
"Tante mau rekomendasiin kenalan tante untuk perekrutan sekretaris baru Dava. Kamu bisa bantu tante kan?"
"Hmm... Tapi, tentu harus sesuai dengan kualifikasi dan standart perusahaan kami tante. Khususnya sesuai standart Dava." Aldy tahu betul posisi sekretaris untuk Dava bukanlah posisi yang bisa sembarangan di duduki orang yang tidak punya mental baja dan berhati seperti malaikat, selain kualifikasi yang diperlukan sebagai seorang sekretaris.
"Iya, tante paham."
"Reyna tamat S-1 kan Vit?" Ibu Sinta berbalik menghadap Vita untuk memastikan pendidikan terakhir dari Reyna. Entah dari mana ibu Sinta tahu pendidikan terakhir Reyna, mungkin ibu Sinta bisa membacanya dari cerita Vita tentang Reyna yang sebelumnya bekerja di perusahaan besar sebelum ia melahirkan.
"Hah?" Vita hanya bisa melongo, mengernyitkan dahi, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan dan direncakan tantenya, kenapa sampai membawa-bawa nama sahabatnya.
"I, iya tante. Yang saya tahu Reyna tamatan S-1. Memangnya kenapa ya tante?" Vita sesaat bingung dengan sikap tantenya saat ini. Kenapa tente nya menanyakan latar belakang pendidikan sahabatnya. Apakah ia ingin merekomendasikan Reyna sebagai sekretaris untuk Dava? Apakah tadi saat merias wajahnya, Reyna meminta pekerjaan pada tantenya?
'Ah, tapi tidak mungkin. Reyna bukan orang yang akan berbicara seperti itu pada orang yang baru ia temui. Lagian pekerjaan barunya sebagai make up artist sudah membuat Reyna cukup untuk menghidupi dirinya sendiri dan Galena. Jika apa yang aku pikirkan benar, apa yang membuat tante Sinta ingin merekomendasikan Reyna menjadi sekretaris di perusahaan Dava?' Vita berpikir keras untuk mencocokkan kepingan puzzle yang ada di kepalanya tentang sikap ibu Sinta yang menurut Vita sangat aneh.
Sejak dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, saat ibu Sinta sudah menelepon Andi dan dokter Rendi untuk memastikan kondisi Dava sudah baik-baik saja, Ibu Sinta selalu bertanya tentang Reyna pada Vita. Topik pembicaraan mereka saat di mobil menuju ke rumah sakit hanya seputaran Reyna. Bagaimana sifat Reyna, keluarga Reyna, pernikahan Reyna sebelumnya, sampai perjuangan Reyna untuk bangkit setelah ditinggalkan suami dan kehilangan anak terkasih.
'Sepertinya tante Sinta menyukai Reyna, pertemuan mereka yang hanya sebentar meninggal kesan yang baik bagi tante Sinta. Apakah ia mau menjodohkan Reyna dengan Dava?! Ah, aku terlalu jauh memikirkan hal ini.'
"Ok. Tante akan menghubungimu nanti." Ucap Ibu Sinta pada Aldy, lalu mempersilahkan Aldy untuk pergi.
__ADS_1
"Iya tante. Kalau begitu aku permisi dulu." Pamit Aldy pada ibu Sinta, dan menganggukan kepalanya tersenyum sopan pada Vita tanda permisi.
Aldy lalu pergi berlalu meninggalkan Ibu Sinta dan Vita di depan ruang rawat Dava.
Krreeekk....
Tanpa salam ibu Sinta masuk ke ruang rawat Dava dan menjewer kuping anaknya, merealisasikan janji yang ia ucapkan di telepon saat Dava menghubungi ibunya tadi.
"Aw, aw, aw.... bu sakit!" Dava yang sedang memeriksa email perusahaan yang masuk di ponselnya, tiba-tiba terkejut dengan kedatangan ibunya tanpa permisi. Dava langsung mengusap kupingnya yang sakit kena jewer ibunya. Seandainya yang melakukannya orang lain, pasti sudah kena amukan Dava Pratama. Tapi apa mau dikata yang melakukannya adalah wanita paruh baya yang sangat ia hormati dan cintai, Dava hanya bisa merengek kesal karena perlakuan ibunya.
"Mana ada pasien yang hanya bermain ponsel, harusnya kamu istirahat! Dasar kamu ini... mau ibu jewer lagi kuping mu?"
"Lepas ponsel mu, dan istirahat! Ini perintah dokter sekaligus ibu yang melahirkanmu!"
Tak ingin memperpanjang perdebatan, terpaksa Dava menuruti perintah ibu Sinta. Tidak ada gunanya berdebat dengan wanita keras kepala di depannya. Vita yang sedari tadi hanya diam menyimak drama perdebatan ibu dan anak ini hanya bisa tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap sepupu dan tantenya yang tidak pernah berubah dari dulu.
*****
Sementara itu di rumah Angga.
__ADS_1
Setiap hari yang Angga lakukan hanya duduk termenung dan meratapi diri. Berkat pengobatan yang dia lakukan, sekarang Angga sudah tidak lagi suka mengamuk dan merusak barang-barang yang ada di hadapannya. Tapi Angga masih sering menangis, menyesali kebodohannya yang terjerat cinta dengan wanita muda yang membuat ia kehilangan putrinya yang sangat berharga.
Rumah tangga dan karirnya hancur karena ia tidak bisa menahan nafsu dan terjerat cinta palsu dari Raya, wanita muda yang bahkan sudah biasa be*cinta dengan bebera pria, dan akhirnya mengandung dari seorang pria keturunan bule. Entah sudah berapa laki-laki yang pernah menj*amah tubuhnya. Angga merasa sangat dibodohi oleh Raya. Janin yang selama ini ia anggap miliknya, ternyata milik orang lain. Harga dirinya sebagai seorang laki-laki sangat amat terluka dengan perbuatan Raya.
Ibu Nia, Ibu kandung Angga bahkan sudah bosan setiap hari mengurus Angga yang seperti manusia tidak berguna. Waktunya untuk keluar dan bersantai dengan teman komunitas ibu-ibu sosialitanya, menjadi terganggu karena harus mengurus Angga dulu sebelum keluar. Tidak ada lagi anak sulung yang membanggakan, terlebih tak ada lagi uang saku seperti dulu dari Angga.
Reyna, isteri yang selama ini tidak ia anggap dan sepelekan karena sudah tidak menarik lagi, ternyata adalah wanita terbaik yang pernah ia kenal. Wanita tulus yang bersama dan melayaninya tanpa pamrih. Tiba-tiba Angga teringat akan Reyna, isteri yang telah ia ceraikan, wanita baik hati yang dulunya cantik dan mempesona.
Hatinya bergetar mengingat Reyna, mengingat semua kenangan manis saat berpacaran dan di awal pernikahan mereka yang membahagiakan. Semua kenangan indah terputar seperti sebuah film romantis di dalam pikiran Angga.
Reyna yang baik, Reyna yang lembut, Reyna yang penurut, dan Reyna yang penyabar. Wanita yang tak pernah sekalipun menuntut dan mengeluhkan apapun sampai akhir pernikahan mereka. Reyna yang mengabdikan dirinya untuk ia dan keluarganya. Tak pernah Reyna mengeluhkan sakit atau lelah, walaupun begitu berat pekerjaan yang harus ia lakukan di rumah itu. Tak pernah Reyna mengeluhkan sikap Angga yang sudah berubah dingin, sering pulang larut malam, dan jarang sekali berada di rumah. Reyna bahkan tidak pernah meminta uang pada suaminya, yang sebenarnya adalah haknya sebagai isteri Angga. Dan dengan bodohnya Angga juga tidak menyadari selama itu uang yang ia titipkan pada ibunya tidak pernah sampai ke tangan isterinya.
'Ah, betapa menderitanya hidup Reyna di rumah ini! Betapa aku sebagai suami dan laki-laki tidak mensyukuri dan menghargai wanita seperti Reyna! Seandainya, ah seandainya aku menyadari semuanya dari dulu. Aku akan membantu dan menemani Reyna menguruskan badannya, aku akan memfasilitasi ia untuk membeli skin care untuk perawatan kulit dan wajahnya.'
'Kenapa, kenapa aku baru memikirkan itu sekarang? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang, di saat karir ku yang sedang menanjak sudah hilang, di saat malaikat kecilku Ziva telah pergi untuk selama-lamanya.' Dalam perenungannya yang dalam Angga begitu merindukan sosok Reyna, dengan semua hal yang ada dalam diri mantan isteri pertamanya itu.
'Sedang apa kamu Reyna? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu masih terpuruk setelah kehilangan putri kecil kita? Atau, apakah sekarang kamu sudah bangkit dari keterpurukan dan hidup bahagia? Masih adakah cinta di hatimu untukku?' Angga hanya bisa bermonolog dalam hatinya.
Rasa itu tiba-tiba datang, setelah sekian lama mereka berpisah. Rasa itu kembali menyapa saat Angga tak punya apa-apa lagi yang tersisa dalam dirinya. Ingin rasanya ia menggapai lagi cinta yang telah ia buang, apalah daya sekarang ia tidak lagi punya kekuatan dan kemampuan untuk menggapai cinta yang telah ia sia-siakan.
__ADS_1