
Saya tadi mendapat telepon dari anak saya, ternyata perusahaan tempat saya ingin berinvestasi dengan melakukan trading di bursa komuditi, semuanya tidak benar alias fiktif. Sudah banyak korban dengan total kerugian yang mencapai ratusan miliar. Tentu saja anak saya tidak asal bicara, dia pasti punya bukti. Anak saya adalah dosen matematika di universitas A di kota ini. Dan benar saja, berita siaran langsung di televisi baru saja menayangkan penangkapan dan penahanan empat direksi dari perusahaan investasi robot trading yang akan saya ikuti."
"Seandainya kamu datang tepat waktu mungkin uang ini tidak akan menjadi milik saya lagi, karena sudah disetor. Walaupun polisi telah menahan para pelaku penipuan, tapi uang yang telah terlanjur disetor oleh para korban tidak mungkin kembali begitu saja. Kalaupun akan kembali pasti prosesnya akan lama dan tidak kembali sepenuhnya. Saya ucapkan banyak terima kasih ya sama kamu." Ucap Bapak ini sambil tersenyum ramah padaku.
Alhamdulillah, Tak menyangka jika keterlambatan dan halangan ku untuk sampai disini, adalah cara Tuhan menolong Bapak ini melalui aku. Aku turut senang.
"Ini ambil." Bapak Roky memberikan kembali uang itu padaku.
"Tidak usah Pak, saya sangat senang Bapak bisa terhindar dari modus penipuan investasi robot trading. Tapi sungguh tidak usah pak." Aku berusaha menolak uang prmberian Bapak ini secara halus, agar Beliau tidak tersinggung.
"Ambil saja. Kalau kamu tidak ambil, berarti kamu tidak menghargai saya!" Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Uang itu bukan hak saya, nominalnya juga terlalu banyak.
"Mana ponsel kamu!"
"Haah?" Mau apa dia meminta ponselku. Aku lalu memberikannya dengan ragu-ragu.
"Buka kunci ponsel kamu!" Bapak ini kemudian menyerahkan kembali ponselku padaku.
Aku membuka kunci ponsel, lalu menyerahkan kembali pada Bapak karena tangannya sudah menengadah meminta ponselku kembali. Entah apa yang dia cari dari ponselku, kemudian Beliau lalu berbicara.
"Saya Roky Herlambang, memberikan uang sejumlah empat ratus ribu pada ibu.... Siapa?"
"Saya?..." Jawabku agak bingung. "Saya Reyna, pak." Sambungku.
"Pada ibu Reyna, tanpa paksaan atau tanpa meminta timbal balik. Saya tulus memberikannya karena ucapan terima kasih!" Beliau lalu menekan selesai, ternyata beliau sedang merekam suaranya tadi. Bapak ini kemudian mengembalikan ponselku.
__ADS_1
"Ini sebagai bukti kalau saya tidak akan mempermasalahkan uang ini! Kamu bisa menggunakan rekaman ini kalau terjadi masalah di kemudian hari!"
"Tapi pak...." Aku masih ragu menerima uang sebanyak ini. Bekerja seharian pun aku belum tentu mendapat uang sebanyak ini.
"Hhuft.. kamu ini, apa susahnya sih langsung terima saja! Cuma empat ratus ribu juga, bukan empat ratus juta! Aku tak tenang kalau tidak memberikan uang ini sebagai ucapan terima kasih. Ini..."
Pria paruh baya ini lalu memberikan uang itu kedalam genggamanku. Dan dengan berat hati dan ragu-ragu akupun menerimanya.
"Te-terima kasih Pak!" Aku lalu pamit pada beliau. Dan dengan sopan menolak tawaran beliau untuk memesan makanan.
Aku masih belum percaya, bisa menerimanya. Jujur di dalam hatiku ada rasa senang menerima uang ini. Siapa sih yang tidak mau uang. Aku saja capek-capek bekerja seharian hanya untuk mencari uang. Tapi di lain sisi, hatiku tidak enak menerima uang ini dengan begitu mudah.
Aku lalu mengingat Bapak Ridwan pemilik bengkel tadi yang tidak memiliki kaki. Mungkinkah ini balasan dari pemberianku padanya. Kuingat kata-katanya saat menerima uangku.
Aku tersenyum, setiap kali mengingat ucapan dari Pak Ridwan. Semua ucapannya sangat menguatkan. Memberikan motivasi dan ketenangan. Semoga Tuhan memberkahi Beliau dengan kesehatan dan damai sejahtera! Aku dengan tulus mendoakan Pak Ridwan.
Aku lalu pergi dengan motorku. Hari ini cukup aku bekerja, nanti lanjut lagi besok. Aku mampir di supermarket untuk membeli cemilan buat anakku. Jarang-jarang aku membelikannya snack, selain untuk kesehatan aku juga tidak punya uang, aku memilih untuk menabung atau membelikannya barang lain.
Aku membeli snack-snack dan buah-buahan, aku juga membeli boneka barbie kecil seharaga dua puluh ribu untuk Ziva. Tidak lupa aku membeli makanan kesukaan Ziva ayam goreng KF*. Setelah itu aku mengisi bensin sampai full.
Uangku masih tersisa dua ratus lima puluh ribu rupiah. Alhamdulilah, bisa aku tabung. Aku lalu pulang ke rumah. Sampai di rumah aku langsung disambut oleh anakku. Ingin sekali aku langsung memeluk dan mencium Ziva. Tapi aku baru pulang dari bekerja di luar yang penuh dengan polusi dan kuman yang tidak baik untuk kesehatan anak-anak.
Aku lalu memberikan boneka barbie pada Ziva dan menaruh barang belanjaan ku diatas meja. Terlihat Ziva sangat senang mendapat boneka Barbie, snack-snack dan ayam goreng kesukaannya. Sekali-kali tidak apa-apa memberikan anakku makanan ini asalkan tidak selalu. Aku lalu pergi untuk mandi membersihkan diri agar bisa memeluk anakku dan bermain bersamanya.
Selesai mandi aku melihat Ziva sedang makan nasi dengan ayam goreng yang baru saja kubeli. Anakku makan dengan lahapnya, aku sangat bahagia melihat anakku seperti itu. Baru kusadari Ziva sudah bisa makan sendiri tanpa perlu bantuan atau disuapi orang lain.
__ADS_1
Aku berjalan ke arah Ziva yang sedang makan dan di temani oleh Gina.
"Wah, hebat! Anak mama sudah besar, sudah bisa makan sendiri! Siapa yang ajarin Ziva makan sendiri?" Tanyaku dengan lembut pada Ziva.
"Ziva diajalin sama oma, ma!"
"Sudah sejak kemarin Ziva makan sendiri kak. Ziva yang minta sama Ibu supaya nggga usah disuapi." Ucap Gina sambil memberikan Gina minum.
"Wah hebat, anak mama! Pintar sekali!" Aku duduk disampingnya, dan mengusap lembut kepala anakku.
"Ziva mau ketemu sama papa?" Sambungku dengan hati-hati.
"Ketemu papa, ma? Waahhh, Ziva mau.. mau!" Jawab Ziva antusias. Terlihat sekali dia sangat senang dengan pertanyaanku.
Inilah mengapa aku tak boleh memisahkan ikatan ayah dan anak antara Mas Angga dan Ziva. Karena seburuk-buruknya orang tua, mereka adalah cinta dan harapan pertama bagi anak-anaknya. Walaupun di lubuk hati ini ada perasaan tak rela memberikan Mas Angga waktu bersama dengan Ziva meskipun hanya dua hari. Tapi aku tidak boleh egois! Aku juga harus memikirkan perasaan Ziva! Yang penting anakku bahagia!
"Ziva besok ke rumah papa ya, bobo sama papa. Ziva mau kan?"
"Mau ma. Ziva mau, bobo sama papa. Sama mama juga kan?" Ah, anakku masih belum mengerti. Entah bagaimana aku menjelaskan tentang keadaanku dan mas Angga pada Ziva.
"Ziva sayang, sekarang mama tinggal disini, jadi mama bobonya disini. Papa tinggal disana, jadi bobonya juga di rumah papa. Kalau Ziva mau bobo sama papa berarti ngga bisa bobo sama mama." Ziva sepertinya bingung dengan penjelasanku.
"Ziva mau bobo sama papa kan?" Akupun menanyakan kembali pertanyaan yang sama. Ziva lalu mengangguk.
"Mama ngga bisa ikut." Ucapku kemudian.
__ADS_1