AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Mendaftar ojek online


__ADS_3

Beberapa pihak ada yang menghubungiku mengenai berita viral yang tersebar di media sosial. Ada yang dari akun bergambar bibir mengirim pesan WA padaku. Entah dari mana mereka bisa memiliki nomorku. Memang jaman sekarang semakin canggih, tidak ada yang tidak mungkin.


Aku tidak ingin menanggapi dan memberikan konfirmasi apapun terhadap berita itu. Jadi aku memutuskan mengabaikan pesan itu. Aku juga menyadari melakukan kesalahan karena terpancing dengan ucapan Raya, sehingga membuat berita ini renyah untuk digosipkan. Tetanggaku bahkan ada beberapa yang datang ke warung bukan untuk belanja, tapi untuk menanyakan tentang diriku.


Aku sadar, di era digital ini semua bisa terekam. Anakku tidak mungkin akan selalu kecil, suatu hari dia akan tumbuh dewasa dan mungkin saja dia akan melihat jejak digital ini. Aku tidak mau membuat berita semakin memanas dan melebar sampai menciptakan konflik yang berkepanjangan. Aku juga bukan tipe orang yang suka mempublikasikan masalah keluargaku pada orang lain.


Walau bagaimanapun Mas Angga adalah papanya Ziva. Dan Ziva pasti akan sedih jika melihat hal yang tidak baik tentang mama atau papanya.


Saat anakku sudah tidur, aku melihat-lihat lowongan pekerjaan dari internet. Sepertinya tidak ada lowongan yang cocok untukku. Syarat dari perusahaan, maksimal umur 28 tahun, dan saat ini aku sudah berusia 29 tahun. Sudah tidak masuk dalam kualifikasi lamaran.


Aku melihat ada lowongan pekerjaan untuk posisi sales, memang kualifikasi pendidikannya untuk tamatan SMA. Tapi aku tidak keberatan jika bekerja sebagai sales asalkan bisa menghasilkan uang yang halal untuk memenuhi kebutuhanku dan Ziva. Aku malu selalu merepotkan orang tuaku yang hidupnya juga pas-pasan.


Tapi setelah kulihat, kualifikasi paling bawah tertulis berpenampilan menarik. Ya Tuhaaan.... Kenapa segala hal di dunia ini harus diukur dari penampilan yang menarik. Suamiku bahkan berselingkuh dan tidak mencintaiku lagi karena penampilanku yang tidak menarik lagi. Tidak adakah tempat di dunia ini untuk orang jelek dan gemuk sepertiku? Aku bisa mengerjakan pekerjaan dengan baik! Kenapa tidak ada kesempatan bagiku untuk memulai?


Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Semua jalan terlihat buntu. Semua pintu terasa tertutup untukku. Begitu sulitkah aku untuk bangkit dari keterpurukan ini?.. Malam ini, aku bersujud menghadap sang pencipta dalam doa. Kutumpahkan semua rasa sesak yang ada di dada dalam doa dan air mata.


Selesai berdoa entah kenapa aku teringat seorang driver ojek online wanita yang mengantarku saat pulang dari rumah Mas Angga tempo hari. Aku mengingat kisah dan perjuangan hidupnya membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya walau tanpa seorang suami.


Dalam hidup tidak ada yang sempurna, diluar sana masih banyak yang hidupnya lebih susah dan menyedihkan dariku. Aku bersyukur aku punya keluarga khususnya orang tua yang mendukungku.


'Ah, kenapa aku tidak coba untuk mendaftar jadi driver ojek online saja.' Aku mengingat pesan bu Siti bahwa tidak ada pekerjaan yang hina, asalkan halal dan dikerjakan dengan ikhlas insyaallah akan mendatangkan berkah.


Aku akan mencoba mendaftar di aplikasi ojek online. Untuk aplikasi tertentu Pendaftarannya tidak terlalu susah, hanya lewat aplikasi saja. Pesyaratannya juga mudah, tidak melihat umur dan penampilan. Untunglah aku punya SIM C untuk motor yang di urus mas Angga 4 tahun yang lalu, bersamaan dengan SIM A untuk mobil. Dan masih berlaku saat ini, karena jangka waktu SIM sampai 5 tahun.


Kudaftarkan diri menjadi ojek onlie. Alhamdulilah, berhasil. Aku bisa mendaftarkan diri dengan mudah tanpa embel-embel kualifikasi umur dan penampilan menarik.

__ADS_1


Astagfirullah haladzim, kenapa aku seperti ini. Motor itu kan milik ayah. Aku harus meminta izin ayah untuk memakai motor itu. Ayah juga memerlukan motor itu untuk belanja kebutuhan warung dan urusan lain setiap hari.


Aku mengurut dahiku. Aku bahkan tidak memiliki motor sendiri untuk memulai pekerjaan ini. Saat aku sedang kebingungan, tiba-tiba ibu masuk ke kamarku.


"Reyna, sedang apa kamu Nak?"


"Eh, ibu aku hanya sedang mencari lowongan pekerjaan dari internet."


"Ini ibu belikan susu formula untuk Ziva."


Ibu menyerahkan kantong plastik yang berisi kaleng susu formula untuk Ziva.


"Ah, ibu. Tidak usah repot-repot membelinya. Aku masih punya uang sedikit untuk membeli susu Ziva. Minggu lalu mas Angga mentransfer sedikit uang untuk kebutuhan Ziva."


Saat bercerai aku tak meminta harta gono gini, atau menuntut apapapun. Mas Angga sendiri yang mengatakan akan memberikan uang setiap bulan untuk kebutuhan Ziva sebesar tiga juta. Tapi nyatanya yang dikirim hanya satu juta. Biarlah, aku juga tidak mengharapkan apa-apa dari mantan suamiku itu.


"Tidak apa-apa. Ini ambil saja. Uang itu kamu bisa simpan untuk kebutuhan lain. Jadi, bagaimana tadi kamu melamar pekerjaan? Lancar?" Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa pada ibu.


"Ehm.."


"Ehm kenapa? Ibu terlihat bingung dengan ekspresiku.


"Kayaknya sekarang susah mencari pekerjaan, bu. Apalagi sekarang umurku tidak lagi muda. Penampilanku juga seperti ini." Aku menunjuk tubuhku dengan mataku.


Ibu hanya menghela nafas panjang. Sepertinya beliau mengerti kesusahanku. Ibu tersenyum dan menepuk lembut pundakku.

__ADS_1


"Ehhm Bu, apakah aku bisa meminjam motor ayah untuk bekerja?"


"Kamu sudah dapat kerjaan Nak? Kerja apa?"


"Aku mau daftar jadi driver ojek online bu. Pendaftarannya mudah. Tidak memerlukan penampilan yang menarik! Sambil menunggu panggilan dari perusahan yang kumasukkan lamaran." Tidak kukatakan sudah kudaftarkan, tapi mau daftarkan, agar ibu tidak tersinggung karena sudah mendahului sebelum meminta izin.


"Tapi apakah ayah akan mengizinkan jika aku meminjam motornya?" Ucapku ragu.


"Tapi apakah kamu bisa, Nak? Pekerjaan lapangan sangat berat." Ibu terlihat khawatir.


Kupikir ibu akan membahas masalah pendidikanku yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang akan aku jalani.


"Iya bu. Aku siap. Aku akan berusaha untuk melakukan pekerjaanku nanti dengan baik. Tapi bagaimana dengan ayah bu? Bagaimana jika ayah membutuhkan motor untuk suatu keperluan?"


"Ibu akan coba bicara dengan ayah. Kalau kamu bisa, jika ayah ke pasar kamu bisa mengantar ayah lebih dulu pagi-pagi sebelum pergi bekerja."


"Iya bu, aku bisa!" Aku dengan semangat menjawab. Padahal belum tentu juga ayah mengizinkan.


"Tetap semangat ya Nak! Hidup adalah perjuangan. Kita harus terus berusaha, walaupun terkadang Tuhan menguji kita dengan memberi cobaan yang bertubi-tubi. Jangan putus asa! Ibu akan selalu berada dipihakmu."


Oh, ibuku memang selalu hebat. Aku sangat bersyukur, disaat seperti ini aku mendapat dukungan dari orang-orang yang sangat kubutuhkan.



Aku tidak bisa membayangkan jika dalam keadaan seperti ini ibu menekanku, menuntut sesuatu atau bahkan menghakimiku. Aku benar-benar akan kehilangan pegangan.

__ADS_1


__ADS_2