
Seminggu berlalu sejak Reyna melaporkan Raya kepada pihak berwajib. Sejak Raya melaporkan kasus itu, Erwin suami Lisa selalu mengabarkan tentang perkembangan kasus itu kepada Reyna. Tadi Erwin menelepon dan memberitahukan bahwa telah dilakukan penahanan pada Raya, sambil menunggu proses sidang yang sedang berjalan. Sebenarnya dalam hati Reyna dia merasa kasihan dan tidak tega mendengar berita tentang penahanan Raya mengingat saat ini Raya sedang mengandung seperti dirinya, tapi apa mau dikata itu adalah konsekuensi dari perbuatan yang dia lakukan. Walaupun Reyna telah menerima dan memaafkan masa lalunya yang menyakitkan, Reyna juga tidak mau terlalu naif untuk membiarkan Raya yang telah lalai dan menghilangkan nyawa anaknya. Reyna berharap hukum di negara ini akan bertindak tegas dan adil menyikapi kasus yang menimpa putrinya.
Saat ini Reyna sudah mulai belajar menerima dan mengikhlaskan kematian anaknya, walau tak seharipun Reyna tidak memikirkan Ziva. Sesekali Reyna akan sangat sedih dan menangis karena merindukan Ziva. Ayah dan Ibu sudah tidak lagi pernah membahas tentang kematian Ziva demi menjaga perasaan Reyna. Reyna juga tidak mau mengecewakan keluarganya dengan terpuruk dalam kesedihan.
Kehilangan seorang anak berarti kehilangan segalanya, harta yang paling berharga di dunia ini. Rasanya tak mampu diungkapkan dengan kata, gejolaknya meledak dan mampu meremukkan seluruh jiwa. Namun Reyna menyadari semua yang dia miliki hanya titipan dari yang maha kuasa, yang sewaktu-waktu bisa di ambil oleh pemilik hidup ini. Hanya doa yang dapat Reyna panjatkan kepada sang maha kuasa sambil menitipkan rindu yang amat besar untuk bidadari kecilnya yang telah pergi menghadap sang ilahi. Kenangan akan kebersamaan dengan sang buah hati menjadi penyemangat dan kekuatan untuknya menjalani hidup, apalagi saat ini di dalam rahimnya ada nyawa yang harus dia jaga.
Setiap hari Reyna selalu di beri banyak kegiatan oleh ayah dan ibu baik membantu ayah menjaga warung, membereskan atau mengecek stok barang jualan di warung, atau membantu ibu mengolah hasil kebun belakang rumah menjadi cemilan atau makanan ringan baik untuk dijual maupun di makan sendiri.
Minggu ini Reyna mulai mengikuti kegiatan kursus kecantikan yang diselenggarakan oleh PKK kelurahan dimana ia tinggal tanpa dipungut biaya. Ibunya mendaftarkan nama Reyna untuk mengikuti pelatihan yang di selenggarakan oleh ibu-ibu PKK kelurahan yang dilaksanakan dua kali seminggu agar Reyna punya kesibukan. Ibu dan ayah tidak mengizinkan Reyna untuk bekerja di luar dulu demi kesehatan bayi dalam kandungannya. Dua hari sekali Reyna akan mengunjungi makam Ziva, sekedar melepas rindu pada anak yang telah mendahuluinya menemui sang khalik.
Malamnya sebelum Reyna tidur selesai memanjatkan doa dan permohonan kepada yang Kuasa, Reyna mencurahkan isi hatinya dalam sebuah catatan di ponselnya. Kedua ibu jarinya menari indah mengikuti hati dan pikirannya, mengetik kata demi kata di atas benda pipih yang dia pegang, menuliskan kisah perjalanan hidupnya, semua rasa sakit dan kehilangan yang Reyna rasakan selama ini, sampai perjuangan yang ia lakukan demi bisa bangkit kembali dan berdamai dengan dirinya sendiri. Seperti menulis sebuah diary yang pernah ia lakukan saat ia masih sekolah dulu, disitu Reyna bisa mengatakan apa saja yang ia rasakan tanpa perlu malu, takut ada yang marah, kurang senang atau terganggu dengan ceritanya.
__ADS_1
Suatu malam selesai berdoa, Reyna kembali akan melakukan ritual malam yang biasa dia lakukan sebelum tidur, yaitu menulis diary di ponselnya. Saat membuka aplikasi baca novel online yang sering dia baca, Reyna tiba-tiba saja mendapat ide membuat sebuah novel tentang kisah hidupnya sendiri.
Reyna pun mulai mendaftar menjadi penulis dan memasukkan judul serta latar belakang ceritanya. Beberapa bab Reyna masukkan di awal cerita. Tidak sulit, karena ini kisah hidupnya sendiri, dan sudah dia tuliskan dalam sebuah catatan di ponselnya. Tinggal beberapa bagian yang perlu dirubah penulisannya, agar lebih enak untuk dibaca dalam bentuk sebuah cerita. Tidak perlu terlalu mendramatisir cerita karena walaupun tidak melakukannya cerita hidup Reyna sudah seperti drama yang menguras air mata.
Setiap malam sehabis berdoa sebelum tidur Reyna akan menulis ceritanya, bab per bab dan menguploadnya di aplikasi novel online yang sering ia baca. Banyak yang mengapresiasi tulisannya dalam bentuk like dan komentar. Ada komentar yang menyemangatinya, ada juga yang tersentuh dengan ceritanya, tapi ada juga yang menghina dan mengatainya bodoh dan idiot. Namun apapun komentar yang dia terima, Reyna tetap bersyukur dan berterima kasih karena itu tanda bahwa mereka membaca ceritanya dan sangat menghayati cerita yang dia buat sehingga mampu mengutak-atik emosi pembaca.
Semakin hari hubungannya dengan dokter Vita menjadi sangat akrab, dokter Vita selalu memantau kesehatan dan asupan gizi dari Reyna yang sedang hamil. Dokter Vita akan menelepon bahkan untuk sekedar bercerita tentang aktivitasnya di rumah sakit yang kadang sangat sibuk jika banyak pasien, dan kisah lucu yang dia alami bersama pasien atau rekan kerjanya. Dokter Vita juga menceritakan tentang kedekatannya bersama seniornya yang tampan di rumah sakit tempat dokter Vita bekerja. Reyna pun dapat menjadi pendengar yang baik dan teman curhat yang asik dan dapat memberikan masukan bagi dokter Vita.
Di penjara...
Seorang wanita muda yang sedang hamil besar terduduk di lantai tak berkeramik yang dingin dan penuh debu, sambil meratapi keadaanya yang sangat menyedihkan. Di usianya yang begitu belia ia harus berhenti sekolah karena malu kisah perselingkuhannya yang manis diketahui oleh seanteru anak-anak di sekolahnya. Ia harus merelakan ijazah SMA yang hampir saja bisa ia miliki seandainya Ia bisa bersabar atau jika kisahnya tak diketahui oleh teman-teman sekolahnya barang dua bulan saja.
__ADS_1
Kehamilannya menghantarkan ia menjadi seorang isteri dari lelaki dewasa dan mapan yang sejatinya tidak tahan akan godaan dan meninggalkan isteri pertamanya demi meneguk kenikmatan semu yang mendatangkan petaka.
Tak disangka kematian putri dari suaminya membawa Ia menjadi terdakwa atas kasus kelalaian yang menghilangkan nyawa. Raya seperti tersangka yang di tuduh membunuh seseorang, padahal ia tidak pernah merasa membunuh seseorang, dan tidak ada sekitpun rasa bersalah di dalam hatinya.
Dalam pikirannya yang sempit, putri kecil kesayangan suaminya yang menjengkelkan itu jatuh sendiri dari jendela kamar nya yang tinggi dan kehilangan nyawa karena kebodohan dan kesalahan gadis kecil itu sendiri tanpa ada kesalahannya.
Dalam hatinya ia sangat kesal dan marah dengan situasi yang sedang ia alami. Bahkan saat petugas menjemputnya di rumah, suaminya hanya diam dan membiarkan petugas kepolisian membawanya pergi tanpa pembelaan atau mengucapkan satu katapun. Hatinya begitu sakit dan pedih mengingat kejadian itu.
Tapi memangnya apa yang bisa dilakukan laki-laki setengah gila seperti suaminya, Angga. Setiap hari kerjanya hanya duduk termenung dan sesekali menangis, meraung dan kadang ia akan menghancurkan benda-benda yang ada disekitarnya. Angga seperti laki-laki dan suami yang tidak berguna lagi untuk Raya.
Tak terasa sudah tiga jam Raya duduk tersungkur di lantai penjara yang dingin itu dengan derai air mata yang berjatuhan di pipinya. Matanya sudah bengkak dan hidungnya sembab karena terlalu lama menangis. Raya bahkan tidak menyadari kalau ada dua singa betina di belakangnya yang sedari tadi diam memperhatikannya dan sangat terganggu dengan tangisannya.
__ADS_1