
Kata kata Regina membuat aku tersadar bahwa hidupku harus berjalan. Walau ini adalah akhir dari ceritaku bersama mas Angga, ceritaku masih harus berlanjut. Ada Ziva dan keluargaku bersamaku yang mencintai dan selalu mendukungku. Dan aku harus pastikan dalam ceritaku kali ini aku tidak bertemu dengan laki laki brengsek seperti mas Angga lagi.
Ibu akan selalu berusaha membuat aku sibuk, baik dengan menyuruhku mengurus tanaman atau dengan meminta bantuan untuk mengolah makanan atau cemilan dari hasil kebun di belakang rumah.
Kali ini kami membuat keripik dari singkong dan asinan pepaya dan nenas. Aku suka sekali keripik pedas dan asinan pepaya nenas.
Setelah selesai mengolah makanan, aku duduk menikmati keripik pedas sambil bermain bersama Ziva di depan televisi.
"Ma, kenapa kita ngga pulang pulang ke lumah? Ziva udah ngga pelnah liat papa." Anakku bertanya dengan suaranya yang lucu dan masih cedel.
Ah, anakku walaupun di rumah orang tuaku ini Ziva dikelilingi orang orang yang menyayanginya, tapi Ziva tetap saja merindukan papanya.
"Sayang... sekarang rumah kita disini. Papa sedang sibuk kerja jadi belum bisa ketemu Ziva."
Aku mencoba mencari alasan agar anakku tidak bertanya lagi soal papa nya.
"Tapi Ziva ingin ketemu papa sekalang,Ma. Kenapa papa tidak pelnah kesini sih?"
"Iya sayang, papa kan sibuk nanti mama coba telepon papa kalau papa sudah tidak sibuk ya. Mudah-mudahan secepatnya Ziva bisa ketemu papa."
"Ziva maunya sekalang!"
"Ziva, dengar mama ya. Sekarang papa lagi sibuk, jadi tidak bisa diganggu! Sekarang rumah kita disini sama oma, opa, tante Gina, dan tante Reva!" Aku berusaha berbicara dengan perlahan mencoba memberi pengertian kepada Ziva.
"Iya mamaa." Ziva mencoba menurut tapi dengan mimik wajah seperti tak rela.
Anakku benar benar merindukan papanya. Namanya juga ayahnya sendiri. Aku tahu pentingnya sosok ayah bagi seorang anak perempuan. Aku memang harus memperjuangkan hak asuh atas Ziva jika putusan cerai sudah keluar nanti, tapi aku juga tak akan memisahkan hubungan mas Angga dan Ziva.
Walaupun selama ini mas Angga terkesan cuek padaku. Ya, sudah lama mas Angga sepertinya sudah tidak mencintaiku lagi. Tapi mas Angga begitu menyayangi Ziva. Namanya juga anak sendiri. Jika mas Angga pulang kerja dan tidak merasa capek dan Ziva juga belum tidur, mas Angga akan bermain dan bercanda dulu dengan Ziva.
__ADS_1
Ah, hatiku sakit jika mengingat mas Angga. Tuhan kenapa masih begitu menyakitkan memikirkan suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami.
Aku tidak mau terlalu larut dalam perasaan ini.
Tuhan tolong aku! Kuatkan aku! Mampukan aku!
****
Hari minggu ini semua orang berada di rumah. Reva mengajakku dan Ziva jalan jalan ke mall.
Katanya dia baru dapat bonus pembagian deviden di bank tempatnya bekerja. Gina tidak bisa ikut karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya yang akan dikirim sore ini.
Sebenarnya aku tidak enak menghabiskan uang adikku yang dia dapat dengan susah payah. Ditambah lagi Reva juga membiayai sendiri kuliahnya. Tapi Reva bersikeras ingin mengajak Ziva jalan jalan, ditambah lagi Reva sudah menjanjikan Ziva untuk membeli boneka kuda poni yang besar. Hampir setiap hari Ziva akan menanyakan kuda poni yang Reva janjikan. Begitulah anak anak jika sudah berjanji, maka harus segera ditepati.
Aku memakaikan blouse pink dengan gambar kuda poni,dipadukan dengan rok dan kaos kaki panjang selutut dan sepatu pink. Rambutnya ku kuncir 2 dengan pita kuda pini kecil. Ah, anakku lucu sekali.
Sesampainya di mall kami bergegas ke kids area. Ziva bermain selama 1 jam disana. Setelah bermain kami berencana ke toko mainan untuk mencari boneka kuda poni yang besar, rencananya setelah itu kami baru cari makan.
Tanpa sadar, Ziva yang sedang aku pegang tangannya lepas dari genggamanku. Dia begitu semangat berlari ke arah papanya yang sangat dia rindukan. Mas Angga sontak langsung memeluk tubuh Ziva.
"Papa, kenapa ke mall ngga ajak Ziva? Siapa tante ini, kok peluk-peluk papa??"
Ziva bertanya serius pada papanya. Aku hanya bisa melihat mereka dari luar toko. Kebetulan mas Angga dan Raya berdiri dekat dengan pintu masuk.
"Jawab Ziva Papa!? Kata mama, papa syibuk kelja jadi ngga bisa ketemu Ziva. Kenapa papa bisa jalan-jalan ke mall sama tante ini?" Ya Tuhan, anak dua tahun setengah dari mana dapat keberanian dan kecerdasan mengatakan itu?!
Seperti pencuri yang tertangkap basah, mas Angga begitu panik dan kebingungan menjawab pertanyaan Ziva.
"Mama sini! Kok cuma diem disitu." Dalam gendongan mas Angga. Ziva mencoba memanggil aku yang masih diam terpatung di depan toko.
__ADS_1
"Wah, itu sepertinya isterinya. Terus wanita yang disampingnya siapa?" Kata seorang ibu yang sedang lewat.
"Hah, itu kan teman sekolahku Raya, kenapa dia mesra mesraan dengan om-om yang sudah punya anak?" Kata seorang wanita remaja yang juga sedang lewat, sepertinya dia teman sekolahnya Raya.
"Waduh berarti ini isterinya, dan itu selingkuhannya dong." Kata seorang ibu lagi yang menonton mereka.
"Iya,iya benar." Serempak mereka berkata.
"Aku malu mas, ayo kita pulang." Raya menarik-narik lengan mas Angga sambil berusaha menyembunyikan wajahnya dengan rambutnya yang panjang.
Aku hanya menonton melihat mereka, tanpa reaksi apapun. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukan mas Angga dalam situasi ini.
"Tunggu sebentar sayang." Bisik mas Angga pada Raya.
Tak bisa dipungkiri, Mas Angga sangat senang bertemu Ziva. Dia juga sepertinya merindukan Ziva putrinya, tapi apalah daya situasi saat ini membuat dia malu pada orang orang yang melihat mereka, karena disana juga ada selingkuhan kesayangan - calon isterinya.
"Ziva sayang, ini teman kerja papa. Papa mau lanjut kerja dulu. Nanti kita ketemu lagi ya."
Mas Angga mencoba mencari alasan dengan berdusta.
"Maaas, ayooo!" Sepertinya Raya sudah ngga tahan, ingin cepat menghilang dari tempat ini.
"Sebentar Raya!"
Mas Angga mencium pipi Ziva lalu melepaskan pelukannya sambil menurunkan Ziva di lantai secara perlahan.
"Ini papa kasih uang buat beli mainan yang Ziva mau ya." Mas Angga berbicara pada Ziva dengan pelan seperti berbisik, sambil mengeluarkan uang seratus ribu sebanyak sepuluh lembar.
Ckck, anak sekecil itu dibujuk dengan uang. Dasar mas Angga. Mana mengerti Ziva dengan uang banyak, dia juga tidak aku biasakan dengan uang karena memang aku tidak punya banyak uang selama tinggal di rumah mas Angga.
__ADS_1
Mas Angga dan Raya lalu keluar melewatiku seperti tak kenal atau tak pernah saling mengenal. Ya Tuhan, tega sekali dia padaku. Apakah dia tidak menganggapku sama sekali, bahkan sebagai ibu yang melahirkan anaknya?!