AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Mengantar Bu Siti


__ADS_3

​Aku menepikan motorku disamping warung. Kulihat Ziva sedang bermain bersama dengan ayah di dalam warung. Mereka terlihat begitu menikmati permainan boneka boneka yang saling berbicara satu sama lain.


Aku melihat Ziva begitu pintar mengimbangi ayah, terlihat dari caranya menjawab dan berkomunikasi sambil memegang bonekanya, sekan-akan boneka itu yang berbicara. Entahlah apa yang mereka bahas, terlihat begitu menyenangkan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ziva langsung berlari ke arahku, dan aku langsung memeluknya. Aku mencium pipinya bergantian kiri dan kanan, membuat Ziva merasa geli, kuusap lembut rambutnya yang hitam lebat.


"Ziva sedang apa, nak?"


"Ziva - lagi - main - boneka - sama - kakek, ma. Kakek - jadi - Ana - dan - Ziva - jadi - plinses Elsa."


Mereka sedang bermain karakter di film Frozen. Ziva berbicara dengan gayanya yang lucu. Sejak seminggu yang lalu Ziva selalu menonton Film Frozen di youtube. Dia dengan mudah bisa menghafal semua karakter di film disney itu. Walaupun bicaranya agak pelan, tapi Ziva sudah bisa menyusun kata-kata dengan baik. Aku sangat bangga padanya.


"Oh ya? Lalu mama jadi apa dong?"


"Jadi - Olaf - aja, mama."


"Olaf?..Siapa itu Olaf, sayang?"


"Olaf itu - boneka - salju - temannya - Ana dan Elsa."


"Ohhh..."


"Reyna, kamu darimana saja, nak?"


Tiba-tiba Ibu datang bersama Bu Siti tetangga kami.


"Aku keluar sebentar bu, ada urusan." Jawabku sambil tersenyum.


"Ohh. ini Bu siti mau minta tolong sama kamu buat diantarkan ke supermarket. Bisa?"


"Maaf merepotkan Reyna. Sejak tadi saya menunggu ojek di depan sini, tapi tidak ojek yang lewat padahal sudah 1 jam saya menunggu."


"Oh Iya bu Siti, sebentar saya ambil helm dulu ya."

__ADS_1


Aku masuk ke rumah, mengambil helm di ruang tengah dan menaruh mapku yang berisi berkas-berkas penting dan surat lamaran di lemari kamarku. Setelah itu aku keluar rumah sambil menyerahkan helm pada bu Siti untuk digunakan.


"Ayo Bu Siti."


"Ayah, aku titip Ziva lagi ya." Kataku pada ayah.


"Iya, kamu hati-hati ya di jalan."


"Iya, yah." Jawabku sambil mengangguk."


"Ziva mama keluar sebentar, kamu jangan nakal ya nak sama nenek dan kakek."


"Iya,mama."


Aku bergegas pergi mengantar Bu Siti. Saat di perjalanan Bu Siti menceritakan kalau besok hari ulang tahun Mira, anak Bu Siti. Bu Siti sebenarnya mau membeli kue ulang tahun untuk surprise anaknya jam 12 nanti malam.


Setelah sampai di sebuah Supermarket, bu Siti masuk, aku hanya menunggu Bu Siti di motor. Setelah 30 menit menunggu akhirnya Bu Siti keluar membawa bungkusan belanjaan dan tart.


"Maaf ya lama Na. Tadi antriannya banyak."


Tanyaku dengan sopan pada Bu Siti.


"Hmm, kayaknya tidak ada deh. Ayo."


Aku menjalankan motorku untuk pulang. Sesampainya di rumah Bu Siti, Bu Siti memberikan aku uang sebesar 50 ribu.


"Waduh nggak usah Bu. Aku ikhlas kok antarnya. Lagian ini juga motor ayah." Jawab ku dengan sopan, tidak enak menerima pemberian Bu Siti.


"Kalo kayak gini, saya yang tidak enak sama kamu! Motor ini di isi bensin kan bukan air. Saya juga ikhlas memberikan ini." Jawab Bu Siti ngotot, tapi dengan senyuman.


"Pokoknya kalau kamu tidak terima, saya akan marah beneran loh sama kamu Reyna!" Kata bu Siti mengancam.


"Waduh, jangan begitu dong Bu. Saya beneran ikhlas kok mengantar Bu Siti!" Ucapku tetap memaksa.


"Ya sudah, kalau kamu tidak ambil uang ini berarti kamu tidak menghargai saya!" Jawab Bu Siti mulai marah.


"Yah, Bu. Bukan gitu juga. Ini juga terlalu banyak Bu."

__ADS_1


"Hhmm gini aja, kalau kamu ngga sibuk besok tolong antarkan saya ke pasar buat belanja bahan makanan untuk ulang tahun Mira besok ya."


"Katanya dia mau ajak teman-teman kuliahnya buat makan di rumah. Yah daripada uangnya dipake buat keluyuran entah pergi kemana sama teman-temannya, lebih baik mereka kumpul-kumpul makan di rumah kan. Bagaimana Reyna?"


"Besok jam berapa ya bu?" Aku bertanya dulu, karena besok aku berencana untuk melamar kerja.


"Jam 6 pagi. Bisa?"


"Oh iya, bisa bu." Syukurlah besok pagi, aku bisa mengantarkan Bu Siti ke pasar lalu setelah itu baru keluar untuk mencari kerja.


Kebetulan tadi pagi ayah sudah belanja kebutuhan di warung. Jadi kemungkinan besok ayah tidak akan memakai motor untuk ke pasar lagi.


Aku dan Bu Siti lalu saling mengucapkan terima kasih, setelah itu aku pamit pulang ke rumah. Rumahku hanya berjarak 50 meter dari rumah Bu Siti. Puji Syukur, hari ini dapat rejeki dari orang lain.


*****


Esoknya, jam 5 lewat 45 menit aku sudah berada di depan rumah bu Siti menunggunya. Kulihat pintu rumah mereka sudah terbuka, sepertinya Bu Siti sudah menungguku. Kubunyikan klakson 1 kali agar Bu Siti tahu aku sudah datang. Cukup 1 kali karena tidak enak dengan tetangga yang masih tidur jam segini.


Bu Siti keluar dengan tas anyaman bersiap menuju pasar. Aku melajukan motorku menuju pasar yang jaraknya hanya memakan waktu 10 menit.


Sesampainya di pasar, sudah banyak sekali orang yang berlalu lalang. Ya namanya juga pasar. Tapi kali ini terlihat sangat ramai, ternyata jam begini memang jamnya orang belanja. Disini ada ikan-ikan segar yang baru diturunkan dari mobil pick up, ada juga sayur-sayur yang masih dijual dari mobil pick up. Ternyata kalau belanja jam segini bahan-bahannya masih sangat fresh, dan harganya masih lebih murah karena dari tangan pertama.


Baru kali ini aku ke pasar pada jam segini. Biasanya untuk kebutuhan dapur di rumah mas Angga, selalu dibeli oleh ibu mertua di Supermarket. Kalau di rumah orang tuaku, ayah dan ibu yang akan belanja pagi-pagi.


Banyak pelajaran tentang kehidupan yang bisa aku petik dari tempat ini. Tentang kerasnya kehidupan, yang membuat orang orang harus berjuang demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan keluarga. Orang-orang yang berjualan bahkan sudah ada disini sejak jam 3 pagi. Bahkan ada yang sudah ada disini dari tadi malam.


​​​


Ada anak-anak yang masih usia sekolah harus bekerja berjualan ikan, ada juga kakek-kakek yang menjual sayur, kulihat ada seorang pemuda tampan yang menggelar karpet dan menjual celana celana pendek untuk laki-laki dan perempuan di pinggir jalan, dan masih banyak lagi.


Kulihat mereka menikmati apa yang mereka kerjakan tanpa harus gengsi dan malu dengan omongan orang. Ya, kuncinya adalah bersyukur agar bisa menjalani hidup dengan baik. Ketika kita merasa hidup kita berada dalam kesulitan, teruslah mensyukuri apa yang bisa kita miliki dan lakukan saat ini.


Bu Siti menghampiriku yang sedang menunggunya dimotor.


"Ayo Na. Tapi kita singgah ke tempat Feby sebentar ya. Aku mau beli daging ayam di tempatnya. Soalnya disana ayamnya segar-segar dan baru dipotong. Ngga apa-apa kan?!"


"Oh iya bu boleh, tidak apa-apa." Mulut ku berkata tidak aoa-apa, tapi entah kenapa perasaanku tidak enak saat Bu Siti menyebut nama Feby. Sebenarnya sejak dulu aku tidak pernah punya masalah dengan Feby. Kami memang sekelas saat SD dan kelas 3 SMA, tapi kami tidak dekat..

__ADS_1


__ADS_2