AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Kebahagiaan keluarga sederhana


__ADS_3

Hari ini Reyna dan keluarganya menyewa mobil untuk menghadiri wisuda Reva di sebuah hotel ternama di kota itu. Memang hanya dua orang yang mendapat undangan dari satu wisudawan, jadi hanya ayah dan ibu yang masuk saat acara wisuda Reva. Sedangkan Reyna dan Gina menunggu di mobil.


Setelah acara wisuda Reva selesai mereka lalu ke studio foto untuk mengabadikan momen kesuksesan dari Reva. Setelah dari studio foto mereka menuju ke panti asuhan di pinggir kota. Reva ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim piatu. Reva telah memesan makanan nasi kotak dan akan diantarkan langsung dari rumah makan ke panti asuhan untuk mereka makan bersama.


"Terima kasih nak, kamu telah berjuang dan berhasil menyelesaikan studi di bangku perguruan tinggi, dengan hasil jerih payah mu sendiri." Ucap Ayah memulai percakapan dengan mata berkaca-kaca menahan haru dari balik kemudi.


"Aku yang harusnya berterima kasih pada ayah dan ibu karena telah mengajarkan aku nilai-nilai kehidupan yang tidak diajarkan di tempat lain, dan membuat aku selalu berusaha dan berjuang sampai saat ini." Reva tersenyum menahan tangis haru, membalas perkataan ayahnya.


"Ibu sangat bangga padamu, nak. Terima kasih karena telah berjuang dan tidak pernah patah semangat." Ibu berbalik ke bangku belakang lalu menggenggam tangan Reva yang duduk di bagian tengah antara Reyna dan Gina.


"Aku bisa seperti ini berkat doa ibu. Terima kasih bu." Reva mengusap air mata yang jatuh di pipinya, tak mampu lagi membendung air mata haru karena ucapan dari kedua orang tuanya.


"Tapi tetap saja nak, kamu telah berjuang dan menyelesaikan studi mu dengan hasil jerih payahmu sendiri. Ibu bahkan tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya kuliahmu. Bahkan saat wisuda ini pun kamu yang mengeluarkan uang membeli kebaya dan kemeja batik ini untuk ayah dan ibu." Ucap ibu dengan perasaan haru sambil meneteskan air mata.


"Jangan bilang seperti itu bu. Aku bisa bekerja di bank tempat aku bekerja saat ini sehingga dari itu aku bisa membiayai kuliahku sendiri, itu semua berkat ayah dan ibu. Aku bisa seperti ini karena didikan dan doa dari ayah dan juga ibu. Aku ingat, dulu saat aku akan bekerja, ibu bahkan tidak tidur karena menggoreng dan membungkus keripik dan menjajakanya di pasar agar bisa membeli kemeja putih, rok hitam dan sepatu baru untuk aku pakai bekerja, sebelum aku mendapat seragam kantor dari bank. Ibu bahkan selalu membuatkan aku bekal, agar aku tak perlu jajan dan membeli makan di luar. Ayah juga selalu setia mengantar dan menjemputku bekerja sebelum aku punya motor sendiri." Reva bernostalgia mengingat kembali perjuangan ayah dan ibunya.


Saat itu memang kondisi keuangan keluarga mereka sedang sulit. Gina baru masuk SMA dan kedua orang tua mereka telah mengeluarkan uang yang banyak untuk biaya pendaftaran siswa baru dan biaya pembangunan untuk Gina, ayah dan ibunya bahkan menggunakan seluruh tabungan mereka untuk biaya tersebut. Reyna baru saja berhenti bekerja, dan saat itu akan melahirkan Ziva. Jadi tidak mungkin meminta bantuan kepada Reyna yang juga saat itu membutuhkan biaya untuk persalinan.

__ADS_1


Bagi orang lain menyelesaikan pendidikan di tingkat sarjana mungkin sangat mudah, apalagi di kalangan orang berduit yang bisa membeli apapun dengan mudah. Tapi bagi Reva dan keluarganya menyelesaikan pendidikan di tingkat sarjana merupakan suatu perjuangan yang amat besar.


"Kebaya dan kemeja yang aku beli untuk ibu dan ayah pakai, bahkan semua pencapaian ku saat ini tidak sebanding dengan perjuangan ayah dan ibu untuk aku dan keluarga kita. Terima kasih ayah, ibu." Sambung Reva tulus kepada ayah dan ibunya.


Di bangku tengah ketiga kakak beradik perempuan duduk diam dengan pikiran dan perasaan mereka masing-masing. Satu hal yang sama mereka rasakan adalah kebahagiaan, bahagia melihat keluarga mereka yang begitu sederhana namun saling mendukung. Tidak ada yang menganggap dirinya lebih dari yang lain. Bahkan Reva tidak menganggap semua yang dia dapatkan saat ini karena usaha dan pejuangannya seorang diri, tapi karena dukungan dan bantuan dari kedua orang tuanya. Mereka sangat bersyukur terlahir di keluarga ini.


"Oh ya Kak Reyna, terima kasih ya. Hari ini kakak buat aku tampil cantik banget. Aku benar-benar tidak menyangka wajahku bisa secantik ini. Teman-teman ku banyak yang tanya aku make up di salon mana dan sama MUA siapa." Ucap Reva pada Reyna, setelah tadi berbicara panjang lebar mengharu biru dengan ayah dan ibunya.


"Ah, kamu terlalu memuji kakak. Kamu memang dasarnya sudah cantik kok. Kakak hanya memolesnya sedikit agar kecantikanmu lebih keluar."


"Iya kak, kakak memang berbakat banget loh. Sebenarnya tadi selain bertanya aku make up di Bridal mana dan sama MUA siapa, teman-temanku tadi ada yang minta nomor ponsel kakak untuk make up. Maaf ya kak, aku kasih nomor ponsel kakak tanpa minta izin kakak terlebih dahulu." Ucap Reva dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa Reva, kakak ngga masalah kok. Memangnya kakak orang penting, sampai harus izin dulu segala." Reyna berucap lembut sambil tersenyum menenangkan Reva.


"Ayah juga tidak menyangka ibu bisa terlihat sangat cantik saat kamu bedakin, nak. Terlihat seperti masih muda dulu. Ayah hampir saja tidak mengenali ibumu." Ayah juga membenarkan ucapan Reva dan Gina sambil memuji ibu mereka. Ayah tidak mengerti soal make up atau make over, yang ayah tahu itu hanya memakai bedak dan lipstik saja.


Kecantikan ketiga putri mereka tidak lepas dari kecantikan ibu. Hanya saja Ibu jarang bahkan hampir tidak pernah bersolek, kesehariannya selalu sederhana namun bersahaja.

__ADS_1


"Ah, ayah ini ada-ada saja. Lebay ah.. Ingat umur yah." Ucap ibu kesal namun malu-malu sambil mencubit perut ayah yang sedang mengemudi di samping ibu.


"Awww..." ucap ayah menahan sakit, karena cubitan ibu.


Mereka semua serempak tertawa karena tingkah dari ayah dan ibu.


"Oh ya, aku sudah pesan ketring untuk besok ya bu, ayah. Aku rencanya mau buat syukuran kecil-kecilan, hanya mengundang teman dekat di kantor dan di kampus, dan tetangga dekat kita untuk makan di rumah.


"Lebih baik uangnya di tabung nak." Ucap ayah mengingatkan sambil mengendarai mobil.


"Tidak apa-apa yah. Ini kan momen berharga bagi Reva. Ibu juga akan menambah biaya ketring dari tabungan ibu hasil menjual keripik." Ucap ibu dengan senyum bahagia.


Selama Reva bekerja, sangat jarang Reva membelanjakan uangnya untuk berfoya-foya atau kehidupan konsumtif lainnya. Seluruh gajinya ia tabung untuk biaya pendidikan dan sebagian untuk tambahan belanja kebutuhan dapur. Ibu selalu melarang dan menolak pemberian Reva, namun setiap bulan Reva akan langsung membeli beras, sabun, dan bumbu-bumbu dapur. Ibu tinggal membeli lauk pauk setiap hari.


"Tidak usah bu. Bulan ini aku dapat bonus pembagian deviden dari perusahaan. Aku juga masih punya tabungan. Jadi ayah dan ibu tidak perlu mengeluarkan uang untuk syukuran besok. Oh ya kak Reyna jangan lupa undang teman kakak dokter Vita ya, itu juga kalau dokter Vita mau." Ucap Reva.


"Iya, nanti akan kakak hubungi dokter Vita untuk datang besok malam. Dia orangnya baik, dan tidak memandang status sosial orang walaupun dia berasal dari keluarga berada. Sudah beberapa kali dokter Vita ke rumah kita saat kamu belum pulang kantor, dan dia bisa berbaur dengan baik sama keluarga kita."

__ADS_1


__ADS_2