AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Rahasia Ibu Mertua


__ADS_3

Aku tak menyangka kedatangan mas Angga dan ibunya ke rumah orangtua ku hanya untuk menuduhku telah berbuat hal yang buruk pada Raya. Ternyata kejadian kemarin saat di mall, direkam oleh seseorang dan disebarkan di sekolahnya Raya. Dan mereka menuduhku sebagai dalang dari kejadian itu.


Sebenarnya aku sudah biasa mendapat perlakuan buruk dari ibu mertua di rumah mereka. Tapi ini berbeda karena mereka melakukannya di depan ibuku! Aku tentu saja tidak boleh tinggal diam. Cukup sudah kesedihan yang orang tuaku rasakan kala melihat kondisi pernikahan anak sulung mereka yang sebentar lagi berakhir. Aku tidak mau membuat ibu lebih sedih dengan melihatku direndahkan oleh ibu mas Angga di depan matanya. Aku harus mengambil sikap. Cukup sudah aku menjadi wanita bodoh yang selalu dianiaya secara mental oleh mereka.


Tapi, tak disangka Ibuku ternyata jauh lebih hebat daripada yang aku pikirkan. Beliau membalas semua ucapan ibu mertuaku dengan elegant. Padahal Ibu bukanlah seorang wanita kaya dan berpendidikan tinggi. Jika orang yang mengenalnya melihatnya, mereka mungkin tidak akan percaya kalau orang yang berbicara dihadapanku ini adalah Ibu.


Bagi orang lain, mereka mungkin akan takut melihat ibu saat ini. Seumur-umur baru kali ini aku melihat ibu segarang ini. Tapi dalam hatiku aku senang melihatnya. Bagiku ibu sangat keren saat dia membelaku.


"Nak Angga, saya pikir semuanya sudah jelas! Saya tidak perlu meladeni kamu dan ibu kamu lagi! Maaf, Saya sibuk! Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Kalian tahu kan pintu keluar dimana?!" Ucap ibu dengan dingin.


"Apa katamu?!! Dasar orang miskin! Tidak tahu sopan santun! Ada tamu yang datang bertamu baik-baik, bukannya diberi minum dan dilayani dengan baik, malah diusir! Berani-beraninya kalian mengusir kami! Kalian pikir kami ingin berlama-lama disini, di rumah jelek ini?!"


"Maaf bu, rumah orang tuaku memang tidak sebesar rumah kalian. Tapi rumah ini jauh lebih nyaman bagiku daripada saat berada di rumah kalian! Aku bisa pastikan bahwa aku tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan sesuatu seperti yang kalian pikirkan! Jadi silahkan pergi dari sini! Kalian juga bukan tamu yang baik, jadi kami tidak perlu menyambut kalian seperti Raja!"


"Heh Reyna! Kamu itu dasar ya, tidak tahu terima kasih! Kamu lupa selama tiga tahun tinggal di rumah kami, kamu kami beri makan gratis! Dasar tidak tahu diri! Sekarang kamu sudah bisa ya melawanku! Atau ini memang sifat asli kamu,hah?!" Ucap Ibu mertuaku dengan emosi meledak-ledak, tak terima kami usir secara halus.

__ADS_1


"Maaf bu, aku tinggal di rumah kalian karena baktiku sebagai seorang isteri untuk ikut dengan suamiku. Aku bahkan merelakan karirku dan menjadi ibu rumah tangga yang mengurus keluarga bahkan seisi rumah. Lagian aku tidak tinggal dan makan disana secara gratis! Aku bangun jam 4 pagi saat semua orang di rumah masih tertidur lelap. Aku bekerja di rumah itu seperti pembantu, dari pagi sampai malam, semua aku lakukan gratis! Belum lagi hinaan yang aku terima dari Ibu dan Fani setiap hari, aku seperti bukan menantu di rumah itu tapi pembantu. Aku bahkan tidak pernah memegang uang pemberian dari suamiku! Jika saja aku bekerja, atau bahkan menjadi pembantu di rumah orang lain maka gajiku lebih dari cukup daripada hanya untuk makan saja!"


"Apa maksudmu aku tidak pernah memberikanmu uang selama kita menikah?" Mas Angga sepertinya tidak terima dengan kata-kataku yang bilang dia tidak pernah memberikanku uang selama tinggal disana.


"Ya, tentu saja Mas. Selama menikah kamu tidak pernah memberikanku uang kan?" Jawabku dengan mantap.


"Lalu uang yang aku berikan setiap bulan tidak pernah kamu terima?" Mas Angga tidak percaya dan berbalik menatap Ibunya dengan tatapan terkejut dan penuh tanda tanya.


Ada apa ini? Apakah selama ini Mas Angga memberikan uang untukku melalui ibu? Salahnya tidak pernah memberikannya langsung padaku. Dia juga tidak pernah membicarakan apapun padaku masalah uang! Ibu mertua juga terkejut saat mas Angga menatapnya! Dia seperti orang ketakutan yang ketahuan mencuri.


"Apa benar Ibu tidak pernah memberikan uang yang ku titipkan untuk Reyna setiap bulan?!" Mas Angga berbicara dengan suara yang meninggi dengan mata melotot. Baru kali ini aku melihat Mas Angga seperti itu pada Ibunya sendiri.


"I-itu kan Ibu pakai untuk belanja semua kebutuhan kita di rumah, Ngga?"


"Apa maksud ibu? Bukankah aku juga memberikan uang untuk tambahan belanja kebutuhan rumah. Aku bahkan memberikan uang khusus untuk ibu setiap bulan. Bukankah ayah juga memberikan uang setiap bulan untuk kebutuhan ibu? Kenapa masih harus mengambil uang yang aku berikan untuk Reyna, bu? Apakah itu semua tidak cukup?!"

__ADS_1


Ya Tuhan, suara mas Angga bisa mengundang kehadiran tetangga ke rumah ini! Lagian untuk apa juga mengungkit masalah itu sekarang, toh sebentar lagi aku dan mas Angga akan resmi bercerai.


"Angga, Kamu berani memarahi ibu hanya karena wanita ini?! Kalian juga sebentar lagi berpisah kan? Kamu lupa alasan kenapa kita datang kesini? Ibu bahkan rela menemanimu untuk datang ke tempat jelek ini!"


"Tapi kenapa ibu tega melakukan itu pada Reyna?!" Mas Angga terlihat sangat kecewa terhadap ibunya.


"Sudahlah Mas,Bu. Semuanya sudah berlalu. Sebentar lagi kita juga akan berpisah kan Mas.. Jika kalian datang hanya untuk membuat keributan di rumah ini silahkan pulang! Aku harap kedepan kita hanya akan berhubungan jika menyangkut Ziva. Aku tidak akan memisahkan Ziva dari kamu ayahnya, tapi aku mohon berikan hak asuh atas Ziva padaku! Dia juga lebih baik jika bersama denganku ibu kandungnya! Apalagi sebentar lagi kamu akan memilki anak dengan Raya kan. Tidak mungkin Raya bisa mengurus Ziva bersamaan." Aku ingin cepat-cepat mengakhiri drama ibu dan anak ini.


Sebenarnya hati kecilku sedikit tersentuh mengetahui ternyata Mas Angga memberikan uang setiap bulan untukku melalui ibu. Tapi untuk apa mempermasalahkannya sekarang?! Toh masalah pengkhianatan yang mas Angga lakukan lebih besar dari sekedar uang bulanan yang harus kuterima. Apakah karena masalah uang melukai harga dirinya sebagai lelaki yang mapan secara financial?! Ah, dasar Mas Angga memang laki laki egois! Aku lalu mengambil Ziva yang sedari tadi berada di gendongan ayahnya.


​​​


Mas Angga lalu berpamitan untuk pulang. Katanya dia masih harus balik ke kantor, karena ini jam kantor. Kulihat Ibu mertua masih terlihat pucat dan diam sampai mereka pulang. Dia bahkan tidak berpamitan atau menyapa Ziva untuk pulang.


Hhhuuff... Aku akhirnya bisa bernafas lega saat mereka sudah keluar dari rumah ini. Aku hanya diam terduduk melihat kepergian Mas Angga dan Ibu mertua. Aku masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi!

__ADS_1


Tanpa sadar, aku tersenyum! Entahlah aku begitu senang bisa mengutarakan apa yang ada dalam hatiku. Ternyata begitu menyiksa selama ini menahan semuanya dalam hati. Ada perasaan lega yang tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata saat aku bisa mengatakan pada mas Angga dan Ibu mertua tentang apa yang aku rasakan selama ini, tanpa harus menyakiti perasaan orang lain.


Ya sejak dulu aku begitu susah mengungkapkan apa yang aku rasakan, karena aku takut jika kata kataku akan menyakiti perasaan orang lain, jadi aku lebih memilih untuk diam dan menyimpan semua uneg-uneg dalam hati.


__ADS_2