AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Bertemu dokter Vita


__ADS_3

Hari ini tepat sebulan setelah kematian Ziva, Reyna akan memeriksakan diri dan kandungannya ke dokter kandungan, yang praktek di rumah sakit Harapan Kita. Reyna juga berencana mengunjungi dokter Vita, seorang dokter residen di bagian bedah anak yang telah menjahit pakaian Ziva dan memberikannya pada Reyna saat kematian Ziva.


Sampai di rumah sakit, Reyna pergi ke tempat praktek dokter spesialis kandungan, dokter kandungannya saat hamil Ziva dulu. Saat mengambil nomor, Reyna mendapat nomor antrian ke 19.


'Wah banyak juga yang datang memeriksakan kandungan hari ini.' Batin Reyna.


Pemeriksaannya masih 2 atau 3 jam lagi, karena setiap pasien memakan waktu pemeriksaan sekitar 10-15 menit. Dan lagi saat ini dokter belum berada di ruang praktek. Menurut suster yang bertugas di resepsionis masih sekitar 15 menit dokter baru datang, karena saat ini dokter masih berada di ruang bersalin.


Sambil menunggu giliran, Reyna memutuskan untuk pergi menemui dokter Vita di Poli Anak di rumah sakit ini. 'Mudah-mudahan saja bisa bertemu dengan dokter Vita. Aku juga tidak tahu harus menghubunginya bagaimana karena tidak punya kontaknya sama sekali.' Batin Reyna.


Beruntung dokter Vita sedang piket jaga saat ini, dan bertepatan poli anak juga sedang sepi. Beliau sedang duduk bersama beberapa dokter yang lain. Reyna memberanikan diri untuk menyapa dokter Vita.


"Selamat pagi. Dokter Vita?" Sapa Reyna sambil bertanya basa basi.


"Iya saya. Mari silahkan masuk. Ada yang bisa saya bantu bu?" Jawab dokter Vita dengan sopan, sambil mencari ingat siapa Reyna.


Dokter Vita mencoba mengingat wajah Reyna yang familiar. Tentu saja setiap hari berinteraksi dengan banyak orang dan beragam karakter, membuat dokter Vita sering bingung bertemu dengan orang yang tidak terlalu dekat. Reyna kemudian masuk dan mendekat padanya.


"Saya mamanya Ziva gadis kecil yang meninggal tepat sebulan yang lalu saat operasi. Anda yang menjahit pakaian putriku yang digunting saat pemeriksaan, dan menyerahkan padaku saat kematiannya." Jawab Reyna dengan senyuman kecil.


Wajah dokter Vita yang awalnya tersenyum ramah langsung berubah datar. Ada sedikit kesedihan di wajah cantiknya saat Reyna memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Bisa bicara sebentar dok?" Tanya Reyna dengan sopan. Dokter Vita hanya menatap Reyna beberapa detik, kemudian seperti tersadar dokter baru menjawab.


"Ya"


Dokter Vita lalu menatap beberapa dokter di ruangan itu dan meminta izin keluar sebentar. Dia lalu menuntun Reyna untuk keluar dari ruangan Poli Anak.


"Mari ikuti saya." Ajak dokter Vita sambil berjalan menuju ke kafetaria yang ada di rumah sakit ini, mereka pun duduk di meja paling ujung. Beberapa menit berlalu, mereka hanya duduk saling memandang. Belum ada yang mau memulai percakapan diantara keduanya. Reyna akhirnya memberanikan diri berbicara lebih dulu, karena dia yang mengajak dokter Vita keluar.


"Tiga hari setelah kematian Ziva, aku bermimpi bertemu dengannya." Kata Reyna memulai percakapan lebih dulu, tidak enak mengingat sudah menyita waktu piket dokter cantik ini.


"Sebenarnya aku baru saja bercerai dengan suamiku, karena suamiku berselingkuh. Dia dan selingkuhannya baru saja menikah . Disaat baru kehilangan suami, aku harus menerima kenyataan pahit bahwa putri semata wayangku juga pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Duniaku benar-benar hancur, karena putriku alasanku untuk terus berjuang dan bertahan, harus pergi untuk selama-lamanya."


Entah kenapa Reyna begitu leluasa menceritakan kisah hidupnya pada dokter cantik yang baru dua kali ia temui ini. Padahal biasanya Reyna begitu tertutup terhadap orang lain, walaupun dengan keluarganya sendiri.


Reyna terus berbicara.


Dokter Vita dari tadi belum mengatakan sepatah katapun. Dia sedari tadi hanya diam sambil menyimak apa yang Reyna katakan dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara rasa sedih, bersalah, dan terharu terlihat dari raut wajahnya yang cantik.


"Saat itu aku berniat mengakhiri hidupku!" Reyna berhenti sebentar, sembari menarik nafas panjang dan membuangnya kembali. Mencari kekuatan untuk melanjutkan perkataannya.


"Untunglah ayahku menemukan aku hanya beberapa detik setelah tali terjerat di leherku, dan aku bisa selamat dan bisa hidup sampai saat ini. Saat dalam kondisi tidak sadar, aku bermimpi bertemu dengan putriku. Dia begitu cantik dan bersinar akan menaiki tangga yang sangat tinggi menjulang ke langit. Aku berteriak agar gadis kecilku menungguku dan membawaku ikut bersamanya. Tapi dia menatapku dan menyuruhku untuk pulang, walaupun tidak dengan kata-kata namun aku seakan bisa memahami maksudnya. Sebelum Ziva menaiki tangga lagi, dia memberikanku boneka kesayangannya. Sepertinya dia menyuruhku memberikan bonekanya kepada seseorang. Dan ternyata aku baru mengetahui setelah itu bahwa aku sedang mengandung. Saat ini sudah jalan empat bulan. Aku menyadari boneka itu dia berikan untuk adiknya." Reyna berhenti bicara sebentar. Terlihat dokter cantik ini meneteskan air mata terharu mendengar cerita Reyna.

__ADS_1


"Dokter tahu, selain memberikan boneka kesayangannya Ziva juga memberikanku sebuah pakaian. Setelah kulihat, itu pakaian yang dipakai Ziva sebelum dia meninggal. Pakaian yang dokter jahit dan berikan padaku saat kematiannya... Sebagai ibunya, aku tahu Ziva ingin mengucapkan terima kasih kepada dokter Vita." Reyna tersenyum sambil meraih kedua tangan dokter Vita.


Dokter Vita semakin menangis sesenggukan, dan Reyna semakin menggenggam erat tangannya. Untunglah mereka duduk di meja paling ujung, dan suasana kafetaria sedang sepi, jadi tidak menarik perhatian orang lain.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkannya! Aku sudah berusaha, tapi..." Lama terdiam hanya tangisan kecil yang terdengar, lalu akhirnya dokter Vita berbicara, masih dengan tangisan namun dia berusaha mengontrol suaranya karena mereka berada di tempat umum.


Reyna berusaha tersenyum dengan lebar, untuk menguatkan dokter Vita. Reyna bisa merasakan dokter Vita adalah orang yang baik.


"Manusia bisa berusaha, tapi Tuhanlah tetap yang menentukan." Kataku menenangkannya.


"Aku tahu dokter telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan anakku. Dan aku sangat berterima kasih. Mungkin itulah yang dirasakan gadis kecilku, dan Ziva mencoba memberitahuku dengan menyerahkan baju itu!" Reyna semakin erat menggenggam tangan dokter Vita seperti mentransfer kekuatan untuknya.


"Terima kasih. Terima kasih!" dokter Vita berkata dengan tulus dan penuh keharuan.


Dia lalu menceritakan bahwa operasi itu adalah operasi pertama yang dipegang langsung olehnya, walaupun dalam tim bedah ada beberapa dokter senior yang turut serta dalam operasi tersebut. Biasanya dia hanya menjadi asisten dokter atau mengamati dari ujung ruangan saat operasi dilaksanakan. Dan dokter Vita sangat terpukul karena harus kehilangan nyawa pasien pertamanya. Padahal dia sudah berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan Ziva. Tapi apa mau dikata pendarahan tidak bisa dihindari, dan saat di bawa ke rumah sakit keadaan Ziva sudah sangat parah. Dan karena kejadian itu dokter Vita menjadi trauma dan belum berani masuk ke ruang operasi lagi.


Sekali lagi, dokter Vita mengucapkan terima kasih. Dokter Vita pun berpindah tempat duduk, dan duduk disamping Reyna dan memeluknya.


"Maafkan aku karena baru datang sekarang!" kata Reyna dengan tulus. Ternyata kehadirannya saat ini sangat berarti bagi dokter Vita.


Tidak terasa sudah dua jam mereka berbicara di Kafetaria Rumah Sakit. Reyna lalu pamit kembali ke tempat praktek dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya. Tapi sebelum itu mereka saling bertukar nomor ponsel, agar bisa lebih akrab dan bertukar informasi khususnya tentang kesehatan dan gizi apalagi saat ini Reyna sedang hamil, kata dokter Vita. Sebenarnya dokter Vita yang lebih dulu meminta nomor ponsel Reyna, Reyna mana berani meminta nomor telepon dokter Vita duluan.

__ADS_1


Setelah berbicara cukup lama, sepertinya dokter Vita orang yang asik diajak ngobrol dan baik hati.


__ADS_2