AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Sekretaris untuk Dava


__ADS_3

"Bu, sedang apa sekarang? Seminarnya sudah selesai?" Dengan suara lemah Dava menghubungi ibunya, dan ia ingin memastikan ibu Sinta telah selesai membawakan materi sebelum Dava memberitahukan kondisinya.


"Iya, seminarnya sudah selesai. Sekarang sedang coffee break dan lagi ngobrol sama  Vita. Suara kamu kenapa nak?" Kening ibu Sinta mengerut mendengar suara Dava yang tidak seperti biasanya. Ibu Sinta tahu betul ada yang tidak beres dengan Dava hanya dengan mendengar suaranya saja.


"Syukurlah kalau seminarnya sudah selesai. Aku di, rumah sakit bu..."


"Apaa??? Kamu di rumah sakit? Kamu kenapa nak? Di rumah sakit mana?" Dava belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi sudah di potong oleh ibunya. Ibu Sinta terkejut dan sangat mengkhawatirkan anak kesayangannya itu. Walaupun sebentar lagi Dava akan berkepala empat dan seorang Direktur Utama sebuah perusahaan besar, namun di mata ibunya Dava tetap hanyalah seorang bocah nakal yang selalu membuatnya khawatir.


"Tenanglah bu. Tidak usah panik seperti itu, kondisiku sekarang sudah membaik. Buktinya aku bisa bicara dan menghubungi ibu. Nanti kalau ibu panik, kecantikan ibu bisa hilang loh!" Dava mencandai ibunya yang sedang mencemaskan keadaannya. Dava tidak ingin ibunya yang sudah punya riwayat jantung, kena serangan jantung karena mendapat telepon darinya.


"Dasar anak nakal, masih bisa kamu menggoda ibu. Awas kamu ya, Ibu akan menjewer kupingmu kalau bertemu!" Ibu Sinta mengancam Dava.


Ibu Sinta langsung mengambil tas dan bergegas ke rumah sakit tempat Dava berada. Ibu Sinta juga mengajak Vita untuk ikut bersama dengannya, untunglah saat ini seminar hampir selesai, setelah coffee break tinggal sesi kuis dan doa tutup. Ibu Sinta tidak lupa meminta izin kepada penanggung jawab acara, lalu pergi bersama Vita diantar oleh supirnya.


*****


Di dalam ruang rawat vvip sebuah rumah sakit, Dava duduk sambil menyandarkan tubuhnya di atas tempat tidur. Baru lima belas menit yang lalu ia bangun dari tidurnya. Aldy baru tiba dari kantor karena menggantikan Dava untuk memimpin rapat.


"Bos, ini hasil rapat tadi. Sesuai dengan arahan kamu dan pembicaraan kita semalam, ada beberapa kegiatan yang akan kita lakukan untuk menunjang promosi produk baru kita." Aldy menyerahkan hasil rapat yang ia pimpin tadi kepada Dava dan beberapa berkas lain yang harus Dava periksa dan tanda tangani. Jika menyangkut pekerjaan maka ia akan memanggil sahabatnya 'bos', tapi terkadang Aldy memanggil Dava 'bro' karena sudah terbiasa sejak kuliah dengan sahabatnya itu. Dava pun tidak pernah mempermasalahkan panggilan yang diberikan Aldy untuknya yang penting masih wajar dan Aldy bisa bekerja dengan jujur dan profesional.


Sebenarnya tadi Dava sempat bangun sebentar, tapi karena kondisinya masih sangat lemah jadi ia mengutus Aldy untuk memimpin rapat yang harusnya ia pimpin. Untunglah semalam Aldy sudah mendiskusikan dengan Dava materi rapat yang akan mereka bahas hari ini.

__ADS_1


Dava sedang serius memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen. Tiba-tiba wajahnya berubah dan berpaling melihat Aldy yang sedang duduk di samping ranjang.


"Mery sudah mau cuti melahirkan?!" Dava menautkan alisnya, antara marah dan kesal bertanya kepada sahabat sekaligus asisten pribadi dan supir pribadinya itu. Suaranya bergema di dalam ruangan itu membuat Aldy yang bahkan sudah lama mengenal Dava bergidik ngeri.


"I,iya bos. Kan kehamilanya sudah memasuki delapan bulan kalau tidak salah."


"Aku tidak akan menandatangi cutinya!" Dengan arogan Dava menyerahkan kembali dokumen yang berisi surat permohon cuti dari sekretarisnya yang bernama Mery kepada Aldy.


"Tapi bos, tidak mungkin kan Mery melahirkan saat sedang bekerja di kantor. Ia juga butuh istirahat sebelum dan sesudah melahirkan." Aldy berusaha memberanikan diri berbicara dengan Dava.


Mery memang sekretaris terbaik di perusahaannya. Selain pintar dan ulet dalam bekerja, Mery juga bisa tahan banting menghadapi bosnya yang tampan namun galak seperti singa. Belum lagi sejak kematian isterinya, emosi Dava sering meledak-ledak, dan Mery bisa bertahan dan menghadapi bosnya itu dengan baik.


Yang paling penting dan langka dari Mery adalah, walaupun ia adalah sekretaris dari bos besar yang tentunya memiliki paras yang cukup menarik, Mery tidak suka menebar pesona dan menggoda kolega Dava dan tentunya ia tidak pernah mencoba menggoda Dava. Tidak seperti beberapa sekretaris pendahulunya yang ia pecat karena menggodanya yang saat itu masih berstatus suami Sarah. Ada juga sekretarisnya yang ia pecat karena memiliki hubungan terlarang dengan koleganya yang juga seorang pria beristeri, saat itu seluruh kantor gempar karena isterinya datang ke kantor dan melabrak selingkuhan suaminya yang adalah sekretaris Dava. Dava sudah merasa nyaman dengan Mery sebagai sekretarisnya dan tidak mau kejadian buruk terulang lagi karena sekretaris yang tidak kompeten.


Dava tidak mau tahu, ia tidak mau kehilangan bawahannya walau hanya untuk sementara.


"Bos, cuti melahirkan adalah hak nya sebagai seorang karyawan. Kamu bisa dilaporkan ke Dinas Tenaga Kerja jika tidak memberikannya cuti melahirkan." Aldy mencoba menasihati bosnya. Dava hanya bisa menarik nafas dalam dan membuangnya kasar saat mendengar nasihat sahabatnya.


"Lalu siapa yang akan melakukan semua pekerjaannya kalau ia cuti melahirkan, Al?!" Dava mulai luluh dan berpikir logis. Dia memang tidak boleh egois dan menahan hak dari karyawannya.


"Kita bisa memutasi karyawan lain yang berkompeten untuk menggantikan tugas Mery untuk sementara. Cutinya kan nanti dua minggu lagi, jadi Mery punya waktu untuk mengajari penggantinya agar bisa bekerja dengan baik." Aldy memberikan solusi dari kegundahan hati bosnya.

__ADS_1


"Memangnya ada yang mau dan berkompeten seperti Mery untuk menggantikan posisi itu?" Dava tidak yakin ada karyawan seperti Mery  yang berkompeten dan mau menjadi sekretarisnya.


"Hhmm...." Sepertinya Aldy juga ragu jika di perusahaannya ada yang berkompeten dan bisa bertahan dengan sifat bosnya itu seperti Mery.


"Selain opsi pertama, kita juga bisa melakukan rekrutmen baru bos untuk posisi sekretaris. Kita bisa merekrut sekretaris yang handal bos." Aldy seperti ragu-ragu, tidak yakin dengan ucapannya sendiri.


"Yah sudah, terserah! Kamu urus saja semuanya, kalau tidak bisa menemukan sekretaris seperti Mery siap-siap kamu yang menggantikan semua tugasnya!" Aldy lalu keluar setelah mendengar ucapan Dava.


Aldy keluar mencari udara segar. Berbicara dengan sahabatnya membuat oksigen di otaknya menurun. Saat keluar dari ruang rawat Dava, tangan Aldy langsung di pegang oleh seseorang.


"Tan, tante? Sudah lama tante disini, kenapa tidak langsung masuk menemui Dava?" Aldy terkejut tiba-tiba melihat Ibu Sinta yang berdiri di depan pintu.


"Sini sebentar." Ibu Sinta langsung menarik Aldy menjauh dari depan ruang rawat Dava. Aldy pun hanya mengikuti Ibu Sinta dengan pasrah. Vita yang sedari tadi bersama dengan Ibu Sinta hanya mengikutinya dari belakang, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh tantenya itu.


"Kalian sedang mencari sekretaris untuk Dava?" Tanya Ibu Sinta kepada Aldy.


"Tante tahu dari mana?" Tanya Aldy kepada ibu dari bos sekaligus sahabatnya.


"Tante dengar barusan kalian berbicara soal itu."


"Iya tante, sekretaris Dava sekarang akan cuti melahirkan selama tiga bulan. Kami akan mencari sekretaris pengganti hanya untuk tiga bulan ini." Jawab Aldy.

__ADS_1


"Tante mau rekomendasiin kenalan tante untuk perekrutan sekretaris baru Dava. Kamu bisa bantu tante kan?" Entah apa yang direncanakan oleh Ibu Sinta.


"Reyna tamat S-1 kan Vit?" Ibu Sinta kemudian menatap Vita lekat, memastikan pendidikan terakhir dari Reyna kepada Vita. Entah dari mana ibu Sinta tahu pendidikan terakhir Reyna, mungkin ibu Sinta bisa membacanya dari cerita Vita tentang Reyna yang sebelumnya bekerja di perusahaan besar sebelum melahirkan atau ia hanya menebaknya saja.


__ADS_2