
Masih Pov Angga
Semalam untuk pertama kalinya Reyna berbicara padaku dengan suara tinggi. Selama aku mengenalnya, baru kali itu aku melihat Reyna berbicara seperti itu.
Salahku meletakkan ponsel di sembarang tempat. Ya selama berhubungan dengan Raya enam bulan ini, aku selalu membawa ponselku kemanapun aku pergi walaupun ke kamar mandi. Untunglah Reyna tidak curiga. Dia isteri yang sangat pengertian.
Saat keluar kamar mandi aku sangat terkejut melihat Reyna sedang memegang ponselku.
Wah ternyata Reyna sudah mulai memeriksa ponselku pikirku. Aku langsung merampas ponselku. Sebenarnya aku tidak takut karena nama Raya kutulis Rayhan di kontak ponselku. Dan lagi pesan pesan mesra kami langsung aku hapus setiap selesai chat dengan Raya.
Tapi jantungku hampir berhenti saat Reyna berkata mendapat pesan WA dari Rayhan. Tanpa menunggu, aku langsung memeriksa pesan di ponselku.
Degh! Raya mengirimkan pesan kalau dia hamil?!
Selama ini aku melakukannya memakai pengaman, namun beberapa saat yang lalu entah karena sudah dikuasi nafsu aku sudah tidak sempat memikirkan untuk memakai pengaman lagi.
Aku langsung menyambar pakaian ganti yang disediakan Reyna dan bergegas memakainya di kamar mandi. Aku harus berbicara dengan Raya untuk menanyakan kebenarannya.
Saat mengganti pakaian, Reyna mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Aku mengabaikan pertanyaan Reyna dan bergegas untuk keluar rumah. Saat ingin melangkah, bajuku ditarik Reyna. Tak terima terus diabaikan, Reyna berteriak bertanya apakah aku selingkuh.
Dalam keadaan tertekan aku menamparnya. Harusnya dalam situasi ini akulah yang mendapat tamparan dari Reyna, tapi aku melakukannya untuk menutupi kesalahanku. Agar supaya tak terjadi lagi hal yang tidak diinginkan, aku langsung keluar. Tak kuhiraukan Reyna yang berteriak teriak memanggil namaku.
Saat aku menelepon Raya ternyata ayahnya yang berbicara. Mereka sedang menungguku di rumah mereka. Akhirnya kesepakatan pun terjadi. Aku sadar aku pria beristri dan jika mereka menerima, aku hanya bisa menikahi Raya secara sirih. Itulah bentuk tanggung jawabku.
Saat aku pulang dan membicarakannya dengan Reyna, kupikir Dia akan menerima keputusanku untuk menikah lagi. Diluar dugaan, Reyna yang biasanya penurut ternyata tidak terima dengan keputusanku. Yah, wanita mana yang rela di duakan. Semalam aku melihat sisi lain yang berbeda dari Reyna. Biasanya aku melihat Reyna sebagai wanita yang kuat dan penurut. Tapi tidak kali ini, Dia tidak terima jika di madu, dan langsung keluar dari rumah dengan membawa Ziva anakku.
Sebenarnya aku ingin menghentikannya tapi entah kenapa bibir ini tak sanggup berkata. Aku hanya bisa melihat Reyna mengepak pakaiannya dan pergi membawa Ziva.
Ah, mungkin dia masih akan bertahan kalau seandainya mulut ini tidak keceplosan mengatakannya. Akhirnya rahasia yang kusimpan selama 2 tahun ini, keluar sudah dari mulutku. Kupikir itu akan aku simpan selamanya. Setidaknya Reyna isteri dan menantu yang baik bagi keluargaku. Aku juga tak sampai hati bila menceraikannya.
*****
__ADS_1
"Reyna, Reyna. Mana sarapannya!" Suara ibu yang cempreng menggetarkan seisi rumah.
Sudah sepuluh menit Ayah, ibu dan Fani duduk di meja makan tapi belum ada makanan yang terhidang diatas meja. Aku bergegas mendekati mereka di meja makan.
"Reyna ngga ada bu" jawabku.
"Ngga ada gimana maksudnya? Masih pagi begini sudah mekeluyuran kemana si jelek itu?" Tanya ibu dengan judesnya.
Kulihat pandangan ayah berpindah dari ipad yang ada ditangannya pada ibu, seperti menegur dengan matanya. Tanpa kata-kata yang keluar dari mulut ayah sudah ampuh untuk membuat ibu bungkam.
"Semalam Reyna pergi dari rumah bersama Ziva. Mungkin ke rumah orang tuanya." Jawabku.
Tanganku sudah mulai basah dengan keringat. Entah dari mana aku harus menjelaskan tentang Raya.
"Tidak mungkin. Semalam ibu masih bertemu dengannya saat Dia berteriak-teriak mengejarmu, ya kan Fan?" Jawab ibu lalu melihat kearah Fani untuk membenarkan pernyataannya.
"Iya, iya benar tuh. Terus bajuku tidak disetrika mba Reyna bu, terpaksa tadi aku menyetrikanya sendiri." Kata Fani mengadu dengan wajah murung yang dibuat-buat.
"Hari ini aku absen tidak masuk kantor. Ada beberapa hal yang harus aku urus." Jawabku memulai pembicaraan ini. Ada rasa takut tentang apa tanggapan mereka khususnya ayahku, jika aku mengatakan tentang Raya.
"Ehm.. Aku, akan menikahi Raya." Kataku dengan hati hati.
"Apa?" Sontak seluruh keluarga menatapku dengan terkejut dan kompak bertanya membuatku semakin risih.
"Ehm, Raya hamil. Dan orangtuanya mengancam akan memenjarakanku jika aku tidak segera bertanggung jawab dan menikahi putri mereka." Jawabku berusaha untuk tenang padahal hati ini bergetar karena ketakutan.
"Ohh my God. Serius Mas?" Tanya Fani semakin membuat suasana panas. Suasana hening seketika.
"Kenapa kamu bodoh sekali jadi laki laki?! Jadi itu yang membuat Reyna keluar dari rumah semalam?" Terdengar suara bariton dari pria paruh baya yang jarang sekali berbicara.
Ya, ayah tidak banyak bicara di rumah. Tapi sekali beliau bicara, semut pun akan berhenti untuk mendengar.
__ADS_1
"Yah ampun Mas, jadi selama ini kamu berselingkuh dengan Raya? Raya temanku yang sering datang kemari kan?" Fani tak menyangka aku punya hubungan dengan sahabatnya sendiri. Mungkin Raya tak pernah memberitahunya walaupun mereka bersahabat dekat.
"I,iya!" jawabku dengan suara tercekat melihat tatapan seluruh keluargaku, terutama tatapan ayah yang hampir membuat jantungku berhenti karena ketakutan.
"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya ayah dengan raut wajah yang sangat marah.
Matanya seakan sedang menghantamku dengan pukulan, tanpa harus melakukannya secara langsung.
Ayahku memang seperti itu. Beliau tidak banyak bicara, tapi sekali bicara maknanya bisa begitu dalam. Belum lagi tatapan matanya yang menakutkan bisa membunuh lawan tanpa kata. Mungkin mahasiswanya pernah ada yang pingsan mendapat dosen penguji skripsi seperti ayahku.
"A,aku akan bertanggung jawab dan menikahi Raya secara siri." Jawabku dengan hati-hati.
"Lalu Reyna?" Tanya ayahku.
"Dia tetap menjadi isteri pertamaku dan bisa tinggal di rumah ini."
"Apakah Reyna menerimanya?" Tanya ayahku lagi.
"Tidak, untuk itulah semalam Reyna pergi dari rumah membawa Ziva. Semalam Reyna hanya emosi mendengar berita ini. Tapi tenang saja yah, aku akan membujuknya. Dia wanita yang penurut, Reyna pasti akan menerimanya."
"Dasar, wanita jelek tidak tahu diri. Masih untung Angga tidak menceraikannya." Sambung ibu. Sepertinya ibu membelaku. Ayah langsung menatap ibu tidak suka. Dan itu ampuh lagi membuat ibu diam.
"Ayah harap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat. Ayah tidak mau terlalu ikut campur dengan hidupmu. Karena hidupmu, kamu sendiri yang menentukan! Kamu pria dewasa, kamu bukan lagi anak kecil yang harus ayah tuntun dan mengeja apa yang harus kamu lakukan. Sebagai orang tua ayah hanya berharap kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik!"
"Dan cobalah untuk mengerti perasaan Reyna. Reyna sudah mengabdikan dirinya selama tiga tahun di rumah ini sebagai isterimu. Kamu yang memilihnya kan. Diantara kalian juga ada Ziva, buah cintamu bersama Reyna."
Jarang sekali mendengar ayah berbicara sepanjang ini. Tapi semarah marahnya ayah, dia juga orang tuaku. Pasti Ayah mengharapkan yang terbaik untuk hidupku.
Pagi ini kami semua keluar rumah tanpa sarapan.
Ibu memanggil mpok Nur seorang wanita paruh baya di dekat rumah untuk menjaga Nenek.
__ADS_1
Beliau sering kali dipanggil untuk membantu Reyna memasak kalau ada hajatan di rumah ini.