
Pagi hari saat aku bangun tidur, kepala ku terasa berat seperti ada batu besar yang menindihku. Mungkin efek tidak tidur dengan benar. Tadi aku hanya tidur selama 2 jam saja. Aku sudah terbiasa bangun pagi untuk membersihkan rumah. Biasanya aku bangun jam 4 pagi, tapi tadi jam 4 aku baru tertidur. Jadi aku baru bangun jam 6 pagi.
Saat bangun, aku langsung merapikan kamar. Kulihat anakku masih tertidur dengan nyenyak. Aku keluar kamar dan mebersihkan rumah. Untunglah rumahku tidak sebesar rumah Mas Angga, jadi tidak memerlukan waktu lama untuk aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Setelah membersihkan rumah aku pergi di dapur, kulihat ibu sedang memasak.
"Duduklah di meja makan Na, ibu sudah masak. Ini masakannya sudah matang nanti ibu antarkan kesini." Ah senangnya punya ibu, walau aku sudah menikah beliau tetap mengurusiku.
"Warung siapa yang jaga bu?" Setahuku ayah sedang ke pasar belanja bahan warung. Tadi aku melihat ayah keluar dengan motornya.
"Warung, dijaga Gina sambil zoom." Ibu menunjuk warung yang ada di depan rumahku.
Sekarang aktifitas belajar mengajar di kampus Regina banyak yang online. Hanya beberapa mata kuliah dan pembelajaran tertentu yang mengharuskan mereka tatap muka. Jadi Regina lebih banyak di rumah dan bisa membantu ibu di warung.
Walaupun kami bukan berasal dari keluarga berada. Tapi kami bertiga sangat mengedepankan pendidikan. Sejak kecil ayah dan ibu menanamkan untuk rajin belajar dan disiplin saat sekolah. Itulah yang selalu aku ingat sampai aku kuliah dan bekerja. Kami terbiasa disiplin dan menghargai waktu.
Kami tahu ayah dan ibu telah berjuang agar kami bisa menuntut ilmu. Jadi kami juga harus berusaha dengan keras agar tidak membuat mereka kecewa.
Kami menyadari bahwa berpendidikan tinggi memang tidak menjamin masa depan yang cemerlang dan menjamin kehidupan yang bergelimang harta. Namun selagi kami mampu dan orang tua mendukung, kami akan berjuang.
__ADS_1
Yah berbeda dengan beberapa teman-temanku yang tidak menghargai perjuangan orang tua mereka, atau kuliah demi gengsi karena orang tua mereka kaya. Bagi mereka kuliah hanya sebagai selingan yang mengisi kebosanan, dan SPP setiap semester hanya sekedar sumbangan.
Saat ini Gina sedang kuliah di salah satu Universitas Negeri, dia mengambil jurusan ekonomi manajemen dan baru semester dua. Dia tahu bahwa ayah dan ibu berjuang dengan susah payah untuk menyekolahkannya dari hasil penjualan warung, jadi sebisa mungkin jika dia lowong Gina akan membantu ayah di warung atau membantu pekerjaan ibu di rumah.
Berbeda dengan Regina, saat aku kuliah dulu aku mendapat beasiswa karena masuk melalui jalur undangan. Saat itu ayah baru saja di PHK, dan aku hampir saja tidak bisa meneruskan cita citaku untuk kuliah.
Saat itu ayah diperhadapkan dengan pilihan, memilih apakah uang pesangon yang dia terima dipakai untuk aku kuliah atau dipakai untuk membuka usaha demi melanjutkan kehidupan.
Tentu saja aku menolak jika uang pesangon ayah hanya dipakai untuk aku kuliah. Aku masih mempunyai dua adik perempuan yang masih sekolah. Bagaimana dengan biaya pendidikan kedua adikku? Tidak sampai disitu, bagaimana juga kami akan makan kedepannya? Tidak mungkin hanya mengandalkan hasil panen dari kebun kecil di belakang rumah untuk membiayai kebutuhan lima anggota keluarga ditambah biaya pendidikanku dan kedua adikku.
Ya sejak kelas XI (kelas 2 SMA) aku sering mewakili sekolahku mengikuti Olimpiade Matematika dan sering mendapat juara.
Setelah di survei, ternyata aku memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Bukan hanya gratis uang pembangunan dan uang SPP selama empat tahun. Tapi setiap semester aku mendapat uang tunai sebagai pendukung biaya pendidikan.
Syukurlah. Tuhan begitu baik padaku. Uang tunai yang aku dapat setiap bulan bisa aku gunakan untuk uang jalan dan biaya parktikum dikampus, uangnya bahkan masih bisa kutabung 200 ribu setiap semester untuk uang jaga jaga. Aku kuliah di fakultas Mipa jurusan Matematika dan mendapat gelar sarjana science (S.Si)
Berbeda dengan aku dan Gina, adikku Reva bahkan jauh lebih hebat. Dia kuliah dengan hasil jerih payahnya sendiri. Reva kuliah sambil bekerja. Saat SMA dia mengambil sekolah kejuruan, kelas XII (kelas 3 SMA) Reva magang dan ditempatkan di salah satu bank dan bekerja selama 6 bulan disana. Selama bekerja Reva banyak mendapat nasabah funding baik deposito, giro, dan rekening tabungan lainnya. Tentu saja Perusahaan menginginkan karyawan yang bisa mendatangkan benefit bagi perusahaan, jadi setelah lulus SMK Reva direkrut oleh Bank tempat dia magang dulu.
__ADS_1
Karena pagi sampai sore dia bekerja, jadi Reva mengambil jalur ekstensi untuk kuliah pada malam hari. Tahun ini jika tidak ada halangan, Reva akan menyelesaikan kuliahnya di fakultas yang sama dengan Gina tapi Reva mengambil jurusan Ekonomi Perbankan.
Aku sangat bangga dan bersyukur memiliki keluarga seperti keluargaku ini. Walaupun harus berjuang demi makan dan biaya pendidikan, kami tetap bisa hidup rukun.
Ayah selalu mengajarkan kami untuk selalu bersyukur dengan apa yang kami miliki. Walaupun kami susah, tetapi diluar sana masih banyak yang lebih susah hidupnya dari kami.
Banyak orang diluar sana yang untuk makan saja mereka tidak bisa, apalagi untuk sekolah. Bukan karena mereka tidak mau, tapi karena keadaan yang tidak memberikan mereka pilihan untuk mampu.
Belajar menghargai orang lain, dan belajar memberi dalam kekurangan. Itulah selalu pesan ayahku. Walaupun kami mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi, tapi kami tidak pernah menganggap lebih tinggi dari mereka yang tidak sekolah atau kuliah.
Ah keluargaku hartaku, rumah tempatku berteduh ketika badai kehidupan datang. Mereka adalah orang orang hebat dan luar biasa dalam hidupku. Tapi semenjak menikah dan di boyong Mas Angga ke rumah nya, aku jarang sekali mengunjungi keluargaku.
Sejak menikah 3 tahun lalu baru 3 kali aku berkunjung ke rumah ini, 2 kali diantar Mas Angga dan 1 kali hanya aku dan Ziva. Itupun saat hari raya lebaran. Kadang ibu yang akan mengunjungiku di rumah Mas Angga, atau aku akan video call dengan keluargaku jika ingin melepas rindu.
Ah, sebenarnya aku malu pada mereka. Tapi kemana lagi aku harus berteduh dan mengadu. Pagi ini aku akan mengumpulkan kekuatanku untuk menceritakan semuanya pada ibu, dan meminta pendapat ibu.
Sebenarnya aku termasuk tipe pendiam yang tidak suka menceritakan masalahku pada orang lain walaupun keluargaku sendiri. Ya, saat ini aku harus terbiasa mengutarakan isi hatiku pada orang lain, pada orang yang tepat dan tentu dengan cara yang tepat.
__ADS_1