AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
69


__ADS_3

"Na, boleh kamu jaga warung sebentar? Ayah mau balik lagi ke pasar." Pak Ridwan meminta tolong Reyna untuk menggantikannya menjaga warung sebentar. Pagi ini pak Ridwan pergi ke pasar untuk belanja bahan warung, tapi ada beberapa barang belanjaan yang terpaksa dititipkan di toko langganannya di pasar karena tadi muatannya banyak, dan barang lain tidak muat di motornya. Jadi Pak Ridwan harus balik lagi ke pasar untuk mengambil belanjaannya yang tertinggal.


"Iya yah, pergilah aku akan menjaga warung sambil menyuapi Galena." Reyna berjalan ke arah warung sambil menggendong Galena dan membawa ke warung tempat duduk bayi untuk makan, dan mendudukan Galena disitu.


Ibu Nabila pagi-pagi begini sedang sibuk memasak di dapur, sedangkan Gina sedang keluar mengantarkan pesanan krim kecantikan ke beberapa pelanggannya. Walaupun masih kuliah Gina sudah belajar cari uang sendiri dengan menjadi reseller salah satu produk skin care yang lagi naik daun.


Sudah beberapa bulan ini Gina menekuni bisnis itu. Dua bulan lalu Gina memberikan satu paket produk kecantikan yang telah ia jual untuk kakaknya agar wajah dan kulit Reyna terawat. Tentu saja Reyna tidak mau menerimanya secara cuma-cuma. Walaupun Gina bersikeras untuk memberikan produk itu kepada Reyna secara gratis tapi Reyna tidak mau menerimanya jika tidak membayar, toh sekarang ia juga punya uang dan tabungan yang cukup untuk membeli apa yang ia butuhkan. Selain itu Reyna juga senang dan bangga terhadap adik bungsunya, yang mau dan tidak malu untuk berdagang memulai bisnisnya walau sambil kuliah. Sebagai kakaknya Reyna tentu harus mendukung usaha adiknya dengan membayar produk kecantikan yang di jual oleh adiknya Gina. Keuntungan yang bisa  Gina dapatkan selain bonus berupa uang dan beberapa barang seperti tas, kalung dan lain-lain, Gina juga mendapatkan wajah dan kulit yang glowing dan terawat dengan menggunakan sendiri produk kecantikan yang ia jual.


Tidak sulit bagi Gina mempromosikan dan menjual produk itu, karena Gina memiliki wajah yang cantik dan kulit yang putih seperti Reyna. Ditambah perawatan dengan skin care yang ia jual, membuat Gina semakin cantik bersinar. Orang yang melihat penampilannya akan tertarik dengan produk kecantikan yang ia gunakan, dan akhirnya membeli produk itu.


Setelah selesai menyuapi Galena dan membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di wajah imut anaknya, sambil menunggu pembeli Reyna membuka ponselnya mencari informasi tentang perusahaan yang akan ia lamar nanti.


Ya semalam setelah berdoa memohon petunjuk yang Kuasa, Reyna memutuskan untuk menerima permintaan Vita mengikuti seleksi penerimaan sekretaris di PT. Pratama Jaya Teknologi Tbk. PT Pratama Jaya Teknologi Tbk (PJT) adalah perusahaan yang bergerak di bidang media, telekomunikasi dan solusi teknik informasi, dan konektivitas. Perusahaan itu berdiri sejak empat belas tahun yang lalu, dan Direktur utamanya adalah Dava Pratama seorang pengusaha muda yang tampan dan bertangan dingin dan mampu membawa perusahaan yang ia rintis dari nol itu menjadi perusahaan besar seperti sekarang ini. Dengan kemampuan bisnisnya, Dava Pratama bisa mengantarkan perusahaan masuk peringkat 50 besar perusahaa besar di Indonesia dengan kapitaslisasi pasar mencapai angka triliun tergitung pada bulan Maret tahun ini.


Reyna mencari beberapa informasi di internet, dan Reyna terkejut melihat tentang perusahaan yang akan ia masukkan lamaran pekerjaan.


"Hah? Bukannkah ini PJT perusahaan tempat dimana Mas Angga bekerja? Ya, Tuhan bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Saat ini Reyna sudah tak ingin lagi bertemu dan berhubungan dengan mantan suaminya walau hanya sebatas rekan kerja. Reyna takut Angga akan mengganggu hidupnya dan merebut Galena dari sisinya.


Reyna tidak mengetahui keadaan psikologis mantan suaminya saat ini, dan Reyna juga tidak mengetahui kalau Angga sudah tidak lagi bekerja di perusahaan itu. Sekarang Angga hanyalah laki-laki pengangguran tidak berdaya yang hidup dalam penyesalan setiap hari.

__ADS_1


Reyna terus mencari beberapa informasi tambahan tentang PJT, dan akhirnya Reyna bisa bernafas lega karena ternyata lokasi perusahaan yang akan dia masukkan lamaran kerja berbeda dan berjauhan dengan lokasi kantor dimana Angga bekerja. Angga bekerja di kantor cabang perusahaan itu sedangkan Reyna akan melamar sebagai sekretaris Direktur Utama di kantor pusat.


"Ah, syukurlah. Aku tidak perlu bertemu dan berurusan dengan mas Angga jika nanti aku diterima di perusahaan itu." Sebenarnya keputusan Reyna untuk menerima permintaan Vita tidaklah gampang, ia sudah merasa sangat nyaman dengan pekerjaannya sebagai make up artist dan penulis novel online dengan waktu yang fleksibel. Tapi Reyna juga bisa menerima job sebagai make up artist di akhir pekan sabtu dan minggu, dan bisa tetap mengetik cerita saat pulang kantor, jika seandainya Reyna diterima sebagai sekretaris Direktur utama di PJT.


Semalam Reyna sudah menyiapkan berkas lamaran yang dibutuhkan dan pakaian yang akan ia gunakan untuk interview nanti jam sepuluh.


"Selamat pagi mbak Reyna." Tiba-tiba datang seorang ibu dan anak ke warung untuk membeli sesuatu.


"Oh Tika, mau beli apa?" Tanya Reyna dengan ramah. Reyna mengenal tetangganya itu, Tika seumuran dengan Reva adiknya.


"Mau beli beras mbak sepuluh kilo, minyak satu kilo sama gula satu kilo."


"Wah banyak sekali Tik." Ucap Reyna dengan senyuman berusaha untuk basa-basi.


"Oh ya? Kamu bantu-bantu di acara kawinan anak bu Siti kemarin ya?


"Iya mbak, selain cuci dan menyetrika baju kemarin aku juga bantu-bantu mulai dari persiapan acara sebelum hari H sampai tadi beres-beres dan bersih-bersih rumah bu Siti, ini baru selesai dari sana." Pekerjaannya tidak menetap, hanya jika diperlukan untuk bantu-bantu maka Tika akan dipanggil.


"Oh ya, kamu bisa mengangkat ini sendirian? Berat loh." Setelah menyiapkan belanjaan yang diminta oleh Tika, Reyna kemudian sanksi kalau Tika bisa membawa belanjaannya seorang diri melihat badan Tika yang kecil mungil dan kurus seperti triplex, ditambah ia juga sedang memeluk anak perempuannya.

__ADS_1


"Hai cantik, nama kamu siapa?" Tanya Reyna pada gadis kecil yang ada dalam gendongan Tika.


"Sherina tante." Ucap gadis kecil itu sedikit malu-malu. Umurnya sekitar tiga atau empat tahun, hampir seumuran dengan almarhumah anaknya Ziva, mengingatkan Reyna pada putri kecilnya Ziva.


"Wah Sherina pintar, sudah sekolah ya?"


"Belum tante, aku belum sekolah." Jawab gadis kecil itu dengan sopan.


"Kamu yakin, bisa membawa semua ini dan menggendong anakmu sendirian? Atau berasnya di bagi dua, kalau ayah mbak sudah pulang nanti mbak antarkan ke rumahmu sisanya." Tanya Reyna sekali lagi pada Tika sambil menawarkan bantuan.


"Tidak apa-apa mbak aku ngga mau merepotkan mbak. Aku bisa kok, aku bahkan sering mengangkat yang lebih berat dari ini sendirian." Ucap Tika.


Reyna merasa kasihan melihat Tika. Saat kecil, Tika sering datang ke rumah mereka untuk bermain bersama Reva. Jadi Reyna tahu betul bahwa Tika anak yang baik dan sangat ceria, tapi itu dulu sebelum ayahnya meninggal. Keceriaan dan senyum indah yang selalu melekat di wajahnya kini lenyap berganti dengan wajah letih lesu seperti bunga yang layu.


Dulu ia adalah kembang desa, orang tuanya juga terbilang berkelebihan karena memiliki usaha ketring makanan, tapi semenjak ayahnya meninggal lima tahun lalu usaha katering mereka juga ikut tutup. Tika berhenti kuliah dan kemudian menikah. Tapi pernikahannya juga tidak mendatangkan kebahagiaan untuk Tika. Saat mengandung, suaminya pergi merantau bekerja di Maluku, dan tidak pernah kembali. Lama tidak ada kabar dari suaminya, ternyata suaminya sudah menikah lagi disana. Tika berjuang membesarkan anaknya seorang diri dan merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. Pekerjaan apapun akan dilakukan Tika untuk menyambung hidup dan membesarkan anaknya asalkan pekerjaan itu halal, Tika tidak malu dan gengsi.


Reyna tahu betul zaman sekarang sangat susah mencari pekerjaan, dan kalau tidak bekerja tentu tidak akan bisa makan. Reyna seperti melihat dirinya sendiri dulu dalam diri Tika. Hatinya bergetar melihat kehidupan wanita tangguh yang ada di hadapannya ini. Hidup Tika bahkan lebih berat dari Reyna, karena Reyna punya keluarga dan sahabat yang mendukungnya.


Jika kita melihat ke bawah, masih banyak orang yang lebih susah hidupnya dari kita. Tidak perlu bersedih, mengeluh, dan mengasihani diri, apalagi merasa diri paling menderita di dunia ini. Teruslah berjuang dan jangan lupa mengandalkan yang Maha Kuasa. Semua akan indah pada waktunya.

__ADS_1


"Tik, sebentar kamu ada waktu nggak? Bisa bantu mbak mencuci dan menyetrika pakaian?" Reyna menahan Tika sebelum Tika pergi.


"Hah? I, iya mbak bisa." Dengan mata berbinar Tika menerima tawaran pekerjaan dari Reyna.


__ADS_2