AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Surat dari 2 tahun lalu


__ADS_3

Dava kemudian mengambil berkas di samping tempat duduknya yang menjadi alasan ia kembali ke rumah tadi. Ia merasa jenuh dan tidak ingin larut memikirkan orang yang menurutnya tidak penting seperti Reyna.


Saat memegang map yang berisi berkas penting itu, ternyata ada map lain yang juga ikut diambil Dava dari atas meja ruang kerjanya. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh ke bawah kakinya. Dava pun mengambil barang yang jatuh di bawah, ternyata itu adalah sebuah amplop putih. Dava heran, kenapa ada amplop putih diantara berkas-berkas yang ada di atas meja ruang kerjanya.


'Amplop apa ini? Siapa yang menaruhnya diatas meja ruang kerjaku?' Tidak ada seorang pun yang berani masuk ruang kerja Dava selain dirinya, Aldy sahabatnya, dan almarhumah isterinya.


"Bro, kamu menaruh amplop apa di mejaku?" Tanya Dava kepada Aldy.


"Hah? Amplop? Aku tidak menaruh apa-apa di mejamu. Memangnya amplop apa bro?" Aldy bingung dengan pertanyaan Dava. Aldy mengarahkan kaca spion ke arah Dava untuk melihat amplop apa yang dimaksud sahabatnya.


"Tidak, bukan apa-apa. Sudah konsentrasi saja menyetir, lihat depan sana. Jangan sampai kita kecelakaan!"


"Ah, dasar aneh kamu ini! Jangan-jangan kamu kesambet beneran." Aldy sedikit kesal dengan sahabatnya itu. Sejak tadi Dava berbicara tidak jelas, membuatnya kebingungan sendiri.


'Ah... siapa yang menaruh amplop ini?!' Hatinya bertanya-tanya. Kalau bukan Aldy, apakah ibunya yang meletakkan amplop ini di meja kerjanya? Tidak mungkin almarhumah isterinya yang menaruh amplop ini. Pelayanpun tidak ada yang berani masuk walau hanya untuk membersihkan ruangan, kalau tidak ada Aldy atau Dava di dalamnya. Jadi tidak mungkin jika ia atau Aldy tidak mengetahuinya.


Dava kemudian membuka amplop putih yang ternyata isinya adalah sebuah surat, dari...


Air matanya langsung menetes saat membaca kalimat pertama surat itu.


Teruntuk suami sempurna ku,


Terima kasih untuk cinta yang besar dari mu.


Aku juga sangat mencintaimu.


Aku selalu berterima kasih kepada Tuhan karena mempertemukan ku denganmu.


Tak pernah sehari pun aku tidak merasa bahagia menjadi isteri seorang Dava Pratama.


Aku bahagia, sangat bahagia...


Namun, aku menyadari

__ADS_1


Tak ada yang abadi di dunia ini...


Takdirku bersama mu dan Dinda hanya sampai disini....


Maafkan aku harus pergi begitu cepat.


Maafkan aku untuk kebersamaan yang begitu singkat ini,


akupun ingin terus berada di sampingmu dan menua bersama mu.


Tapi apalah dayaku, Tuhan lah yang menentukan.


Kita hanya manusia fana, Tuhanlah sang pemilik bumi dan isinya termasuk kita manusia.


Aku ikhlas...


aku sudah ikhlas Mas menerima takdir ku.


Β 


Jangan kamu menyalahkan keadaan, jangan pula menyalahkan sang pencipta karena memanggil ku begitu cepat, apalagi menyalahkan diri mu sendiri!


Jagalah Dinda, buah cinta kita!


Kenang dan cintailah aku dalam satu tahun ini!


Ingat, hanya satu tahun setelah kepergianku, Mas!


Setelah itu, lupakankah aku!


Carilah wanita baik yang bisa mendampingimu dan menjadi ibu yang baik untuk Dinda, lalu cintailah ia dan berbahagialah!


Aku sangat ingin melihatmu dan anak kita bahagia, dari tempatku berada....

__ADS_1


Isterimu, Sarah.


Ternyata amplop itu adalah surat dari almarhumah isterinya Sarah, yang ditulis sebelum ia meninggal dunia. Sarah tahu betul, kepergiannya akan membuat Dava sangat terguncang. Dan ia tidak mau melihat suaminya terlalu lama larut dalam kesedihan sepeningal dirinya. Ia berharap Dava bisa melupakan dirinya, dan kembali menikah serta hidup bahagia bersama Dinda dan isteri barunya.


Sudah dua tahun lebih sejak kepergian isteri yang sangat ia cintai untuk selama-lamanya, entah kenapa Dava baru menemukan surat itu sekarang. Surat itu terselip di dalam sebuah map yang ada di atas meja ruang kerja Dava.


Dava merasa sesak, hatinya masih sakit jika mengingat isterinya yang berjuang sendiri melawan penyakit yang mematikan seorang diri, dan akhirnya meninggal saat ia tak bersama dengannya di rumah sakit. Rasanya seperti ada batu besar yang mengihimpit, membuat ia sulit untuk bernafas. Air mata mengalir membasahi wajahnya yang terlihat masih sangat tampan. Dava tidak lagi peduli apa kata orang lain jika ada yang melihat seorang Dava Pratama menangis. Surat yang ia pegang bahkan sudah basah dengan air matanya.


"Bro, kamu kenapa lagi sih?" Aldy melihat Dava yang duduk di bangku belakang melalui kaca spion.


"Dava... Kamu tidak apa-apa kan?!" Aldy langsung menepikan kendaraan yang sedang ia kemudikan saat tidak ada jawaban dari pertanyaannya, hanya tangisan memilukan yang Aldy dengar dari sahabatnya.


"Hei, hei...Dava! Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" Aldy meremas kuat rambutnya, tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan Dava.


Aldy lalu menghubungi adiknya Rendi untuk meminta bantuan. Rendi adalah seorang psikiater atau dokter spesialis yang mendalami ilmu kesehatan jiwa dan perilaku atau psikiatri. Dokter Rendi lalu menuntun Aldy untuk memberikan pertolongan pertama yaitu dengan cara menenangkan Dava, kemudian membawa Dava ke rumah sakit tempat dokter Rendi praktek untuk mendapatkan penangan medis lanjutan.


Sejak Sarah meninggal, Dava menjadi pasien dokter Rendi. Dava di diagnosis mengalami gangguan stress atau gangguan kecemasan pascatrauma akibat mengingat kejadian traumatis karena kehilangan istrtinya, dalam bahasa kedokteran disebut PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).


selain itu Dava juga mengalami gangguan panik yang membuat ia merasa nyeri di dada sebelah kiri, detak jantungnya tidak teratur, napas memburu, pusing, dan sakit perut.


Ini sudah kali ke tiga Dava mengalami shock sampai sesak nafas akibat mengingat kembali kejadian yang sangat menyakitkan bagi nya yaitu kehilangan isteri yang sangat ia cintai. Penyakit Dava pertama timbul sehari setelah kematian Sarah.


Kedua penyakitnya kumat lagi setahun yang lalu. Saat itu Dava bertengkar dengan Dinda karena Dava tidak menghadiri acara kelulusan Sekolah putrinya karena ada pekerjaan yang tidak bisa Dava tinggalkan. Dinda sangat marah pada ayahnya dan kemudian menyalahkan Dava atas kematian dari Sarah ibunya. Hal itu membuat Dava mengalami tekanan secara mental dan memicu penyakitnya kumat lagi.


Setelah bertengkar dengar anaknya, Dava pergi ke makam Sarah untuk mencurahkan kepenatan dan tekanan yang ia rasakan di dunia ini. Dava pergi ke makam Sarah seorang diri tidak di antar atau ditemani supir karena Aldy sedang meninjau lokasi untuk pembukaan cabang baru di kota lain. Untunglah saat itu ada seorang wanita yang lewat dan menolong Dava, ia memberikan pertolongan pertama dan mengantarkan Dava ke rumah sakit agar mendapatkan penangan medis lanjutan oleh dokter.


Entah siapa wanita yang menolong Dava saat itu, dokter Rendi sudah mencoba meminta nomor telepon dari wanita itu tapi tidak diberikan. Wanita itu berkata kalau ia menolong Dava dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun.


*****


Hai raedersku tersayang, terima kasih masih setia membaca dan menantikan kisah Reyna.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Maaf belum bisa update setiap hariπŸ™πŸ™πŸ™ tetap dukung author dengan cara vote, tambahkan sebagai favorit, like, coment, dan jika berkenan beri gift untuk karya author ini πŸ˜ŠπŸ˜„ terima kasihπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2