AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Pesan Ziva


__ADS_3

"Ray, kamu tunggu Mas di mobil ya!" Ucap Mas Angga.


"Iya mas."


Raya mematuhi perintah mas Angga, dengan senyum sumringah dia langsung pergi tanpa pamit, dia keluar begitu saja. Dasar tidak punya etika! Terlihat sekali wajah kemenangan yang sengaja dia pamerkan padaku dan Gina karena berhasil mendapat kepercayaan mas Angga. Sayang sekali laki-laki dewasa dan berpendidikan seperti mas Angga dengan mudahnya percaya pada Raya. Tapi itulah kekuatan cinta. Mas Angga sudah dibutakan oleh cintanya pada Raya, dan mau bagaimanapun juga sekarang Raya sudah menjadi isterinya!


"Jadi sekarang, masalah kita adalah Ziva! Bu,Aku sudah meminta izin pada Reyna, dan kami telah menyepakati hari ini Ziva akan bersama denganku selama dua hari." Ucap Mas Angga memulai pembicaraan di depan Ibu setelah Raya pergi ke mobil.


"Tapi mas, aku tidak bisa menyerahkan Ziva dalam asuhan ibu tiri seperti Raya! Aku tidak bisa tenang! Bu, ibu tadi lihat kan sikap isteri mas Angga seperti apa!"


Entah kenapa firasatku tidak baik. Kemarin dulu Aku memang sudah menyetujui permintaan mas Angga untuk menghabiskan waktu bersama Ziva selama dua hari, aku bahkan sudah menyiapkan keperluan Ziva saat nanti berada di rumah Mas Angga sejak semalam, tapi entah mengapa saat ini aku tidak ingin menyetujui permintaan mas Angga membawa Ziva.


"Raya memang masih sangat muda, dia hanya perlu waktu untuk belajar bersikap. Tapi orangnya baik kok. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk pada Ziva. Toh aku hanya meminta padamu waktu dua hari bersama Ziva. Itu juga karena aku libur, jadi aku tidak akan meninggalkan Ziva dengan orang lain." Mas Angga berusaha untuk membujuk ku dan Ibu.


Aku dan Ibu saling bertatapan. Aku menggelangkan kepala masih tidak mengizinkan Ziva bersama mas Angga, tapi ibu berusaha tersenyum menenangkan ku sambil menganggukkan kepalanya.


"Reyna, nak Angga juga punya hak bersama dengan Ziva karena nak Angga Papa kandung Ziva. Lagian hanya dua hari kan?"


"Iya bu." jawab mas Angga antusias.


"Sebagai papanya, aku tidak mungkin menginginkan hal buruk terjadi pada Ziva. Aku pasti menjaga anakku dengan baik!" Ucap mas Angga kemudian.


"Tolong jaga kepercayaan kami nak Angga!" Ucap ibu mengingatkan.


Terpaksa aku akhirnya menyetujui permintaan mas Angga. Mau bagaimana lagi kalau ibu sudah berkata begitu, aku bisa apa. Mudah-mudahan saja firasatku tidak benar.


"Tapi besok malam kamu harus mengantarnya pulang ke rumah ini ya mas!" Aku akhirnya bersuara.


Sepertinya mas Angga mau mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tidak jadi dia utarakan. Mas Angga hanya mengangguk menyetujui ucapanku.


Aku kemudian pergi ke kamar memanggil Ziva dan mengambil tas yang sudah aku siapkan sebagai keperluan Ziva disana. Saat sampai di kamar aku melihat ternyata Ziva sedang asik menonton youtube di ponsel Gina. Pantas saja dia bisa diam sendiri di kamar.


"Sayang, ayo... Ziva mau ikut sama papa?" Aku bertanya pada anakku.


"Emangnya Ziva boleh ikut papa ma?" Anakku malah balik bertanya padaku.

__ADS_1


"Iya sayang, boleh." Jawabku sambil tersenyum padaku Ziva. Aku heran dengan Ziva, umurnya belum genap tiga tahun tapi gayanya seringkalai seperti orang dewasa.


"Mama halus baik-baik saja ya kalau Ziva ngga ada!"


Degg!!


Kenapa tiba-tiba hatiku sakit mendengar Ziva berkata seperti ini?! Aku langsung menepis perasaan itu.


Aku merengkuh Ziva dalam pelukanku. Ku belai dan kuciumi anakku dengan penuh kasih sayang.


"Ya sayang, tentu saja."


"Janji?" Tanya Ziva sambil mengulurkan jari kelingking nya seperti anak yang sudah besar saja. Aku sampai kaget dan tertawa dengan ulahnya.


"Iyaaa. Mama janji!" Aku pun menautkan jari kelingkingku ke kelingking Veren. Setelah itu membubuhkan tanda cap dengan ibu jari.


Astaga, apakah kelakuannya ini ajaran dari Gina ataukah dia meniru semua ini dari tontonannya di youtube?! Batita-batita jaman sekarang, memang canggih-canggih.


"Ziva juga harus jadi anak yang manis ya di rumah papa. Ngga boleh nakal, ngga boleh menangis! Kalau mau minta sesuatu, bilang baik-baik supaya orang lain mengerti!"


"Iya mama."


Aku kembali memeluk Ziva, bahkan kali ini pelukanku semakin erat. Ziva sampai merasa risih dengan sikapku. Aku mencium seluruh wajahnya.


Setelah puas bercengkrama dengan anakku, aku mengantarkan Ziva pada mas Angga di ruang tamu.


Mas Angga langsung memeluk Ziva, tangan kanannya memeluk Ziva sedangkan tangan kirinya menenteng tas Ziva yang sudah aku siapkan.


Mas Angga lalu pamit dan pergi bersama Ziva.


Entah kenapa hatiku sakit mengantar kepergian Ziva. Apakah aku cemburu dengan kebersamaan mas Angba dan Ziva? Atau hanya rasa kehilangan karena ini pertama kalinya aku akan tidur tanpa anakku sejak Ziva lahir. Aku tidak boleh egois! Aku tidak boleh memisahkan Ziva dari papa kandungnya. Ziva berhak bahagia mendapat kasih sayang dari mama dan papanya.


Saat mobil mas Angga sudah pergi, ayah datang dari pasar dengan motornya.


"Ziva sudah di jemput papanya?" Ucap ayah saat melihatku di depan pintu ruang tamu. Ternyata ibu sudah menceritakan kalau Ziva akan menghabiskan waktu bersama papanya.

__ADS_1


"Iya yah. Mereka baru saja pergi." Jawabku.


"Ini kunci motornya." Ayah memberikan kunci motornya padaku.


"Hari ini kamu mau kerja kan? Bagaimana pekerjaanmu kemarin?"


Semalam aku tidak sempat berbicara dengan ayah karena sibuk menyiapkan keperluan Ziva dan menghabiskan waktu bersama Ziva.


Aku menceritakan kejadian kemarin secara singkat, tentunya aku menskip soal hinaan yang aku terima dari Bapak Roky sebelum aku mengantarkan paketnya.


"Besok-besok kalau ada masalah dengan kendaraan, atau masalah apapun yang kamu temui di jalan jangan segan-segan menghubungi ayah, ya!"


"Iya, yah." Jawabku patuh.


"Tapi ayah bangga padamu Reyna, kamu bisa menyelesaikan masalahmu dengan baik. Ingatlah selalu, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu yang terjadi walaupun kejadian buruk sekalipun, selalu ada maksud dan rencana Tuhan di dalamnya. Dan tidak ada rencana Tuhan yang buruk bagi umatnya."


"Iya ayah. Terima kasih."


Aku pamit pada ayah karena sudah masuk orederan di aplikasiku. Akupun memulai pekerjaanku dengan mengantarkan seorang mahasiswi ke kampus.


*****


Pov Raya



Setelah melalui drama yang cukup panjang, akhirnya sekarang aku sudah berstatus sebagai isteri sah dari Angga Abdullah. Awalnya aku menerima saja jika hanya di nikahi secara agama, asalkan mas Angga bertanggung jawab dengan anak yang sedang aku kandung. Orang tua dan keluargaku juga tidak masalah jika aku hanya menjadi isteri kedua, yah walaupun awalnya ayah dan ibuku marah besar padaku karena berhubungan dengan pria yang berstatus suami orang, tapi apa mau di kata nasi sudah jadi bubur. Ayah merestuiku asalkan anak dalam kandungan ku memiliki ayah.


Memang sih aku sudah pernah tidur dengan beberapa laki-laki, tapi aku yakin anak yang ada dalam kandunganku ini darah daging mas Angga.


Aku senang mas Angga menceraikan isterinya yang jelek dan gendut itu. Akhirnya hanya aku satu-satunya wanita di hidup mas Angga. Statusku sebagai isteri mas Angga sah secara agama dan sah secara hukum.


Tapi aku sedikit kesal dengan ibu mertuaku. Belum sebulan aku di rumah mas Angga, tapi aku sudah sakit kepala mendengar omelannya yang membuatku sakit telinga. Padahal dulu sewaktu aku datang bermain ke rumah ini sebagai teman Fani, ibu mertua selalu baik padaku.


Aku tak ingin mempedulikannya, yang penting aku happy. Aku senang semua kebutuhanku di penuhi oleh mas Angga. Aku hanya akan keluar kamar untuk makan, setelah itu aku kembali lagi ke kamar melanjutkan aktivitasku menonton Drama Korea.

__ADS_1


__ADS_2