AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Bunuh diri


__ADS_3

"Mohon maaf bu, kami sudah berusaha yang terbaik, namun Tuhan berkehendak lain. Kami tidak bisa menyelamatkan adik Ziva." Ucap dokter dengan rasa simpati yang besar pada keluarga.


Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, Reyna langsung jatuh tersungkur di lantai. Otaknya terasa kosong, dia tak mampu lagi memikirkan apa-apa. Dunianya benar-benar runtuh. Cahaya yang selalu menerangi dunianya hilang meninggalkan kegelapan yang pekat. Anaknya yang cantik dan lucu meninggal!


"Maksud dokter, anak saya ..." Angga tak mampu melanjutkan kata-katanya sendiri. Dia juga sangat terpukul akan kepergian anaknya yang begitu tiba-tiba.


"Iya, waktu kematiannya pukul 15.35." Ucap dokter dengan wajah datar.


Tangis keluarga pun pecah. Semua sedih akan kepergian tiba-tiba dari gadis kecil yang cantik dan menggemaskan itu.


Dokter pun menjelaskan secara singkat proses operasi yang begitu rumit, karena selain benturan keras di kepala Ziva yang menyebabkan pendaharan di antara otak dan tengkoraknya, pinggang Ziva sepertinya membentur sesuatu saat terjatuh sehingga menyebabkan ginjalnya mengalami kerusakan. Ditambah saat dibawa ke rumah sakit kondisi Ziva sudah sangat parah.


"Tidak! Anakku masih hidup! Ziva tidak mungkin meninggalkan aku!" Tiba-tiba Reyna bersuara dengan keras. Membuat semua mata tertuju padanya. Dokter pun undur diri pada keluarga dan kembali ke dalam.


"Reyna, kita semua disini sangat sedih akan kepergian Ziva yang begitu tiba-tiba! Ikhlaskan hatimu menerima kehendak sang Pencipta." Ucap Angga sambil memegang kedua bahu Reyna, masih dengan air mata yang mengalir dari netranya.


"Tidak mas, Ziva tidak mungkin meninggalkanku. Hanya Ziva yang aku punya! Tuhan tidak mungkin setega itu padaku!" Ucap Reyna dengan isak tangis.


"Ikhlas Reyna! Kita harus mengikhlaskan kepergian Ziva. Tuhan pasti lebih tahu yang terbaik untuk anak kita." Ucap Angga berusaha menenangkan Reyna.


"Apa salahku padamu Mas? Hah?! Kenapa kamu begitu tega padaku?! Aku sudah mencoba melarangmu untuk membawa Ziva kan? Kenapa kamu sangat tega padaku?! Tidak cukupkah kamu melukai ku, Mas?!" Ucap Reyna dengan suara serak dan pelan, seakan tidak lagi punya kekuatan untuk berbicara. Reyna menatap Angga dengan tatapan hancur dan putus asa. Seandainya Reyna bisa memutar waktu, Reyna akan bersikap keras dan tegas sehingga Angga tidak bisa membawa Ziva dan kecelakaan itu tidak akan terjadi.

__ADS_1


Angga begitu tertampar dengan ucapan Reyna. Walaupun saat ini perasaannya telah berubah pada wanita yang pernah mengisi hatinya ini, tapi Angga tahu dia telah menorehkan luka yang begitu dalam bagi wanita yang pernah memberinya seorang putri ini. Angga pun begitu terpukul dan sedih dengan kepergian gadis kecil yang selalu dia banggakan.


****


Saat keluarga sedang menunggu di ruang pemulasaran jenazah dan hendak membawa pulang jasad Ziva, ada seorang dokter yang datang mencari orang tua Ziva.


"Bisa saya bertemu dengan orang tua Ziva?" Tanya seorang wanita cantik dengan setelan dokter berwarna hijau, kepada keluarga yang sedang menunggu.


Reyna melihat sekitar mencari Angga, tidak ada Angga bersama mereka. Hanya Reyna dan keluarganya yang sudah tiba di rumah sakit, keluarga Anbva dan isteri Angga disitu. 'Ah, Mas Angga tidak ada. Mungkin mas Angga sedang mengurus administrasi.' batin Reyna.


"Iya, saya mamanya Ziva. Ada apa dok?" Reyna menjawab dengan lemas dan tidak bertenaga.


"Maaf bisa ikut saya sebentar Bu? ada yang mau diberikan kepada anda." Ucap dokter itu bertanya dengan ramah pada Reyna.


Reyna mengikuti dokter Vita sampai ke sebuah ruangan. Setelah tiba di ruangan, dokter Vita mengambil sesuatu diatas meja dan menyerahkannya pada Reyna.


"Ini....ah, anakku... " Reyna menerima baju Ziva yang diserahhkan dokter Vita pada Reyna. Tangis Reyna pun kembali pecah, Reyna memeluk dan mencium pakaian yang Ziva gunakan tadi.


"Aku... Aku memakaikan baju ini padanya tadi pagi. Anakku... masih sehat dan hidup tadi pagi!" Reyna menangis sambil mencium baju yang digunakan Ziva sebelum kecelakaan. Di kerah bajunya ada noda darah, dan di bagian depan seperti ada bekas jahitan memanjang secara vertikal dari atas ke bawah.


"Saat tindakan medis, kami menggunting pakaian adik Ziva agar memudahkan penanganannya. Tapi aku sudah menjahit kembali pakaiannya bu." Ucap dokter Vuta dengan sopan, sepertinya dokter Vita mengerti arti kerutan di dahi Reyna saat menatap baju Ziva.

__ADS_1


"Terima kasih banyak dok." Ucap Reyna masih sambil menangis dan memeluk pakaian Ziva.


"Maaf... Kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi saat dibawa ke rumah sakit keadaan adik Ziva sudah sangat buruk." Sepertinya dokter Vita begitu berempati dengan kematian Ziva. Reyna hanya bisa tersenyum sambil menangis, dan terus memeluk pakaian anaknya yang sudah tiada.


*****


Tiga hari berlalu sejak kematian Ziva.


Ibu dan Gina biasanya akan selalu menemani Reyna, dimanapun Reyna berada. Mereka tidak akan membiarkan Reyna seorang diri. Untuk sementara Ibu dan Gina tidur bersama dengan Reyna.


Saat itu baru selesai acara tahlilan tiga malam kematian Ziva, tamu-tamu sudah pulang. Ayah sedang merapikan kursi-kursi, sedangkan ibu, Gina dan Reva sedang menggulung karpet, menyapu dan merapikan rumah. Hanya tinggal Reyna seorang diri yang sedang duduk termenung diatas tempat tidur sambil menatap boneka kuda poni milik Ziva yang dibeli Reva beberapa bulan yang lalu.


Reyna bagaikan cangkang kosong, tubuhnya hidup tapi hatinya seakan mati bersamaan dengan kematian putri kecil permata hatinya. Sejak kematian Ziva, Reyna tidak mau makan apa-apa. Sudah tiga hari Ibu membujuk Reyna untuk makan, bahkan ibu sampai berusaha menyuapi Reyna agar Reyna mau makan. Tapi hasilnya nihil, Reyna tidak mau menyentuh makanannya sedikitpun.


Walaupun memang Reyna enggan untuk makan, tapi sebenarnya pada awalnya Reyna telah mencoba untuk makan walau hanya sedikit, tapi tubuhnya menolak semua makanan yang masuk dalam tubuhnya. Mungkin karena pengaruh stress berat sehingga membuat Reyna susah untuk mencerna makanan di dalam tubuhnya.


Hanya air putih yang bisa masuk dalam tubuhnya, dan sedikit susu yang diberikan Ibu untuk Reyna. Itu pun hanya boleh sedikit, karena kalau Reyna meminum susu kebanyakan, dia juga akan merasa mual dan memuntahkan semua isi perutnya.


Reyna begitu tertekan dan terpukul dengan kematian anaknya. Tidak seharipun yang di lewati Reyna tanpa menangis. Matanya sudah bengkak dan hampir iritasi karena telalu banyak menangis. Yang ada di hati dan pikirannya hanya Ziva putri kecilnya yang cantik dan lucu yang saat ini sudah pergi menghadap sang pencipta, meninggalkan Ziva dengan perasaan sedih yang menyiksa. Jiwanya begitu terguncang. Reyna benar-benar merasa sendiri dan di tinggalkan. Hidup seakan tidak adil padanya. Awalnya Reyna kehilangan suaminya karena godaan pelakor, dan sekarang Reyna harus kehilangan anaknya Ziva untuk selamanya.


Tanpa ada seorangpun yang menyadari, Reyna pergi ke gudang yang dulunya adalah kamar Gina. Disana Reyna mencari sesuatu, dan akhirnya menemukan tali di dalam kardus yang ada di gudang. Entah apa yang merasuki Reyna, Reyna pun membuat simpul dan mulai melancarkan aksinya untuk mengakhiri hidupnya yang terasa kelam.

__ADS_1


Reyna mengikat tali di atas melalui ventilasi udara di gudang itu, dan memasukkan simpul yang dia buat ke dalam lehernya.


Saat ini Reyna telah berdiri diatas kursi, dan akan segera menyelesaikan aksinya. Reyna sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Reyna pun menutup matanya dan mendorong kursi, sehingga tubuhnya menggelantung di udara. 'Selamat tinggal dunia yang telah memberikan banyak kekecawaan padaku!' batin Reyna.


__ADS_2