AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
74


__ADS_3

Bunyi interkom menyadarkan Reyna dari lamunannya.


"Mery buatkan aku kopi, dan segera siapkan materi untuk rapat sebentar!"


"I, iya siap pak." Jawab Reyna terbata karena gugup dengan tugas pertamanya. Reyna langsung berdiri dan bersiap untuk membuatkan kopi untuk Bos nya, tapi tiba-tiba terdengar lagi suara dari telepon yang belum sempat ia tutup.


"Tunggu! Siapa kamu?! Mana Mery?!" Terdengar suara yang dingin dan mematikan dari balik telepon. Suaranya menusuk seperti pisau yang mampu menembus ke tulang-tulang membuat Reyna begitu gemetaran dan ketakutan, namun Reyna segera menguasai dirinya. Tidak ia biarkan ketakutan menguasai hatinya, karena ketakutan tidak akan membantunya mengatasi masalah malah jika dibiarkan maka akan membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang salah.


"Maaf pak, saya Reyna sekretaris Bapak yang baru yang akan menggantikan Ibu Mery selama tiga bulan kedepan. Ibu Mery mulai hari ini tidak masuk kantor, tadi suaminya mengabari bahwa ibu Mery sedang berada di ruang operasi untuk melahirkan." Kata-kata dan cara bicara Reyna membuat Dava seperti terhipnotis sehingga ia mau mendengarkan penjelasan yang sedikit panjang dari orang yang baru ia kenal.


"Mmmm, yah sudah kalau begitu. Cepat buatkan aku kopi!" Dava langsung menutup sambungan teleponnya tanpa memberikan kesempatan Reyna untuk menjawabnya.


"Iya pak." Reyna hanya bisa mengangkat alisnya, karena menjawab pada angin. Ia menarik nafas dalam dan membuangnya untuk mencari kekuatan.


'Direktur utama hanya minum kopi dengan sedikit gula dan tambahan creamer. Jika sampai membuat kesalahan dengan rasa pada minumannya maka siap-siap saja menerima murka dari Bos besar!' Itulah pesan dari Mery saat ia di trainning dua hari yang lalu. Untunglah Mery telah mengajarkan Reyna cara membuat kopi yang di sukai oleh Bos nya. Mudah-mudahan saja Reyna tidak melakukan kesalahan dengan kopi yang ia buat.


Tok, tok, tok...


Reyna lalu masuk ke dalam ruang Direktur utama untuk membawakan kopi pesanan dari bosnya.

__ADS_1


"Permisi Pak saya mau membawakan kopi."


Matanya hanya memandang lurus ke arah sofa untuk tamu, dan menaruh gelas yang berisi kopi di atas meja. Sebelum Reyna berbalik badan dan hendak kembali ke tempatnya, matanya menangkap sosok tinggi yang sedang berdiri di depan jendela. Pria dengan kemeja putih polos yang membungkus otot-ototnya yang kekar, dengan alis tebal, hidung yang mancung, serta rahang yang tegas, membuat pria yang berdiri dihadapannya terlihat sempurna! Sosok itu sedang menatapnya lekat, membuat jantung Reyna bergemuruh seperti ada aliran listrik yang menyambar. Reyna sekuat tenaga mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap di hatinya, dan berusaha bersikap biasa di depan bosnya.


"Kamu!"


"Saya pak?" Tanya Reyna menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kamu! Siapa lagi yang masuk ke ruangan ini selain kamu?! Memangnya kamu membawa hantu kemari?!" Ucap Dava dengan dingin.


"Kesini." Ucap Dava lagi tak kalah dingin.


Tanpa menunggu lama Reyna segera mendekat pada Bosnya.


"Benar pak, saya orang yang bertemu dengan Bapak beberapa hari yang lalu di rumah Bapak. Saat itu saya dipanggil merias wajah ibu Sinta, dan diantar di kamar itu. Saya mohon maaf, saya tidak tahu kalau orang seperti saya tidak boleh masuk kamar Bapak." Entah kenapa kata-kata Reyna selalu mampu menghipnotis Dava sehingga ia kehilangan kata-kata untuk membalasnya.


"Mmm, bukan hanya kamu yang tidak boleh masuk kamar itu...Mmm, Sudahlah, keluarlah sekarang! Siapkan materi untuk rapat bersama Direktur-Direktur lainnya dan para stakeholder (pemegang saham)." Dava tahu Reyna masih baru dan pasti kebingungan dengan tugasnya itu, ia tidak mau memberi tahu Reyna untuk mencari di dalam komputer Mery untuk tugas dan pekerjaannya itu. Dava sengaja mengerjai sekretaris barunya, untuk melihat sampai dimana kemampuan Reyna.


Dava kemudian menghirup aroma kopi yang di buat oleh Reyna tadi, dan hendak meminumnya.

__ADS_1


'Lihat saja, kalau sampai rasa kopi ini tidak sesuai dengan seleraku, aku akan memberikannya tugas yang tidak masuk akal.' Batin Dava sambil menyeruput kopinya. Dava hanya terdiam terkesan dengan hasil kerja Reyna. Mery saja saat pertama kali bekerja sebagai sekretarisnya, sampai tiga kali membuat kopi dan tentu saja keslahannya itu mendapat amukan dari Dava.


'Hmm, boleh juga sekretaris baru itu, kopinya lumayan!' Dava mengangkat setengah alisnya sambil tersenyum miring.


'Kali ini kita lihat bagaimana ia menangani materi untuk rapat sebentar!' Dava memicingkan matanya memikirkan kemungkinan jika Reyna tidak bisa menanganinya.


Sementara itu, sampai di tempat duduknya Reyna sangat kebingungan dengan tugas yang diberikan oleh Dava.


'Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Dimana aku harus mencari materi untuk rapat sebentar? Apakah aku harus bertanya pada Pak Dava? Tidak, tidak... dilihat dari sifatnya tidak mungkin aku bertanya padanya, bisa-bisa bukan jawaban dari pertanyaanku yang aku terima tapi omelan dan entahlah apa yang bisa di lakukan olehnya pada ku!' Reyna bergidik ngeri saat memikirkan jika ia harus bertanya pada bosnya tentang tugas baru yang belum ia mengerti.


'Tidak mungkin juga aku bertanya pada Ibu Mery yang saat ini sedang berada di ruang operasi untuk melahirkan. Tuhan berikanlah petunjuk Mu!' Reyna pasrah dan menyerahkan kekuatirannya pada Tuhan.


Tiba-tiba Reyna teringat ucapan Mery dua hari yang lalu, jika ada tugas pekerjaan yang ia buat pada hari itu, maka ia akan menyimpannya di dalam sebuah folder yang ada di komputernya dengan judul tanggal hari tersebut. Benar saja, saat Reyna mengklik sebuah folder dan mencari lagi folder bulan dan tanggal kemarin, muncullah beberapa file yang Mery kerjakan di hari kemarin dan salah satunya adalah file tentang materi untuk rapat dengan dengan para petinggi perusahaan sebentar.


Reyna dengan cepat mempelajari materi untuk rapat itu, bahkan saat ada typo Reyna langsung memperbaikinya lalu setelah itu memprint out dan mengkopi untuk memperbanyak materi rapat tersebut.


Reyna kemudian mempelajari pekerjaan yang di lakukan Mery kemarin hari saat ia belum masuk kerja. Reyna dengan kecerdasannya bisa mempelajari semua pekerjaan itu dengan cepat, apalagi ia sudah di training oleh Mery dua hari yang lalu walaupun hanya singkat.


Ada beberapa memo yang Mery tinggalkan di samping komputer untuk di kerjakan hari ini, salah satunya memesan tiket pesawat  untuk menghadiri acara peresmian cabang baru di kota B. Namun untuk pemesanan tiket pesawat Reyna akan melakukannya sebentar, sekalian mengkonfirmasi jumlah tiket yang akan ia pesan pada Direktur utama.

__ADS_1


"Bagaimana? Kamu sudah siapkan materinya? Mana?!" Dava tiba-tiba muncul di hadapan Reyna. Kedatangan Dava yang tiba-tiba saat Reyna sedang sibuk bekerja, membuat jantung Reyna hampir melompat dari tempatnya. Reyna hanya bisa menutup matanya dan menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, untuk menutupi keterkejutannya di depan Dava.


Lagi-lagi Dava dibuat terkesan dengan sikap Reyna yang mampu menguasai diri di depannya. Reyna bahkan tidak terlihat takut padanya. Dan itu menjadi daya tarik yang kuat bagi Dava terhadap Reyna, tanpa sadar ia sudah mulai mengagumi sosok wanita yang ada di depannya.


__ADS_2