AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
81


__ADS_3

"Tolong bicara yang jelas Rendi! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!" 'Mengapa Rendi berkata pertemuannya dengan Reyna pertama kali karena aku?!' Rasa penasaran dan kesal menjadi satu, membuat Dava berbicara dengan marah dan menyebutkan nama Rendi.


"Hahaha... kangen sekali mendengar namaku keluar dari mulut mu mas Dava. Akhirnya... Hampir tiga tahun aku tak pernah mendengar kamu menyebut namaku, padahal aku sering berada di dekatmu." Rendi bahagia mendengar Dava mengucapkan namanya untuk pertama kali dalam hampir tiga tahun terakhir. Namun Dava hanya memasang muka marah dengan nafas memburu, seperti singa yang hendak menerkam mangsanya.


"Oke, oke... Aku akan berbicara dengan jelas tentang bagaimana aku pertama kali bertemu dengannya, karena sepertinya Mas ku ini menyukai Reyna yang juga pernah menyelamatkan nyawamu. Aku akan mengalah jika memang Mas Dava menyukainya, biarlah cintaku layu sebelum mekar." Rendi yang adalah ahli dalam kejiwaan menyadari kalau pria dihadapannya ini yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri, juga memiliki perasaan terhadap Reyna.


"Tunggu. Reyna juga pernah menolongku? Kapan dan dimana?"  Tanya Dava penasaran. Dava tidak peduli dengan perasan senang Rendi karena ia menyebutkan namanya seolah itu peristiwa besar, dan perasaannya terhadap Reyna yang terlanjur diketahui Rendi. Yang ia pedulikan dan sangat membuat ia penasaran adalah hubungan antara dirinya, Rendi dan juga Reyna.


"Jadi, apa maksudmu dengan mengatakan Reyna pernah menyelamatkanku juga?" Tanya Dava lagi karena Rendi hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan kepala.


"Iya Mas, Reyna pernah menyelamatkanmu dari kematian. Kamu ingat kejadian saat penyakitmu kambuh dan kamu sedang berada di kuburnya mbak Sarah? Reyna lah orang yang menolongmu dan membawa mu ke rumah sakit ini. Dia orang yang kamu cari untuk mengucapkan terima kasih. Saat itu aku mengejarnya dan meminta nomor teleponnya untuk memberikan kompensasi karena telah menyelamatkanmu, tapi ia tidak mau memberikannya. Katanya ia menolong dengan tulus, dan tidak mengharapkan imbalan apapun. Ia hanya mengatakan namanya saat aku bertanya namanya siapa. Dan itu Reyna. " Ucap Rendi.


"Tidak mungkin, kamu pasti salah orang!"


"Tidak mas, aku sangat yakin 100% kalau wanita yang menolongmu saat itu adalah Reyna." Ucap Rendi yakin.

__ADS_1


"Tidak mungkin. Orang yang menyelamatkanku adalah wanita kuat bertubuh tambun. Dan ia sepertinya seorang driver ojek online karena menggunakan jaket ojek online." Dava masih kukuh dengan pendapatnya.


"Iya mas. Benar sekali! Aku juga melihatnya menggunakan jaket ojek online saat itu.  Badannya juga gemuk, dan dia adalah Reyna sekretarismu yang baru, Mas." Ucap Rendi meyakinkan Dava.


"Saat ia juga menolongku beberapa waktu yang lalu, badannya juga masih sedikit berisi. Aku tak menyangka bisa bertemu lagi dengannya, dan sekarang ia terlihat semakin cantik dengan tubuh yang sudah langsing." Rendi berbicara sambil mengagumi sosok Reyna yang cantik dan mempesona baginya. Dava yang tidak suka mendengar kalimat terakhir Rendi, hanya menatapnya watak karena Rendi membicarakan Reyna seperti itu.


"Ya, ya... Aku mengerti mas! Hhuufh.. Tolong jangan melihatku seperti itu. Aku takuuut mas!" Rendi berbicara dengan suara dibuat-buat dan kedua tangannya di letakkan di dadanya seolah terzolimi dengan tatapan Dava.


'Benarkah apa yang dikatakan Rendi, jika Reyna lah yang menolongku saat itu?! Ah, Reyna betapa mulia hatimu, kamu bahkan tidak mau menerima ucapan terima kasih dalam bentuk apapun karena telah menolongku saat itu. Hatimu tulus dan lembut selembut suara indahmu.' Hati Dava menghangat mengingat ternyata Reynalah yang menolongnya waktu itu. Ia memuji dan mengagumi semua hal tentang Reyna sekretarisnya itu. Perasaannya untuk Reyna kini bukan lagi hanya sekedar suka dan kagum tapi perasaannya untuk Reyna kini lebih dari pada itu karena ia sudah jatuh cinta pada sosok Reyna.


"Ok, mas. Sepertinya kita harus mengakhiri pertemuan kita hari ini. Mas juga harus ke makam mbak Sarah kan setelah ini?!" Ucap Rendi membuyarkan lamunan Dava tentang Reyna.


'Astaga aku hampir melupakannya karena percakapan yang seru tentang Reyna.' Ucap Dava dalam hati.


"Ok. Kita masih ada satu lagi pertemuan ya. Ini aku kasih resep obat penenang. Hanya diminum jika Mas Dava merasakan kecemasan yang berlebihan dan tidak bisa tidur. Kalau tidak perlu, sebaiknya jangan diminum agar tidak ketergantungan." Rendi menuliskan resep obat untuk Dava.

__ADS_1


"Ehmm Rendi, tolong rahasiakan pembicaraan kita tentang Reyna terhadap Aldy dan ibu ku ya." Ucap Dava. Hal yang paling ingin ia sembunyikan sebenarnya adalah tentang perasaannya pada Reyna yang takut diketahui oleh Aldy sahabatnya.


"Ya, ya... aku tidak akan mengatakan pada Mas Aldy dan dokter Sinta pembicaraan kita tentang Reyna. Atau... tentang perasaan Mas Dava pada Reyna. Yang mana?" Tanya Rendi menggoda Dava. Sebagai dokter yang bergelut di bidang kejiwaan ia bisa membaca dengan jelas apa sebenarnya yang ingin disembunyikan Dava.


"Ya dua-duanya. Ehmm, aku ingin menegaskan kalau aku mempunyai perasaan khusus terhadap Reyna, jadi jika kamu juga memiliki perasaan yang sama mari kita bersaing secara jantan mendapatkan hati Reyna." Dava tidak malu mengakui perasaannya di depan Rendi, toh tanpa dikatakan pun Rendi bisa mengetahuinya. Jadi lebih baik Dava mengatakannya secara jelas agar ia bisa tenang dan bersaing dengan adil.


"Hmm, aku memang memiliki perasaan khusus untuk Reyna. Tapi sudahlah Mas, aku bisa apa bersaing dengan mas Dava. Kalian bahkan bisa bertemu setiap hari, sedangkan aku hanya bisa berharap akan kebetulan yang entah kapan bisa mempertemukan kami kembali. Lagian Reyna sepertinya bukan orang yang mudah di dekati, aku bisa membacanya dari pertemuanku dengannya beberapa kali." Rendi langsung mengibarkan bendera kekalahan jika harus bersaing dengan Dava.


Di dalam hati Dava sangat senang bisa mendengar kekalahan yang keluar langsung dari mulut Rendi. Tapi tentu saja Dava tidak mengatakannya dan berusaha menyembunyikan rasa bahagianya itu dari Rendi.


"Tersenyumlah Mas. Aku tahu kamu pasti senang mendengar ucapanku tadi." Ternyata Dava tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya itu dari Rendi. Ada sedikit rasa malu di hati Dava, namun ia bersyukur tidak bersaing dengan pria tampan dan mapan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


'Syukurlah aku tak perlu bersaing dengan Rendi dan tak perlu susah-susah menyingkirkannya dengan berbohong seperti yang ku lakukan pada Aldy.' Tentu saja Rendi bukan orang yang mudah di manipulasi seperti kakaknya.


'Berbahagialah Mas, kejar Reyna dan dapatkan cintanya. Aku bisa melihat kalau Reyna wanita yang baik. Aku mengalah, karena tidak mungkin aku bersaing dengan mu. Lebih baik berhenti sekarang, sebelum perasaan ini berkembang semakin besar.' Ucap Rendi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2