AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Bertemu di SPBU


__ADS_3

Aku mencari sumber suara yang memanggil-manggil namaku... Aku melihat mobil mas Angga. Siapa yang memanggilku? Suara perempuan...


"Hey... Sini!"


Yah ampun, Raya memanggilku? Berani sekali bocah ini. Apakah dia tidak pernah melihat atau membaca kisah tentang wanita putus asa yang melabrak selingkuhan suaminya?! Sepertinya tamparanku beberapa waktu yang lalu tidak membuat dia takut.


Aku selalu menganggapnya seorang bocah, karena dia sekelas dengan Fani mantan adik iparku. Saat aku menikah dengan Mas Angga dulu, mereka bahkan masih duduk di bangku SMP. Adikku yang paling kecil Regina bahkan lebih tua dari Raya.


"Hey... Siniii!"


Ya Tuhan... Seenak jidatnya dia menyuruh-nyuruh aku untuk datang menghampirinya. Dikiranya aku pembantunya apa, yang mau saja disuruh kesana kemari aku mau saja! Aku hanya diam melihatnya dengan tatapan tidak suka. Aku malas meladeninya.


Saat aku hendak pergi, tiba-tiba Raya turun dari mobil dan menghampiriku di dekat motor.


"Kamu itu tuli ya?! Dipanggil ngga mau datang!"


Dia bergaya dengan sok, sambil melipat tangan di dadanya.


Aku tidak menjawab. Aku hanya melihatnya dengan pandangan mencemooh. 'Dasar gadis kecil! Masih kecil tapi sudah buat anak kecil, sama laki orang lagi. Dasar bocah kegatelan!' aku hanya menggeram dalam hati.


"Jadi setelah bercerai dari mas Angga, kamu jadi tuli ya??! Kasihan banget!" Ucap Raya mencemooh.


"Asal kamu tahu ya, kami sudah menikah dan Mas Angga sekarang sudah menjadi suamiku yang sah!" Raya begitu bangga mengatakannya di depanku, seperti sedang mendeklarasikan kemenangan terhadap pencapaiannya merebut suamiku!


"Oh ya?? Terus aku harus bilang Woww gitu?!! apa hubungannya denganku? Kami sudah bukan lagi suami isteri. Maaf aku tidak bisa mengucapkan selamat untuk kalian."


"Aku juga tidak bisa mendoakan agar hidup berbahagia, karena aku tahu pasangan selingkuhan tidak ada yang berakhir bahagia!"


Aku berbicara dengan cuek dan setenang mungkin sambil mengangkat alisku. Aku membalas kata-kata Raya dengan lancar tanpa harus emosi dan berapi-api seperti tempo hari. Untunglah saat ini aku sudah bisa mengontrol sikapku. Aku tak perlu terlihat sedih, emosi dan menangis, apalagi di depan mereka!


"Apa kamu bilang, kamu menyumpahi ku agar aku tidak bahagia, hah???"


"Memangnya tadi aku menyebut nama kamu? Aku hanya mengatakan tidak bisa mendoakan agar bahagia, karena pasangan selingkuh tidak ada yang berakhir bahagia. Oopps! Maaf. Kalian memang pasangan selingkuh ya?!" Jawab ku dengan cuek.


"Apa yang kamu tanam, itu juga yang akan kamu tuai! Tuhan akan memperhitungkan dan membalaskan apa yang kalian lakukan pada orang lain, entah itu baik atau buruk!" Ucapku dengan tegas namun tenang.

__ADS_1


"Kamu!.." Raya sangat kesal melihat ku yang tidak sedih dengan kabar pernikahan mereka. Apalagi dia tidak bisa membalas ucapanku. Entahlah mungkin otaknya tak mampu memikirkan jawaban untuk menjawab kata-kataku.


Raya menghentakkan kakinya di tanah karena sangat kesal dengan ucapanku.. ckckck, seperti anak kecil yang tidak dipinjami mainan oleh temannya.


"Mmmpphh." Aku tak mampu menyembunyikan senyumanku. Aku menahan tawa dengan tanganku melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan.


Jadi seperti ini wanita yang dinikahi mantan suamiku? Pasti dia akan kewalahan menghadapi sikap anak ini yang masih labil! Wanita ini pasti akan membuatnya pusing setiap hari. Aku tersenyum memikirkannya. Ya Tuhan maafkan hati ini yang menjadi senang akan kemalangan mantan suamiku.


"Kamu... Apa kamu pikir lebih bahagia dari kami?! Lihat dirimu di cermin! Penampilan kamu sangat menyedihkan!"


Ah, anak ini dia sudah berani menyerang pribadiku. Baiklah kali ini aku akan meladeni apa maumu bocah! Akan kuikuti permainanmu, mari kita lihat.


"Hei, pelakor! Tinggal menunggu waktu saja kamu akan bernasib sama denganku!"


Aku berbicara sambil memberi penekanan pada setiap kata, agar gampang masuk ke otaknya yang sempit.


"Kamu pikir Mas Angga akan puas hanya dengan kau saja disisinya?! Saat kau sudah bertambah tua, gemuk dan tidak menarik lagi, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan!" Kata-kataku kubuat sedramatisir mungkin, agar lebih berkesan untuk Raya.


"Aku tidak perlu mengotori tanganku untuk membalas dendam pada kalian!"


"Apa kamu bilang?!... Dasar... Wanita jelek! Jelek! Jelek!" Raya sepertinya tidak terima dengan kata-kataku. Dia juga tidak punya kata-kata untuk membalas ucapanku lagi.


Ya Tuhan... Anak ini suaranya mengundang perhatian orang-orang yang sedang mengantri mengisi bbm di SPBU ini.


Secepat kilat sudah banyak orang-orang telah mengerumuni kami. Mudah-mudahan tidak ada lagi aksi rekam-rekaman seperti tempo hari. Jangan sampai aku lagi yang menjadi sasaran fitnah mas Angga dan keluarganya.


"Raya?"


Kudengar suara mas Angga memanggil Raya. Sepertinya dia baru selesai dari toilet, karena mobilnya diparkir samping kiri dekat dengan arah menuju toilet.


"Aku disini, Mas."


Kulihat mas Angga berusaha menerobos kerumunan orang-orang yang sedang melihat kami, lebih tepatnya menonton aku dan Raya.


"Raya, ada apa ini? Loh Reyna, sedang apa kamu disini? Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Mas Angga menatapku dan meminta penjelasan. Dia mungkin tahu bahwa tidak ada gunanya meminta penjelasan pada isteri muda nya itu.


"Tanyakan pada isteri barumu itu! Aku baru selesai mengisi bensin. Dan saat ingin pergi, dia sengaja menghadangku dan memprovokasi aku dengan kata-katanya! Aku sudah berusaha menghindar dan tidak meladeninya tapi dia semakin menjadi. Lihat orang-orang melihat kami, karena dia berbicara sambil berteriak-teriak!" Aku menjawab Mas Angga dengan tenang tanpa emosi, namun tetap dengan penekanan pada beberapa kalimat.


"Benar begitu Raya?"


"Dia... Dia menyumpahi kita mas! Katanya pasangan selingkuhan tidak ada yang berakhir bahagia!" Asataga Raya, dia semakin mempermalukan dirinya sendiri dengan mengumumkan di depan orang-orang ini kalau dia pelakor, dan mereka adalah pasangan selingkuhan. Mungkin maksud hatinya ingin membela diri dan mengadukanku kepada suaminya, tapi ucapannya malah membuat dirinya dan Mas Angga malu di hadapan orang-orang ini.


"Ssst... Raya! Kamu membuat kita malu!"


Kulihat ada seorang ibu-ibu yang merekam kejadian ini. Kulancarkan aksiku, di depan kamera. Jarang-jarang juga aku seberani ini.


"Ibu-ibu, bapak-bapak. Wanita muda ini telah merusak rumah tanggaku, dengan berselingkuh dengan suamiku sampai hamil. Aku telah merelakan suamiku dan memilih mundur dari pernikahan kami"


"Katanya sekarang mereka telah menikah. Tapi wanita ini selalu mengusikku. Hari ini saja, saat aku selesai mengisi bensin, tiba-tiba wanita ini datang dan mencegatku untuk tidak pergi hanya untuk memprovokasiku bahwa dia telah memiliki mantan suamiku secara sah! Apa salahku pada mereka, kenapa mereka selalu mengganggu aku!"


"Iya, benar! Aku melihat wanita muda itu turun dari mobilnya dan mencegah wanita di motor ini untuk tidak pergi." Kudengar seorang bapak membenarkan ucapanku!


"Kasihan, cantik-cantik kok pelakor sih!?"


Balas seorang pemuda, dengan mencemooh.


"Pelakor sekarang sadis-sadis yah, mereka bahkan lebih garang dari isteri sah. Kulihat sejak tadi wanita ini yang sewot berteriak-teriak kurang jelas!" Seorang wanita menambahkan sambil menunjuk Raya di akhir kalimatnya.


Suasana semakin meriah, eh maksudnya memanas. Wajah mas Angga dan Raya sangat merah merona menahan malu. Untunglah aku bisa menguasai diriku. Masih dengan sikap tenang, sehingga aku bisa mengontrol emosiku dan membalas semua perkataan Raya.


"Sudah cukup! Reyna aku mohon hentikan semua ini!"


"Kenapa aku yang disalahkan sih mas, coba tanya isteri barumu, siapa yang memulainya duluan."


"Tapi tetap saja kamu membuat kami malu Reyna! Ayo pergi Raya!"


Mas Angga lalu menarik tangan Raya dan keluar dari kerumunan orang-orang menuju ke mobilnya.


Orang-orang langsung bersorak mengiringi kepergian mereka "Uuuuhhhhhh!"

__ADS_1


Aku tersenyum. Ada rasa senang yang sulit kuungkapkan mengingat kejadian tadi. Tuhan maafkan hamba Mu yang bahagia diatas keapesan orang lain.


__ADS_2