
Malam hari tepatnya subuh jam tiga di rumah Angga, saat semua orang sedang tertidur lelap Raya keluar kamar untuk mengambil air minum karena haus. Sejak usia kandungannya memasuki trimester dua, Raya sering sekali haus tengah malam. Biasanya Raya akan menyediakan air di atas nakas samping tempat tidurnya, tapi tadi Raya lupa mengisi botol air minumnya sebelum ia tidur.
Saat menuruni tangga Raya melihat ada seseorang yang duduk di ruang tamu, entah kenapa Raya begitu penasaran dengan sosok yang ada di ruang tamu larut malam seperti ini. Raya pun perlahan mendekati seseorang yang duduk itu. Saat semakin dekat, Raya kaget ternyata yang duduk di ruang tamu itu adalah Ziva, anak Angga suaminya.
Raya pun langsung tersadar kalau Ziva anak Angga suaminya sudah meninggal dunia. Tiba-tiba rasa takut yang amat besar menguasai nya, ketakutannya pun semakin besar saat sosok kecil itu menghadapnya dan memperlihatkan matanya yang besar dengan wajah pucat yang menakutkan. Raya pun terduduk di lantai saking ketakutan hebat yang membuat lututnya menjadi lemas.
"Arrgghhh... Jangan sakiti aku! Jangan ganggu aku!" Ucap Raya ketakutan saat melihat Ziva berdiri dan berjalan maju kearahnya. Raya hanya bisa merangkak dengan tangannya ke belakang, karena ia tak lagi mampu untuk berdiri dan melarikan diri.
"Kenapa tante membuatku mati!" Sosok kecil yang menakutkan melihat ke arah Raya dengan suara marah yang menyeramkan.
"A,aku tidak membunuhmu! Aku hanya menyuruhmu mengambil balon itu sendiri... Aku tidak membunuhmu!" Jawab Raya sambil menangis ketakutan.
"Kenapa tante tidak menolongku mengambil balon, malahan tante menyuruhku untuk melompat ke jendela kalau ingin mengambil balon ku yang terbang di dekat jendela kan!? Tante yang membunuhku!!!"
"A,ampun Ziva! Aku sedang menonton jadi tidak bisa menuruti permintaanmu mengambil balon! Tante juga hanya bicara asal dengan menyuruhmu lompat di jendela untuk mengambil balon mu karena kesal padamu! Tante tidak berpikir kamu akan benar-benar lompat dari jendela!"
"Lalu kenapa tante memberikan aku kursi untuk aku naiki?! Tante juga menyakiti lenganku..."
"Maaf... Maafkan aku Ziva! Aku hanya asal memberikanmu kursi agar kamu mengambil sendiri balon gas mu yang terbang dan tidak menggangguku yang sedang menonton drama korea! A, aku juga hanya mencubitmu dua kali tidak mungkin itu menyakitimu sampai meninggal kan?!"
"Tidak! Tante yang membunuhku! Tante tidak menelepon mama ku, padahal aku sudah menyuruh tante menelepon mama kan?! Tante membiarkanku sekarat dan meninggal!" Tangan Ziva memegang kedua kaki Raya.
"A, ampun Ziva! Lepaskan kaki ku! Aku mengaku bersalah padamu harusnya aku melakukan apa yang kamu minta dan menelepon mama mu. Tapi saat itu aku juga sedang kesal dengan mamamu!"
"Tante jahat!" Ziva semakin erat memegang kaki Raya, membuat Raya tidak bisa bergerak.
"A, ampun Ziva! Jangan bunuh aku!" Raya mulai berontak sambil menggerak-gerakkan tangannya karena kakinya tidak bisa digerakkan!
__ADS_1
"Argghh..tolooong...."
Dan akhirnya, mata Raya terbuka. Raya pun bangkit duduk di tempat tidurnya dengan nafas yang tersendat-sendat, seperti baru habis berlari keliling kompleks.
"Hhhfffuuuhhh...." 'Syukurlah semua hanya mimpi.' batin Raya.
Semenjak kematian Ziva, hampir setiap malam Raya selalu bermimpi buruk sehingga membuatnya kurang darah. Entah itu bertemu dengan Ziva atau bertemu dengan balon gas besar berbentuk Elsa namun terlihat sangat menyeramkan. Tapi mimpinya kali ini lebih mengerikan karena terasa sangat nyata, seakan bertemu langsung dengan Ziva anak suaminya yang sudah meninggal dunia. Tapi dalam mimpinya Ziva bukan lagi gadis kecil yang menggemaskan. Hanya tubuh Ziva yang kecil, tapi cara bicara bahkan suaranya seperti orang dewasa. Sangat menakutkan! Tubuhnya yang mulai gemuk karena hamil, kini semakin kurus karena tidak bisa beristirahat dengan baik.
Raya mengatur nafasnya dan bersiap untuk melanjutkan tidurnya kembali. Tapi saat Raya menghadap suaminya, ternyata Angga sudah terbangun dan sedang duduk sambil memperhatikannya.
"Apakah seperti itu kejadian sebelum Ziva jatuh dan meninggal dunia?" Mata Angga menyala menahan amarah yang amat besar. Ternyata sedari tadi Angga terbangun dan memperhatikan isterinya yang sedang mengigau di dalam mimpi.
Terlihat kekecewaan dan kemarahan yang bercampur menjadi satu. Angga berusaha keras menahan air mata yang ingin jatuh di pipinya. Bagaimana tidak, putri kesayangan dan kebanggaannya meninggal karena ulah isteri mudanya. Kesedihan dan penyesalan amat besar di rasakan oleh Angga.
"Hmmm? Kenapa mas??" Raya terkejut dan kebingungan seperti belum sadar dari tidurnya.
"A, aku... Hanya...." Jawab Raya dengan terbata-bata.
"Hanya apa? Jawab Raya! Apakah benar kamu yang menyebabkan Ziva jatuh dan meninggal?"
"Bu,bukan aku yang membunuhnya mas. Aku, tidak mendorongnya dari jendela... aku, hanya memberikan kursi untuk Ziva naiki mengambil balon gasnya yang terbang..."
"Kenapa kamu memberikan kursi di dekat jendela pada anak yang belum genap tiga tahun tanpa pengawasan apapun?! Kamu juga menyuruh Ziva melompat dari jendela?? Benar begitu Raya?!" Suara Angga sudah tidak terkontrol lagi, seperti singa yang hendak menerkam mangsanya.
"Aku hanya asal bicara saja Mas, karena kesal Ziva menginjak keyboard laptop ku!" Ucap Raya membela diri.
"Apa kamu bilang, kamu hanya asal bicara karena kesal? Kamu hanya asal bicara sampai membuat anakku meninggal dunia??" Kali ini Angga mencoba untuk mengatur kembali emosinya, karena berhadapan dengan isteri yang masih labil, berusaha meredam amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun kepalanya. Sakit sekali.
__ADS_1
"Kamu bahkan membiarkan Ziva dan tidak menolongnya mengambil balon gas yang terbang di dekat jendela, padahal dia sudah meminta bantuanmu, kenapa?! Kenapa juga kamu menyakiti Ziva dengan mencubitnya sampai biru?! "Angga bertanya tidak percaya pada isterinya.
Sebenarnya saat jenazah Ziva di mandikan, Angga melihat tanda biru di lengan anaknya. Tapi saat itu Angga tidak mau mempermasalahkannya, karena ia merasa mungkin tanda itu akibat benturan saat Ziva jatuh dari jendela. Angga tidak menyangka kalau isterinyalah yang membuat tanda itu dengan melakukan kekerasan pada anaknya.
"Aku, aku hanya kesal padanya karena menggangguku mas!" Ucap Raya ragu-ragu namun masih ingin membela diri.
"Apa? Memangnya apa yang dilakukan anakku, sampai membuatmu sangat kesal dan menyakitinya, hah?!"
"Aku kesal karena kamu selalu memujinya di depanku Mas..."
"Apa?!!"
Plaakk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Raya. Jika tidak mengingat kalau Raya adalah isterinya dan sedang mengandung anaknya mungkin bukan hanya tamparan yang di lakukan Angga, tapi pembunuhan. Kedua tangan Angga meremas seprei kuat, tangannya terangkat ingin mencekik leher wanita yang ada di depannya, tapi hati kecilnya melarangnya untuk melakukan hal itu. Ternyata apa yang Reyna katakan benar kalau Raya tidak menyukai Ziva bahkan tega melukai Ziva.
Angga sangat-sangat marah pada Raya. Bagaimana mungkin isterinya sendiri menjadi dalang atas kematian anak yang sangat ia cintai. Yang Angga tahu, menurut cerita Raya Ziva bermain sendiri dan terjatuh saat Raya sedang berada di toilet. Walaupun ada rasa marah dan sesal pada Raya yang lalai menjaga Ziva sehingga mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, tapi Angga mencoba untuk berpikir positif dan menganggap itu sebagai musibah yang tidak mungkin diinginkan siapapun.
Kematian Ziva secara tiba-tiba sudah menjadi pukulan besar bagi dirinya dan keluarganya, tapi Angga masih berusaha bangkit dan tegar demi anak yang ada dalam kandungan isterinya. Mungkin juga karena Angga adalah laki-laki yang berpikiran logis dan tidak mengedepankan perasaan, walaupun dia sangat sedih saat kematian Ziva. Tapi Angga tak menyangka bahwa kematian anaknya adalah karena isterinya sendiri.
'Argh, seandainya aku mendengarkan ucapan Reyna dan tidak bersikeras untuk membawa Ziva hari itu, mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi dan Ziva masih hidup!' sesal Angga dalam hati.
Hatinya sakit memikirkan kondisi Ziva yang setelah jatuh dari jendela ditinggalkan Raya seorang diri di ruang tamu dalam keadaan sakit dan tak berdaya. 'Ah anakku yang malang, pasti Ziva sangat kesakitan dan ketakutan seorang diri tanpa aku atau Reyna! Ya Tuhan, mengapa aku baru memikirkannya sekarang.' Batin Angga.
"Kenapa kamu tega sekali Raya????"
"ARRRGGGHHHH!!!"
__ADS_1
Angga meremas rambutnya kuat, seakan ingin melepaskan rambut dari kepalanya. Hatinya begitu sakit mengetahui kenyataan itu. Rasa bersalah kepada anak semata wayang yang sangat ia cintai membuat Angga semakin tersiksa memikirkan kejadian itu berulang-ulang, seakan-akan kejadian itu berputar-putar di kepalanya. Dadanya sesak! Angga meraung keras menyesali diri sendiri. Menghancurkan dan membuang apa yang dia lihat di dalam kamarnya. Seisi rumah sampai terbangun dan bergegas menuju kamar Angga dan Raya.