AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Untung saja tidak sampai tepat waktu


__ADS_3

"Jika rasa kuatir datang, serahkan semuanya pada Tuhan! Tuhan tahu kamu sudah berusaha keras... Biar Tuhan yang menyelesaikan bagiannya! Teruslah berjuang! Kita hanya perlu terus berdoa dan berserah pada Tuhan!"


"Tidak satupun jerih lelah kita yang tidak diperhitungkan Tuhan. Semua akan terbayar, dengan harga yang sepadan. Jika masalah yang kamu hadapai terasa begitu berat dan tidak mampu kamu hadapi, tutuplah matamu!serahkan semuanya pada Tuhan!"


Pak Ridwan berbicara sambil terus bekerja menambal ban motorku.


Benar-benar nasihat yang sangat amat berarti! Hatiku bergetar mendengar perkataan Pak Ridwan. Kata-kata yang begitu mencerahkan hatiku yang mendung!


Tak terasa ban motorku sudah selesai diperbaiki, Pak Ridwan kemudian memasangkan kembali ban motorku ke tempatnya.


"Berapa pak?"


Tanyaku hendak membayar biaya perbaikan motorku.


"Tiga puluh ribu, mbak."


Jawab Pak Ridwan sambil tersenyum.


Aku lalu memberikannya uang sebesar lima puluh ribu sambil tersenyum.


"Ini pak. Terima kasih banyak untuk semuanya pak. Perkataan dan bantuan Bapak sungguh sangat berarti bagi saya."


"Sama-sama mbak, saya hanya berbicara berdasarkan pengalaman hidup saya. Saya sangat bersyukur jika pengalaman hidup saya bisa menjadi berkat dan kekuatan bagi orang lain! Tunggu sebentar ya mbak, saya ambilkan uang kembaliannya."


"Oh, tidak usah Pak. Itu buat Bapak, tidak usah di beri uang kembalian." Saya sungguh merasa terberkati oleh Pak Ridwan.


Setelah beberapa saat aksi tolak menolak dari Bapak, akhirnya Pak Ridwan pun menerima uang pemberian ku yang tidak seberapa itu. Walaupun saat ini keadaan keuanganku juga sedang sulit, tapi orang tuaku selalu mengajarkan untuk memberi, bukan karena kita sudah memiliki harta yang melimpah, tapi karena memiliki kerinduan untuk berbagi dengan orang lain. Aku bersyukur masih diberkahi dan diberi kesempatan untuk memberi.


Aku lalu pamit, dan bergegas pergi membawa pesanan yang sedang ditunggu oleh orang. Aku sangat takut dan cemas, dalam perjalanan aku berdoa agar Tuhan melembutkan hati si Bapak yang akan ku antarkan barangnya.

__ADS_1



Aneh, harusnya si bapak penerima barang ini sudah meneleponku berkali-kali karena aku sudah sangat terlambat mengantarkan pesanannya. Pesan Teks via WA yang aku kirimkan juga tidak di balas, padahal sudah dibaca.


Saat sampai di titik pengantaran, aku mengirim pesan kepadanya kalau aku sudah sampai di tempatnya. Ponselku kemudian berdering, kulihat ini telepon dari nomor Bapak penerima barang.


[Halo, sudah sampai ya?]


Aneh suaranya kok jadi sangat bersahabat ya?! Sangat berbeda dengan yang tadi Bapak ini menelepon dengan berteriak-teriak dan marah-marah padaku. Tapi ini masih suara si Bapak tadi, aku sangat mengingat jelas suara itu. Apakah Bapak ini memiliki dua kepribadian? Ataukah ini adalah penjebakkan? Atau, ini adalah modus baru penculikkan!??? Iiihhh, Aku jadi takut dibuatnya...


Tapi siapa juga yang mau menjebak dan menculik wanita jelek dan gemuk seperti ku.


[I-iya Pak saya sudah berada di rumah kopi 'Pelangi'. Sesuai titik antar. Bapak duduk di bagian mana ya?]


[Oh, kamu yang memakai jaket hitam itu ya? Saya disini.]


Aku berjalan kearahnya dengan santai tapi hatiku sangat takut dan gugup. Apa yang akan terjadi padaku? Aku melihat ke sekitar, untunglah keadaan Rumah kopi ini tidak sepi, jika terjadi sesuatu padaku aku bisa berteriak dan meminta pertolongan orang lain. Saat sudah mulai mendekat, aku mematikan panggilan teleponku.


"Dengan Bapak Roky? Tanyaku membuka percakapan.


"Iya. Bagaimana motor kamu, sudah selesai diperbaiki?" Hah?! Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa Bapak ini bersikap ramah padaku? Dia juga menanyakan kondisi motorku dengan suara lembut. Aneh! Semakin membuatku takut saja.


"Alhamdulillah sudah di perbaiki Pak. Saya mohon maaf sekali sudah terlambat mengantarkan barang bapak." Aku lalu menyerahkan barang pesanan Bapak tersebut. Aku berniat untuk segera pergi dari tempat ini selesai menerima ongkos pengantaran barang.


"Mari, duduk dulu! Kamu mau makan apa?" Hah??? Bukan hanya sikapnya yang berubah seratus delapan puluh derajat, tapi dia juga menanyakan aku makan apa? Kenapa juga Bapak ini mau menawarkanku makanan?


"Terima kasih. Tidak usah pak, saya mau cepat pulang."


"Duduk dulu, saya ingin menghitung uang saya di depan kamu! Jangan-jangan uang saya kurang lagi."

__ADS_1


"Maaf pak, saya tidak menguranginya. Saya bahkan tidak pernah membuka barang itu Pak!" Terpaksa aku duduk lagi mengiyakan ajakannya, tentu saja aku tidak mau dituduh mencuri uangnya. Tapi beliau kemudian tertawa padaku.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Tidak perlu takut seperti itu! Aku tahu kamu orang yang baik."


Aku kemudian melihat Bapak ini mengeluarkan uang di dalam paper bag yang terbungkus dengan tas plastik hitam. Uang yang di keluarkan berjumlah empat puluh juta. Aku langsung tahu itu berjumlah empat puluh juta karena uangnya pecahan seratus ribu, dan ada empat bendel, masing-masing bendel berjumlah sepuluh juta. Aku bisa mengetahuinya hanya dengan melihatnya karena dulu aku bekerja di perusahaan pembiayaan, dan beberapa kali menggantikan temanku sebagai kasir. Uangnya terlihat baru dan belum pernah digunakan seperti baru saja di tarik di bank, pantas saja barang yang kubawa tadi tidak terlalu tebal alias tipis.


Pantas saja tadi beliau marah-marah uangnya belum sampai. Aku sampai kaget melihat uang empat puluh juta itu, ternyata sebegitu banyak uang yang ku bawa dari tadi. Ya, bagi orang seperti kami uang empat puluh juta adalah uang yang sangat banyak.


Si bapak kemudian menghitung uangnya yang masih di dalam bendel dengan keempat jari tangan kanannya dengan gaya ala-ala teller bank, sangat cepat. Sepertinya Bapak ini pernah bekerja di bagian keuangan atau menjadi Kasir.


"Pas, tidak ada yang kurang."


Bapak itu kemudian mengambil empat lembar uang seratus ribu dan memberikannya padaku.


"Ini buat kamu!" Hah?!! Apa lagi ini? Tidak salah? Aku diberi uang empat ratus ribu rupiah.


"Maksudnya ini apa ya pak?"


"Ya ini buat kamu, ongkos antar barang saya sekalian dengan ongkos perbaikan motor kamu."


"Terima kasih pak. Tapi tidak perlu, saya hanya menerima uang sesuai dengan biaya yang tertera di aplikasi saja Pak. Lagian biaya memperbaiki motor saya tidak sebanyak itu." Aku berusaha menolak uang itu secara halus, agar tidak membuat Bapak Roky tersinggung. Tentu saja tidak kuterima uang sebanyak itu, jelas sangat mencurigakan bukan. Kalau saja yang dilebihkan itu empat puluh ribu, masih wajar aku terima, tapi ini empat ratus ribu.


"Tenang saja, ini uang halal kok. Saya juga memberikannya dengan ikhlas, tidak ada motif terselubung. Kamu tidak perlu takut!" Sepertinya Bapak Roky ini mengerti kegelisahan hati ku. Tidak mungkin kan aku menerima uang yang tidak jelas asalnya dan untuk apa.


"Saya mau berterima kasih sama kamu. Sebelum itu saya minta maaf ya karena tadi saya sudah marah dan berkata kasar.


"Saya juga minta maaf pak karena sudah terlambat mengantarkan barang pesanan Bapak. Harusnya saat ban saya kempis saya langsung menghubungi Bapak. Saya juga baru tahu kalau uang yang saya bawa sebanyak itu, wajar saja kalau Bapaka marah-marah pada saya."


"Sebenarnya uang itu, tadi ditunggu teman saya. Saya berencana berinvestasi saham melalui aplikasi trading, dan uang yang kamu bawa akan segera di setor ke bank. Kalau saja kamu datang tepat waktu, pasti sudah saya serahkan uang itu untuk disetor ke bank."

__ADS_1


__ADS_2