AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Melaporkan Angga dan Raya


__ADS_3

"Ziva, mama berjanji mulai saat ini mama akan mengisi hari-hari hidup mama dengan kebahagiaan! Mama akan selalu mengingat janji mama sama Ziva, untuk hidup dengan baik walaupun Ziva tidak lagi bersama dengan mama di dunia ini!" Reyna mengelus pusara Ziva seakan sedang mengelus kepala anaknya dengan kasih sayang.


Ziva menyusuri dengan netranya gundukan tanah yang ada di hadapannya. 'Di dalam sana terletak raga anakku, Anakku yang sangat ku kasihi! Beristirahatlah dengan tenang nak. Mama disini akan baik-baik saja!' Air mata jatuh di pipi Reyna, tapi senyum mengembang dari bibirnya.


Reyna tidak ingin lagi larut dalam kesedihan. Demi janjinya pada almarhumah anaknya, dan juga demi kesehatan bayi dalam kandungannya, Reyna harus melawan dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang bahagia! Ya, semenjak mengetahui bahwa diri nya hamil, Reyna mencoba untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif. Kalau sebelumnya yang Reyna lihat sisi kehidupannya yang gelap dan menyedihkan, saat ini Reyna bisa melihat sisi lain kehidupannya yang terang dan penuh harapan.


Begitu pelik jalan hidup yang harus Reyna lalui sampai saat ini, bahkan ia harus kehilangan hartanya yang paling berharga di dunia ini. Jika Reyna bisa menuliskannya dalam sebuah cerita, Reyna bahkan tidak yakin mampu merangkai kata-kata untuk menuliskan perjalanan hidupnya. Bahkan ribuan kata takkan bisa untuk menggambarkan beratnya kehilangan yang dia rasakan.


Namun tidak ada gunanya meratapi diri dan hidup dalam penyesalaan. Reyna harus berdamai dengan dirinya sendiri.


Ya, kata orang musuh terbesar seseorang adalah dirinya sendiri! Begitu sulit untuk menaklukan hati kita sendiri. Jalan satu-satunya hanyalah berdamai dengan diri sendiri. Caranya? Memaafkan! Mengikhlaskan! Ampuni orang-orang yang menyakitimu dan ikhlaskan semua yang telah dan akan terjadi! Dengan begitu hati Reyna terasa ringan, seakan semua beban telah menghilang.


"Ziva sayang, ini mama bawakan bunga yang indah dan boneka Elsa kesukaan Ziva. Hmm, sebentar lagi Ziva akan punya adik, pasti Ziva di Surga sudah tahu kan?!"


"Apa itu arti mimpi mama saat Ziva memberikan mama boneka kuda poni kesayangan kamu Nak? Ziva ingin memberikan boneka Ziva untuk adik Ziva?! Auuww..." Tiba-tiba bayi dalam kandungannya bergerak. Pada kehamilannya yang kedua, baru kali ini Reyna merasakan pergerakan janin yang ada dalam perutnya. Reyna memegang perutnya sambil tersenyum bahagia.


"Tuh lihat, dedek dalam perut mama gerak. Kayaknya dedek mau kasih salam sama kakak Ziva!"


"Tadi mama sudah ke puskesmas dan memeriksa kesehatan dedek di dalam perut mama. Kata dokter, dedek dalam perut mama sehat. Semoga dede nya selalu sehat sampai lahiran dengan selamat ya."

__ADS_1


"Terima kasih Ziva pernah hadir mencerahkan hidup mama dan memberikan kebahagiaan! Mama tidak akan pernah melupakan Ziva, Ziva akan selalu hidup di hati mama!"


*****


Sampai di rumah, Ziva langsung di sambut oleh Ayah dan Ibu di meja makan. Tumben ayah dan ibu bersama, karena biasanya salah satu pasti akan menjaga warung.


"Warung belum buka Bu?" Tanya Reyna sambil melepaskan tas selempang yang dia gunakan. Sejak kematian Ziva sampai kemarin warung mereka tutup.


"Hari ini warung sudah buka. Itu lagi di jaga Gina. Ayo makan dulu, nak. Ingat kesehatanmu dan bayi dalam kandunganmu!" Ucap ibu sambil menarik kursi di sampingnya untuk Reyna duduki.


"Ayo cuci tangan dulu lalu makan! Selesai makan ayah dan ibu mau membicarakan sesuatu padamu!" Ucap Ayah.


Reyna menatap kedua orang tuanya yang ada di hadapannya. 'Apa sebenarnya yang ingin mereka bicarakan denganku? Apa masalah bayi dalam kandunganku?' Reyna hanya berani membatin sambil berjalan ke dapur untuk mencuci tangan, Reyna tidak berani menanyakan langsung kepada orang tuanya.


"Jadi bagaimana kondisi bayi dalam kandunganmu, nak? Harusnya tadi kamu mengajak ibu untuk menemanimu periksa kandungan di puskesmas!" Ibu bertanya sambil tersenyum karena senang melihat Reyna sudah bisa makan dengan normal tanpa harus mual dan mengeluarkan isi perutnya.


"Alhamdulillah bayinya sehat bu. Sekarang usia kehamilanku sudah dua puluh minggu masuk Trimester ke dua. Beratnya normal, alhamdulillah semuanya baik-baik saja." Reyna menghentikan suapannya dan menjawab pertanyaan ibu.


"Aku tidak apa-apa bu. Tadi pagi aku lihat ibu lagi sibuk di dapur. Aku tidak mau merepotkan ibu. Lagian aku mau pergi pagi-pagi agar mendapat nomor awal, karena setelah itu aku harus mengunjungi makam Ziva."

__ADS_1


Selesai makan, Reyna membereskan makanan yang ada di meja dan hendak berdiri membawa piring kotor ke dapur.


"Duduk dulu nak. Ayah dan ibu ingin membicarakan sesuatu." Reyna yang berdiri hendak ke dapur langsung duduk kembali mendengar ucapan Ibu.


"Kamu tahu kan Lisa anak Paman kamu?! Suaminya kan polisi sekarang bertugas di Polda. Kemarin saat acara tahlilan Lisa dan suaminya datang."


Reyna hanya diam menyimak apa yang dikatakan ayah sambil sesekali menganggukkan kepalanya. Reyna sebenarnya tidak memperhatikan akan kedatangan sepupunya. Sejak kematian Ziva sampai tadi malam, dunia Reyna begitu gelap. Reyna tidak bisa melihat dan memikirkan apapun selain kesedihannya. Jadi Reyna tidak terlalu mengingat dan memperhatikan siapa saja yang dia temui dan apa saja terjadi disekitarnya sampai tadi malam.


"Semalam kami ngobrol cukup lama dengan Lisa dan suaminya. Menurut suami Lisa kita bisa melaporkan Angga dan isterinya untuk kasus kelalaian yang menyebabkan kematian." Ayah melirik Reyna dan berbicara dengan hati-hati.


​​​


Reyna hanya diam menatap ayah dan ibu bergantian, menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


"Ayah akan melaporkan Angga dan isterinya karena kelalaian sehingga mengakibatkan Ziva meninggal dunia!"


"Apakah saat kematian Ziva kamu melihat suatu keganjalan atau sesuatu hal yang bisa kita laporkan sebagai bukti pada pihak berwenang tentang Angga arau Raya?"


Reyna masih diam, menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Reyna mengingat akan tanda biru di lengan Ziva yang seperti bekas cubitan seseorang. Tentu saja Reyna mengetahui dengan jelas tubuh putrinya. Belum sehari mereka berpisah, dan sebelum Angga menjemput Ziva, Reyna yang memandikan dan memakaikan baju untuk Ziva. Reyna masih mengingat dengan jelas saat itu ia tidak melihat tanda apapun di tubuh Ziva.

__ADS_1


Sejenak dada Reyna langsung naik turun, sesak menafan emosi! Anaknya yang sangat ia kasihi, tidak sekalipun Reyna memukul atau membentak anaknya itu. Karena selain kasihnya yang besar kepada anak semata wayangnya, Reyna juga tidak mengajarkan dan mendidik anaknya dengan kekerasan. Tak sekalipun Reyna memukul atau main tanggan dengan anaknya.


Ziva juga anak yang manis dan patuh. Sangat tidak mungkin Ziva membuat kenakalan di rumah Angga, sampai harus pantas mendapat perlakuan kasar dari seseorang. Reyna sangat tak rela jika anaknya memang benar mendapat perlakuan buruk dari Angga atau Raya. Wajah Reyna sejenak berubah memerah menahan emosi!


__ADS_2