
"Ma, kenapa anak Raya seperti bayi keturunan bule?" Keluarga Raya sangat keheranan melihat bayi perempuan yang dilahirkan Raya.
"Pasti ada yang salah dengan semua ini pa! Mama harus menanyakannya pada dokter. Jangan-jangan cucu kita tertukar!" Ibu Ratna langsung beranjak dan pergi menemui dokter di ruangan dokter.
Tok, tok,tok...
"Permisi dokter, saya ingin menanyakan sesuatu." Tanpa basa basi ibu Ratna langsung to the point bertanya pada dokter Ricky, dokter spesialis kandungan yang menangani Raya sejak awal.
"Iya bu. Silahkan." Jawab dokter Ricky masih dengan tenang menanggapi Ibu Ratna.
"Dokter, kenapa cucu saya seperti itu? Keluarga kami dan keluarga suami anak saya tidak ada yang memiliki darah atau keturunan luar, kenapa cucu saya seperti bayi orang luar. Apakah cucu saya tertukar?" Tanya Ibu Ratna dengan nada ketus seperti orang yang tidak sopan dan tidak menghargai dokter yang telah menyelamatkan anaknya.
"Maaf. Maksud ibu kami melakukan kekeliriuan dan membuat cucu ibu tertukar dengan bayi lain?" Suara dokter Ricky mulai meninggi hampir kehilangan kesabarannya menghadapi Ibu Ratna.
"Iya dokter. Kalian menukar cucu saya kan?!" Ucap Ibu Ratna dengan bengis. Dokter Ricky bahkan langsung berdiri karena terkejut dan tidak terima dituduh menukar bayi dari anak bu Ratna.
"Maaf bu, kami tidak melakukan kekeliruan seperti yang ibu tuduhkan! Sesaat setelah operasi persalinan, bayi dari anak ibu langsung dibersihkan dan diberikan label gelang nama di tangannya, jadi tidak mungkin cucu ibu tertukar dengan bayi lain! Saya dan petugas medis lainnya tidak mungkin membuat kesalahan seperti itu!" Jawab dokter Ricky dengan tegas.
"Tapi..."
"Kalau tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, silahkan keluar dari ruangan ini. Saya sibuk!" Ucap dokter Ricky dengan sangat tegas.
Dokter tidak ingin lagi meladeni orang yang tidak tahu sopan santun dan tidak tahu terima kasih seperti Ibu Ratna. Tidak punya pilihan, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi akhirnya Ibu Ratna keluar dari ruangan dokter Ricky walaupun tidak merasa puas dengan jawaban dokter.
Ibu Ratna berjalan dengan langkah gontai kembali menuju ruangan bayi untuk bertemu dengan suami dan anak sulungnya.
"Bagaimana bu?" Tanya Joni kakak Raya.
Ibu Ratna menggelengkan kepala dengan lemas, seperti tidak punya tenaga.
__ADS_1
"Kata dokter sesaat setelah bayi lahir, mereka langsung memakaikan label nama di tangan bayi. Jadi tidak ada kemungkinan bayinya tertukar."
"Apa? Jadi Raya.... "Joni tidak jadi melanjutkan kata-katanya saat melihat rombongan Angga dan keluarganya masuk dari arah pintu, berjalan ke arah mereka di depan ruangan bayi.
"Assalamualaikum... Raya sudah melahirkan jeng? Jadi mana cucu saya?" Ucap Ibu Nia pada ibu Ratna tanpa ada perasaan bersalah karena baru muncul sekarang, dan selama ini sudah mengabaikan menantunya.
Bukannya menjawab, ibu Ratna dan keluarganya hanya menatap Ibu Nia dan keluarganya dengan tatapan gugup tanpa bicara sepata katapun.
Ibu Nia langsung melihat ke dalam ruangan bayi melalui kaca di depan mereka, sambil mencari keberadaan cucu nya yang baru lahir. Dan akhirnya, ta da..... Ibu Nia kaget melihat dalam box bayi yang tertulis nama Raya.
"Keluarga Ibu Raya Permatasari? Saat ini pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat di kamar 225. Keluarga sudah bisa bertemu dengan pasien di ruang rawat. Permisi." Ucap seorang suster memberitahu keberadaan Raya pada Ibu Ratna.
"Oh i, iya sus." Jawab Ibu Ratna terbata-bata masih gugup dengan kedatangan Angga dan keluarganya.
"Apakah ada Raya Permatasari lain yang melahirkan bersama Raya?" Tanya ibu Nia pada Ibu Ratna.
"Tapi di ruangan bayi ini, tidak ada box yang bertuliskan nama Raya selain box itu." Ayah Angga berpendapat dengan menunjuk salah satu box di dalam ruang bayi melalui kaca.
Angga yang sedari tadi hanya diam dan menunduk seperti orang linglung yang entah sedang memikirkan apa, langsung mengangkat kepalanya dan memperhatikan bayi yang ditunjuk oleh Ayahnya. Saat ini kondisi Angga cukup memprihatinkan. Selain pengangguran, bentuk tubuhnya semakin membesar pengaruh mengkonsumsi obat antidepresan karena rasa penyesalan dan tertekan yang membuat Angga frustasi dan akan membuatnya mengamuk jika tidak mengkonsumsi obat secara rutin. Wajah yang tampan dan bentuk tubuh yang proporsional dengan otot di beberapa bagian tubuhnya, kini sudah hilang berganti lemak. Mukanya kini kusam dengan lingkaran hitam di matanya dan tatapan matanya yang kosong, seperti orang linglung. Tidak ada lagi Angga si pria tampan yang mapan.
"Tidak, itu bukan anak ku!" Tiba-tiba Angga bersuara dengan cukup keras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Suaranya yang keras membuat mereka menjadi perhatian orang-orang yang lewat.
"Aku harus bertemu Raya!" Ucap Angga dengan tegas tanpa mempedulikan tatapan orang-orang padanya.
Angga kemudian berjalan mencari ruang rawat nomor 225 untuk bertemu dengan Raya. Keluarganya dan keluarga Raya lalu mengikuti Angga dari belakang.
Sesampainya di ruang rawat Raya, Angga langsung masuk dan menghampiri Raya.
"Mas Angga?" Ucap Raya dengan lemah namun dengan penakanan, terkejut melihat penampilan Angga sekarang yang sudah tidak tampan lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu menipuku, haahh?!" Ucap Angga berbicara dengan amarah yang membuncah.
"Maksud kamu apa mas?" Raya bingung dengan pertanyaan Angga.
"Jangan pura-pura Raya! Kamu tidur dengan laki-laki lain keturunan bule, dan meminta pertanggung jawaban padaku?! Aku bahkan menceraikan Reyna dan harus kehilangan putri ku yang berharga karena kelalaianmu Raya!" Angga bicara dengan emosi menjelaskan pada Raya.
"Hah??" Raya masih bingung dengan ucapan Angga, kondisinya masih lemah karena masih dalam pengaruh anastesi saat operasi yang belum hilang sepenuhnya. Raya masih belum mengerti tentang situasi yang terjadi. saat melahirkan dokter tidak memperlihatkan wajah anaknya pada Raya, jadi Raya belum tahu kalau anaknya berwajah bule.
Jika saja bayinya itu hanya berhidung mancung dan berkulit putih kemerahan, mungkin Angga tidak akan langsung menyangkal kalau itu darah dagingnya, tapi rambut bayi yang pirang kuning keemasan dan matanya yang berwarna biru menguatkan dugaan kalau bayi itu bukan miliknya. Angga tidak perlu susah-susah melakukan tes DNA untuk memastikan kalau anak itu darah dagingnya atau tidak.
Angga menyadari kalau kondisi mentalnya saat ini memang terganggu, tapi ia tidak bodoh! Sejak awal Raya bukan wanita baik-baik, Angga bahkan pernah mempertanyakan janin yang ada di dalam kandungan Raya. Tapi saat itu Angga memang bodoh karena sedanh dibutakan oleh cinta, dan dengan mudahnya mempercayai semua ucapan Raya.
"Dasar wanita jal*ng! Kamu menipu kami semua karena menikah dengan anakku, namun melahirkan bayi orang lain!" Ibu Nia berbicara dengan bengisnya.
Raya dan keluarganya tidak dapat membalas ucapan Angga dan ibunya. Kehadiran Angga dan orang tuanya di ruang rawat Raya, membuat Raya dan keluarganya malu pada dua pasien dan keluarga pasien lain yang berada satu ruangan dengan Raya.
Tiba-tiba dokter mengetuk pintu dan masuk menghampiri Raya.
"Maaf bu, apakah saya bisa berbicara dengan keluarga ibu Raya?" Tanya dokter.
"Iya dokter, ada apa ya?" Jawab ayah Raya.
"Saya ingin memberitahukan keluarga, tentang kondisi bayi dari Ibu Raya."
"Huh, tu kan pasti ada yang salah dengan bayinya. Kamu langsung mendapat karma karena telah menipu kami, dan membuat cucu ku Ziva meninggal!" Ucap Ibu Nia dengan bengisnya.
"Ssstt... diam bu, mungkin saja ada masalah kelainan genetik pada bayi Raya sehingga anaknya berambut kuning keemasan." Ucap Ayah Angga dengan bijaksana.
"Tidak ada masalah kelainan genetik pada bayi dari ibu Raya. Tapi tadi selama kami observasi di ruangan bayi, bayi ibu Raya sepertinya mengalami gangguan pernapasan. Ada kemungkinan bayi ibu menelan air ketuban dan itu dapat membahayakan nyawa bayi, karena kondisi itu dapat mengganggu fungsi paru-paru, jantung, dan organ fital lainnya." Jawab dokter.
__ADS_1