
Masih Pov Raya
"Wah, ada balon gas di depan. Ziva suka balon?" Mas Angga mengalihkan Ziva dari pertanyaannya tentang aku yang kenapa menangis. Tidak mungkin mas Angga menjelaskan alasan mengapa aku menangis kepada seorang anak kecil.
"Balon? Ziva suka balon pa!" Jawab Ziva dengan wajah berseri-seri.
Mas Angga langsung menepikan mobilnya, dan memanggil si Bapak penjual balon gas.
"Ziva boleh minta dua?" Ziva bertanya sambil menjulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Hahaha, pintar sekali anak papa. Iya boleh sayang, ambil lima juga boleh." Mas Angga tertawa dengan tingkah anaknya.
"Dua aja pa. Kalau Ziva ambil lima, kebanyakan. Nanti Ziva ngga bisa pegang kalau balonnya lima." Jawab Ziva lancar, dengan gayanya yang lucu.
"Iya, iya. Terserah Ziva saja!" Ucap mas Angga masih tertawa kecil dengan tingkah anaknya.
"Sebentar kita jalan-jalan ke mall ya sayang, beli baju, mainan, dan makanan kesukaan Ziva. Ziva mau?"
Hmmm, sepertinya mas Angga akan buang-buang banyak uang untuk menyenangkan anak ini.
"Wah mau, mau pa! Beli es klim juga ya pa boleh?" Tanya Ziva penuh harap.
"Boleh sayang. Bilang saja Ziva maunya apa nanti semuanya papa beliin buat Ziva." Ucap mas Angga sambil mencubit gemas hidung Ziva yang mancung.
Mereka berbicara tanpa melibatkan ku, aku seperti manusia tak kasat mata saat ini. Entah apa lagi yang mereka bicarakan, aku tidak tertarik. Anak ini terlalu cerewet! Bagi orang lain, tingkah anak ini terlihat sangat menggemaskan. Tapi tidak bagiku! Kehadirannya adalah ancaman bagiku dan calon anakku. Aku harus cari cara agar anak ini bisa menjauh dari mas Andi.
Saat tiba di rumah, rumah terlihat sepi. Kemana ayah mertua, ibu mertua dan Fani ya? Ini kan hari libur.
"Bi, ayah, ibu sama Fani kemana ya kok ngga kelihatan mereka?" Tanya mas Angga pada Bibi Nur yang sedang merapikan meja makan.
"Bapak, ibu, sama Fani pergi kegiatan wisata kampusnya bapak, Mas. Kalo ngga salah mereka pergi ke pantai Pulisan." Jawab bibi Nur.
__ADS_1
"Mereka ngga bilang balik jam berapa bi?" Tanya mas Angga.
"Katanya sih sore sudah pulang mas. Memang kenapa, mas perlu sesuatu?"
"Nggak sih, hari ini Ziva nginap disini Bi. Tuh dia di depan"
"Hah, Ziva ada mas?"
Bi Nur langsung mencari keberadaan Ziva yang sedang berdiri di sampingku. Rumah bibi Nur hanya berjarak dua ratus meter dari rumah ini, tentu saja bi Nur mengenal seluruh keluarga ini termasuk anak ini.
Bi Nur langsung menghampiri Ziva yang ada di sampingku, mengangkat dan memeluk Ziva dengan kasih sayang.. huuhh, kenapa sih semua orang menyayangi anak ini. Aku yang di sebelah Ziva bahkan tidak disapa oleh Bi Nur.
Aku malas melihat anak ini, lebih baik tidur-tiduran di kamar sambil menonton drama korea. Tapi, belum sempat aku melangkah, tiba-tiba ponsel mas Angga berbunyi. Aku tidak jadi pergi, ingin mendengar siapa yang menelepon.
[Ya halo Pak David....]
Sepetinya atasan mas Angga yang bernama David menelepon. Pak David adalah saksi nikah kami, sepertinya hubungan mereka cukup dekat walau antara atasan dan bawahan.
Entah apa yang Pak David bicarakan di telepon, karena mas Angga hanya diam mendengarkan sambil menarik nafas panjang.
[Iya pak. Aku tiba tiga puluh menit dari sekarang.] Jawab mas Angga lalu mengakhiri panggilan telepon.
"Kenapa mas?" Tanyaku dengan lembut pada mas Angga.
"Raya, Mas harus ke kantor sekarang. Ada urusan penting yang harus Mas kerjakan. Tapi cuma ngga lama kok. Siang Mas udah balik. Sebentar siap-siap ya, kita jalan-jalan ke mall. Beli baju baru buat kamu, dan lihat keperluan bayi kita. Tapi untuk keperluan bayi, lihat-lihat aja dulu ya nanti belinya kalau kandungan kamu sudah genap tujuh bulan. Orang tua bilang pamali kalau belanja keperluan bayi sebelum tujuh bulan." Ucap mas Angga sambil memegang perutku.
Ah, aku senang ternyata mas Angga begitu perhatian padaku dan calon anak kami. Kupikir dia hanya memikirkan anaknya bersama si jelek itu. Tapi kalau mas Angga pergi ke kantor, siapa yang akan menjaga anak itu! Aku tidak mau disuruh mengurusnya.
"Mas, terus Ziva bagaimana?"
"Hmm, Ziva sudah sarapan?" Bukannya menjawab, Mas Angga malah bertanya pada Ziva yang ada di sampingku.
__ADS_1
"Udah pa, tadi Ziva udah makan di lumah." Jawab Ziva.
"Mas titip Ziva sama kamu sebentar ya Ray! Dia jarang rewel kok, anaknya juga sangat pintar dan menggemaskan, kamu pasti senang sama dia. Sekalian kamu belajar mengasuh anak, sebentar lagi kan kamu akan jadi mama. Lagian Mas cuma sebentar kok. Nanti kalau kamu perlu apa-apa panggil Bi Nur." Mas Angga mencium kepalaku. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
"Ziva, papa pergi ke kantor sebentar ya. Jangan nakal-nakal sama tante. Nanti sebentar siang kalau papa sudah pulang kita jalan-jalan ke mall. Ok?!"
"Ok pa!" Ziva menjawab pertanyaan Mas Angga sambil menjulurkan jari jempolnya. Mas Angga pun mencium seluruh wajah Veren saking gemas dengannya tingkah putrinya.
Setelah Mas Angga pergi, aku duduk di meja makan perutku sudah keroncongan minta diisi. Ternyata Bi Nur masak banyak menu yang menggugah selera. Air liur ku hampir keluar melihat makanan ini. Kasihan, anakku dalam perut pasti sudah lapar.
Ziva bermain bersama Bi Nur, untunglah Bi Nur inisiatif mengajak Ziva bermain. Biar saja mereka berdua Aku tidak mau terlalu dekat dengan anak itu! Mereka duduk di ruang televisi sambil menonton youtube kids dari Smart Tv.
Kulihat di samping mereka ada keranjang mainan yang berisi boneka-boneka, rumah-rumahan, buah-buahan dan blok-blok. Sepertinya saat Ziva dan mamanya yang jelek pergi dari rumah ini, mereka tidak membawa mainan Ziva. Balon gas yang dibeli tadi diikat Bi Nur di keranjang mainannya. Aku bisa melihat semuanya dari tempatku duduk karena ruang makan bersebelahan dengan ruang televisi.
Selesai makan aku langsung naik ke lantai dua, masuk ke kamarku. Aku tidak mempedulikan mereka, terserah anak itu mau ngapain dengan Bi Nur. Toh dia juga bukan anakku. Aku mau tidur lagi.
Jam 1 siang aku terbangun karena ketukan keras di pintu kamar. Aku membuka pintu kamar dengan kesal.
"Ada apa sih Bi? Kenapa gedor-gedor pintu kayak gitu!" Jawabku memarahi Bi Nur. Enak saja, aku lagi enak-enakan mimpi ketemu Lee Min Ho, Bi Nur mengganggu saja.
"Maaf mbak, saya sudah mengetuk pintu selama setengah jam tapi mbak Raya nggak keluar-keluar." Jawab Bi Nur menjelaskan.
"Iya iya. Ada apa Bi?" Jawabku melunak.
"Ini mbak, cucu saya demam tinggi. Saya minta izin pulang ya buat anterin cucu saya ke klinik."
"Hah, memangnya anak ibu kemana? Kenapa bukan dia yang anterin anaknya ke klinik sih?" Tanyaku pada Bi Nur.
"Anak saya di Kalimantan mbak, ikut suaminya kerja disana. Anak mereka sama saya disini. Saya permisi dulu ya mbak. Saya minta tolong titip Ziva. Kan katanya Mas Angg sebentar lagi pulang." Bi Nur menyerahkan Ziva padaku.
Dengan terpaksa aku mengiyakan permintaan Bi Nur. Toh sebentar lagi mas Angga akan segera pulang. Tinggalah aku sendiri bersama gadis kecil ini.
__ADS_1