
Rasa marah, benci dan dendam menyelimuti hati Reyna. Memikirkan tanda biru di lengan Ziva, dan ada dugaan kekerasan dari Raya terhadap Ziva membuat hati Reyna sangat sakit! Ibu mana yang akan rela anaknya di sakiti bahkan sampai kehilangan nyawa. Reyna bahkan tidak pernah berbicara kasar ataupun memukul Ziva.
Anaknya yang malang, siapapun yang melihat Ziva pasti akan menyukai dan menyayanginya, tak disangka Ziva harus meregang nyawa saat bersama Ayah dan ibu tirinya. Sesak di dada! Jantung Reyna seakan di pompa kencang, membuat dada Reyna naik turun karena menahan amarah di hati! Kepalanya sakit memikirkan hal itu, benar-benar sakit seperti di hantam dengan kayu besar. Dada Reyna terasa panas seperti mau terbakar. Perutnya terasa penuh, seperti...
"Mmmpppphhh..... Mmmmpphhh...." Reyna berlari ke arah dapur hendak muntah mengeluarkan semua makanan yang baru saja ia makan.
"Uuhhweekkkk!!! Uuhhwweekkk! Uhhweekkk!" Reyna mengeluarkan isi perutnya. Ia tersungkur di lantai dapur dengan lemas.
"Astagfrirullahaladzim! Reyna, apa yang terjadi nak? Wajahmu sangat pucat seperti kertas!" Ibu mengusap lembut wajah putrinya dengan perasaan khawatir. Ayah yang juga mengikuti ibu ke dapur langsung memegang kedua pundak Reyna dari belakang.
"Ayo bu, bantu ayah untuk membawa Reyna ke kamarnya!"
"I,iya yah!"
"Astagfirullah nak, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu sangat pucat?" Ibu bertanya setelah mereka membaringkan Reyna diatas tempat tidur.
Reyna hanya menangis terisak tanpa mengatakan apapun, seperti sedang memendam sakit hati yang amat dalam.
"Kepalaku sakit...." Ucap Reyna kemudian dengan suara lemah sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi nak, perasaan tadi kamu baik-baik saja?" Giliran ayah yang bertanya.
"Ziva! Aku... Aku sangat membenci orang-orang yang telah menyakiti putriku!" Ucap Reyna dengan pelan namun suaranya bergetar penuh dengan penekanan walau dengan nafas yang tersendat-sendat sambil menahan isak tangis, seakan-akan ingin menghancurkan orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian putrinya. Otot-ototnya mengeras, kepalanya penuh dengan amarah dan kebencian, membuat ia ingin berteriak, berontak, bahkan hampir kehilangan kewarasannya.
"Asatgfirullahaladzim... Istighfar nak! istighfar!" Ibu berusaha menenangkan Reyna.
"Tidak bu. Aku tidak akan memaafkan mereka yang telah menyakiti Ziva!" Ucap Reyna dengan suara bergetar. Matanya merah menahan api amarah yang menguasainya. Sesaat Reyna sudah lupa akan janjinya pada almarhumah anaknya! Begitu hebat dan dahsyat nya amarah yang Reyna rasakan sampai perasaan itu mampu menyakiti tubuhnya!
"Istighfar nak... Ingat bayi dalam kandunganmu, kamu telah menyakiti tubuh dan bayimu dengan perasaan dan pikiranmu sendiri!"
Deghh!! Reyna langsung diam, meresapi perkataan ibunya.. Hati Reyna bergetar hebat menerima pergolakan dalam hatinya. Di satu sisi dirinya tidak terima akan kematian Ziva anaknya, tapi di satu sisi hatinya ingin merelakan semua yang telah terjadi demi janjinya pada almarhumah anaknya dan kebahagiaannya bersama bayi dalam kandungan dan bersama keluarganya.
"Maafkan aku!" Hanya itu kata yang keluar dari bibir Reyna. Reyna terlihat sudah mulai bisa menguasai dirinya sendiri. Ia kemudian berusaha untuk duduk diatas tempat tidur sambil menyandarkan kepalanya.
"Syukurlah kamu sudah tenang,nak. Ibu sangat sedih melihatmu seperti tadi." Ibu menangis tanpa suara sambil mengusap kepala Reyna lembut.
Hatinya sakit melihat putri yang sangat ia cintai tertekan. Kalau bisa, biarlah semua kemalangan yang dirasakan Reyna dipindahkan padanya. Ibu mana yang tak hancur melihat hidup putrinya berantakan seperti itu. Terlalu berat cobaan yang harus di lalui putrinya. Jika harus menyesal, maka penyesalan terbesar Ibu adalah memberikan izin pada Angga untuk membawa Ziva hari itu. Padahal Reyna sudah punya firasat buruk dan tidak mengizinkan Angga membawa Ziva, tapi ibu lah yang membujuk Reyna untuk mengizinkan Angga membawa Ziva.
"Maafkan aku bu." Ucap Reyna sekali lagi meminta maaf pada Ibu sambil terisak.
__ADS_1
"Ibu yang harusnya minta maaf padamu Nak. Seandainya hari itu Ibu mendengarkan ucapanmu dan tidak mengizinkan Angga membawa Ziva, maka mungkin saat ini Ziva masih hidup!" Ucap ibu dengan terisak penuh penyesalan.
"Tidak bu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ibu juga melakukannya karena memikirkan perasaan Ziva. Aku tak pernah menyalahkan ibu." Ucap Reyna dengan tulus sambil menggenggam tangan ibu berusaha menenangkan.
"Aku minta maaf pada ayah dan ibu karena sudah menjadi beban bagi kalian, aku bahkan menyakiti hati kalian dengan keadaanku saat ini."
"Tidak apa-apa, nak. Kami tidak pernah merasa kehadiranmu dan Ziva sebagai beban. Kami akan sangat bahagia jika kamu mau berbagi kesusahanmu dengan kami. Kamu seorang ibu kan nak, kamu pasti mengerti apa yang ibu dan ayah rasakan!" Ucap ibu beralih menggenggam tangan Reyna dengan erat.
"Terima kasih, dan Maaf... Padahal aku sudah berjanji untuk mengikhlaskan semua yang sudah berlalu demi almarhumah anakku Ziva dan bayi dalam kandunganku. Aku... Aku ingin tenang dan hidup bahagia dengan orang-orang yang mencintaiku." Sekali lagi Reyna meminta maaf dan mengungkapkan apa yang dia rasakan, air mata terus mengalir dari pipi Reyna.
"Iya nak. Semua akan berlalu berganti dengan kebahagiaan yang menantimu bersama anak dalam kandunganmu." Ibu berusaha menenangkan Reyna.
"Reyna... Jika melaporkan mantan suami mu Angga dan isterinya ke polisi atas kematian Ziva, mengingatkanmu pada kenangan pahit yang ingin kamu lupakan sehingga sangat melukai hatimu, maka lebih baik ayah tidak akan melanjutkannya! Biarlah mereka bebas dari hukum dunia, asalkan putri ayah bisa hidup tenang tanpa dibayang-bayangi oleh kenangan pahit masa lalu. Biarlah mereka tidak di penjara, asalkan kamu terbebas dari penjara kesedihan yang menyakitimu! Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaanmu, lupakanlah masa lalu!" Ayah mengikhlaskan kemarahan dan keinginannya melaporkan Angga dan isterinya, asalkan tidak lagi melihat putri yang sangat dia cintai terpenjara dalam kepahitan masa lalu.
Kejadian di gudang kemarin sangat mengguncang jiwanya. Bagaimana tidak, ayah melihat langsung putri sulungnya hampir meregang nyawa karena menyerah pada hidup, di depan mata kepalanya sendiri. Untunglah nyawa Reyna bisa tertolong. Entah apa yang akan terjadi kalau sampai ayah terlambat walau beberapa detik saja.
"Jika Angga dan isterinya memang terlibat dengan kematian Ziva, maka ayah sangat yakin walaupun mereka bisa bebas dari hukum manusia tapi mereka tidak akan pernah bisa lolos dari hukum Tuhan, sang hakim yang adil!" Ayah menghela nafas dalam dan membuangnya kasar.
"Satu hal yang ayah minta nak, jangan pernah menyerah! Ayah dan ibu sangat menyayangimu!" Sekuat tenaga ayah mencoba untuk tetap tegar dan tidak ingin mengeluarkan air mata, tapi apa daya ayah hanyalah orang tua yang sangat mengasihi anaknya. Walaupun terasa begitu berat untuk merelakan yang telah terjadi pada cucu kesayangannya, tapi untuk saat ini hidup dan kebahagiaan Reyna adalah prioritas utama.
__ADS_1