
Saat kembali ke tempat praktek dokter kandungan, giliran Reyna masih ada tiga nomor antrian lagi. Reyna pun duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya. Saat sedang menunggu antrian, Reyna tak sengaja mendengar pembicaraan dari suster-suster yang lewat.
Suster A: "Katanya sekarang dokter Vita sudah bersedia masuk ruang operasi lagi."
Suster B: "Yang benar? Bukankah sudah sebulan ini dokter Vita menolak masuk ruang operasi?"
Suster A: Iya, kudengar dokter Vita bersedia berpartisipasi dalam operasi bedah anak yang dijadwalkan besok lusa. sayang sekali dokter berbakat seperti dokter Vita seandainya tidak lagi mau masuk ruang operasi. Walaupun masih residen, tapi dokter Vita salah satu dokter potensial di rumah sakit ini."
Suster C: "Katanya kejadian sebulan lalu membuat dia trauma dan tidak lagi mau masuk ruangan operasi. Bagaimana tidak, biasanya operasi yang mengikutsertakan dokter Vita selalu berhasil, dan bulan lalu itu kematian pasien pertama bagi dokter Vita. Tapi untunglah sekarang dokter sudah mau masuk ruang operasi lagi, kabar baik itu."
'Ya Tuhan, begitu berpengaruhnya kematian anakku bagi seorang dokter Vita, sampai membuatnya trauma dan tidak mau lagi masuk ruang operasi. Pantas saja, Ziva ingin aku menemui dokter itu. Dia terlihat baik dan pintar.' Ucap Reyna dalam hati.
Reyna pun langsung mengirim pesan pada dokter cantik yang baru dua kali ia temui.
[Semoga sukses operasi besok lusa. Ternyata dokter sangat populer di rumah sakit ini. Hehehe]
[Yah ampun tahu dari mana sih kalau besok lusa aku ada jadwal operasi? Aku jadi malu. Btw, makasi ya. Kedatanganmu hari ini sangat berarti bagiku.] Balas dokter Vita dengan banyak emoticon. Ternyata dokter Vita orangnya asik dan baik, tidak sombong walaupun dia seorang dokter dan Reyna hanya orang biasa yang gemuk dan tidak berkelas berbanding terbalik dengan dokter Vita.
[Sama-sama dokter. Seandainya aku tahu kedatanganku begitu berarti bagi dokter, aku akan datang lebih awal. Maaf... Tapi sebulan ini aku juga sedang berjuang menata hatiku, jadi aku baru memikirkan tentang dokter baru-baru ini. Sekali lagi maaaf ya dok...] Balas Reyna dengan emoticon sedih dan tangan menyatu memohon maaf.
[Tidak apa-apa Aku sangat mengerti posisimu. Btw jangan panggil dokter dong, panggil saja Vita biar lebih akrab. Boleh kan kita berteman?]
'Astaga, seorang dokter yang cantik dan pintar seperti dokter Vita meminta pertemanan kepadaku?' Seumur-umur baru kali ini Reyna dimintai pertemanan oleh perempuan apalagi seorang wanita cantik dan berkelas seperti dokter Vita, dan bukan hanya permintaan pertemanan melalui media sosial.
__ADS_1
'Jangan-jangan... Ah tidak mungkin dokter cantik seperti dokter Vita seperti yang ku pikirkan tadi. Lagian wanita yang jelek dan tidak menarik sepertiku tidak ada hal yang bisa dimanfaatkan, tidak ada ruginya juga menjalin pertemanan dengan siapa saja.' Reyna segera menepis pikiran negatif yang sempat lewat.
[Dengan senang hati, aku sangat tersanjung dimintai pertemenan oleh seorang dokter yang pintar dan cantik] balas Reyna kemudian.
[Hahaha... Aku sedang minum sampai tersedak membaca pesan mu. Kamu terlalu menyanjungku. Ohya nanti kita lanjut lagi ya ngobrolnya, ada pasien nih. Sampai jumpa]
[Ok. Sampai jumpa] balas Reyna mengakhiri percakapan mereka.
*****
Saat selesai memeriksakan kehamilannya, Reyna berjalan keluar rumah sakit untuk pulang. Namun langkahnya berhenti saat melihat isteri mantan suaminya dan mantan ibu mertuanya di taman sedang berbicara, lebih tepatnya mantan ibu mertua Reyna sedang memarahi Raya. Seperti anak nakal yang sedang di marahi orang tuanya, Raya hanya diam mendengarkan omelan ibu mertuanya sambil sesekali memonyongkan bibirnya dan melihat kesal ke arah lain tanda tidak suka.
'Apa yang Raya dan ibunya Mas Angga bicarakan, sepertinya ibu Mas Angga sangat marah pada Raya?' Reyna pun mendekat karena penasaran. Mereka pun tidak menyadari kehadiran Reyna, karena Reyna bersembunyi di balik bangunan pos satpam di taman rumah sakit itu.
'Oh, jadi mas Angga masuk rumah sakit, dan ibu mertua menyalahkan Raya. Memangnya apa yang dilakukan Raya pada mas Angga sampai membuat mas Angga sakit dan masuk Rumah Sakit?' Batin Reyna.
"Sebenarnya apa sih yang kamu lakukan pada Ziva sampai Ziva meninggal dan membuat Angga sangat marah dan tertekan seperti sekarang?!"
Degh!
Mendengar nama almarhumah putrinya disebut membuat jantung Reyna berdegup kencang, ia juga penasaran dan ingin mengetahui hal itu. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel dan mulai merekam pembicaraan mantan ibu mertua dan isteri dari mantan suaminya. Tentu saja Reyna merekam semuanya tanpa diketahui oleh mereka karena Reyna bersembunyi di samping tembok.
"Sudah aku katakan berulang kali bu, aku tidak membunuh Ziva!" Jawab Raya membantah ucapan Ibu Nia.
__ADS_1
"Lalu kenapa Angga sangat tertekan dan sangat marah sejak mengetahui sesuatu dari mu tadi malam?! Perasaan saat kematian Ziva, walaupun sedih Angga tidak sekacau seperti ini!"
"Ziva jatuh saat mengambil balon gas nya yang terbang di dekat jendela!" Jawab Raya sambil menunduk ketakutan.
"Itu kan kecelakaan, kamu juga pasti tidak menyangka Ziva akan jatuh dari jendela kan?!" Ucap Ibu Nia mulai melunak.
"Iya bu, itu hanya kecelakaan. Aku tidak bersalah kan?! Aku tidak membunuh Ziva!" Wajah Raya mulai terlihat cerah karena ibu seperti mengerti tentang posisinya.
"Lalu kenapa Angga sangat marah padamu sampai sakit dan ia menjadi seperti saat ini?!" Ibu Nia kembali menanyakan hal yang sama pada Raya.
"Sebenarnya sebelum jatuh dari jendela aku sempat mencubit kedua lengan Ziva sampai membiru. Aku kesal Ziva menginjak keyboard laptop ku dan mengganggu tontonanku bu, jadi aku mencubit lengannya." Raya berbicara seperti mengadu kenakalan Ziva pada ibu mertua nya.
Ibu Nia tidak percaya dengan apa yang dilakukan menantunya pada cucunya. Pasalnya walaupun ia kurang perhatian pada Ziva cucunya, dan mulutnya sering berkata kasar pada Reyna dan Ziva, tapi tak pernah sekalipun Ibu Nia menyakiti atau main tangan pada mereka terlebih pada gadis kecil cucu satu-satunya di rumah itu.
Reyna yang merekam dan mendengarnya dari balik tembok hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya. Reyna menangis, hatinya sakit karena mengetahui anaknya mendapat perlakuan buruk dari ibu tirinya di rumah mereka.
'Tega sekali Raya melakukan hal itu pada anakku Ziva, padahal mereka baru sekali bersama. Dan alasannya menyakiti anakku karena mengganggunya menonton di laptop?! Asataga, alasan macam apa itu?!!' hati Reyna sakit mendengar ucapan Raya. Tapi Reyna berusaha menguatkan hatinya untuk mendengar dan mengetahui lebih banyak tentang kejadian hari itu.
"Ziva meminta bantuan ku untuk mengambil balon gasnya yang terbang, tapi aku tidak mau. Jadi Ziva naik ke atas tempat tidur untuk menarikku agar membantunya tapi Ziva menginjak laptopku dan membuatku kesal. Aku sengaja menaruh kursi dekat jendela agar Ziva mengambil balonnya sendiri, tanpa harus menggangguku lagi!"
"Astagfirullahaladziiim! Kenapa kamu menaruh kursi di dekat jendela dan menyuruh anak sekecil Ziva mengambil sendiri balon di dekat jendela?! Apa kamu bodoh?!! Tidakkah kamu tahu kalau hal itu sangat berbahaya?!" Ucap ibu Nia dengan emosi, memarahi kembali menantunya.
'Ya Tuhan, pantas saja anakku bisa jatuh dari jendela. Tidak mungkin Ziva dengan sengaja memanjat jendela kamar lama ku yang tinggi kalau tidak ada alasan yang kuat.'
__ADS_1
"Kamu itu hanya bermodal cantik saja, tapi otak mu kosong! Jika kamu bukan sengaja mau mencelakai cucu ku, bagaimana mungkin kamu bisa sangat bodoh dan tidak berpikiran panjang dengan memberikan kursi di dekat jendela pada seorang anak yang belum genap tiga tahun!" Ibu Nia membuang nafas kasar, tidak habis pikir dengan kebodohan menantunya.