
Hati Reyna bergetar melihat binar kebahagiaan di mata Tika, hanya mendapat pekerjaan untuk mencuci dan menyetrika baju saja sudah membuatnya bahagia.
'Alhamdulilah, terima kasih ya Tuhan untuk rejeki yang Kau berikan.' Tika bersyukur berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa untuk pekerjaan yang di berikan oleh Reyna. Kalau hari ini Tika boleh membeli beras untuk makan selama hampir sebulan, besok ia mungkin bisa beli lauk yang enak untuk makan bersama ibu dan anaknya. Bahagia sekali ia.
"Terima kasih banyak mbak, aku akan mengantarkan belanjaanku dulu ke rumah, lalu kembali kesini." Tika menjawab dengan sangat antusias.
"Iya Tik, sama-sama. Mbak juga terima kasih banyak, kamu sudah mau bantu mbak." Reyna tersenyum hangat.
Setelah Tika pergi Ibu Nabila masuk ke dalam warung.
"Na, kenapa harus menyewa orang untuk membantumu mencuci dan menyetrika?" Ternyata Ibu Nabila mendengar percakapan Reyna dengan Tika barusan. Ibu heran dengan apa yang dilakukan anaknya, karena Reyna terbiasa mengerjakan semua pekerjaan itu sendiri. Bahkan jika ada pekerjaan di rumah itu yang belum dikerjakan Ibu, Reyna akan melakukan semuanya tanpa di suruh.
"Kalau kamu sibuk dan perlu bantuan, biar ibu yang bantu kerjakan. Tidak perlu keluar uang untuk memanggil orang lain." Ucap Ibu dengan gaya khasnya yang bijaksana namun ramah.
"Bu, aku sebenarnya hanya ingin membantu Tika saja. Ibu tidak lihat tadi betapa senangnya ia saat menerima tawaran pekerjaan yang aku berikan?"
"Aku juga pernah ada di posisinya, menerima pekerjaan apapun asalkan halal. Aku sangat mengerti kondisinya saat ini. Mungkin jika aku hanya memberikannya uang saja, ia tidak akan menerima. Jadi aku memberikannya pekerjaan mencuci dan menyetrika. Oh iya, Ibu bisa tolong bantu aku? Tolong keluarkan baju kotor ayah dan ibu, dan baju mana yang mau disetrika. Soalnya baju milikku dan Galena baru aku cuci dan setrika." Ucap Reyna dengan terkekeh.
__ADS_1
"Huuhh, kamu ini ada-ada saja, ibu juga mencuci pakaian setiap hari. Nanti ibu lihat pakaian milik Reva dan Gina, biasanya mereka mencuci pakaian dua atau satu kali seminggu."
"Tapi ibu bangga sama kamu nak, kamu punya rasa empati yang tinggi kepada orang yang sedang kesusahan. Begitulah seharusnya manusia, ketika mereka berada dalam kesusahan mereka bisa kuat dan bangkit. Dan saat sudah bisa lebih baik, jangan pernah kamu melupakan masa-masa sulit itu untuk menjadikannya pelajaran hidup yang berharga, dan dengan begitu kamu bisa merasakan dan membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan. Bahkan bantuan kecil pun jika di berikan saat mereka benar-benar butuh, akan menjadi berkah yang luar biasa dan tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka!"
"Iya bu, aku mengerti. Terima kasih ya bu." Sekali lagi Reyna mensyukuri rahmat Tuhan karena terlahir dari rahim wanita hebat dan bijaksana seperti ibu nya.
Brrrmmmm, brrrmmm...
Suara motor Pak Ridwan terdengar memasuki pekarangan rumah mereka.
"Maaf Reyna, ayah lama ya perginya. Katanya hari ini kamu mau interview pekerjaan. Ayo bersiap, jangan sampai terlambat." Semalam Reyna telah memberitahukan kepada kedua orang tuanya, kalau hari ini ia akan melamar pekerjaan sekaligus langsung di interview di sebuah perusahaan. Ia meminta izin kepada orang tuanya, karena walaupun Reyna sudah sangat dewasa dan bukan lagi seorang anak gadis, tapi Reyna menyadari saat ini ia adalah tanggung jawab kedua orang tuanya ditambah lagi sekarang ia tinggal di rumah kedua orang tuanya, dan ada Galena yang harus ia titipkan jika ia keluar untuk bekerja.
*****
Jam sembilan lewat lima belas menit Reyna sudah berada di lobi perusahaan. Reyna sedang menunggu arahan dari seorang wanita resespsionis, kemudian Reyna diarahkan ke lantai tiga bagian HRD (Human Resource Development) atau bagian personalia, untuk bertemu dengan Ibu Seska.
Di lantai tiga Reyna sudah di tunggu oleh seorang pemuda staf dari bagian HRD.
__ADS_1
"Ibu Reyna?" Tanya pemuda itu sopan.
"Iya pak. Ini, berkas lamaran saya." Jawab Reyna juga dengan sopan, lalu menyerahkan sebuah map yang berisi berkas lamaran yang ia bawa kepada pemuda tersebut.
Staf itu kemudian menuntun Reyna memasuki ruangan yang ada di Divisi HRD. Tiga puluh menit Reyna duduk menunggu di ruang tunggu, kemudian jam sepuluh lewat lima menit, staf yang tadi datang dan menyuruh Reyna untuk masuk lagi ke sebuah ruangan di dalam Divisi tersebut untuk bertemu dengan seorang ibu yang akan menginterview Reyna.
Baru saja Reyna bediri, tiba-tiba datang dua orang perempuan yang berpakaian putih hitam berdiri di depan pintu Divisi HRD, sepertinya kedua wanita itu juga akan mengikuti interview untuk melamar sebagai sekretaris Direktur Utama seperti dirinya, karena mereka memegang map dan memakai pakaian putih hitam seperti dirinya. Kedua gadis itu wanita yang cantik tapi penampilan mereka sangat berlebihan dengan memakai bulu mata panjang anti badai dengan lipstik merah merona. Ditambah mereka memakai kemeja dan rok pendek yang ketat seperti sengaja memamerkan paha mereka yang putih dan mulus, membuat pikiran laki-laki nakal yang melihatnya traveling kemana-mana. Semua mata karyawan yang berada di Divisi HRD itu menatap mereka, membuat mereke risih karena menjadi pusat perhatian.
Untunglah Reyna memakai baju yang sopan dan sederhana dengan atasan kemeja putih dan rok hitam bahan selutut berbentuk A, membuat Reyna terlihat lebih langsing, ditambah sepatu hak tinggi hitam yang dipinjamkan Reva. Penampilannya yang terkesan sederhana namun menarik. Apalagi makeup natural flawles yang Reyna gunakan membuat ia semakin terlihat cantik dan muda seperti anak kuliahan yang sedang magang.
"Silahkan masuk ibu Reyna." Staf yang tadi menuntun dan mempersilahkan Reyna untuk masuk ke dalam sebuah ruangan, tapi ia tidak ikut masuk bersama Reyna. Mungkin ia akan mengurus kedua perempuan tadi yang baru datang.
"Iya, terima kasih pak."
Tiga puluh menit Reyna di interview dan berada di dalam sebuah ruangan, akhirnya Reyna keluar dan kembali disuruh menunggu untuk interview selanjutnya. Interview kedua Reyna akan di wawancara oleh orang kepercayaan atau tangan kanan Direktur utama sekaligus lawyer perusahaan itu.
Reyna kemudian di persilahkan menunggu dan duduk kembali di tempat ia tadi menunggu, berdampingan dengan kedua perempuan tadi yang baru sampai. Kedua perempuan itu memandang Reyna dengan tatapan angkuh dan sok, mereka bahkan tidak menyapa Reyna padahal mereka duduk bersebelahan dan sama-sama sedang melamar sebagai karyawan di perusahaan itu.
__ADS_1
Kedua perempuan itu lalu di panggil bersama-sama, dan dituntun untuk masuk dan dinterview di ruangan Ibu Seska. Hanya lima belas menit setelah mereka masuk ke ruangan itu, mereka berdua lalu keluar dengan wajah ditekuk dan serempak melihat Reyna dengan tatapan sinis.
'Apa salahku pada mereka? Kenapa mereka berdua melihatku seperti itu?' Reyna hanya bisa berbicara dalam hati, bingung melihat tatapan kedua wanita itu yang kemudian mereka keluar dari ruangan Divisi HRD.