AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
75


__ADS_3

"Iya pak ini materi untuk rapat sebentar, sudah saya perbanyak." Dengan tenang dan senyum yang meneduhkan hati Reyna berdiri dari tempat duduknya dan menyerahkan materi rapat yang sudah ia perbanyak, tanpa terintimidasi dengan ucapan dan kehadiran Dava yang datang tiba-tiba.


"Huh? Jadi kamu mau menyuruh aku membawa ini?!" Tanya Dava dengan bengis.


"Maaf pak, saya hanya memberikan apa yang Bapak minta pada saya. Bukan berarti saya menyuruh-nyuruh Bapak untuk membawa ini." Jawab Reyna dengan sopan dan lembut.


Jawaban Reyna membuat Dava kehilangan kata-kata untuk membalasnya, dan itu membuat Dava merasa sangat jengkel pada Reyna.


"Cepat ikuti aku untuk rapat sekarang!" Dava dengan cuek berjalan meninggalkan Reyna. Reyna pun dengan gerak cepat membereskan mejanya yang memang sudah rapi dan mengambil materi rapat dan tablet yang disediakan perusahaan untuk presentasi sebentar.


Dengan sedikit berlari Reyna mengejar Dava yang sudah berjalan mendahuluinya, lalu berjalan di belakang Dava mengkuti langkah kaki Bos nya.


Sebelum rapat dimulai Reyna lebih dahulu membagikan materi yang sudah ia perbanyak kepada para petinggi perusahaan yang duduk membentuk huruf U dan Dava yang menjadi pusatnya. Reyna juga menyambungkan tablet yang berisi materi presentasi ke proyektor untuk ditampilkan di hadapan para peserta rapat.


Tanpa di sangka Direktur utama menugaskan Reyna untuk mempresentasikan materi yang sudah ia siapkan. Reyna tak pernah menyangka di hari pertamanya bekerja, ia sudah di tugaskan mempresentasikan proyek baru perusahaan dan berbicara di hadapan para petinggi perusahaan.


"Ini presentasikan program baru perusahaan kita!" Ucap Dava pada Reyna sambil memberikan tablet yang ada di atas meja.


"Maaf... Maksud Bapak saya yang akan mempresentasikan materinya?" Tanya Reyna setengah berbisik pada Dava.


Reyna tak menyangka kalau ia yang akan mempresentasikan materi ini di hadapan para petinggi perusahaan, yang Reyna tahu ia hanya mendampingi Bos dan menjadi notulen dalam rapat.


"Ya kamu. Memangnya ucapan saya kurang jelas?!" Ucap Dava dingin.

__ADS_1


Terpaksa, Reyna dengan susah payah mengumpulkan keberaniannya dan berusaha untuk tenang dan konsentrasi membawakan presentasi tentang program baru perusahaan. Dalam setiap helaan nafas Reyna berdoa semoga Tuhan menolongnya agar ia tidak melakukan kesalahan.


Presentasi berakhir dengan baik, Reyna dengan memukau bisa membawakannya tanpa melakukan kesalahan. Untunglah tadi Reyna telah lebih dahulu mempelajari tentang Program yang akan di bahas dalam rapat. Dava yang duduk di kursinya sejak tadi tak pernah lepas memandangi Reyna, Reyna seperti magnet yang membuat Dava tertarik ke arahnya. Kekaguman yang Dava rasa menjalar ke dalam hatinya menghadirkan gelenyar aneh yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Ada sanggahan dan pertanyaan dari beberapa peserta rapat, dan semua pertanyaan dan sanggahan tentu saja di jawab oleh Dava sang direktur utama. Reyna dengan sigap menjalankan tugasnya mencatat semua hal yang di bahas serta semua keputusan yang dibuat dalam rapat.


Rapat pun berakhir dan Reyna bisa bernafas dengan lega karena telah melakukan tugasnya tanpa membuat kesalahan. Dava berdiri dan hendak keluar dari ruang rapat, diikuti oleh para petinggi perusahaan yang mengikuti rapat.


"Istirahatlah, kerja mu bagus!" Reyna langsung terperangah medengar perkataan dari Bosnya.


'Apakah aku tidak salah dengar? Apakah Bapak Dava bisa mengucapkan hal baik seperti itu?!' Kata-kata Dava membuat Reyna membeku untuk sesaat, kalau saja ia tidak melihat langsung maka ia tidak akan percaya Dava mengatakan hal itu. Mengingat sejak pertama mengenal Dava tidak ada hal baik yang pernah ia dengar keluar dari mulut bosnya itu.


"Iya pak. Terima kasih." Jawab Reyna.


Saat Dava kembali ke ruangannya, Aldy tiba-tiba masuk ke ruangan Direktur utama.


"Iya, tidak apa-apa." Jawab Dava dingin.


"Terus rapatnya?" Tanya Aldy. Harusnya ia yang bertugas membawakan presentasi tentang program baru perusahaan, tapi karena keterlambatan dan ketidakhadirannya, akhirnya tugasnya di lakukan oleh Reyna.


"Tugasmu sudah di lakukan oleh sekretaris  baru."


"Hah?! Rapatnya sudah selesai dan materinya di presentasikan oleh sekretaris? Mery maksud kamu bro?!" Tanya Aldy penasaran. Selama ini dalam setiap rapat dengan para petinggi perusahaan mewakili Dava sebagai direktur utama, Aldy lah yang menyajikan materi rapat dalam bentuk presentasi. Mery saja tidak sekalipun pernah melakukan itu, jadi sangat tidak masuk akal jika hal itu dilakukan oleh sekretaris yang baru.

__ADS_1


"Mery sudah melahirkan, mulai hari ini ia cuti. Tadi suaminya menghubungiku." Ucap Dava dengan singkat.


"Jadi, maksud kamu yang menyajikan presentasi dalam rapat tadi, Reyna sekretaris kamu yang baru?!" Aldy bertanya dengan antusias, tidak percaya dengan ucapan Dava.


"Iya, siapa lagi sekretarisku yang baru." Ucap Dava santai.


"Terus?" Tanya Aldy masih penasaran dengan jalannya rapat.


"Terus gimana? Ya, begitu! Rapatnya sekarang sudah selesai! Puas?" Ucap Dava mulai jengkel pada sahabatnya.


"Terus Reyna bisa menyajikan rapat dengan baik? Ia tidak mengatakan atau membuat kesalahan?" Tanya Aldy masih saja penasaran.


"Ck, iya rapatnya sudah selesai dan ia tidak melakukan kesalahan. Hasil rapat juga sudah aku kirimkan ke WA kamu. Lebih baik kamu segera follow up hal-hal yang harus segera dikerjakan! Pergi sana, kembali keruangan mu!" Usir Dava pada Aldy.


"Huh, dasar... Kalau saja kamu bukan temanku sudah aku tinggalkan kamu sejak lama!" Ucap Aldy pelan pura-pura marah sambil berjalan keluar dari ruangan Dava.


Dava yang masih bisa mendengar ucapan Aldy hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka berdua bersahabat karib sudah lama dan telah mengetahui sifat masing-masing. Yang membuat Aldy terus bertahan di sisi Dava selain karena hubungan persahabatan mereka yang sudah lama, Gaji yang diberikan untuk Aldy tidaklah sedikit. Gajinya setara dengan Direktur lain perusahaan itu.


Sementara itu di jam istirahat Reyna pergi ke sebuah rumah makan yang ada tepat di samping kantornya. Kebetulan rumah makan itu menyediakan menu makanan sehat untuk orang diet dengan jumlah kalori yang rendah di setiap sajiannya, sangat cocok untuk Reyna yang saat ini sedang menjalani program diet sehat. Banyak pilihan menu mulai dari buah, sayur, sampai minuman yang enak namun rendah kalori.


Reyna begitu menikmati makanan yang sedang ia santap. Ia seperti mendapat kekuatan yang baru dari makanan yang ia santap, mengingat tadi ia telah mengeluarkan energi yang banyak walau bukan secara fisik.


Tanpa ia sadari sejak tadi ada seorang pria tampan yang sedari tadi memperhatikannya. Ia ingin menyapa wanita yang pernah menolongnya beberapa hari yang lalu, tapi ia kemudian mengundurkan niatnya itu. Ia berhutang terima kasih kepada wanita itu, tapi ia sangat malu untuk menunjukkan mukanya di hadapan wanita itu, mengingat wanita itu pernah melihat sisi memalukan yang sebenarnya ingin Rendi lupakan.

__ADS_1


Akhirnya yang Rendi lakukan hanyalah duduk diam menikmati makanannya sambil memperhatikan Reyna dari jauh.


'Bukankah itu wanita yang ia temui satu setengah tahun yang lalu? Wanita yang menolong Mas Dava dan membawanya ke rumah sakit?!' Walaupun sekarang penampilan Reyna sudah berubah sedikit lebih baik, tapi karena IQ nya yang tinggi Rendi bisa mengingat Reyna dengan jelas.


__ADS_2