
"Halo, anak mama yang cantik." Setelah Reyna selesai membersihkan diri dari aktivitasnya di luar rumah, Reyna mengambil Galena dari pangkuan Ibunya.
"Baru berapa jam nggak ketemu Galena mama sudah kangeeen sekali." Reyna menciumi seluruh wajah anaknya dengan gemas. Galena hanya bisa tertawa lucu karena geli dengan ulah mamanya.
"Kamu sudah makan siang Tik?" Tanya Reyna dengan lembut pada Tika yang sedang duduk menemani anaknya yang sedang memainkan boneka dan mainan milik Galena.
"Iya, mbak kami sudah makan tadi. Ibu Nabila menyajikan kami ayam bumbu kuning dan sayur cap cai. Enak sekali masakan Ibu Nabila. Oh ya mbak, maaf aku sudah duduk santai menemani Sherina bermain. Pekerjaannya sudah selesai mbak, ternyata pakaian yang harus di cuci dan setrika tidak terlalu banyak. Jadi pekerjaannya cepat selesai." Ada sedikit rasa tidak enak di wajah Tika saat mengatakan itu.
"Iya, tidak apa-apa Tik." Ucap Reyna.
"Na, tadi Tika juga bantu ibu loh mengupas singkong dan menggoreng keripik, barusan Tika juga bantuin nyapu dan beberes rumah. Padahal ibu tidak menyuruh loh, Tika yang inisiatif sendiri mengerjakan semuanya." Ucap Ibu Nabila.
"Tidak apa-apa bu. Aku sudah biasa melakukan itu, bukan pekerjaan yang berat kok."
"Mbak, hmmm selain mencuci dan menyetrika pekerjaan yang lain tidak usah dihitung ya." Ucap Tika merasa tidak enak jika Reyna berpikir pekerjaan yang ia lakukan karena ingin meminta tambahan upah untuknya.
Reyna hanya tersenyum mendengar ucapan Tika. Ibu Nabila lalu pamit pergi ke warung di depan untuk menengok Ayah. Reyna kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu dan langsung keluar kamar lagi.
"Tik, ini upahmu hari ini." Reyna menyerahkan sebuah amplop yang berisi upah kerja untuk Tika.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih banyak mbak Reyna." Tika menerima amplop pemberian Tika dengan penuh syukur. Berapapun upah yang diberikan oleh Reyna Tika sangat berterima kasih, lagian pekerjaannya juga tidak banyak.
Tika sangat senang bekerja di rumah Reyna karena Tika di bolehkan untuk membawa Sherina disana, jadi ia tidak perlu khawatir harus meninggalkan anaknya sendirian di rumah bersama ibunya yang sudah sakit-sakitan. Selain itu di rumah ini, Sherina sangat senang karena bisa bermain dengan mainan Galena. Walaupun Galena masih kecil, namun mainannya sudah sangat banyak dan bagus-bagus. Sherina sedari tadi hanya duduk diam memainkan mainan Galena seakan tidak mau beranjak saking senangnya bermain. Maklumlah anaknya Sherina tidak punya banyak mainan, seperti milik Galena. Tika tidak mampu membelikan mainan-mainan yang mahal seperti milik Galena.
Padahal jika diingat dulu saat Tika masih kecil, orang tuanya selalu membelikan Tika mainan yang sedang kekinian, ia tidak pernah kekurangan mainan. Saat Tika kecil ia bahkan punya maianan yang harganya jutaan rupiah, berbanding terbalik dengan anaknya sekarang, membeli mainan diatas lima puluh ribu saja ia tidak sanggup.
Saat membuka amlop yang diberikan Reyna, Tika sangat terkejut dengan isinya yang sangat banyak. Ada sepuluh lembar uang seratus ribu.
"Maaf mbak, mungkin mbak Reyna salah kasih amplop. Isinya sangat banyak, tidak mungkin ini upah kerja ku mencuci dan menyetrika baju." Tika menyerahkan kembali amlop pemberian Reyna. Reyna hanya tersenyum tidak menerima amplop yang dikembalikan oleh Tika.
"Amplop nya tidak salah Tik. Mbak memang sengaja memberikan uang itu untuk kamu, alhamdulillah mbak punya rejeki jadi mbak mau berbagi sama kamu."
"Uang ini bisa kamu gunakan untuk membeli keperluan Sherina, kamu juga bisa membeli mainan yang Sherina inginkan. Tadi di warung mbak lihat Sherina mau menunjuk mainan tapi kamu menahan tangannya."
"Mbak memperhatikannya? Kupikir mbak tidak menyadarinya, karena aku langsung menahan tangan Sherina." Tika merasa sedikit malu pada Reyna, karena Reyna ternyata memperhatikan Sherina tadi saat belanja di warung. Padahal ia sudah berusaha menahan tangan anaknya dan memeluknya kuat agar Sherina tidak menunjuk-nunjuk barang yang tidak diperlukan.
"Tik, kita berdua seorang ibu. Aku tahu perasaanmu dan kesusahanmu. Semua ibu pasti ingin memberikan semua yang terbaik untuk anaknya. Kerinduan seorang ibu adalah melihat anaknya selalu tersenyum bahagia. Aku tahu kamu juga ingin membelikan mainan dan semua yang indah untuk anakmu. Aku sangat mengerti perasaanmu, aku juga pernah ada di posisimu Tik. Bersabarlah, besok mentari akan bersinar lagi." Reyna memegang tangan Tika, seakan memberikan kekuatan untuk Tika yang mulai bergetar dan meneteskan air mata.
"Aku salut sama mbak Reyna, yang bisa kuat dan bangkit seperti sekarang. Aku, aku sudah berusaha mbak. Aku juga berjuang... tapi kenapa ya bahagia tidak juga menghampiriku? Aku masih saja terhimpit dengan kemiskinan, dan itu sangat menyiksa dan menyedihkan. Apalagi melihat anak ku yang juga turut menanggung kesusahanku, itu sungguh menghancurkan hatiku. Entah apa dosa ku sehingga Tuhan memberikanku cobaan seberat ini."
__ADS_1
"Setiap manusia diuji dengan masalah dan pergumulan yang berbeda-beda. Ada yang diuji karena kesalahan di masa lalu, namun ada juga yang di uji karena Tuhan berkenan kita melewati masalah dan pergumulan hidup untuk memproses kita agar menjadi pribadi yang lebih kuat. Tuhan ada dan melihat semua yang kita alami, Dia selalu ada bersama kita dan tidak pernah meninggalkan kita."
"Kuatkan hati mu Tik, bersabarlah, dan teruslah berjuang dan percaya bahwa hariĀ esok akan lebih baik dari hari ini. Akan datang hari dimana kamu akan tersenyum bahagia dan tidak perlu lagi takut dengan kemiskinan. Serahkan semua harapan, masalah, dan kesusahan mu kepada Tuhan sang pencipta kehidupan. Jangan menjauh dari Nya, dan mendekatlah kepada Tuhan. Dan percayalah semua hal baik yang mungkin tidak pernah kamu pikirkan akan Tuhan berikan kepadamu."
"I, iya mbak. Aku sadar, masalah dan beban dalam hidupku terkadang membuat aku lupa pada Tuhan dan membuatku semakin menjauh dari Nya. Terima kasih mbak, kata-kata mbak sungguh sangat menguatkan dan menyadarkan aku. Terima kasih juga untuk pemberian mbak ini, aku sangat berterima kasih. Aku mendoakan agar Tuhan membalas dengan rejeki yang berlimpah untuk mbak Reyna dan keluarga." Hatinya tersentuh dengan ucapan Reyna agar Tika semakin dekat dengan Tuhan. Kemiskinan membuat ia semakin jauh bahkan melupakan Tuhan sang pemilik kehidupan. Tika sangat berterima kasih dengan perhatian, nasehat dan uang pemberian dari Reyna. Tika dengan tulus mendoakan rejeki yang berlimpah untuk Reyna.
*****
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu pun tiba Reyna begitu gugup menjalani hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris Direktur utama.
'Semoga hari ini berjalan dengan lancar. Tuhan, mampukan aku agar aku bisa melakukan pekerjaanku ini.' Reyna berdoa dan mensugesti dirinya bahwa ia bisa menjalani hari ini dengan baik karena Tuhan pasti akan menolongnya.
Saat tiba di kantor Reyna mendapat kabar yang tidak mengenakkan dari Merry.
[Selamat pagi Reyna, ini dengan suami Mery. Maaf hari ini Mery tidak bisa masuk kantor, tadi sebelum masuk ruang operasi Mery menitip pesan untuk menghubungimu. Tadi subuh Mery mengalami pecah ketuban dan harus dilarikan ke rumah sakit. Saat ini Mery sedang berada di ruang operasi untuk menjalani operasi caesar.]
Pesan wa yang masuk dari nomor Mery membuat kaki Reyna lemas serasa tak bertulang.
'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan di hari pertama ku tanpa Mery!'
__ADS_1