
'Aku hamil? Ya Tuhan, bahkan selama ini aku tidak sadar kalau aku sedang hamil anak dari laki-laki yang saat ini sudah berstatus sebagai mantan suamiku! Aku terlaru larut dengan perasaanku pada mas Angga dan kemelut masalah rumah tanggaku, sehingga tidak sadar kalau sudah empat bulan ini aku tidak datang bulan. Apakah ini arti dari mimpiku saat bertemu dengan Ziva? Ziva memberikan boneka kesayangannya padaku agar aku memberikannya untuk adiknya?' Reyna memikirkan arti dari mimpinya bertemu dengan Ziva yang memberikan boneka kesayangannya pada Reyna.
'Tuhan...Aku ingin hidup! Aku ingin sehat, melahirkan dan membesarkan anakku dengan baik! Aku ingin menjalani hidup dengan baik bersama anak dalam kandunganku dan keluargaku, seperti janjiku pada almarhumah anakku Ziva!' Reyna memiliki semangat baru untuk menjalani hidupnya lagi dengan kehadiran anak dalam kandungannya.
Setelah memeriksa Reyna, menuliskan resep vitamin dan memberikan beberapa wejangan untuk kesahatan Reyna dan kandungannya, suster Ela lalu pamit untuk pulang. Tapi sebelum pulang Reyna meminta suster Ela merahasiakan tentang kehamilannya untuk saat ini pada siapapun. Reyna tidak ingin membebani kedua orang tuanya dengan omongan tetangga, yang tidak bisa dia kontrol satu per satu. Baginya untuk saat ini Reyna hanya ingin menikmati ketenangan dan kedamaian bersama anak dalam kandungannya dan bersama keluarga yang sangat ia cintai dan juga mencintainya.
Setelah suster Ela pergi, semua anggota keluarga mendekat pada Reyna. Ayah memgambil kursi kecil dekat tempat tidur dan mengarahkan kursinya lalu duduk di samping Reyna, Ibu duduk di ranjang di depan kaki Reyna, sedangkan Reva dan Gina berdiri dekat dinding di belakang ayah. Mereka berembuk untuk membicarakan tentang kehamilan Reyna.
Awalnya Ibu, ayah dan kedua adik Reyna sangat syok dengan berita kehamilan nya. Bukan tanpa alasan berita ini awalnya menjadi berita buruk bagi keluarga. Pasalnya saat ini Reyna berstatus janda, keluarganya takut Reyna akan semakin tertekan karena kehamilannya yang tidak bersuami, dan keluarga juga takut akan omongan tetangga yang nantinya akan lebih membenani Reyna. Tapi setelah Reyna memberikan penjelasan dan meyakinkan keluarganya bahwa berita ini adalah kabar bahagia yang memberikan harapan baru bagi Reyna dan menjadi awal yang baru untuk menjalani hidup yang lebih baik, akhirnya semua anggota keluarga bisa mengerti dan menerima berita ini sebagai kabar bahagia.
"Ayah, Ibu, Reva, Gina! Aku akan melahirkan dan membesarkan anak ini! Jangan takut anak ini akan membebaniku, malahan anak ini akan menjadi harapan baru bagiku untuk hari esok yang cerah!" Ucap Reyna dengan mantap, meyakinkan keluarganya.
__ADS_1
"Apakah kamu akan memberitahukan kehamilanmu pada Angga?" Ayah menatap Reyna dan bertanya dengan hati-hati.
"Tidak ayah. Aku tidak akan memberitahukan kehamilanku pada mas Angga. Toh sekarang mas Angga sudah menikah dan isterinya juga sedang mengandung. Aku tak mengharapkan apapun darinya!" Jawab Reyna dengan tegas.
"Tapi apakah kak Reyna sudah siap dengan segala resikonya?" Gina juga bertanya dengan hati-hati.
"Iya Gin, kakak siap! Kita tidak perlu malu! Anak ini bukan anak haram kok! Ia hadir, saat kakak dan mas Angga masih sah sebagai suami isteri! Hanya saja kakak yang tidak menyadari kehadirannya lebih awal. Tapi kedepannya anak ini memang tidak punya ayah! Biarlah nantinya ia hanya menjadi anakku! Kakak tak ingin lagi berurusan dan punya hubungan apapun dengan mas Angga dan keluarganya! Kakak tidak akan lagi menjadi wanita lemah yang bisa di manfaatkan dan di tindas orang lain! Kakak akan membesarkannya sendiri dengan penuh cinta dan melindungi anak ini dengan seluruh hidup kakak!" Reyna begitu yakin dengan keputusannya, dia tidak ingin lagi menjadi wanita lemah dan ragu-ragu dalam menentukan pilihan hidupnya.
Kematian Ziva menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Reyna untuk tidak ragu-ragu dan tegas dalam mengambil keputusan. Reyna bertekad untuk benar-benar menjadi wanita kuat, untuk menjaga hal yang berharga dalam hidupnya.
"Saat aku SMA, Ibu teman ku juga melahirkan saat tidak lagi bersama suaminya. Bedanya ayah temanku meninggal dunia, dan ibunya baru tahu kalau hamil saat ayahnya sudah meninggal. Awalnya temanku Chrisela juga sangat stres mengetahui ibunya hamil. Di tengah keadaan berkabung kehilangan ayahnya, Dia takut anak itu akan menambah beban bagi keluarganya. Dia juga takut akan omongan tetangga pada ibu dan keluarganya. Tapi setelah anak itu lahir, temanku dan keluarganya sangat bahagia. Tetangga mereka pun menganggap itu hal yang wajar, dan tidak menjadikan hal itu bahan gunjingan." Reva berusaha menguatkan Reyna.
__ADS_1
"Kamu harus kuat dan semangat ya nak, demi anak dalam kandunganmu!"
"Iya bu, maafkan Reyna ya sudah membuat ayah dan ibu kecewa padaku." Reyna tahu tindakannya barusan telah mengecewakan keluarganya terutama ayah dan ibunya. Reyna benar-benar menyesal dan bersyukur kepada Tuhan karena masih menganugerahkannya kehidupan.
*****
Keesokan harinya Reyna berziarah ke makam anaknya Ziva. Reyna membawa bunga dan boneka Elsa yang tadi di beli Reyna di pasar sepulang dari puskesmas untuk memeriksakan kandungannya. Sesampainya di makam Ziva, Reyna melihat ada bunga segar yang terletak di depan pusara Ziva. Ada seseorang yang sudah datang ke tempat ini mendahului Reyna. 'Mungkin tadi Mas Angga datang kemari! Siapa lagi yang akan datang kesini kalau bukan mas Angga.' Batin Reyna.
Sesaat Reyna terdiam, menilik hatinya yang paling dalam, memikirkan lagi laki-laki yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati. Laki-laki yang sudah menorehkan luka yang begitu dalam di hidup Reyna. Bukan hanya menghancurkan hati Reyna dengan perselingkuhannya, bahkan dia juga lalai menjaga anak mereka, sehingga Reyna harus kehilangan anak yang sangat berharga. Sangat menyakitkan!
Tapi semalam saat Reyna bersimpuh dan berdoa kepada sang Pencipta, Reyna telah berjanji untuk melepaskan pengampunan kepada Ayah dari anak yang ada dalam kandungannya itu. Memang tidak mudah! Dada Reyna sangat sakit dan sesak melawan pergolakan dalam hatinya, antara terus membenci dan menunggu waktu membalaskan sakit hatinya, atau memafkan masa lalunya yang begitu pahit! Iblis pun tidak tinggal diam, tentu saja ia ingin menghancurkan keyakinan Reyna dan membujuk Reyna untuk tetap hidup dalam dendam dan kepahitan! Namun Reyna akhirnya menyadari, menyimpan kepahitan tidak akan berguna, malahan lambat laun semua itu nantinya akan membunuh jiwa dan raganya!
__ADS_1
Reyna menyadari pembalasan adalah hak Tuhan! Reyna berserah kepada sang khalik, ikhlas menerima takdirnya. Toh jika Reyna menyimpan dendam dan membalaskan sakit hatinya pada Angga, itu tidak akan merubah masa lalu dan tidak akan membuat anaknya Ziva hidup kembali. Sekarang Reyna hanya ingin hidup bahagia tanpa dibayang-bayangi dengan kepahitan dan dendam masa lalu. Janji Reyna pada anaknya Ziva menjadi pengingat baginya, untuk menjalani hidup ini dengan baik.
Dengan keikhlasan akan hal itu Reyna mulai merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Perasaan sakit bahkan cinta yang begitu sulit dia lupakan terhadap mantan suaminya pun hilang tak tersisa. Hebat dan ajaibnya kekuatan doa, bahkan sanggup memulihkan hati Reyna yang hancur. Saat ini Reyna seperti terlahir kembali dengan hati yang baru.