AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Vita dan ibu Sinta


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Dava langsung mendapat penanganan medis dari dokter Rendi.


"Bagaimana kondisi Dava, Ren?" Aldy menanyakan kondisi Dava setelah  ditangani oleh adiknya dokter Rendi. Ia sangat khawatir dengan kondisi kesehatan bos sekaligus sahabatnya itu.


"Saat ini Mas Dava sedang tidur karena efek samping obat Mas. Setelah ini kondisinya akan membaik. Oh ya, bagaimana ceritanya sampai penyakit mas Dava kumat lagi? Aku pikir mas Dava sudah benar-benar sembuh."


Rendi penasaran apa yang menyebabkan penyakit Dava muncul lagi setelah hampir dua tahun keadaan Dava baik-baik saja.


"Aku tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya, tapi kemungkinan besar ini menyangkut almarhumah isterinya Sarah. Kejadian pertama dan kedua juga karena itu kan." Aldy hanya menduga-duga, karena ia belum menanyakan hal itu kepada Dava sahabatnya.


"Oh ya, apakah Mas sudah memberitahukan kondisi Mas Dava pada ibunya?" Rendi juga sangat peduli pada Dava karena Dava dan kakaknya Aldy bersahabat sejak mereka duduk di bangku kuliah dan Rendi duduk di bangku SMP. Tapi sejak Rendi menjadi Psikolog untuk Dava, tepatnya setelah kematian Sarah, Dava menjadi introvert dan tertutup terhadap orang luar. Dava hanya menganggap Rendi hanya sebagai dokter yang menangani dan membantu menyembuhkan penyakitnya, bukan adik sahabat yang sudah seperti keluarganya sendiri.


"Sebaiknya jangan! Dava sudah berpesan kepadaku, jika penyakitnya kambuh lagi jangan sampai memberitahukan pada ibunya! Tahun  lalu saat mengetahui Dava sakit, tante Sinta buru-buru datang ke sini  karena sangat mengkhawatirkan Dava, padahal ia ada di kota B. Tante Sinta berkendara sendiri selama tiga jam tanpa supir atau orang lain yang menemani, dan itu membuat Dava sangat cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada ibunya yang sudah tidak muda lagi."


"Ia bahkan mengancam tidak akan lagi menggapku sebagai sahabatnya jika aku sampai melakukannya. Sebaiknya kita menghubungi tante Sinta saat kondisi Dava sudah stabil, atau biar Dava sendiri yang menghubungi ibunya. Toh setelah ini kondisinya akan segera membaik kan?!" Aldy tahu persis sifat sahabatnya yang tidak main-main jika berucap. Lebih baik ia cari aman, demi persahabatan dan demi pekerjaannya.


"Ia Mas, qt tunggu saja sampai Mas Dava bangun."


***


Ibu Sinta telah selesai membawa materi dalam sebuah seminar dan sekarang sedang coffee break. Vita langsung menghampiri tantenya saat melihat ibu Sinta sedang sendirian. Saat makan siang tadi Vita tidak punya kesempatan untuk berbicara karena tantenya telah dikerumuni oleh dokter-dokter senior lain.

__ADS_1


"Tante cantik banget hari ini. Eits, bukan berarti hari lain tante tidak cantik. Tapi hari ini tante lebih cantik dari biasanya." Puji Vita saat sudah berada di samping ibu Sinta.


"Ah kamu ini bisa saja memuji tante." Tidak dapat dipungkiri ibu Sinta sangat senang mendapat pujian dari keponakan kesayangannya. Semua wanita pasti senang bila dikatakan cantik, tidak terkecuali seorang wanita berpendidikan seperti dokter Sinta yang sudah berumur.


"Ini semua berkat Make Up Artist kenalan kamu Vit." Ibu Sinta tidak mau berbangga diri sendiri. Ia menyadari di usianya yang sudah senja kecantikannya tidak terlepas dari perawatan yang dia lakukan, outfit yang di pakai serta make up dan hair style yang mendukung penampilannya.


"Reyna memang berbakat sekali tante, aku bangga bisa bersahabat dengan wanita hebat seperti dirinya." Vita begitu bangga dengan sahabatnya.


"Kamu bersahabat dengan Reyna? Apakah ia teman sekolahmu dulu?" Dokter Sinta  penasaran dengan persahabatan antara Make up Artist dan keponakannya yang adalah seorang dokter.


"Aku baru mengenal Reyna satu setengah tahun lalu, tante. Aku pertama kali bertemu dengannya saat kematian Ziva putrinya, putrinya adalah pasien pertamaku di meja operasi sekaligus pasien anak, pertama ku yang meninggal dunia." Bibirnya bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir. Masih jelas ingatannya saat ia mencoba menyelamatkan nyawa gadis kecil itu di meja operasi, ia begitu takut dan kalut melihat seorang gadis kecil yang meregang nyawa di tangannya. Ya... dokter juga manusia yang punya hati dan perasaan.


Vita lalu menceritakan kepada ibu Sinta bagaimana Ziva di bawa ke rumah sakit oleh mantan suami Reyna dan isteri barunya.


"Tunggu, tunggu... jadi maksud kamu Reyna teman kamu sudah bercerai? Dia single? Tidak punya suami?" Ibu Sinta mencecar Vita dengan beberapa pertanyaan yang memiliki arti yang sama.


"Iya tante, Reyna tidak punya suami."


"Tapi kata teman kamu, anaknya masih bayi belum genap satu tahun?" Ibu Sinta masih bingung dengan status Reyna. 'Apakah Reyna bukan wanita baik-baik yang setelah bercerai dengan suaminya ia berpacaran atau tid*r dengan laki-laki lain dan hamil di luar nikah? Atau ia sudah hamil sebelum bercerai?' Batin ibu Sinta.


"Itulah tante, kenapa aku bilang Reyna wanita yang hebat. Suaminya berselingkuh dengan seorang wanita muda yang bahkan masih duduk di bangku SMA hingga selingkuhannya hamil, kemudian suaminya memberikan pilihan untuk di madu atau diceraikan. Tentu saja ia memilih bercerai, daripada bertahan dengan pernikahan yang tidak sehat. Reyna kemudian kehilangan anaknya karena ulah pelakor itu."

__ADS_1


"Hah, terus Reyna tidak melaporkan wanita itu ke polisi?" Ibu Sinta sangat antusias mendengar cerita dari Vita. (Ternyata bukan hanya hanya emak-emak berdaster yang suka gosip dan menceritakan kehidupan orang lain. Sekelas dokter-dokter pun tidak luput dari yang namanya gosip).


"Reyna melaporkan isteri baru mantan suaminya saat mengetahui kejadian yang sebenarnya dan mendapat bukti untuk menjebloskan wanita jal*ng itu ke penjara. Tapi wanita itu kemudian bebas karena jaminan dari keluarganya, Reyna juga tidak mau memperpanjang kasus itu karena dirinya sedang hamil dan ingin fokus pada kehamilannya. Ia baru tahu kalau dirinya sedang hamil saat sudah bercerai dengan suaminya."


"Dan setelah bercerai dan sebelum Reyna menjadi make up artis, ia pernah jadi driver ojek online loh tante. Perjuangan hidupnya begitu berat, tapi ia benar-benar wanita kuat dan hebat. Aku kalau sedang capek dan stres karena banyak pekerjaan di rumah sakit belum lagi tugas yang menumpuk, atau kalau ada masalah dengan pacarku, aky hanya perlu ngobrol dengan Reyna dan bebanku seakan menghilang. Reyna adalah pendengar yang baik, orangnya yang optimis dan bisa memberikan masukan yang sangat membangun buat aku, tante."


"Iya Vit, tante juga bisa menilai kalau Reyna wanita yang lembut dan baik, dia hanya sedikit pendiam, tapi orangnya pengertian. Pembawaannya juga sangat tenang, dia bahkan bisa menghadapi kemarahan Dava dengan baik."


"Hah? Dava marah sama Reyna tante?"


Vita sangat terkejut mendengar kalau sahabatnya membuat sepupunya marah. Apa yang terjadi di rumah Dava tadi, sampai membuat ia marah pada Reyna.


Ibu Sinta lalu menceritakan tentang kejadian di kamar tadi saat Reyna selesai merias wajahnya, ibu Sinta juga menceritakan tentanga keadaan Dava yang mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) setelah kepergian Sarah.


"Ya ampun jadi Dava masih belum bisa terlepas dari bayang-bayang almarhumah isterinya ya? Kasihan sekali Dava. Tapi hebat juga ya si Reyna bisa menghadapi Dava. Aku saja sepupunya akan mati kutu kalau kena omelannya yang menakutkan."


Drrrttt....drrtt....


Sebuah panggilan masuk mengganggu percakapan antara Vita dan ibu Sinta.


"Tunggu sebentar ya Vit, tante angkat telpon dulu."

__ADS_1


[Ya halo Dava, tumben kamu menelepon ibu duluan?] Ibu Sinta heran menerima panggilan dari putranya, karena biasanya selalu ia yang menelepon duluan.


Kejadian tahun lalu pun saat penyakit Dava kumat untuk kedua kalinya, Ibu Sinta yang menelepon Dava duluan. Lalu tidak sengaja panggilan itu diangkat oleh dokter Rendi, dan dokter Rendi yang polos menceritakan kondisi Dava kepada Ibu Sinta yang juga adalah seniornya dalam bidang kedokteran.


__ADS_2