AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Memarahi Raya


__ADS_3

Aku melihat kepergian mereka dalam diam. Dalam hati aku tertawa puas! Ya Tuhan, maafkan hamba Mu ini yang merasa puas telah memparmalukan Mas Angga dan Raya.


Aku sudah berusaha menahan diriku untuk tidak terpancing dengan ucapan Raya, tetapi sepertinya anak itu sengaja ingin membuatku marah.


Hatiku bukan terbuat dari batu yang selalu diam ketika mereka menghina dan merendahkan ku.


Aku harus menunjukkan sikap di hadapan Raya dan mas Angga agar mereka tidak akan lagi bertindak seenaknya padaku!


Dikira aku ini akan takut dan tunduk dengan apa yang mereka katakan! Aku tidak boleh lagi tinggal diam, cukup sudah aku menjadi wanita bodoh yang selalu diam dan memendam sakit di hati seorang diri.


Lagian sekarang aku dan mas Angga bukan lagi suami isteri. Dulu aku diam karena menghormati mas Angga sebagai suamiku. Aku selalu mengingat pesan ibuku dulu, bahwa aku harus menjadi isteri yang baik dan tunduk pada suamiku. Saat ini aku tidak punya kewajiban untuk tunduk padanya seperti dulu. Aku tak membencinya. Hanya tak mau lagi menjadi wanita lemah yang selalu tersakiti.


Kejadian beruntun, bertemu dengan Rian lalu setelah itu bertemu dengan Raya membuat aku semakin geram sehingga aku menjadi seberani ini. Aku juga kaget dengan diriku sendiri.


"Yang sabar ya mbak, semua akan indah pada waktunya." Kata seorang ibu yang sedang memeluk anaknya.


Aku hanya tersenyum, sambil mengangguk. Ah, kata-kata ini sudah sering aku dengarkan sejak aku masih kecil, namun sekarang kata-kata ini bisa sangat menyentuh dan menguatkan aku! Kalimat yang sederhana yang memberikan harapan untuk hari esok yang lebih baik dari hari ini.


"Terima kasih bu!" Jawabku dengan penuh ketulusan.


Orang-orang berangsur-angsur pergi membubarkan diri, akupun bergegas pergi dengan motorku.


*****


Pov Angga


Aku sangat malu dengan sikap Raya yang masih sangat kekanak-kanakan. Tak kusangka di SPBU aku bertemu dengan mantan isteriku, dan dia bersama dengan Raya isteriku yang belum seminggu kunikahi.


Saat aku keluar dari toilet, kulihat orang-orang sedang berkerumun. Ternyata mereka sedang mengerumuni Raya dan Reyna. Entah apa yang terjadi sampai banyak orang yang penasaran dan mengerumuni mereka. Aku sampai susah untuk menerobos orang-orang itu.

__ADS_1


Apa sih yang dikatakan Raya pada Reyna, sehingga Reyna terlihat semarah itu. Dan lagi Reyna sangat berani mengumumkan di depan orang-orang tentang keadaan rumah tangga kami. Aku lalu membawa Raya pergi dari tempat itu, dengan mobilku.


"Raya, kenapa sih kamu harus cari gara-gara sama Reyna! Kamu lihat kan, karena ulahmu kita berdua menjadi malu di depan orang-orang!" Aku langsung memarahi Raya saat berada di dalam mobil dan mulai melajukannya.


"Kamu kenapa sih Mas, toh mereka juga tidak mengenali kita kan?!" Jawab Raya dengan entengnya.


"Kamu tidak lihat tadi ada yang memegang ponsel dan merekam kejadian itu?!! Apa sih yang ada dipikiranmu sampai sengaja memancing Reyna, hah?!" Aku sangat marah dan membentaknya dengan keras.


"Aku hanya ingin Reyna tahu kalau kita sudah menikah, dan bukan lagi pasangan selingkuhan Mas!" Raya masih mencoba untuk membela diri.


"Tapi untuk apa Rayaaa???" Aku mulai geram. Apa sih yang ada di pikiran wanita di sampingku yang sudah berstatus isteri ku ini.


Ahhh, tangan kiriku memegang pelipisku sementara tangan kananku masih memegang kemudi. Kepalaku sakit menghadapinya. Aku benar-benar marah dengan sikap Raya kali ini. Belum seminggu kami menikah aku sudah dibuat pusing dengan sikapnya. Dia hanya menyenangkan bila berada diatas ranjang! Selain itu tidak ada yang bisa dia lakukan dengan benar.


Aku bahkan tidak habis pikir bagaimana seorang perempuan muda cantik tidak bisa merapikan kamar dengan benar! Huufff.. apa yang dia lakukan selama ini? Sebagai perempuan apakah ibunya tidak pernah mengajarinya dengan benar di rumah?


Untuk urusan masak dan membersihkan rumah, jangan ditanya lagi! Raya sama sekali tidak bisa! Untunglah sekarang kami sudah memiliki pembantu. Tidak ada yang dapat melakukan semua pekerjaan di rumah tanpa Reyna.


"Mas, perutku semakin membesar, aku sudah mulai gemuk ya?!" Raya mengalihkan pembicaraan dengan mengomentari bentuk tubuhnya. Yaah namanya juga wanita hamil, wajarlah kalau sekarang Raya sudah mulai berisi.


"Hmm..." Aku tidak menjawab pertanyaannya. Masih kesal dengan ulahnya.


"Jadi aku sudah gendut, mas?! Kamu juga akan ninggalin aku kalau aku sudah gendut dan tidak cantik lagi seperti yang kau lakukan pada Reyna?!" Raya seperti orang yang kebakaran jenggot mendengar jawabanku. Membuat kepalaku semakin sakit dengan tingkahnya.


"Apaan sih kamu!!! Aku sudah muak dengan sikap kamu Raya!" Tak tahan lagi, aku meneriakinya dengan keras sambil menghentikan mobilku ke tepi jalan. Untunglah aku masih bisa menguasai kendaraan yang ku kemudikan. Kalau tidak kecelakan tidak akan terelakan, karena aku berhenti mendadak.


"Cukup Raya!! Aku sudah muak dengan sifatmu yang sangat kekanak-kanakan!!!" Tak tahan, ku luapkan emosiku dengan memukul setir.


"Kamu sekarang sudah menjadi seorang isteri, dan sebentar lagi akan menjadi Ibu! Jadi belajarlah untuk menjadi isteri yang baik dan Ibu yang baik untuk anak kita nanti!!!"

__ADS_1


Raya terkejut, seperti shock melihat aku untuk pertama kalinya marah dan seperti orang kesetanan!


Aku sudah tidak tahan lagi menghadapinya. Raya hanya bisa menangis tersedu-sedu tanpa mengatakan apapun. Entah mengapa sikapnya saat ini tidak membuat aku merasa kasihan, malah membuat aku semakin kesal padanya.


"Berhenti menangis! Atau kamu mau aku turunkan disini?!" Ancam ku.


"Jangan begitu, Mas. Aku lagi hamil!" Raya menjawab sambil terus menangis dengan keras.


"Aku tidak peduli! Berhenti menangis!" Suaraku semakin meninggi, aku tak mau kalah darinya.


"Turun! Cepat turun!" Kubuka pintu samping kiri yang ada disisinya.


"I-iya, iya mas. Aku akan berhenti menangis." Jawab Raya sedikit melunak, masih dengan tangis sesenggukan, berusaha untuk meredam tangis dari mulutnya. Kulihat Raya mulai tenang. Tentu saja ia tidak ingin turun di tepi jalan.


"Dengarkan aku Raya. Sekarang kamu harus mengubah sifatmu yang manja itu! Tidak semua yang kamu mau harus di turuti, dan tidak semua hal yang kamu pikirkan boleh kamu lakukan! Berpikirlah tentang efek jangka panjang dari apa yang kamu lakukakan!"


"Satu hal lagi, kamu harus belajar memasak dan membersihkan rumah mulai sekarang! Minimal bisa membersihkan dan merapikan kamar kita dengan benar!"


"Tapi, aku tidak bisa mas... Aku kan lagi hamil, jadi tidak boleh kerja-kerja. Lagian di rumah kita punya pembantu kan?! Untuk apa susah-susah menggaji pembantu kalau mereka tidak melakukan apa-apa!"


"Bukan seperti itu Raya! Dengarkan aku, aku suamimu sekarang!" Kepalaku semakin sakit dibuatnya, apa sih yang ada di pikiran anak ini?! Sepertinya ucapanku tidak masuk di kepalanya dengan benar.


"Kamu tidak perlu mengerjakan semua pekerjaan rumah, tapi setidaknya kamu bisa merapikan kamar kita dan melayaniku saat aku akan pergi dan pulang kerja! Kamu sekarang seorang isteri Raya!"


"Aku butuh kamu sebagai isteriku untuk melayani semua kebutuhanku sebagai suami!"


"Aku tidak bisa bekerja...." Belum selesai Raya menjawab, aku langsung memotong ucapannya.


"Karena itu, kamu harus belajar dari sekarang!!!" Arrghh, berbicara dengannya membuatku hampir sesak nafas.

__ADS_1


"I-iya mas. Aku akan coba belajar." Jawab Raya cepat, tidak ingin melihat aku semakin marah.


"Hhuufft!" aku menghempaskan nafas kasar, sambil menyandarkan kepalaku di atas kemudi. Berbicara dengan Raya membuatku sangat kecapean, seperti baru selesai lari 10 putaran keliling lapangan.


__ADS_2