncah.
"Apa yang kamu lakukan pada Ziva , sampai dia seperti ini, hah?!" Reyna menatap Raya dengan nanar! Tangannya mengepal menahan emosi.
__ADS_1
"Kenapa kamu mencelakai anakku?! Tidak cukupkah kamu merebut mas Angga dariku?! Kenapa kamu tega pada anak sekecil Ziva!?" Reyna meremas lengan wanita yang ada di depannya. Air matanya tak mampu lagi dia bendung, dadanya terlalu sesak. Wanita yang ada di depannya ini sudah terlalu banyak memberinya luka, dan saat ini Raya bahkan membuat anaknya berada dalam keadaan kritis.
"Memangnya apa yang aku lakukan pada anakmu? Aku juga tidak mendorongnya dari jendela! Salahnya sendiri memanjat jendela kamarku! Kenapa aku yang harus disalahkan sih?" Dengan entengnya Raya mengatakan pembelaan untuk dirinya sendiri, tanpa ada rasa bersalah dan penyesalan.
Plakkk!
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Raya. Raua langsung meringis, menahan perih bekas tamparan Raya di pipi kirinya yang memerah.
"Apakah hatimu terbuat dari batu, sehingga tak ada sedikitpun rasa kasihan atau penyesalan pada Ziva saat ini?!" Reyna tidak lagi bisa mengontrol dirinya saat berurusan dengan anak.
Semua anggota keluarga Angga yang ada di ruangan itu melihat kejadian itu. Mereka terkejut dengan pemandangan di hadapan mereka. Hampir empat tahun mereka hidup bersama dengan Reyna, baru kali ini mereka melihat sikap Reyna seperti ini.
"Apa kamu bilang?! Dasar wanita iblis!!" Reyna akan menampar Raya untuk yang kedua kalinya, tapi tangannya di tahan oleh Angga.
"Reyna, tolong jaga sikapmu! Kita saat ini sedang berada di rumah sakit. Ziva sedang di operasi di dalam! Kita harus tenang dan berdoa demi keselamatan Ziva." Ucap Angga sambil menahan tangan Reyna dan mencoba menenangkan mantan isterinya itu. Reyna pun langsung menghempaskan kasar tangannya yang sedang di pegang oleh Angga.
__ADS_1
"Kamu juga, mas. Kenapa kamu tega sekali padaku? Aku sudah melarangmu kan untuk membawa Ziva?! Kamu lihat sekarang? Dari awal firasatku memang tidak tenang saat kamu dan perempuan ini membawa anakku!!" Ucap Reyna dengan sangat emosi.
"Cukup Reyna! Apakah memang sifat aslimu seperti ini?! Ternyata selama tinggal bersama kami, kamu hanya berpura-pura baik dan sok alim. Di depan mataku kamu bahkan berani berbuat kasar pada Raya dan Angga!" Ucap mantan ibu mertua Raya dengan gayanya yang judes.
"Lagian jika ada orang yang harus disalahkan. Itu kamu! Kamu tidak bisa mendidik Ziva dengan baik, sehingga dia punya sikap tomboy sampai memanjat jendela dan terjatuh! Seandainya kamu bisa mendidik Ziva menjadi anak yang feminim tidak mungkin dia bisa memanjat jendela!" Sambung ibu mertua menyalahkan Reyna, karena tidak terima anak kesayangan dan menantunya disalahkan.
Reyna menatap mantan ibu mertuanya tidak percaya. Keadaan bahkan diputar balikkan sehingga menyalahkan Reyna akan keadaan saat ini. Sangat tidak masuk akal menurut Reyna, seandainya hanya ia yang disalahkan Reyna sudah biasa menerimanya. Tapi saat ini, secara tidak langsung ibunya Angga menyalahkan cucunya sendiri dan membela menantu barunya.
"Aku mengenal anakku bu. Aku mendidiknya dengan baik. Ziva anak yang pintar dan penurut! Dan tidak pernah bermain dan bertingkah tomboi seperti laki-laki yang suka memanjat! Ziva akan menurut jika di nasihati, tidak mungkin dia memanjat jendela kalau tidak ada sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan hal itu." Reyna dengan berani membalas ucapan mantan ibu mertuanya.
"Sudah cukup! Semuanya tenang. Bu, kamu juga harus tenang. Dalam keadaan seperti ini, kita harus bersatu untuk berdoa demi keselamatan cucu kita. Kamu juga menyayangi Ziva kan?" Mantan ayah mertua Reyna mencoba menengahi keadaan di ruangan tunggu itu yang sudah mulai memanas.
Suasana hening seketika. Tiba-tiba dokter keluar, Reyna dan seluruh keluarga Angga kecuali Raya maju dan menhampiri dokter yang baru keluar dari ruangan operasi itu.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" Tanya Reyna dengan antusias dan sedikit was-was.
__ADS_1
Wajah dokter terlihat sedikit tegang, namun terlihat dia bisa menguasai dirinya dengan baik. Dia melihat Reyna dan keluarga Angga satu persatu dan menarik nafas dalam-dalam.
"Mohon maaf bu, kami sudah berusaha yang terbaik semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain. Kami tidak bisa menyelamatkan adik Ziva." Ucap dokter dengan rasa simpati yang besar pada keluarga.