
Pov Angga
Hari ini tidak seperti hari hari yang lalu. Biasanya setiap pagi saat aku keluar kamar, rumah akan terlihat bersih. Bau karbol wangi yang segar dan dan menenangkan, serta aroma masakan Reyna yang enak akan memanjakan rongga penciuman.
Hari ini aku akan ijin tidak masuk kantor, karena akan mengurus masalah Raya, memberitahukan pada keluargaku tentang Raya dan rencana pernikahan kami. Untunglah aku jarang sekali ijin di kantor, cuti tahunan ku juga belum sempat aku ambil. Aku akan memotong ebsen ini dari cuti tahunanku agar tidak mempengaruhi penilaian kerjaku di perusahaan.
Aku tak mau mengulur waktu, karena keluarga Raya menuntut untuk menikahi Raya secepatnya sebelum perutnya membesar.
Aku takut, semalam ayah Raya mengancam akan memenjarakanku kalau aku tidak secepatnya menikahi Raya. Untunglah mereka menyetujui walau hanya pernikahan secara siri, yang penting sah secara hukum agama. Dan yang terpenting aku harus bisa menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab bagi Raya dan anak kami nanti, kata ayah Raya.
Awalnya mereka sangat marah dan menyalahkan aku seorang, karena mengamili putri kesayangan mereka yang masih duduk di kelas 12 (kelas tiga SMA). Tentu saja aku tidak terima jika hanya aku yang disalahkan, karena hal itu kami lakukan atas keinginan bersama bukan karena paksaan. Aku tak mau dikambing hitamkan seorang diri.
Lagipula Raya lah yang lebih dahulu menggodaku. Dia meminta nomor teleponku duluan dan menghubungiku. Ya, bak kucing yang diberi ikan, tentu saja langsung aku makan. Aku juga lelaki normal. Ditambah lagi kondisi isteriku yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Ah, Reyna. Dulu aku sangat mencintainya. Dia wanita cantik, baik hati dan pendiam, membuat kaum lelaki sangat penasaran bila di dekatnya.
Aku bertemu dengannya saat menjemput Lili sepupuku. Saat itu ada acara syukuran Purna jabatan dari Paman Rudi, adik ibuku - ayah Lili di rumah mereka. Karena kantorku searah dengan kantor Lili, aku disuruh Ibu untuk menjemput Lili, agar supaya bisa cepat sampai, kata Ibu.
Liki adalah salah satu manager di Perusahaan Pembiayaan yang cukup besar dan ternama di kotaku.
__ADS_1
Saat menunggu Lili di parkiran, tak sengaja aku melihat seorang gadis cantik berdiri di depan kantor Lili. Walau tak memakai make up, gadis itu terlihat sangat cantik dengan kulit putih dan rambut hitamnya yang sebahu. Terlihat cantik alami.
"Kenapa kamu? Kesambet setan ya?" Tanya Lili mengagetkanku. Tiba tiba saja dia sudah berada di dalam mobil dan duduk disampingku. 'kamu yang setan! Tiba tiba datang mengagetkan saja, merusak kesenanganku.' batinku.
"Iya, tuh sana setan cantik yang berdiri di depan kantor kamu Li." Jawabku sambil menunjuk gadis di depan kantornya. Kami seumuran, jadi kami saling memanggil nama masing masing.
"Oh Reyna?! Dia anak buahku. Karyawan yang mendapat Apresiasi dan the best karyawan tiga tahun berturut turut karena cara kerjanya yang baik ditambah absennya yang bersih tanpa ada terlambat, ijin dan sakit selama setahun. Anaknya pendiam tapi baik."
" Udah nikah ngga?" Tanyaku cepat.
"Belum sih. Kenapa? Kamu suka ya? Tapi dia susah loh didekati pria." Jawab Lili mengingatkan.
Akhirnya kami berpacaran. Dan tak perlu menunggu lama, kami hanya berpacaran selama 6 bulan sebelum akhirnya kami mengikat hubungan kami dalam pernikahan. Lagi lagi butuh perjuangan yang besar untuk meyakinkan Reyna agar menerima lamaranku.
Awal pernikahan kami terasa begitu bahagia, aku sangat bangga karena mengetahui akulah laki laki pertama baginya saat malam pernikahan kami. Yah berbeda dengan Raya, walaupun Dia masih muda dan masih SMA, dia sudah tidak perawan lagi saat aku menyentuhnya. Katanya pacarnya sebelum aku menjebak dia sehingga mereka tidur bersama.
Kembali pada Reyna. Setelah menikah aku mebawa Reyna tinggal dirumah orang tuaku, karena begitulah adat kami, isteri harus ikut suami. Dan karena aku anak pertama di keluargaku dan aku seorang laki laki jadi akulah yang memiliki hak sebagai ahli waris rumah ini.
Aku sangat bahagia karena memiliki isteri yang cantik dan baik hati. Semua keperluanku Reyna yang mengurusnya. Mulai dari baju ganti, sarapan sampai makan malam Reyna melayaniku dengan baik, walaupun saat itu Reyna juga bekerja. Sepertinya Dia juga bisa menghadapi nenek Mina, yang sudah pikun dan terkadang melakukan dan mengatakan hal yang aneh-aneh.
__ADS_1
Setelah menikah aku mengajarkannya menyetir. Tidak sampai sebulan belajar menyetir Reyna bisa dengan mahir menjalankan mobil tanpa perlu aba aba dariku lagi.
Hari hari berjalan begitu indah, setiap hari kami akan pergi ke kantor bersama karena kantor kami yang searah. Reyna yang membawa mobil, dan Dia akan menurunkan aku di kantorku, karena tempat kerjaku lebih dulu sampai dari Reyna. Saat pulang dia akan menjemputku.
Ada sensasi yang berbeda ketika bermesraan dengan Reyna dan Dia yang menyupiri. Aku bisa mencium pipinya, memeluk lengannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Terkadang Reyna akan kesal, karena ulahku yang mengganggu konsentrasinya. Tapi lagi-lagi dia isteri yang penurut. Tentu saja dia tidak mau menolakku.
Tiga bulan menikah, Reyna akhirnya hamil dan itu semakin menambah kebahagiaan rumah tangga kami. Aku memutuskan untuk tidak lagi mengizinkan Reyna membawa mobil sendiri. Jadi setiap hari aku yang menyupirinya. Mengantarnya dulu kemudian kembali lagi menuju kantorku. Begitu sebaliknya saat jam pulang kantor.
Aku tahu isteri ku sensitif masalah uang, karena dia juga bekerja. Jadi uang yang ingin kuberikan pada Reyna, kutitipkan pada ibuku bersama dengan tambahan uang belanja bulanan dan sedikit uang jajan buat Ibu.
Kebahagiaan semakin lengkap saat putri kami Ziva lahir. Saat Reyna melahirkan, aku menyuruhnya berhenti bekerja agar lebih fokus merawat putri kami Ziva. Lagian aku juga bekerja dan sangat mampu menafkahi Reyna dan putri kami.
Sempat ada perdebatan sedikit, saat aku menyuruh Reyna untuk berhenti bekerja. Tapi tidak sampai menimbulkan pertengkaran. Lagi lagi Reyna isteri yang penurut. Dia mengikuti perintahku, walau ada sedikit penyesalan terlihat dari wajahnya.
Lama kelamaan, entah sejak kapan. Aku mulai bosan pada isteriku. Entahlah, apa karena dia terlalu baik dan penurut sehingga terasa membosankan, atau karena bentuk tubuhnya yang tak seindah saat Reyna belum melahirkan dulu. Ditambah lagi wajahnya yang kusam tanpa make up atau perawatan skin care apapun. Padahal setahuku uang yang kutitipkan pada ibu, lebih dari cukup untuk Reyna membeli skin care. Ah entahlah, mungkin uangnya dia kirimkan untuk keluarganya, atau untuk biaya pendidikan adik adiknya.
Aku sengaja jarang mengambil cuti, karena tidak ingin berlama lama di rumah dan melihat isteriku yang sudah tidak menarik lagi. Saat ada acara kantor atau familly gathering yang harus membawa pasangan atau keluarga, tak pernah kubawa Reyna bersamaku. Tentu saja aku malu mebawanya bertemu dengan pimpinan atau rekan kerjaku, bisa jatuh citraku di depan mereka.
Tapi terkadang aku akan mebawa Ziva bersamaku untuk acara acara tertentu di kantor. Kecantikan dan kelucuannya akan menjadi magnet bagi siapapun yang melihatnya. Tentu saja itu membuat aku sebagai ayahnya sangat bangga.
__ADS_1