
"Enak saja kamu ngomongnya? Kamu pikir pekerjaanku itu mainan? Memangnya kamu mau punya calon suami pengangguran? Terus mau makan apa kita sama anak kita nanti kalau aku ngga kerja?"
"Ih, amit amit. Jangan sampe lah. Ya Karena itu mas, kamu harus tegas mengambil sikap sama isteri kamu! Kalau perlu ancam dia jangan sampai mengganggu hidup kita lagi! Aku sangat malu mas. Kejadian tadi membuatku trauma!"
"Tapi aku tidak percaya, kalau itu ulah Reyna sayang. Reyna itu wanita yang lembut dan tak tegaan. Membunuh semut saja dia tidak berani. Apalagi menyakiti orang lain."
"Wah, kamu masih cinta ya sama isteri kamu Mas?"
"Bukan gitu sayang!"
"Bukan gitu gimana? Kamu dibilangin ngga mau dengar Mas, puji terus isteri kamu yang jelek itu! Orangnya tak tegaan? Buktinya dia menampar aku dihadapan kamu kan? Dia memaki aku dihadapan kamu, dia bilang aku pelacur. Itu yang kamu bilang baik hati dan ngga tegaan?"
"Tapi keadaannya kan berbeda. Waktu itu aku yang menjemputnya untuk membicarakan tentang rencana pernikahan kita, lalu saat sampai di rumah dia terkejut karena melihatmu turun dari kamar kami. Lagian kamu juga sengaja kan waktu itu panas panasi Reyna?!"
"ckck, kamu kok bahas itu sih Mas?!"
"Kamu yang duluan membahasnya Raya."
"Ckck, kamu bisa bisanya masih membela isteri kamu! Jangan sampe ya di kantor, kamu ngerasain apa yang aku alami di sekolah tadi. Huuuffhhh...."
"Terserah kamu mas, aku sudah berusaha mengingatkanmu!" Sambung Raya mulai bosan berdebat dengan Angga.
Angga berpikir sejenak, menarik nafas dalam dan membuangnya...
"Oke, aku akan cari waktu untuk bicara pada Reyna. Yah sudah, sekarang Mas antar kamu pulang dulu ya."
"Tapi aku lapar mas, aku belum makan sejak pagi ."
"Ya ampun Raya, kamu ini sebentar lagi mau jadi ibu. Kamu juga harus mikirin anak yang ada dalam kandunganmu, jangan hanya mikirin diri kamu sendiri. Ini sudah siang loh! Kenapa tadi ngga makan?"
__ADS_1
"Ih, kok aku dimarahin sih mas?! Tadi aku mau makan di kantin tapi saat semua orang menyindir dan membicarakan aku di depan wajahku, aku ngga jadi makan deh."
"Hmm Iya, iyah sudah. Nanti kita beli makanan kesukaanmu. Tapi dibungkus aja ya. Soalnya mas udah telat mau balik kantor."
******
Saat dalam perjalanan ke kantor, Angga memikirkan apa yang dikatakan Raya tadi. Sepertinya ada benarnya juga jika Angga berhati-hati dan mengambil sikap tegas pada Reyna, agar kedepannya Reyna tidak melakukan sesuatu yang bisa mempermalukan dirinya.
'Hmm, ada benarnya juga kata Raya. Aku harus mengambil tindakan tegas pada Reyna, jangan sampai dia mempermalukan aku di tempat kerjaku. Mau ditaruh dimana wajahku nanti!'
Sesampainya di kantor Angga lalu menghubungi ibunya. Angga memang laki-laki pengecut, untuk bertemu dengan Reyna saja dia harus membawa ibunya untuk menemani. Hinaan dan perlakuan semena-mena yang Reyna rasakan dirumah Angga juga tidak lepas dari ketidakberanian Angga untuk menegur ibu dan adiknya. Bukannya selama ini Angga tidak tahu apa yang dialami oleh Reyna di rumahnya, tapi Angga terlalu pengecut untuk melindungi isterinya.
Angga mengirim pesan via WA pada ibunya.
[Bu, sebentar temani aku ke rumah Reyna ya]
Pesan langsung dibaca dan tanpa menunggu lama ponsel Andi langsung berdering tanda ada panggilan masuk.
[Kamu ini gimana sih, katanya sudah mau cerai dari si Reyna. Kenapa lagi sekarang kamu mau pergi ke rumah wanita itu?!]
[Dengar dulu bu...] Angga lalu menjelaskan alasan kenapa dia ingin pergi ke rumah Reyna.
[Apa?... jadi si jelek itu sengaja menjebak kamu sama Raya... Terus Raya dipermalukan di sekolahnya!?] Tanya Ibunya pada Angga.
[Yah, sebenarnya belum tahu juga kalau itu memang perbuatan Reyna, Bu. Tapi untuk jaga-jaga aku harus menemui Reyna, agar kejadian yang dialami Raya di sekolahnya tidak terjadi padaku]
[Iya, iya... pokoknya Ibu tidak akan membiarkan wanita itu sampai merusak hidupmu. Dasar wanita gendut! Jelek!]
[Oke. Jam 5 aku jemput ya bu]
__ADS_1
*****
Rencana menemui Reyna saat jam pulang kantor harus ditunda. Ternyata perusahaan tempat Angga bekerja akan mengadakan acara peringatan setahun meninggalnya isteri dari Pimpinan Perusahaan yang diadakan tepat pada jam pulang kantor. Angga tidak tahu ada acara tersebut, karena pemberitahuannya baru dikeluarkan tadi siang saat jam istirahat dan Angga tidak berada di kantor.
Terpaksa rencana untuk menemui Reyna ditunda dulu, Angga pun memberitahukan ibunya kalau sore ini tidak jadi ke rumah Reyna.
Saat sampai di aula atau tempat pertemuan yang ada di lantai 6 kantor Angga, ternyata semua karyawan sudah berkumpul disana.
Ada juga anak-anak yatim piatu dari sebuah panti asuhan yang diundang dalam acara peringatan satu tahun meninggalnya isteri dari Direktur Utama, acara ini sekaligus dengan kegiatan amal yang dilakukan perusahaan.
Bisa dilihat para direktur perusahaan duduk di depan, ada juga sekretaris-sekretaris dari para direktur yang cantik cantik seperti artis duduk berjejer disamping. Jarang-jarang bisa melihat mereka bersama, seperti melihat para bidadari yang duduk berjejer memanjakan indra penglihatan laki-laki. Membuat Angga melupakan persoalan rumah tangga yang sedang dia alami.
'Ah, mereka para sekretaris direktur cantik cantik semua.' batin Angga bergejolak melihat mereka.
Setelah jamuan makan malam, para tamu undangan dan anak-anak dari panti asuhan pulang, tibalah pada acara terakhir acara internal perusahaan.
Pada acara internal ini diawali dengan sambutan dari Direktur Utama Perusahaan, Bapak Dava Pratama. Seorang Duda kaya beranak satu.
Semua mata memandangnya, suara tepukan pun ramai terdengar.
Pria berusia 38 tahun itu masih terlihat bugar dan tampan dengan postur tubuh tinggi sekitar 185 cm, dengan wajah kebarat-baratan perpaduan Asia dan Eropa. Membuat karyawan wanita klepek-klepek melihatnya.
Terlihat para sekretaris yang duduk berjejer di samping melihat ke arah Dirut dengan pandangan jatuh cinta. 'Ya ampun wanita-wanita ini, memangnya mereka tidak tahu apa, seberapa arogan dan kejamnya Pimpinan perusahaan ini kalau masalah kerjaan. Aku saja seorang laki-laki ngeri jika memikirkannya.' batin Angga, sambil bergidik ngeri saat memikirkannya.
'Memang sih orangnya masih terlihat tampan, sudah single, kaya pula. Siapa coba wanita yang tidak mau dengan dia dan uangnya. Tidak ada wanita yang tidak silau kala melihat uang. Tapi... Reyna bukan wanita yang seperti itu, Ah kenapa tiba-tiba aku mengingat Reyna!' Tiba-tiba saja Angga memikirkan Reyan isterinya yang sebentar lagi sah menjadi mantan isterinya di mata hukum.
Pada kesempatan ini juga digunakan perusahaan untuk memberikan apresiasi atau penghargaan kepada karyawan yang memiliki prestasi kerja.
Tak disangka nama Angga juga disebut sebagai salah satu karyawan dari 10 karyawan yang berprestasi, karena kinerjanya yang baik dengan absensi yang bersih. Lagi-lagi Angga mengingat Reyna, dia belajar itu semua dari Reyna.
__ADS_1
Ada yang mendapat penghargaan karyawan teramah, seorang wanita muda yang cantik resepsionis yang bertugas di lobi kantor ini.
Lagi-lagi Angga mengingat Reyna yang baik dan ramah pada semua orang. Entah kenapa malam ini Angga banyak memikirkan Reyna.