
Aku baru tahu, ternyata Feby telah menikah dengan juragan ayam daging di kompleks ini. Seorang Duda kaya 50 tahun yang ditinggal mati isterinya. Usianya hampir sama dengan usia ibuku. Tapi kembali pada masing-masing orang, asalkan mereka saling menerima satu sama lain, umur tidak jadi masalah. Kata Bu Siti mereka baru menikah 2 tahun yang lalu.
Kami sampai di tempat penjualan ayam milik suami Feby. Untuk tempat peternakannya berada di belakang rumah suami Feby. Hanya sekitar 800 meter dari sini.
Disini hanya khusus untuk tempat menjual ayam, pemotongan, dan penampungan ayam-ayam yang sudah siap untuk dijual. Saat memasuki pekarangan aku melihat Feby yang sedang duduk sambil memarahi seorang karyawannya. Terlihat sangat bossy. Ah, mungkin karyawannya melakukan kesalahan yang sangat besar.
"Eh, Bu Siti mau beli ayam ya?" Ucap Feby ramah menyambut pelanggan.
"Iya By. Wah makin hari makin kinclong aja." Puji Bu Siti.
"Ah, Bu Siti bisa aja memujinya."
Feby melirikku. Sepertinya dia tidak mengenaliku, mungkin karena aku memakai helm.
"Sama ojek ya Bu Siti?"
"Oh, ini saya minta tolong sama Reyna buat anterin ke pasar."
"Reyna? Reyna siapa bu?"
"Reyna anaknya Bu Nabila. Masa kamu tidak kenal sih."
"Ohh Reyna?!" Aku melihatnya dan tersenyum ramah. Tapi Feby melihatku dari atas sampai bawah dan tersenyum miring. Seperti senyum yang merendahkan. Aku berusaha cuek, tidak mempedulikannya.
"Mau beli berapa ekor Bu?" Feby berpaling menghadap Bu Siti tanpa menghiraukanku atau bahkan menyapaku.
"Saya mau ambil 7 ekor By."
"Wah, banyak amat bu. Ada acara apa?"
__ADS_1
"Hari ini ulang tahunnya Mira. Dia mau ajak teman-teman kuliahnya buat makan-makan di rumah."
"Oh, anak ibu Si Mira sudah kuliah ya. Sepertinya baru kemarin aku lihat Mira bermain petak umpet sama teman-temannya. Hm, Hari gini tidak ada gunanya kasih sekolah anak tinggi tinggi Bu. Buang-buang uang saja. Aku saja ngga tamat SMA tapi bisa sukses." Feby berbicara dengan semangat. Sambil menggerak-gerakkan tangannya yang penuh dengan gelang dan jari-jarinya penuh dengan cincin emas.
Benar kata Ibu, melihat Feby seperti melihat etalase perhiasan di toko emas. Kalungnya saja ada beberapa susun. Cincinnya hampir ada di setiap jari, bahkan Gelangnya seperti gelang yang dipakai pengantin perempuan India, kalau dia menggerakkan tangannya seperti tadi akan berbunyi, kling kling kling.
Hmm, Memang kuliah tidak menjamin kesuksesan seseorang. Karena kesuksesan itu dari Tuhan. Orang yang tidak tamat SD sekalipun, bisa sukses bahkan menjadi miliarder jika bekerja keras dan di kehendaki oleh yang Maha Kuasa.
"Ah, kamu ada-ada aja By. Kamu kan bisa sukses sekarang karena menikah dengan si Heru."
"Iya, sih Bu. Tapi aku ngga perlu kuliah tinggi kan. Ngga sama kayak si itu tuh!" Sepertinya Feby menyindirkku, dia melihatku dan menunjukku dengan bibirnya.
'Ya Tuhan, apa lagi ini? Kenapa sih aku selalu bertemu dengan orang-orang aneh yang merendahkanku. Menyebalkan!' batinku.
Aku pura-pura tidak mendengarkan perkataannya. Kualihkan perhatianku melihat para karyawan Feby yang sedang sibuk membersihkan bulu-bulu ayam.
"Jangan kayak dia Bu! Saat sekolah belagu sok kepinteran. Kuliah tinggi, tapi jatuhnya hanya jadi tukang ojek. Kasihan kan." Feby berbicara berapi-api menghina dan merendahkanku.
"Kalau sekarang kamu diberi rejeki oleh Tuhan dan boleh sukses, kamu harus syukuri! Tapi jangan menghina atau merendahkan orang lain. Tidak ada yang tahu tentang hari esok. Kalau tiba-tiba besok Tuhan ambil semua yang Dia berikan sama kamu, kamu mau bilang apa??" Jawab Bu Siti dengan semangat membelaku.
"Yah, Bu Siti. Biasa aja kali ngomongnya, ngga usah pake ngegas!" Sepertinya Feby kurang suka dengan kata Bu Siti barusan.
"Sudah Bu Siti, saya ngga apa-apa."
Aku mencoba untuk menengahi Bu Siti dan Feby. Sepertinya pembicaraan mereka mulai memanas, dan kalau dibiarkan akan menimbulkan perdebatan yang tak kunjung berakhir.
Aku memang tidak suka dengan ucapannya. Tapi aku malas meladeni omongan Feby tentang diriku. Kupikir tidak ada gunanya. Lagian juga ini masih pagi, aku tak mau mengotori hatiku dengan berdebat dengan orang seperti Feby.
Aku juga hari ini harus memasukkan lamaran pekerjaan di berbagai tempat. Aku tak mau rejeki ku di patok ayam Feby karena kejadian ini. Lagian apa yang dikatakan Bu Siti sudah mewakili isi hatiku, jadi aku hanya perlu diam tidak memperpanjang.
__ADS_1
Untunglah pesanan ayam Bu Siti sudah selesai dibersihkan dan di potong-potong 4 bagian sesuai peemintaan. Bu Siti lalu membayarkan pada Feby sejumlah uang. Kami lalu berlalu dari tempat ini.
Aku mengantarkan Bu Siti sampai ke rumahnya. Bu Siti lalu mengucapkan terima kasih dan memberikan aku sekantong daging ayam dalam kantong kresek putih.
"Waduh, apa ini bu?" Tanyaku terkejut.
"Ini 1 ekor daging ayam buat kamu Reyna."
"Ah, ngga usah Bu, nanti dagingnya kurang buat ulang tahun Mira." Aku menolak pemberian bu Siti dengan halus. Lagian kemarin aku sudah di kasih uang 50 ribu oleh bu Siti.
"Itu sengaja aku beli lebihin 1 ekor buat kamu Na... Ucapan Feby tadi tidak usah dipikirkan ya! Di dunia ini tidak ada pekerjaan yang hina, asalkan halal dan kamu mengerjakannya dengan tulus insyaallah pasti mendatangkan berkah!"
"Iya bu. Terima kasih."
Benar kata Bu Siti. Tidak ada pekerjaan yang hina asalkan halal dan dikerjakan dengan ikhlas. Tidak peduli walau aku tamat sarjana, yang penting bisa menghasilkan uang yang halal. Tidak perlu gengsi dan mendengar omongon miring orang sirik dan dengki. Toh kalau aku lapar, mereka juga tidak akan memeberikanku makan.
*****
Sampai di rumah, aku mengurus anakku makan dan memandikannya. Setelah itu barulah aku bersiap keluar mencari pekerjaan. Kali ini aku mengatakannya pada ayah dan ibu seraya meminta izin pada orangtuaku dan menitipkan Ziva. Awalnya mereka sangat terkejut aku tiba-tiba mau mencari pekerjaan, tapi setelah aku jelaskan baik-baik mereka mengerti dan mengizinkan.
Ayah mengizinkan aku keluar dengan memakai motor ayah. Aku lalu mulai pergi ke perusahaan-perusahaan besar, pertama di perusahaan pembiayaan tempatku bekerja dulu, tapi sepertinya mereka sedang tidak membuka lowongan untuk penerimaan karyawan baru. Mereka mengambil surat lamaran yang aku berikan, tapi sepertinya mereka tidak akan memprosesnya. Mereka hanya bersikap sopan dan berusaha untuk tidak menyinggungku karena tidak enak padaku yang pernah bekerja disitu.
Aku lalu pergi ke perusahaan-perusahaan pembiayaan yang lain. Tapi lagi-lagi tidak ada lowongan pekerjaan untuk karyawan baru.
Aku hanya tersenyum sambil membawa kembali map yang berisi surat lamaranku. Aku lalu memasukkan lamaran di supermarket yang aku singgahi, katanya akan mereka hubungi.
Aku lalu terduduk di kursi tunggu yang disediakan untuk pengunjung di supermarket itu. 'Salahku yang tidak mencari informasi sebelumnya di internet perusahaan mana yang membuka lowongan pekerjaan.'
Hari ini cukup sampai disini. Aku akan melanjutkannya besok dengan informasi tentang perusahaan-perusahaan mana yang membuka lowongan pekerjaan.
__ADS_1
'Tuhan tolonglah mampukan aku, agar aku kuat menghadapi cobaan hidup ini!' aku tak henti-hentinya berdoa. Saat ini aku merasa berada di titik terendah dalam hidupku. Sepertinya aku telah berusaha melakukan segala sesuatu dengan baik, tapi tidak ada yang berjalan dengan baik.
'Aku tidak boleh menyerah! Aku tidak boleh putus asa! Ada orangtua, adik-adikku, dan lebih khusus ada anakku yang membutuhkan aku, dan harus aku bahagiakan!' aku mensugesti diriku sendiri agar tidak kehilangan semangat.