AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Hari pertama ngojek


__ADS_3

Untunglah ayah memberikan izin dan bersedia meminjamkan motornya untuk ku pakai bekerja sebagai ojek online. Aku Melihat wajah ayahku saat memberikanku kunci motor. Beliau begitu sedih melihatku. Entahlah apa yang ayah pikirkan yang pasti bukan sedih karena meminjamkan motor miliknya.


Ada perasaan sedih yang bisa kutangkap dari cara ayah berbicara padaku.


"Kamu mau kerja jadi ojek online, nak?"


"Iya yah. Sambil menunggu lamaran ku diterima di perusahaan yang ku lamar, aku kerja ini dulu. Nanti setiap pagi, aku antar ayah dulu ke pasar, baru aku keluar bekerja."


"Tidak apa-apa nak. Ayah juga tidak setiap hari pergi ke pasar. Mungkin dua atau tiga hari sekali."


"Tapi apakah kamu bisa Nak??.... Pekerjaan lapangan sangat berat. Kamu akan menghadapi banyak tantangan, baik cuaca panas dan hujan badai, bertemu berbagai macam karakter di jalan entah itu penumpang maupun sesama pengguna jalan, tidak semua orang baik nak. Belum lagi kondisi jalan dan tempat yang akan kamu datangi, masalah dengan motor yang kamu pakai, kempes ban, dan masih banyak lagi."


Ah, ayah... Seperti Ibu, ayah juga begitu mengkhawatirkan aku, bahkan mereka menanyakan pertanyaan yang sama. Ada rasa tak tega melihatnya seperti ini. Seperti ingin melepaskan anak ke medan perang saja. Kasihan mereka, pasti aku membuat kedua orang tuaku sedih. Sebagai anak pertama, aku tahu orang tuaku berharap banyak padaku dengan mendidikku dengan baik dan menyekolahkanku sampai ke jenjang sarjana. Tapi aku tidak membuat mereka bangga dengan hidupku, aku malah membuat mereka sedih seperti ini.


Aku mencoba menguatkan hatiku. Ku mantapkan tekadku. Aku tidak boleh pesimis. Tidak mungkin selamanya aku dan anakku menjadi beban bagi orang tua ku yang hidupnya juga pas-pasan. Aku juga tidak bisa mengharapkan uang yang dikirim mas Angga.


Bulan ini saja dia hanya mengirimkan satu juta, padahal dia sendiri yang membuat kesepakatan uang tunjangan sebesar tiga juta untuk kebutuhan Ziva setiap bulan. Mungkin dia juga banyak kebutuhan. Mas Angga baru menikah, pasti mengeluarkan banyak biaya. Tidak tahu bulan depan berapa yang akan dia kirimkan. Dan bulan depannya lagi, entah masih atau tidak dia berikan uang.


Aku menatap ayahku, dengan senyum optimis. Aku tidak boleh membuat orang tuaku terlalu khawatir. Aku sudah terlalu banyak menjadi beban bagi orang tuaku, baik beban mental dan financial.


"Ayah. Insyaallah aku bisa. Banyak kok ibu-ibu dan gadis-gadis muda yang bekerja sebagai ojek online. Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak bisa ya kan. Aku hanya minta doa ayah dan ibu. Dan juga aku titip Ziva, selama aku bekerja. Ayah dan ibu tidak perlu terlalu mencemaskanku. Aku sudah sangat besar dari segi umur dan bentuk tubuhku. Aku bukan lagi Reyna kecil yang harus ayah dan ibu khawatirkan seperti dulu." Aku tertawa pelan, berusaha mencairkan suasana dengan candaan ringan, agar ayah tidak sedih seperti ini saat mengantarku bekerja.


Kuaktifkan aplikasi ojek online dan menunggu orderan masuk, sambil memakai jaket dan sarung tangan. Hanya beberapa menit saja, orderan pertama masuk, nominalnya dua belas ribu, aku langsung mengambil orderan itu.


Aku menelepon customer pertamaku ini, dan janjian akan kujemput sesuai dengan titik penjemputan di aplikasi.

__ADS_1


Aku pamit pada ayah, kuucapkan doa dalam hatiku untuk kebahagiaanku dan keluargaku.


Kucium tangan ayahku, seraya meminta restu. Ayah memegang kepalaku, kulihat dia menutup mata sesaat seperti mendoakan kepergianku.


"Reyna, jangan segan-segan menelepon ayah jika terjadi apa-apa di jalan. Ayah akan pergi menolongmu walau ada badai sekalipun!" Ah ayah... Aku menangis dalam hati, terharu mendengar kata-kata ayah. Kuanggukkan kepalaku, mengiyakan perkataannya.


Aku lalu pergi dengan motor ayah. Mulai mengais rejeki demi mencari nafkah dengan pekerjaan baruku ini.


Alhamdulilah orderan pertama berjalan lancar. Saat ini sudah ada beberapa penumpang yang kuantar. Total uang yang ku kumpulkan sampai siang ini adalah seratus dua puluh lima ribu rupiah, lima belas ribu kupakai untuk makan siang di warung makan di pinggir jalan. Sisanya seratus sepuluh ribu rupiah. Alhamdulilah.


Kulihat jam di ponsel menunjukkan jam 2.30 siang, aku baru selesai makan di warung pinggir jalan. Ku aktifkan lagi aplikasi untuk menerima orderan. Kali ini aku mendapat orderan untuk pengiriman barang.


​Aku lalu melajukan motorku ke alamat pengirim.


Langit terlihat mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Aku lalu pamit pada ibu pengirim barang ini dan melaju pergi dengan motorku. 'Mudah-mudahan saja aku tidak kena hujan sebelum menyerahkan barang ini ke pemiliknya.' Doaku dalam hati.


Setelah berjalan beberapa meter, aku merasakan ada yang salah dengan motor yang ku kendarai. Benar saja, kulihat ban belakang motorku kempis. Sepertinya tertusuk paku di jalan. Kelihatannya aku tidak bisa memaksakan untuk tetap melajukan motor ini.


Aku memang tidak mengerti tentang kendaraan, aku hanya tahu mengendarainya saja. Yang aku tahu, sepertinya ban motor ini tidak pakai ban dalam. Kemungkinan kalau aku paksakan akan membuat bannya hancur. Pendapatanku saat ini belum cukup untuk membeli ban baru.


Ya Tuhan... Apa yang harus aku lakukan.


Aku bahkan tidak pernah pergi ke tempat ini sebelumnya, aku hanya mengandalkan GPS sebagai penunjuk arah. Kemana lagi aku harus mendorong motorku.


Langit mulai gelap, hujan mulai turun. Aku berjalan sambil mendorong motorku. Jalanan begitu sepi, tidak ada orang lewat yang bisa untuk kutanyai lokasi bengkel atau tempat tambal ban di sekitar sini. Hujan semakin deras, aku meenepikan motor ku di depan ruko yang sedang tutup, sekalian untuk berteduh sambil mencari informasi bengkel atau tempat tambal ban di dekat sini. Aku berencana menghubungi penerima barang yang akan aku antar ini untuk menginformasikan kalau aku akan sedikit terlambat karena ada kendala kempes ban dan hujan deras.

__ADS_1


Aku mengeluarkan ponselku yang kusimpan di dalam jaket. Ada 7 panggilan tidak terjawab dari nomor baru, dan ternyata itu adalah nomor telepon dari penerima barang yang mau kuantarkan. Aku menelepon nomor tersebut.


[Selamat sore, dengan Bapak Roky....]


Belum selesai aku mengatakan maksudku, sang penerima telepon berteriak dan marah-marah padaku.


[Kamu ini, saya telepon-telepon tidak angkat! Kamu mau lari dengan uang saya, hah????]


Terdengar suara bariton dari seberang telepon sedang berteriak memarahiku.


Ya Tuhan belum selesai masalah yang satu, datang lagi masalah lain.


[Maaf, Aku hanya kurir ojek online Pak, mau mengantarkan barang yang dittipkan oleh isteri Bapak.] Aku menjawab ucapannya dengan sopan. Aku selalu mengingat pesan ibu untuk selalu rendah hati dan sopan terhadap orang tua.


[Iya! Kamu sudah dimana sekarang??!! Barang yang kamu bawa itu uang saya!] Jawab Bapak dengan ketus.


[Astagfirullahaladzim. Saya tidak tahu pak, kalau isinya uang. Mohon maaf pak, Saya masih di jalan Merdeka depan toko Pelangi sekitar satu kilometer dari rumah Bapak....] Belum sempat kujelaskan alasan kenapa aku belum sampai, tapi si Bapak sudah memotong pembicaraanku dan marah-marah.


[Kenapa kamu masih disana?! Kamu bisa kerja tidak sih?!!! Saya sudah menunggu kamu dari tadi tahu tidak!]


[Maaf pak....]


[Jangan memotong perkataan saya! kamu itu hanya tukang ojek rendahan! Pokoknya kalau dalam tiga puluh menit kamu belum sampai di tempat ini, kamu akan saya laporkan ke polisi!]


Astagfirullahaladzim!!!

__ADS_1


__ADS_2