
Tiga puluh lima menit sudah Aldy mewawancarai Reyna dengan beberapa pertanyaan yang dijawab Reyna dengan sangat baik.
'Tidak salah tante Sinta merekomendasikan perempuan ini sebagai sekretaris untuk Dava.' Batin Aldy.
"Ok, jadi kapan kamu bisa mulai kerja?" Tanya Aldy dengan penuh wibawa.
"Jika Bapak mengizinkan, saya ingin menyelesaikan pekerjaan saya untuk besok, dan lusa saya bisa masuk kerja."
"Oh, pekerjaanmu sebagai make up artist itu ya?" Aldy mengetahui dari pembicaraan ia dan Reyna selama wawancara tadi. Aldy lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Iya Pak."
"Kamu akan di trainning dan di dampingi selama seminggu oleh Mery Sekretaris Direktur Utama sebelum ia cuti melahirkan. Dua minggu dalam masa percobaan, jika kamu berhasil tiga bulan kemudian kamu akan di pindahkan ke divisi HRD sebagai staf, dan akan menjadi pengganti atau mengambil alih tugas Mery jika ia cuti atau berhalangan. Tugasmu cukup berat karena membutuhkan kecerdasan dan ektra kesabaran menghadapi bos kita, juga semua pekerjaan sebagai sekretaris tentunya. Jika kamu sanggup melakukannya dengan baik, gaji pokokmu per bulan dua kali lipat dari UMP (Upah Minimum Provinsi) saat ini ditambah dengan bonus yang hampir sama dengan gaji pokok mu, ada juga uang makan, yang lembur, tunjangan hari raya, tunjangan kesehatan dan tunjungan pendidikan anak."
"Ingat tugas mu cukup berat, Mery akan menjelaskan apa saja tugas mu nanti dan bagaimana sifat dari Bos kita serta cara menghadapinya. Saya rasa upah yang kami berikan sepadan dengan tugas yang akan kamu lakukan."
Reyna hanya tersenyum tenang dan menggangguk pelan saat mendengar pernyataan Aldy yang panjang. Dalam hati Reyna sedikit was-was, dari ucapan Vita dan Aldy sepertinya calon bosnya itu sangat menakutkan. Di tambah lagi ia juga pernah di semprot oleh calon bos nya itu saat berada di rumahnya. Ada rasa takut dan tidak percaya diri untuk situasi yang akan ia hadapi nanti saat menjadi sekretaris Direkrut utama.
'Semoga Tuhan memampukan aku untuk melakukan ini dengan baik.' Batin Reyna.
"Kamu bersedia?"
"Iya pak, saya bersedia." Jawab Reyna dengan mantap.
__ADS_1
Aldy lalu memanggil Mery untuk datang dan mengajak Reyna ke ruangannya untuk di trainning.
*****
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Reyna mampir di sebuah minimarket yang ada di pinggir jalan untuk membeli susu formula untuk Galena sekalian mampir untuk buang air kecil disana.
'Ah, segarnya. Nyaman sekali, perutku. Kalau harus menunggu sampai rumah untuk buang air kecil bisa-bisa aku kena ISK (Infeksi Saluran Kencing).' Reyna kemudian keluar dari dalam toilet dan kaget ternyata di luar sudah banyak orang yang antri untuk buang air menunggu ia keluar.
Reyna lalu keluar ke bagian minimarket dan mengambil susu formula kaleng untuk Galena. Saat sedang antri untuk membayar di kasir, Reyna melihat seorang pria tampan tiba-tiba masuk ke dalam minimarket sambil tergesa-gesa dengan wajah pucat.
Reyna biasanya tidak suka memperhatikan seorang pria, tapi pria yang masuk barusan menabraknya sehingga membuat keranjang belanjaannya jatuh ke lantai. Reyna terpaksa harus melihat pria yang masuk itu, pria tampan dengan perawakan tinggi dan tegap.
"Maaf ya mbak, aku buru-buru tidak sengaja." Ucap pria itu dengan penyesalan karena sudah menabrak Reyna.
"Mbak, pinjam toilet ya." Ucap pria itu kepada karyawan minimarket.
"Iya pak silahkan di dalam." Jawab perempuan yang sedang melayani di meja kasir itu. Tanpa menunggu pria itu langsung menuju ke arah toilet di sebuah ruangan dalam minimarket.
'Pria ini pasti sudah kebelet buang air, sampai ia buru-buru seperti itu dan menabrak orang lain.' Batin Reyna.
'Hm, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi dimana ya? Ah, sudahlah mungkin seseorang yang tidak sengaja berjumpa denganku di suatu tempat.' Dahi Reyna mengerut memikirkan pria yang barusan menabraknya. Reyna pun langsung menyelesaikan pembayarannya di kasir dan keluar dari mimimarket.
Saat hendak menjalankan motornya, ia kembali melihat pria yang menabraknya tadi keluar dari minimarket dengan tergesa-gesa masih dengan wajah pucatnya. Pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya, tapi kemudian keluar lagi dari mobil dan hanya berdiri di samping mobil sambil meringis, ia mengepalkan ke dua tangannya sambil melihat keadaan sekitar dengan tatapan putus asa.
__ADS_1
'Kasihan sekali pria itu pasti ia belum sempat menunaikan maksudnya, karena tadi ada beberapa orang yang mengantri di depan toilet saat Reyna selesai buang air kecil.' Reyna tahu bagaimana rasanya menahan buang air, apalagi menahan buang air besar yang ingin segera dituntaskan ditambah jika harus mengantri atau sulit mendapatkan kamar kecil, pasti itu sangat menyiksa. Hatinya pun tergerak melihat pria itu. Walaupun awalnya sempat ragu, Reyna pun pergi menghampiri pria itu.
"Mas, mau ke toilet?" Tanya Reyna.
"Hah?! I, iya." Pria itu mengangguk dengan sangat antusias. Walau awalnya pria itu melihat Reyna dengan tatapan aneh, namun karena keputus asaannya pria itu tanpa ragu mengiyakan pertanyaan Reyna.
"Ayo ikut saya, saya antarkan." Reyna membalikkan badannya dan mulai berjalan ke arah warung makan kecil yang ada di dekat minimarket. Langkahnya semakin cepat menuntun pria itu ke warung makan kecil yang letaknya memang sedikit tersembunyi karena tidak menghadap ke jalan. Kalau tidak memperhatikan atau tidak pernah singgah kesana, pasti orang tidak tahu kalau disana ada warung makan.
Pria itu hanya mengikuti Reyna dari belakang, hilang sudah rasa malu, gengsi, serta wibawa yang selalu ia jaga di hadapan dokter-dokter juniornya. Ia sangat berharap apa yang ia perlukan bisa tercapai dengam bantuan wanita yang ada di depannya, walaupun ia tidak mengenalnya.
"Siang Mpok, pinjam toilet ya." Tanya Reyna kepada pemilik warung makan itu, Reyna sudah pernah makan di tempat itu dan meminjam kamar kecil jadi ia tahu kalau di tempat itu ada toilet.
"Silahkan mbak, jangan lupa di kembalikan ya." Canda pemilik warung makan itu. Reyna hanya bisa terkekeh mendengar jawaban Mpok pemilik rumah makan.
"Ayo, mas." Reyna memanggil pria itu yang terlihat ragu-ragu untuk masuk. Mungkin kesadarannya mulai kembali sehingga membuat pria itu sedikit malu.
Reyna pun langsung menarik tangan pria itu dan menuntunnya ke bagian belakang warung makan itu.
"Itu yang pintunya berwarna biru." Tunjuk Reyna ke arah pintu toilet yang berwarna biru. Tanpa menunggu pria itu langsung berjalan dan masuk ke dalam pintu yang berwarna biru tersebut.
Setelah misinya selesai, Reyna pun pamit ke mpok pemilik warung makan itu dan pergi ke parkiran minimarket tempat ia meninggalkan motornya tadi.
Reyna langsung melajukan motornya untuk pulang tanpa menunggu pria yang tadi keluar dari toilet. Sebenarnya Reyna tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain, apalagi pria itu terlihat berkelas dan dari kalangan atas. Reyna menyadari orang-orang seperti itu terkadang tidak menghargai ataupun salah paham dengan perbuatan orang-orang seperti mereka, tapi demi rasa kemanusiaan Reyna pun tidak tega membiarkan kesusahan orang lain.
__ADS_1