
"Apa kamu bilang mas? Tidak usah ikut campur urusan orang dewasa?! Helloo... Aku bahkan lebih tua dari isterimu itu! Kamu Raya Permatasari kan sekolah di SMA Tunas Harapan?"
Gina tidak terima dengan ucapan mas Angga, tapi emosinya terlihat lebih terkontrol dari yang tadi. Sepertinya Gina mengenal Raya dan dia mengetahui sesuatu tentang wanita ini.
"Memangnya kenapa? Kamu mengenalku!"
Ckck, anak ini tidak kenal takut. Bahkan dia balas menantang Gina.
"Kamu beneran tidak mengenalku? Aku Gina kakak kelasmu! Coba lihat wajahku baik-baik. Bukankah saat kamu masih siswa baru dan aku kelas tiga, katamu kamu sangat mengagumiku!?"
Kedua adikku termasuk cantik, kulit mereka juga putih dan memiliki tubuh yang langsing. Mereka juga anak yang pintar karena giat belajar. Tidak hanya itu, Gina juga aktif dalam beberapa kegiatan kesiswaan. Pasti banyak teman sekolah Gina yang mengenalnya. Aku juga baru tahu kalau Raya satu sekolah dengan Gina.
"A-aku, tidak, mengenalmu!" Jawab Raya terbata, Wajahnya juga terlihat pucat.
"Tidak usah pura-pura kamu Raya! Mana mungkin kamu melupakanku kakak kelas pembimbingmu waktu MOS yang sangat kamu kagumi?!" Gina dengan bangganya memperkenalkan diri.
"A-aku, tidak mengerti, apa yang kamu bicarakan..." Raya semakin gugup wajahnya pucat dengan keringat di dahinya.
"Ayo mas kita pulang! Tidak ada gunanya meladeni mereka, kakak beradik tukang iri! Yang satunya juga suka mengkhayal!"
Raya mengajak mas Angga untuk pergi, tapi mas Angga tidak menghiraukannya. Mungkin mas Angga penasaran dengan kelanjutan cerita dari Gina tentang Raya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya... Tapi karena kamu sudah melupakanku, jadi aku akan mengingatkanmu... Aku bahkan merahasiakan dari orang-orang kejadian kamu ber*k di celana saat MOS, dan menolongmu agar kejadian memalukan itu tidak diketahui orang lain. Ckck, kenapa sih kamu tidak pakai popok saja kayak bayi baru lahir? Ziva saja yang belum genap tiga tahun, sudah tidak pernah BAB di celana! Ahhh, saat itu aku menganggapmu sebagai gadis muda yang lugu dan manja. Tak disangka saat ini kamu menjadi perusak rumah tangga kakakku."
"Apa?! Tidak mungkin Raya seperti itu Gina!" Ucap mas Agga tidak terima.
"Aku tidak berbohong mas, terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!" Ucap Gina santai.
"Ka-kamu ngga usah mengarang cerita deh. Walaupun kita di sekolah yang sama, bukan berarti kan aku harus mengenalmu! Ucapanmu juga tidak masuk akal, mana mungkin aku seperti itu?!"
"Ckckck, kita temenan juga loh di WA. Walaupun kita sudah ngga pernah ketemu karena aku sudah kuliah, tapi kamu sering curhat kan soal mantan-mantanmu yang brengsek padaku?! Ada Gerald, Hendra, Wandi, Rasya dan terakhir siapa namanya... oh Jay. Benar kan? Kalian pernah ke hotel-hotel mana saja? Btw, kok kamu udah ngga pernah curhat lagi sama aku soal kedekatan mu dengan mas Angga yang notabene suami kakak ku?! Hmm, Aku tidak tahu kamu lelaki ke berapa bagi Raya, mas!" Ucap Gina dengan senyum cemooh pada mas Angga.
Terlihat wajah mas Angga merah menahan geram. Sedangkan wajah Raya sudah pucat seperti kertas. Mereka hanya saling memandang, tanpa bersuara. Walaupun mas Angga dan Raya tidak ada yang mengeluarkan suara, tapi aku bisa melihat kemarahan mas Angga dari sorot maatanya pada Raya, sedangkan Raya berusaha tidak membenarkan ucapan Gina dengan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap mas Angga.
Kalau benar ucapan Gina, berarti Raya bukan gadis baik-baik. Kasihan sekali mas Agga, punya isteri yang masih muda tapi pikirannya labil dan masa lalunya juga tidak baik. Bisa jadi anak yang di dalam kandungan Raya bukan benih dari Mas Angga. Astagfirullah! Kenapa aku seperti ini?!
"Kalau benar Raya seperti itu, mana buktinya! Bukankah dia sering curhat denganmu, mana ponsel mu aku mau lihat bukti percakapan kalian!" Mas Angga mengulurkan tangannya meminta ponsel Gina.
"Ponsel lama aku hilang mas. Ini baru enam bulan aku pakai. Kontaknya ter backup tapi semua percakapannya terhapus."
"Jadi kamu ngga punya bukti kan?! Dasar tukang bohong! Kamu memfitnah aku tanpa bukti tahu ngga?!" Seperti mendapat angin segar karena ucapan Gina, Raya mulai berani unjuk gigi.
Wajah Raya mulai berubah berseri kala mengetahui Gina tidak punya bukti kedekatan mereka. Dia semakin menjadi, seperti mengajak Gina berperang saja. Dasar wanita labil tidak tahu malu, dia tidak berpikir kalau rumah ini rumah orang orang tuaku. Huufhh, mana mengerti juga anak ini soal etika dan sopan santun.
__ADS_1
"Urusan rumah tanggaku kalian tidak usah ikut campur! Raya mau seperti apapun, sekarang dia adalah isteriku, calon ibu dari anakku! Aku percaya pada isteriku. Aku yakin apa yang Gina ucapkan tentang Raya itu tidak benar!" Mas Angga membela Raya.
Tapi 'kalian' katanya? Memangnya siapa juga yang mau ikut campur urusan rumah tangga mereka, aku tidak tertarik! Aku saja sudah pusing memikirkan masa depanku bersama anakku! Mana sempat aku mengurusi hidup orang, lagian itu juga bukan gayaku! Syukurlah jika memang Raya wanita baik-baik, setidaknya anakku tidak melihat contoh yang buruk dari ibu tirinya! Tapi, aku lebih percaya pada ucapan adikku sendiri. Gina tidak mungkin berbohong, apalagi ini menyangkut nama baik seseorang.
"Ada apa ya ini ribu-ribut?" Tiba-tiba ibu masuk ke ruang tamu, dan bertanya dengan gaya nya yang tenang namun berwibawa.
"Oh, ada nak Angga. Mau jemput Ziva ya?" Ucap Ibu masih dengan suaranya yang lembut. Semalam aku sudah menceritakan pada ibu kalau hari ini dan besok Ziva akan menghabiskan waktu bersama papanya. Mas Angga hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala pada ibu.
"Lalu siapa wanita ini?" Ibu menunjuk Raya dengan matanya. Masih dengan senyumnya yang berwibawa.
"Ini Raya bu, isteriku!" Ucap mas Angga memperkenalkan. Raya tidak menyalami Ibu, wajahnya saja terlihat datar tanpa ada rasa hormat terhadap orang tua. Susah juga bicara soal sopan santun pada anak ini. Anak tak tahu didikan.
"Oh, jadi kamu wanita itu..." Ucapan ibu menggantung tapi memberi penekanan. Hilang sudah sikap lembut, tapi terlihat ibu masih bisa mengontrol dirinya.
"Berani sekali kamu datang kesini! Kenapa juga tadi kalian ribut-ribut di rumahku ini?!" Ucap ibu garang pada mas Angga dan Raya, tapi masih terlihat elegan.
"Hmm, maaf bu. Ini hanya salah paham saja. Kami hanya terpancing tentang ucapan Gina yang tidak benar tentang Raya?" Ucap mas Angga menjelaskan.
Sepertinya dia masih takut dengan ibu karena kejadian tempo hari bersama dengan ibunya. Terlihat dari wajahnya yang sedikit gugup saat berbicara dengan ibu. Dia menyalahkan Gina yang berkata tidak benar tentang isteri mudanya itu.
"Ray, kamu tunggu Mas di mobil ya!"
__ADS_1
"Iya mas."